TBSM || 09

1671 Words
Dave merasakan tatapan seseorang yang sedang memperhatikannya. Lantas dia melihat dikejauhan. Terlihat tatapan tajam Jacob memandang ke arahnya dan Clara. Dave berusaha melakukan kembali sandiwara yang terlanjur dibuat oleh Clara. "Cla... Kenapa kau melamun. Mantanmu masih memperhatikan kita," bisik Dave. Clara tersadar, dia hendak menoleh namun Dave meraih kepala Clara, membawa kepala itu menabrak dadanya. Merengkuh tubuh mungil itu dengan mesra lalu mencium keningnya. Clara tersentak dan membulatkan matanya. Dia terkejut saat merasakan d**a Dave yang begitu kuat dan terasa nyaman berada dipelukan pria itu. Dave mengajak Clara kembali berjalan semakin ke dalam. Hingga menemukan penjual sosis bakar. Clara yang mencium harum sosis bakar, lantas langsung melepaskan rangkulan Dave. Dan berlari mendekati stand sosis bakar tersebut. Tanpa mengurangi rasa malu... Clara memesan dua tusuk sosis bakar ukuran besar. Dan meminta diolesi dengan saus sambal yang banyak. Dave mendekat dan melihat binar ceria di wajah Clara. Manik mata biru Dave menatap Clara sambil mencebik tak percaya. Ck! Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu?! Beberapa menit sebelumnya dia terlihat murung dan melamuni kisah cintanya yang kandas. Sekarang? Dia seperti anak kecil yang sangat senang hanya karena setusuk sosis bakar! batin Dave. Dia sungguh bingung mengetahui apa yang dirasakan Clara. Wanita yang menurutnya labil dan mudah tersinggung, serta mudah merajuk. Terlihat rapuh dan kuat secara bersamaan. Clara melirik Dave yang menatapnya begitu lama. Lantas dia mendongakkan kepalanya seolah bertanya 'ada apa?'. Namun Dave hanya menggeleng dan mengedikkan bahunya. Clara berdecak dan mulai mengatai Dave lagi. "Ck! Dasar Mousie!" gumam Clara dan terkekeh. Dave kembali menggeleng dan mendekati Clara. "Kau yakin, Maggie akan mengijinkanmu makan ini?" tanya Dave. "Tak ada Maggie di sini. Dia tak akan tahu jika kau tak memberitahukannya," jawab Clara ringan. "Kau pikir aku ini pria yang suka mengadu?!" sergah Dave. Clara meringis menatap Dave. "A-aku tak tahu. Aku hanya memperingatimu agar tak mengatakannya kepada Maggie," jawab Clara cengengesan. Sosis bakar pesanan Clara telah siap. Clara mengambil sosis itu. Dan menyuruh Dave membayar sosis tersebut. Dave menghela napasnya kasar, merasa Clara menjadi seenaknya. Setelah membayar sosis tersebut, Clara berjalan meninggalkan Dave yang terheran-heran. "Hei!" teriak Dave menyusul Clara. Clara berjalan dengan santai sambil menggigit salah satu sosisnya. "Berikan bagianku!" pinta Dave. Clara berhenti dan mengerutkan keningnya. "Kau tak membelinya?" tanya Clara. "Bukankah kau memesan dua sosis? Jadi aku tak memesannya lagi," jawab Dave. "Aku tak bilang salah satunya untukmu. Aku memesan dua sosis, untuk kumakan sendiri," jawab Clara ringan. Lalu dia kembali mengigit sosisnya. Dan melangkah lagi meninggalkan Dave yang masih tercengang dengan ucapan Clara. "Hah?! Ya ampun... Aku sungguh tak habis pikir. Bagaimana bisa ada wanita seperti dia! Aku sungguh akan menjadi gila sebentar lagi," keluh Dave. Dave mengejar Clara dan hendak mengambil paksa sosis di tangan Clara. "Berikan bagianku!" sergah Dave. Entah kenapa dia tak menyadari selama bersama Clara. Dirinya menjadi lebih agresif dan melupakan keangkuhan serta sifat pendiamnya. Dave merasa menemukan dirinya yang lain. Dave merengkuh tubuh mungil Clara. Wanita itu terkunci walau berusaha melepaskan diri. "Ah! Baiklah... Aku akan berikan! Lepaskan aku dulu," pekik Clara. Dave melepaskan Clara dari rengkuhannya. Clara menyodorkan sosis yang masih utuh ke arah mulut Dave. Dave menggeleng dan sempat ingin meraih sosis tersebut dengan tangannya. Namun Clara kembali menjauhkan sosis tersebut. "Buka saja mulutmu!" perintah Clara. "Berikan saja!" balas Dave. "Tidak! Buka mulutmu atau tidak sama sekali!" ancam Clara. Dave menatap tajam Clara. Walau akhirnya dia tetap membuka mulutnya. Sosis sudah disodorkan Clara dan hanya tinggal beberapa centi dari mulutnya. Namun.... Clara dan kejahilannya. Dia dengan sengaja malah menjauhkan sosis tersebut untuk menunjuk permainan lempar bola ke kaleng yang disusun tinggi. "Ah! Lihatlah! Ada boneka mouse. Ayo kita main permainan itu. Aku ingin mendapatkan bonekanya!" seru Clara. Melarikan diri lagi dari Dave. Dave yang sudah hendak mengigit sosis tersebut, menjadi mengigit udara. Dia memejamkan mata demi menahan kekesalannya. "Tenang Dave... Sabar! Wanita ini memang sedikit sinting. Jadi mengalah-lah jika masih ingin waras," kata Dave. Mencoba menenangkan dirinya adalah hal yang paling benar. Dave berjalan menyusul Clara. Wanita itu terlihat antusias memperhatikan aksi seorang ayah yang ingin memenangkan sebuah boneka unicorn. Bocah perempuan yang terlihat diam berdiri di samping ayahnya. Terlihat begitu berharap untuk mendapatkan unicorn tersebut. Namun sayang, sang ayah gagal memenangkan pemainan. Namun ayah dari bocah perempuan itu memberikan pengertian kepada anaknya. Dan bocah itu mengangguk mengerti. Walau pandangan bocah tersebut masih terarah kepada boneka unicorn meski mereka sudah beranjak dari permainan tersebut. Dave berdiri di samping Clara. Memperhatikan arah mata Clara yang terlihat prihatin dengan ayah dan anak itu. "Ada apa?" tanya Dave dengan santai. Sambil mengigit sosis yang sudah di ambilnya secara diam-diam tanpa disadari oleh Clara. "Apa kau ahli memainkan permainan itu? Jika ya. Bisa kau menangkan boneka unicornnya? Lihatlah... Tatapan anak perempuan itu." Clara berujar dengan lirih. "Bukankah ayahnya sudah mencoba? Jika gagal berarti memang belum saatnya anak itu mendapatkan apa yang dia inginkan," balas Dave. Dia kembali memberikan tusuk bekas sosis yang sudah dimakan hingga habis. Dan Clara tanpa sadar masih menerima tusuk sosis yang telah raib. "Kau sungguh tak mempunyai rasa prihatin terhadap sekitarmu! Aku merasa anak itu sudah cukup tegar untuk menerima kekalahan ayahnya. Hah... Aku teringat masa kecilku yang lebih buruk dari itu," keluh Clara. Wanita itu tak menyadari bahwa Dave sudah membeli beberapa bola untuk melemparkannya ke kaleng yang disusun tinggi. "Apa kau sudah selesai meratapi nasib bocah itu?" tanya Dave. "Mousie... Apa yang kau lakukan?" tanya Clara. "Berusaha. Minggirlah... Jangan mengangguku!" tukas Dave. Clara secara otomatis menepi, melihat dari belakang Dave. Pria itu siap melemparkan bolanya ke arah kaleng yang telah disusun membentuk kerucut. Satu sampai tiga kali Dave masih gagal membuat kaleng susun tersebut terjatuh semua. Namun Clara tetap terlihat heboh dengan menyemangati Dave dari belakang. Membuat beberapa orang berkumpul untuk melihat aksi Dave. Termasuk bocah perempuan yang bersama ayahnya tadi. Hingga percobaan ke empat... Dave terlihat serius mengeker hingga dia yakin dan mulai melemparkan bola ditangannya, mengenai kaleng susun hingga berantakan. Menyisakan satu yang berputar, membuat semua mata yang melihat begitu tegang. Hingga akhirnya... Kaleng tersebut ikut jatuh menyusul kaleng lainnya. Clara bersorak girang, dan langsung berhambur memeluk Dave. Berjingkrak-jingkrak hingga Dave kewalahan menahan berat tubuh Clara yang tak seberapa. Clara tersadar dirinya sudah bertingkah seperti anak kecil. Lantas dia menghentikan aksinya. "Terima kasih," ujar Clara. Dave tersenyum dan mengangguk. "Ajak anak itu untuk mengambil unicornnya," ujar Dave menatap anak perempuan tersebut. Clara tersenyum dan mengangguk. Lalu mengajak anak perempuan tersebut untuk mengambil boneka unicorn yang sangat diinginkannya. "Ini untukmu. Pria di sana yang memberikannya." Clara berujar kepada bocah kecil yang sudah memeluk boneka unicornnya. Bocah perempuan itu mengucap terima kasih kepada Clara lalu berjalan menuju Dave. Mengucapkan terima kasih juga kepada Dave. Dave berjongkok dan tersenyum mengelus kepala bocah perempuan tersebut. Setelah itu Dave berdiri dan menatap Clara yang begitu berseri menatap kebahagiaan bocah perempuan tersebut. Di tangan Dave masih ada dua bola yang bisa dia mainkan untuk mendapatkan hadiah lain. "Kau masih mempunyai dua bola?" tanya Clara. "Ya," jawab Dave singkat. "Ayo mainkan. Aku ingin boneka mouse itu!" seru Clara. Dave kembali memulai permainannya. Namun dia gagal. "Ini bola terakhir. Jika tak berhasil... Jangan merengek seperti anak kecil!" tukas Dave. Clara hanya meringis menampilkan deret giginya. Dave kembali melemparkan bola terakhirnya. Dan mengenai tumpukan kaleng, hingga menjatuhkan semua kaleng tersebut. Bahkan kaleng disebelahnya ikut terjatuh semua yang artinya dua susun kaleng terjatuh berantakan. Clara bersorak girang kembali memeluk Dave seperti sebelumnya. Bahkan tanpa sadar, dia mengecup pipi Dave. "Terima kasih! Kau sungguh hebat!" seru Clara. Lalu dia menuju stand penjaga permainan itu. Meminta dua boneka karena berhasil meruntuhkan dua susunan kaleng. Clara menunjuk boneka tikus dan kucing yang terkenal sering bertengkar didalam film kartun tersebut. Clara membawa kedua boneka tersebut dan memberikan boneka tikus kepada Dave. "Ini untukmu! Kau itu persis sepertinya. Jadi ini untukmu saja!" seru Clara. "Simpan saja. Kau pikir aku pria macam apa yang menyimpan boneka seperti ini!" tukas Dave mengembalikan boneka tersebut. Dave berjalan lebih dulu meninggalkan Clara. Wanita itu mencebik dan ikut mengekori Dave. Walau senyum kembali terukir saat melihat kedua boneka berada dipelukkannya. Clara melihat ke sekeliling stand penjual. Hingga dia menemukan stand penjual ice cream. "Dave... Aku ingin ice cream!" seru Clara. Dave terhenti dan berbalik. Menatap Clara yang memberikan tatapan memohon. "Baiklah! Aku tak ingin kau mengigitku hanya karena ice cream lagi," tukas Dave. Membuat Clara kembali meringis. Lalu mereka berjalan ke tempat ice cream dan membeli dua ice cream cone. Clara sungguh terlihat seperti anak kecil. Merasa senang dan bahagia hanya dengan bermain di tempat festival. Mendapatkan boneka dan memakan sosis serta ice cream. Clara kembali merengek kepada Dave dengan menarik ujung jaket Dave. Lalu menunjuk bianglala yang sedang berputar. "Tidak. Kita pulang saja!" "Oh ayolah... Mousie. Aku janji setelah naik itu, kita pulang." Clara membujuk. Dan kembali memberikan tatapan memohon. Dave menghela napasnya dia tak sengaja melihat ke belakang Clara berdiri. Terdapat Jacob dan Laurent yang terlihat berciuman terus menerus selama mengantri di wahana mainan lain. Mereka bahkan tak melihat ke sekeliling mereka. Begitu banyak anak kecil yang berada dibarisan tersebut. Clara menoleh, mengikuti arah  pandangan Dave. Namun baru beberapa detik Clara memperhatikan Jacob dan Laurent. Tangannya sudah ditarik oleh Dave. "Ayo kita naik bianglala. Setelah itu kita pulang," ajak Dave akhirnya. Dave tak ingin melihat Clara kembali murung. Lantas dia menuruti kemauan Clara untuk menaiki bianglala. Mereka mengantri tak begitu lama. Lalu mendapatkan giliran naik. Mereka memasuki salah satunya dan menutup pintunya. Dave memperhatikan Clara yang kembali menatap ke bawah, dimana Jacob dan Laurent terlihat mesra. "Hah... Bukankah mereka terlihat bahagia? Kenapa mereka begitu tega mengkhianatiku, Mousie?" tanya Clara. Dia tak sadar telah kembali seperti wanita bodoh yang meratapi kisah cintanya yang tragis. "Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan mereka? Kenapa kau terlihat begitu menderita karena mereka?" tanya Dave. Dia menjadi penasaran karena sikap Clara yang berubah drastis saat mengingat masa lalunya dengan Jacob. Clara mengalihkan tatapannya kepada Dave. Tatapan terluka dan menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam dia pancarkan dan tunjukkan kepada Dave. "Kau yakin mau mendengarnya? Ini hanya kisah yang akan membuatmu bosan," ujar Clara. Dia seperti meremehkan kisahnya tersebut. Dave menatap Clara serius. "Ya... Aku ingin mendengarnya. Karena sepertinya... Aku mulai peduli denganmu." **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD