TBSM || 07

1643 Words
"A-apa?" tanya Clara. Wanita itu terkejut mendengar pernyataan spontan yang keluar dari mulut pria yang baru dikenalnya. Walau pria itu terlihat tampan dan mapan. Namun tetap saja, dia merasa terkejut dengan pernyataan tersebut. Pria bernama lengkap Matheus Arthur Wesley itu meluncurkan tawanya ketika dia puas melihat wajah Clara yang begitu lucu baginya. Kening Clara semakin berkerut, mungkin sudah mencapai lima lipatan jika dia sudah menjadi seorang nenek. Matheus menghentikan tawanya. Dia tahu mungkin candaannya membuat Clara semakin kebingungan. "Maaf... Aku hanya bergurau," ujar Matheus. Clara mengganti kerutan dikeningnya dengan senyum kikuk yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh. "Tapi mungkin aku akan tertarik denganmu jika kita terus bertemu," timpal Matheus. "Apa?" tanya Clara kembali dibuat bingung. "Ya... Aku bersedia bekerja sama dengan Bradley. Untuk menjadikanmu model brand parfum yang akan aku realis tahun ini, bagaimana?" tanya Matheus. Pria berasal dari Brazil itu nyatanya adalah seorang exsecutive muda dan kaya raya. Dia memang mewarisi kekayaan dari ayahnya yang merajai usaha parfum terbesar di Manhattan. "Oh... Itu...." Clara yang awalnya terkejut sekarang menjadi bingung ingin menjawab apa. Dia menjadi salah tingkah saat ditatap begitu lama oleh Matheus. Clara menyelipkan rambutnya ke balik telinga. Untuk menutupi kegugupannya. Entah kenapa dia begitu gugup saat diberikan tawaran yang begitu menggiurkan. Matheus tersenyum. "Jangan diselipkan. Biarkan rambutmu menutupi telingamu...," ujar Matheus. "Hah?" tanya lagi Clara. Dirinya sungguh merasa bodoh berada di dekat Matheus. Clara sungguh merasa gugup dengan seorang bisnisman muda dan tampan. Bahkan Matheus begitu ramah dan sopan. Membuatnya tak bisa menjadi tak percaya diri. Matheus menunjuk rambut Clara yang berada di balik telinga. Clara mengerutkan keningnya sambil memegangi telinganya. Matheus kembali tersenyum. "Maaf... Boleh-kah aku...," kata Matheus. Tangannya terulur untuk mengeluarkan rambut Clara dari balik telinga. Lalu dia sempat merapikan rambut panjang Clara agar terlihat lebih rapi. "Oh... Terima kasih," ujar Clara. Dia baru mengerti maksud Matheus yang menunjuk telinganya. "Jadi... Bagaimana? Aku masih menunggu jawabanmu," kata Matheus mengingatkan. "Oh ya. Hm... Aku harus membicarakan ini dengan managerku lebih dulu. Karena selama ini, dia yang mengatur semuanya," jawab Clara. Dia memang tak bisa mengambil keputusan secara sepihak. Maggie yang lebih ahli melakukan pekerjaannya sebagai manager. "Oh... Begitu. Baiklah... Aku akan bicarakan ini dengan managermu juga," ujar Matheus dan tersenyum. "Ya boleh saja. Bagaimana jika kita bicarakan ini dengan bos Bradley juga?" usul Clara. "Ya tentu... Mungkin aku akan mengundang kalian untuk jamuan makan malam di sebuah restoran agar kita bisa bicarakan lebih detail," tekad Matheus. Clara tersenyum dan mengangguk. Mereka menjadi canggung untuk beberapa saat. Hingga suara ponsel Clara terdengar. Clara membuka tas kecilnya lalu meminta ijin Matheus untuk menjawab teleponnya. Clara membelakangi Matheus lalu menjawab panggilan dari Maggie. "Ya, Mag. Kenapa kau menelponku?" tanya Clara. "Maaf Cla... aku sedang di jalan. Ada masalah lagi dengan Jason. Kau bisa pulang sendiri, bukan? Pesanlah taksi jika kau sudah ingin pulang," ujar Maggie. "Maggie... Tapi dompetku ada di dalam tasmu. Bagaimana aku membayar taksi nanti?" bisik Clara. Clara menoleh sedikit ke Matheus. Lalu meringis saat pria itu tersenyum maklum. "Ya... Ya baiklah. Sudah dulu... Aku tutup teleponnya," ujar Clara. Dia bahkan tak lagi mendengar ucapan Maggie yang menyuruhnya pulang bersama Dave. "Hm... Sampai mana kita?" tanya Clara tak enak hati. "Kita akan bicarakan ini dengan Bradley dan managermu. Tapi sepertinya managermu sudah pulang lebih awal. Apa kau butuh tumpangan untuk pulang?" tanya Matheus. Pria yang dengan besar hati menawarkannya tumpangan. "Oh... Terima kasih. Tapi tak apa... Aku bisa pulang sendiri," kata Clara menolak. "Baiklah... Aku tak bisa memaksa," balas Matheus kembali tersenyum. Keadaan kembali hening... Hingga suara Bradley memanggil mereka terdengar dari jarak dua meter. Pria yang memiliki acara tersebut datang menghampiri Clara dan Matheus bersama dengan Dave. "Math, Cla... Bagaimana? Kalian sudah bicara banyak?" tanya Bradley. "Ya... Clara begitu menyenangkan. Aku rasa dia cukup manis dan lucu," ungkap Matheus. Pria itu menatap Clara dengan senyum. Clara tersipu malu saat mendengar pujian dari Matheus. "Kau sungguh berlebihan. Aku tak seperti yang kau ucapkan," sanggah Clara. "Ya, karena selama ini kau begitu menyebalkan," tukas Dave keluar begitu saja. Telinganya merasa panas saat mendengar pujian Matheus yang terdengar seperti sebuah bualan belaka. Karena selama beberapa hari ini, Dave mengenal Clara. Wanita itu begitu menyebalkan. "Apa?" tanya Matheus. "Oh... Ya ampun. Maaf, Math. Aku ke sini untuk mengenalkanmu dengan rekan kerjaku yang akan mengambil gambar Clara nanti. Dia, Dave Mose Williams. Dan Dave... Dia Matheus Arthur Wesley. Pria yang kubicarakan tadi," ungkap Bradley. Berusaha menengahi dan menghentikan tatapan tajam antara Dave dan Clara. Lalu Dave mengalihkan tatapannya dari Clara. Dia dan Matheus akhirnya saling berjabat tangan. Dan mengucapkan namanya masing-masing. "Nah... Ku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Aku sangat ingin karier Clara cepat naik. Sekedar informasi untuk kalian. Dia ini sudah cukup terkenal dibeberapa negara. Walau belum begitu mendunia. Maka dari itu, aku sangat ingin membuat namanya melambung di negara besar Amerika. Khususnya Manhattan. Karena dirinya begitu berbakat mengekspresikan sesuatu. Aku rasa Dave juga sudah melihatnya saat kemarin pengambilan gambarnya untuk poster dan spanduk disepanjang jalan. Jadi bagaimana Math... Apa kau tertarik untuk bekerja sama denganku?" Bradley menjelaskan begitu detail. Sambil mendekat kepada Clara dan mengusap bahu wanita itu. Merasa bangga bisa memiliki model profesional seperti Clara. Walau Clara terlihat masih belum begitu banyak job. Namun Bradley yakin, Clara bisa melakukan sesuatu yang melampaui ekspetasinya. Dan sedikit demi sedikit Clara sudah membuktikannya. Diusianya yang menginjak kepala tiga. Namun pandangan pertama Bradley saat melihat Clara dipenyisihan, mengira Clara masih berusia dua puluh lima tahun. Usia yang menurut Bradley cukup matang untuk seorang wanita menikah dan memiliki seorang anak. Namun lagi-lagi Bradley dibuat kagum dengan profil dan latar belakang Clara. Perjuangan wanita itu cukup keras dan Bradley salut dengan semua itu karena Clara masih bisa melakukan profesinya dengan baik. Tanpa memikirkan kehidupan pribadinya. Bradley merasa sungguh disayangkan jika Clara berhenti di dunia permodelan hanya karena usianya. Maka dari itu, Bradley mengambil resiko dengan berniat mengenalkan Clara kepada dunia. Memberikan contoh bahwa; usia seseorang tak akan menghalangi harapan orang itu untuk bersinar. "Ya... Tentu aku sangat ingin bekerja sama denganmu, Brad. Akan banyak produk yang menurutku bisa cocok dengan Clara," ungkap Matheus. "Oh syukurlah... Bagus jika begitu. Bagaimana denganmu, Mose? Kau bersedia bekerja sama dengan Clara dan Matheus?" tanya Bradley. Tatapan Dave beralih melirik Clara dan Matheus lalu kembali lagi kepada Bradley. "Tentu... Kau bosnya, Bob," jawab Dave dan tersenyum ramah. "Oh ya ampun... Kau selalu begitu Mose. Jangan membuatku tak enak. Ingat ucapanku tadi bukan... Jika perlu aku ingin kau yang mengambil alih penuh atas karier Clara. Jangan merendah di depanku, Mose. Aku sangat hafal seberapa banyak yang kau hasilkan dari jepretan kameramu. Bahkan pameran fotomu menembus angka fantastis. Dan saat itu kau masih kuliah," puji Bradley. "Oh ya? Kenapa aku tak tahu semua itu?" tanya Matheus cukup terkejut. "Tentu kau tak akan tahu, Math. Dia sendiri yang meminta wartawan untuk tak menyebarkan berita itu. Karena sebuah alasan yang hanya dirinya yang tahu. Bukan begitu, Mose?" ujar Bradley. Dave tersenyum dan hanya mengangguk sebagai jawaban. "Ck... Sungguh rendah hati," ejek Clara. Dave hanya menatapnya tajam dan memilih acuh dengan ucapan Clara. "Hm... Baiklah... Jika kalian ingin berbincang, silahkan lanjutkan. Aku  harus mengurus model lainnya," ujar Bradley. "Ehm... Bob. Sebenarnya barusan aku menemuimu karena ingin pamit. Untuk masalah Clara dan Matheus. Mungkinkah kita membahasnya dilain waktu saja?" Dave berujar kepada Bradley yang hendak meninggalkannya dengan Clara dan Matheus. Dia tak ingin menjadi canggung karena tak tahu ingin membahas apa dengan kedua orang yang baru dikenalnya. "Oh... Kenapa cepat sekali Mose. Bukan-kah ini baru satu jam dari penyambutanku tadi?" Bradley bertanya dan menyayangkan jika Dave harus pulang lebih cepat. "Ya... Sebenarnya aku belum selesai merapikan barang-barangku di apartemen," kata Dave beralasan. "Hah... Baiklah kalau begitu. Math... Bagaimana jika nanti kita buat jamuan makan malam untuk bicara lebih banyak?" tanya Bradley. "Tentu... Kapanpun jika kalian sudah menentukan jadwalnya," jawab Matheus. "Baiklah. Hm... Dan kau Cla? Dimana Maggie. Harusnya dia mendampingimu, karena hanya dia yang tahu jadwalmu bukan?" tanya Bradley. "Ah... Itu. Hm... Barusan Maggie mengabari. Dia mendadak harus mengurus sesuatu. Jadi aku akan pulang sendiri nanti," jawab Clara. "Oh... Dear. Kau yakin? Bukan-kah apartemenmu cukup jauh dari sini?" tanya Bradley. Clara meringis sambil mengangguk. "Aku akan mengantarnya, Brad. Tenang saja," tekad Matheus. "Oh... Tidak. Sungguh tak apa. Aku bisa pulang sendiri," tolak Clara. Dia sungguh tak enak jika harus merepotkan Matheus. "Kau yakin Cla? Matheus sudah menawarkanmu, asal kau tahu... Tempat tinggalnya berlawanan arah denganmu," ujar Bradley. "Aku semakin yakin jika memang seperti itu kenyataannya, bos." Clara menjawab dan tersenyum. Semakin merasa tak enak dengan Matheus jika memang rumahnya berlawanan arah dengan apartemennya. "Aku sungguh tak merasa keberatan mengantarmu, Cla. Bagaimana?" bujuk Matheus. Clara tersenyum kikuk antara ingin namun tak enak. Lantas dia memilih menatap Dave yang hanya diam bersedekap d**a. Menatap dirinya begitu tajam. Clara meringis menatap Dave. Seolah meminta tolong kepada Dave untuk membawanya pulang juga. "Hah... Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Dave. Namun Clara mengalihkan tatapannya tanpa mau menjawab pertanyaan Dave. Lalu Dave kembali berpamitan dengan Bradley dan tersenyum sambil mengangguk kepada Matheus. Berakhir dengan menatap tajam Clara. "Ehm—" Clara hendak berseru dan memanggil Dave. Namun ucapannya tertelan saat Dave berbalik dan kembali menatapnya. "Cepatlah jika ingin menumpang!" tukas Dave. "Oh baiklah!" seru Clara girang. "Hm... Maaf.. Math. Aku sungguh tak ingin merepotkanmu. Bos Brad.... Aku pulang duluan. Kebetulan Mousie—  hm... maksudku Mose satu apartemen denganku," ungkap Clara. Dia sedikit berlari untuk mengejar Dave yang berjalan begitu cepat. "Tunggu aku Mousie!" teriak Clara. Namun Dave malah terus berjalan tanpa mau menoleh. - "Ah... Ya ampun. Mose terlalu jahat kepada Clara. Sepertinya mereka terlibat pertengkaran kecil sejak kemarin," gumam Bradley. Matheus menatap kepergian Clara dan Dave. Hingga Bradley menyadari tatapan Matheus yang berbeda kepada Clara. "Oh... Apa kau tertarik dengan Clara? Maksudku menganggapnya sebagai seorang wanita biasa. Bukan model yang bekerja sama denganmu," tebak Bradley. Menggoda Matheus yang baru mengalihkan tatapannya dari Clara. Dia tersenyum kepada Bradley dan menjawab ucapan Bradley. "Mungkin saja Brad... Tak ada yang tahu kemana cinta berlabuh, bukan?" **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD