Molly yang meninggalkan bank berjalan tergesa-gesa, sesekali menoleh ke belakang dengan wajah cemas. Di pinggir jalan, ia melambaikan tangan menghentikan sebuah taksi. Begitu pintu terbuka, ia segera masuk dan menyandarkan dirinya ke kursi dengan napas terengah-engah. Angin sore menerpa wajahnya dari jendela yang sedikit terbuka. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. "Mudah-mudahan dia tidak tahu aku kemana, sudah beberapa jam aku keluar dari sana. Jangan sampai mereka menemukan aku. Kalau tidak, dengan sifatnya yang kejam, aku pasti dihajar lagi. Untuk saat ini aku tidak bisa ke bandara. Di sana pasti ada anak buahnya mencariku. Sementara ini hanya bisa ke tempat yang jauh dan terpencil untuk bersembunyi," batin Molly penuh kekhawatiran. Beberapa menit kemudian, taksi b

