TBSM || 08

1474 Words
Dave memasuki mobilnya dengan cepat. Membiarkan Clara mengikutinya dengan tergesa. Wanita itu mengatur napasnya setelah dia berhasil duduk di samping Dave. Dia menatap tajam Dave yang melirik ke arahnya. Dasar pria s****n! Bagaimana bisa dia berjalan secepat itu. Hingga membuatku bersusah payah mengejarnya! batin Clara. Dave terlihat menghela napasnya, lalu dia mendekati Clara. Wajahnya terlihat serius dan tatapannya begitu tajam. Wajahnya semakin dekat dengan Clara yang semakin lama semakin memundurkan wajahnya. Bahkan sekarang, napas Dave terasa menghembus di wajahnya. Wangi mint dari parfum yang dipakai Dave tercium begitu menyegarkan. Apa yang dia lakukan? Apa dia akan menciumku?! batin Clara. Clara menahan napasnya walau dia sendiri masih berusaha mengaturnya untuk tetap normal. Namun pergerakkan Dave begitu mengganggu. Dia bahkan sudah menutup matanya karena takut dengan tatapan Dave yang begitu mengintimidasi. Hingga bunyi klik dari seatbelt yang terpasang didepan d**a Clara. Menyadarkannya dari pikiran negativenya terhadap Dave. Mobil melaju begitu saja. Tanpa mau menunggu Clara menormalkan keadaan jantungnya. "Kau ini selain tuli. Apa kau juga bisu?" tanya Dave. Walau tatapannya tetap melihat ke jalanan yang cukup padat dengan kendaraan. "Apa?!" tanya Clara bingung. "Saat kau hendak masuk ke mobilku. Aku sudah menyuruhmu untuk langsung menggunakan seatbelt. Tapi kau malah diam dan menatapku begitu tajam. Lalu setelah aku memasangkan seatbelt. Kau bahkan tak berucap apapun. Jadi ku simpulkan, kau ini tuli dan bisu. Oh dan satu lagi... Berotak m***m!" sergah Dave. Clara menatap Dave tak percaya. "Hah... Ya ampun! Sebenarnya kau ini ikhlas atau tidak memberikan tumpangan kepadaku? Jika tidak, kau tak perlu memberikanku tumpangan!" tukas Clara kesal. Mulut Dave selalu saja mengeluarkan kata pedas. "Aku memang tak ikhlas! Namun mengingat, aku masih berhutang maaf padamu. Jadi aku berusaha mengikhlaskannya. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena berlaku kasar padamu malam itu," ungkap Dave mulai melembut. Clara terdiam setelah mendengar pengakuan Dave yang begitu gentle. "Hm... Baiklah. Aku sudah memaafkanmu. Lagipula aku juga sudah melupakan kejadian itu. Malah aku juga masih berhutang traktiran makan padamu," ujar Clara mengalihkan tatapannya ke pinggir jalan. Dia bahkan membuka jendela kacanya. Terlihat sebuah festival jalanan yang sedang dibuka untuk umum. "Lupakan niatmu itu. Aku tak menginginkannya juga. Hah... Pantas saja jalanan begitu padat. Ternyata festival sedang berlangsung," kata Dave ikut menatap ke arah pandangan mata Clara. Tatapan abu Clara terlihat berbinar dari balik kaca spion. Dave membelokkan jalannya. Memarkirkan mobil di dekat festival yang sedang berlangsung itu. "Hei... Kenapa kau ke sini?" "Bukankah kau bilang ingin mentraktirku?" tanya Dave tersenyum tipis. Clara sempat terpaku dengan senyuman itu. Hingga untuk sepersekian detik hatinya sempat mengagumi senyuman Dave. Astaga... Bagaimana bisa senyumnya begitu manis, batin Clara. Lalu tiba-tiba dia kembali terkejut saat Dave memasukkan setengah tubuhnya ke hadapannya, hanya untuk membuka seatbeltnya. Lagi-lagi Clara mencium bau mint melewati indra penciumannya. Dan membuat dia kembali menahan napasnya demi menyembunyikan detak jantungnya yang berlebihan. "Ayo... Apa aku juga harus memberikan tanganku untuk membawamu keluar dari mobil?" tanya Dave menengok Clara. Sejak tadi Dave sudah keluar dan menyuruh Clara untuk keluar juga. Namun wanita itu malah terlihat melamun. Hingga membuat Dave kembali membukakan seatbelt Clara. Namun wanita itu malah tetap terdiam seakan jiwanya pergi entah kemana. "Ah maaf. Kau tak perlu melakukan itu!" balas Clara. Lalu keluar dari mobil Dave. "Ayo... Aku tahu makanan enak di festival seperti ini," ujar Clara tampak yakin. Dia bahkan berjalan lebih dulu dari Dave. Dave hanya diam memperhatikan Clara yang melangkah lebih dulu. Namun langkah Clara terhenti di depan loket pembelian tiket masuk. Dia baru mengingat bahwa dompetnya ada di dalam tas Maggie. Jadi bagaimana dia mentraktir Dave jika uang saja tak dia pegang. Lantas Clara melangkah perlahan kembali ke arah Dave. Lalu meringis tersenyum menampilkan deret giginya. "Kenapa tak jadi? Apa kau berubah pikiran?" tanya Dave seolah mengejek. "Hm... I-iya... Tiba-tiba aku mengingat, Maggie baru saja membeli banyak bahan makanan. Mungkin aku bisa membuatkan sesuatu untuk kau makan malam ini," kata Clara beralasan. Dia tak mengingat bahwa Dave tahu kalau dirinya tak bisa memasak apapun. Clara melewati Dave yang hanya berdiri sambil melipat tangan di dadanya. Hingga akhirnya Dave kembali bersuara. "Aku tak ingin makan masakanmu yang entah akan jadi seperti apa. Ayo masuklah... Aku yang traktir," ajak Dave. Clara kembali melewati Dave dengan sedikit berlari mundur seakan dirinya begitu girang. "Terima kasih!" seru Clara berlari memasuki tempat festival tersebut. Namun karena terlalu semangat, dirinya malah menabrak sepasang kekasih yang hendak membeli tiket. "Ouch!" pekik Clara memegangi punggung. Dia meminta maaf sambil mengusap punggungnya yang terasa sakit. "Clara... Kau juga di sini?" tanya sebuah suara yang tak asing baginya. Pria masa lalunya yang begitu menyesatkan bagi Clara. "Hei Cla... Kudengar kau resmi menjadi model dari agency Bradley Bob. Selamat ya!" ujar Laurent. "Kau dengan siapa, Cla?" tanya Jacob. "Pertanyaanmu sungguh bodoh Jacob. Tentu saja dia bersama Mag—" "Dia bersamaku," ujar Dave. Meraih bahu Clara. Membuat Clara tersentak dan terkejut merasakan tangan besar Dave yang terasa hangat. - Dave beranjak setengah berlari menghampiri Clara saat tahu wanita tersebut menabrak seseorang. Dia tahu akan ada masalah yang dibuat wanita petakilan macam Clara. Lantas dia menghampiri wanita pembuat masalah itu dan mencari tahu apa yang telah terjadi. Mendengar sedikit perkataan dari sepasang kekasih yang seolah menyudutkan Clara. Dave mengingat wajah wanita yang berada di restoran waktu itu, terlihat hendak menggejek Clara. "Mousie!" bisik Clara. "Apa dia kekasihmu yang kau ucapkan waktu di restoran kemarin?" tanya Laurent penasaran. Dia terkejut saat melihat pria yang sempat menarik perhatiannya waktu itu. Sekarang muncul bersama Clara, dan yang lebih mengejutkan lagi pria tersebut dengan santainya meraih bahu Clara. "Ya... Di-dia tunanganku," ujar Clara tampak ragu. Namun dia menatap Dave seolah kembali meminta pertolongan. Dave tersenyum dan mengangguk. Seakan dia mengijinkan Clara untuk mengakui Dave sebagai tunangannya. "Oh ya? Tapi kenapa ucapanmu tampak ragu, Cla? Apa kau hanya mengarang agar membuat kami mengira kau sudah baik-baik saja tanpa Jacob?" sergah Laurent. Tuduhannya sungguh membuat telinga Clara menjadi sakit. Lantas dia meraih tengkuk Dave dan dengan tidak mengurangi rasa canggung dia mencium bibir pria itu. Melumatnya cukup dalam dan lembut. Jacob dan Laurent membulatkan matanya tak percaya. Melihat perlakuan Clara yang begitu berani dan nekad seperti itu. Clara melepasakan ciumannya dan menatap intens mata Dave. Manik mata biru itu membulat terkejut. Namun berusaha terlihat biasa saja. "Tunanganku tadi, sedang marah. Jadi aku gugup karena dia sempat marah dijalan. Namun kurasa sekarang dia sudah membaik setelah aku memberikan sebuah tindakan sebagai ucapan maafku. Bukan begitu sayang?" tanya Clara. Dia menatap Dave yang hanya diam seperti robot yang baru terkena serangan listrik hingga menjadi konslet. "Ehm... Ya. Apa kita jadi masuk ke dalam? Kau bilang... kau tahu jajanan enak saat acara fesival seperti ini sedang berlangsung," kata Dave dan tersenyum menampilkan deret giginya. Senyum yang mampu membuat Clara curiga, karena Dave selalu tersenyum seperti itu untuk membalas sesuatu kepadanya. "Te-tentu... Ayo. Kita beli tiket masuknya dulu," ajak Clara. "Ya. Bagaimana dengan temanmu? Apa mereka ingin bergabung?" tanya Dave berbasa-basi. "Oh kurasa tid—" ucapan Clara terpotong oleh Laurent. "Tentu! Kami akan bergabung. Bukankah kita sahabat sejak lama, Cla?" tanya Laurent. Wanita itu secara tiba-tiba bersikap seolah dirinya masih memiliki hubungan baik dengan Clara. Laurent merangkul lengan Clara yang kosong. Tatapannya tertuju kepada Dave yang terlihat tersenyum tipis namun terlihat begitu tampan. Hingga membuat Laurent begitu terpesona. "Tapi, bukan-kah kau bersama kekasihmu? Apa kau tak ingin menanyakan pendapatnya dulu?" tanya Dave. "Kau tenang saja... Jacob pasti menuruti kemauanku. Bukan begitu sayang?" tanya Laurent. Jacob yang sejak tadi hanya diam, berusaha mengangguk walau hatinya begitu panas setelah melihat adegan ciuman Clara dan Dave. Clara melepaskan rangkulan Laurent dengan kasar. Lalu terkekeh memberikan tatapan malas kepada Laurent. "Maaf Laurent. Sepertinya aku harus meluruskan sesuatu di sini. Pertama, kita sudah tak bersahabat lagi setelah kau mengkhianatiku dan tidur dengan mantan tunanganku -Jacob-. Kedua... Aku dan tunanganku, tak ingin kencan kami terganggu dengan adanya kau dan Jacob. Jadi lebih baik... Kita berpisah di sini. Selamat sore!" tukas Clara, "ayo sayang... Aku sangat ingin memakan, makanan pedas. Semoga di dalam sana ada yang menjual sosis bakar dengan saus extra pedas!" lanjut Clara lalu mengajak Dave untuk meninggalkan pasangan menyebalkan itu. Dave melangkah dengan angkuh mengikuti Clara yang berjalan lebih dulu menuju tiket pembelian. Mereka membeli dua tiket. Lalu masuk ke dalam dengan bergandengan tangan demi membuat Jacob dan Laurent percaya akan sandiwara yang mereka buat. Dave berjalan lebih cepat, seakan menarik Clara untuk mengikuti langkah lebarnya. Sementara Clara tetap mengikuti walau tertatih-tatih. Clara malah asik melamun menatap tangannya berada di dalam genggaman tangan besar Dave. Begitu hangat dan terasa nyaman. Seakan genggaman tersebut melindunginya dari Jacob dan Laurent yang hendak membuatnya kembali menangis. Clara kembali mengingat perlakuan Jacob waktu dulu. Waktu dia tak menyadari bahwa pria itu telah berpaling darinya dengan menggenggam tangan Laurent saat mereka berjalan bertiga. Clara terlarut dalam lamunannya hingga dirinya kembali tak mendengar ucapan Dave. Sampai pria itu menghentikan langkahnya. Menoleh dan menatap Clara yang terlihat murung. Apa pria itu begitu membekas dihatimu, hingga kau begitu memikirkannya? batin Dave bertanya. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD