Ruangan itu sempit, pengap, dan gelap, hanya diterangi oleh cahaya redup dari lampu gantung tua yang berayun pelan. Di tengah ruangan, Molly terduduk di sebuah kursi kayu tua, tubuhnya terikat erat oleh tali yang melilit pergelangan tangan dan kakinya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, dan matanya perlahan terbuka, menyesuaikan diri dengan pencahayaan yang minim. Di hadapannya, berdiri dua sosok yang sangat dikenalnya—Lucas dan Monica—menatapnya dengan tajam, penuh kecurigaan. Wajah mereka tampak dingin, seolah tidak ada sedikit pun rasa iba. Molly menggeliat, mencoba melepaskan diri meski tahu usahanya sia-sia. “Apa yang kalian lakukan?” suaranya serak, namun terdengar penuh emosi. “Kalian mengikatku?” Monica melipat tangan di d**a, nada suaranya datar. “Kami terpaksa melakukanny

