Bandara. Seorang wanita melangkah anggun di tengah keramaian bandara. Kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya yang misterius, sementara dress putih selutut yang ia kenakan berkibar ringan seiring langkahnya yang percaya diri. Ia mendorong koper silvernya dengan gaya penuh wibawa, seperti seseorang yang kembali bukan hanya untuk sebuah kunjungan, tetapi untuk mengambil kembali sesuatu yang telah lama menjadi miliknya. Wanita itu berhenti sejenak di dekat pintu keluar. Ia melepas kacamatanya perlahan, memperlihatkan mata tajam yang menyiratkan tekad dan nostalgia yang dalam. Sebuah senyum muncul di bibirnya—sebuah senyum yang menyimpan cerita panjang dan dendam yang belum selesai. "Saatnya aku kembali dan mendapatkan semua yang adalah milikku. Vincent, aku merindukanmu… apakah kau juga

