TBSM || 10

1552 Words
Dave berdiri dibawah kucuran air shower yang terasa dingin. Menundukkan kepalanya membiarkan kucuran tersebut membasahi kepalanya cukup lama. Ingatannya berputar saat dia menaiki bianglala bersama Clara. "Ya... Aku ingin mendengarnya. Karena sepertinya... Aku mulai peduli denganmu." Clara terdiam mencerna ucapan Dave. "Hm... Maksudku, kita bisa menjadi teman bukan? Kita bertetangga dan bekerja ditempat yang sama. Tak mungkin kita akan terus bertengkar," ungkap Dave menjelaskan maksud ucapan sebelumnya. Clara tersenyum, "ya... Tenang saja. Aku tak akan menyalahkan arti kata pedulimu itu," jawab Clara. Manik mata abu Clara mulai berlapis air bening. Wanita itu memang cengeng. Jika dipikirkan... Clara adalah tipe wanita sanguinis dan melankolis -terlihat menyenangkan namun untuk sesaat dirinya bisa terlihat mudah tersentuh dan menangisi sebuah masalah hingga berlarut-larut-. "Awalnya... Jacob menghampiriku dan Laurent saat kami duduk dibangku kuliah semester pertama. Dia pria wanted yang ada di kampus. Semua wanita begitu menginginkannya dan mungkin rela tidur dengannya tanpa status apapun. Saat mengetahui bahwa Jacob menginginkanku... Semua wanita iri terhadapku termasuk Laurent. Walau aku tahu Lau tak akan melakukan sesuatu yang akan menyakitiku seperti wanita lainnya yang iri," ungkap Clara. Manik mata abunya mulai melihat ke langit. Dimana jumlah bintang saat itu cukup banyak. Dave tetap diam menyimak cerita Clara tanpa berniat menyela ataupun bertanya sesuatu. "Singkat cerita kami telah resmi menjadi sepasang kekasih. Kami merayakannya bersama Maggie dan Laurent beserta kekasih mereka masing-masing. Aku tak menyangka, Jacob yang terkenal liar dan selalu meniduri wanita manapun yang bersedia menemaninya... Saat itu, mau mengerti keadaanku. Dan malah berjanji melindungiku dari ejekan seluruh kampus. Entah siapa yang menyebarkan berita... Mereka mengatakan aku adalah anak haram, lahir dari rahim seorang jalang. Yang hamil entah dengan siapa." suara Clara mulai terdengar aneh karena menahan tangis. Saat dia mengingat perkataan kasar dari orang-orang yang menghakiminya anak seorang jalang. Clara memang tak bisa melawan, karena dia sendiri tak pernah mengenal siapa dan seperti apa sosok ibunya selama ini. Bahkan dia juga tak tahu siapa ayah biologisnya. Hal itu-lah yang seakan membenarnya bahwa dirinya seperti anak haram yang tak diinginkan. Menumpang hidup oleh keluarga Desmond, hanya menjadikannya semakin dicaci. Dikatakan dirinya membuat nama baik  ayah Maggie menjadi jelek. Hingga usahanya sempat goyah saat berita tentang tuan Desmond adalah ayah kandungnya yang berselingkuh dengan seorang jalang. Jelas itu membuat Clara semakin merasa bersalah. Walau Maggie dan kedua orang tuanya sudah menyuruhnya untuk mengabaikan mereka semua. Karena yang mengetahui kebenarannya adalah mereka -ayah dan ibu Maggie-. Beliau begitu mengenal ibu Clara. Mereka terus mengatakan bahwa ibunya bukan seorang jalang. Dan dirinya adalah hasil buah cinta. Bukan hasil dari ketidaksengajaan sepasang manusia yang berbuat salah. Namun tetap saja... Clara tak bisa meyakini teman-temannya tentang kisah kedua orang tuanya yang hanya diceritakan oleh keluarga Desmond dan neneknya. Saat itu hanya Laurent dan Jacob yang mau percaya dengan kisah tersebut. Karena mendengarnya langsung dari ayah Maggie. Hingga bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Jacob. Clara merasakan sosok Jacob seperti pengganti seorang ayah. Dan Laurent seperti ibunya. Hanya mereka berdua yang selalu mengisi dan menemani hari-hari Clara tanpa Maggie. Saat itu Maggie harus pergi dari Sydney untuk menimba ilmu di Amsterdam. Hingga ditahun semester terakhir mereka kuliah. Jacob melamar Clara. Menjadikannya tunangan dan berjanji akan terus mencintai Clara. Menjanjikan pernikahan indah dan memiliki rumah tangga yang harmonis. Namun janji Jacob hanya sebatas omongan. Ditahun yang sama... Maggie kembali dari Amsterdam. Wanita yang dianggap seperti seorang kakak bagi Clara itu. Mulai menaruh curiga kepada Jacob dan Laurent yang bersikap aneh terhadapnya. Seolah tak menyukai kehadirannya yang melindungi Clara. Maggie curiga dengan hubungan Laurent dan Jacob yang seolah memanfaatkan Clara yang saat itu ditawari teman lama Maggie dari Amsterdam yang meminta Clara menjadi model sebuah produk pakaian terkenal di Sydney. Namun Clara dan kepolosannya... Dia tak bisa percaya dengan ucapan Maggie begitu saja. Hingga Clara tetap membantu Laurent yang juga ingin menjadi model seperti Clara. Walau pada akhirnya Laurent tak diterima oleh teman Maggie. Laurent sempat menuduh Maggie yang menyuruh temannya itu untuk tak menerimanya. Namun Clara mencoba menengahi dan memberikan pengertian kepada keduanya. Hingga pada akhirnya mereka kembali berbaikan. Walau Laurent terlihat terpaksa meminta maaf kepada Maggie. Singkat cerita... Mereka telah lulus sarjana. Clara melanjutkan kariernya yang semakin cemerlang. Sementara Jacob diterima bekerja di perusahaan keluarga Desmond. Dan Laurent memilih mencari pekerjaan lain. Dia tak ingin bekerja diperusahaan ayah Maggie. Bertahun-tahun terlewati begitu saja. Perasaan Clara kepada Jacob kian mendalam. Dia semakin mencintai Jacob yang selalu ada setiap kali Clara selesai pemotretan. Saat itu ibu Maggie masih menjadi manager Clara. Hingga Maggie menyerah untuk meneruskan usaha ayahnya. Dan menyerahkan usaha tersebut kepada Jacob yang lebih ahli. Lalu Maggie mengambil alih pekerjaan ibunya menjadi manager Clara. Karier Clara semakin menanjak dan bersinar di Sydney. Banyak produk yang memakai jasanya untuk mengiklankan produk tersebut. Semua berkat Maggie yang memang memiliki bakat terpendam menjadi manager artis, yang mampu mempromosikan Clara hingga mendapat banyak tawaran. Laurent mulai iri dengan Clara. Dia yang mengaku bekerja sebagai sekretaris bos terlihat sering berganti-ganti kekasih disetiap bulannya. Namun kekasihnya selalu pria yang lebih matang dari usianya. Bahkan menurut Maggie, setiap pria yang dibawa Laurent adalah pria yang seperti sudah mempunyai istri. Sementara Jacob yang mulai disibukkan untuk memimpin perusahaan Desmond. Menjadi sibuk dan jarang menemui Clara di apartemennya. Sampai suatu ketika, saat akhirnya Clara dan Jacob sama-sama memiliki waktu luang karena mendapat liburan. Mereka berjalan-jalan dan menghabiskan waktu libur bersama Maggie dan kekasih barunya. Berserta Laurent yang saat itu baru putus dari kekasihnya. Hingga Maggie memergoki Laurent dan Jacob yang terlihat mencurigakan dari saat ditempat liburan mereka, hingga kembali ke Sydney. Dan kecurigaan Maggie terbukti... Jacob bermain dengan Laurent di belakang Clara. Sebuah pengakuan terucap dari Laurent bahwa selama ini mereka memang sudah bersama. Namun demi mendapat posisi terbaik diperusahaan Desmond. Mereka rela berpisah... Dan saat Jacob sudah memiliki usaha sendiri. Mereka meninggalkan Clara. Clara terpuruk merasa bodoh telah dimanfaatkan kedua orang yang begitu dia percaya. Membuat Clara kembali tak enak hati dengan keluarga Maggie. Namun keluarga Maggie meyakini semuanya akan baik-baik saja. Dan menyuruh Clara untuk tetap fokus pada kariernya. Dave tersentak dari lamunannya. Bagaimana bisa dibalik sikap ceria Clara tersimpan kenangan dan pelajaran hidup yang begitu berat. Selama ini Dave merasa hidupnya cukup berat. Menerima kasih sayang berbeda dari ibunya. Hingga dirinya berpikir dia harus bisa lebih baik dari Zach. Namun semua itu masih tak cukup bagi ibunya. Walau kedua ayahnya sudah sangat bangga dengan pencapaiannya sejauh ini. Bahkan almarhum ayahnya begitu menyayanginya dibandingkan Zach. Dan sekarang juga begitu... Marvin -ayah tirinya- juga lebih meyayanginya dibandingkan Zach. Namun tetap saja dia merasakan kekosongan dan kekurangan rasa sayang dari sosok seorang ibu yang melahirkannya. Dave mengakhiri mandinya. Dan hanya memakai celana boxer berniat untuk segera tidur. Dia melihat boneka kucing di ranjangnya. Dirinya kembali mengingat Clara yang begitu tiba di apartemen. Memaksanya menerima boneka kucing itu. "Baiklah... Terima kasih untuk hari ini, Mousie... Ini! Jika kau tak ingin boneka mouse, ambillah boneka cat-nya. Namai dia Cattie. Memiliki huruf awalan 'C' sama dengan namaku, Clara. Jadi jika kau merindukanku... Kau boleh memeluknya," ujar Clara memaksa Dave mengambil boneka tersebut dan menutup pintu apartemennya dengan segera. "Ck! Kau pikir aku mempunyai waktu untuk merindukan wanita sinting sepertimu?!" tukas Dave tertuju kepada boneka kucing tersebut. Dia mendekati dan memperhatikan boneka itu. "Aku rasa aku akan menjadikanmu pelampiasan kekesalanku padanya. Karena dia lebih sering membuatku jengkel daripada senang!" seru Dave. Sepertinya dia mulai ikutan sinting karena berbicara dengan sebuah boneka. "Hah... Apa-apaan ini! Kenapa aku bicara pada boneka ini!" keluh Dave dan melempar boneka itu sembarangan. Lalu dia mulai masuk ke dalam selimut. Namun beberapa detik kemudian dia terbangun dan terduduk di ranjang sambil menatap tajam boneka tersebut. Dia kembali mengingat ucapan Clara saat dirinya baru berjalan tiga langkah dari pintu Clara. Wanita itu mengintip dari balik pintu. "Jangan dibuang! Jangan dilempar sembarangan ditempatmu! Atau Mousie akan mendapat pengaduan dari Cattie bahwa kau menyiksanya!" sergah Clara. Lalu menutup pintunya cukup keras. Dave beranjak dari ranjang dan mengambil boneka Cattie. Lalu meletakkannya di nakas samping ranjangnya. "Hah...! Jangan menyusahkan seperti wanita sinting itu!" Dave menunjuk-nunjuk wajah Cattie. Lalu dia kembali berbaring sambil menatap Cattie yang terlihat menyebalkan bagi Dave. "Apa yang kau lihat!" tukas Dave. Lalu dia membalik wajah Cattie menjadi membelakanginya. "Heh! Begitu lebih baik," kata Dave. Menyentil p****t boneka Cattie. Lalu dia mulai memejamkan matanya untuk tidur. *** Jacob tiba di apartemen tempat Clara dan Dave tinggal. Setelah dia mengantarkan Laurent pulang. Dia mencoba menghubungi Clara untuk bertemu dengan wanita itu. Namun selalu mendapat tolakan dari panggilan telepon Clara. "Seperti itukah caramu Cla?! Baiklah... Seperti ucapanmu di restoran kemarin. Dalam satu tahun ke depan. Siapakah yang lebih bahagia dari kita. Tapi sepertinya aku tak akan membiarkanmu bahagia, Cla. Tak akan... Jika bukan denganku!" tekad Jacob lalu melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Clara. *** Maggie terlihat kesal dengan nama dilayar ponsel Clara. Lantas dia terus menolak panggilan tersebut. Maggie menggedor Clara yang kembali tertidur di dalam bathup. Seakan itu sudah menjadi ritual Clara sebelum tidur. "Cla! Kenapa kau masih menyimpan nomor si berengsek Jacob?! Aku akan memblokir nomornya. Dan aku juga akan mengganti nomor ponselmu. Jadi tak akan ada kesempatan untuknya bicara denganmu! Mengerti?!" teriak Maggie dari balik pintu kamar mandi Clara. Hening dan tak ada sahutan sama sekali. Maggie membuka pintu kamar mandi Clara. "Ah! Ya ampun! Jangan masuk! Dasar Mousie m***m!" teriak Clara spontan saat terbangun dari tidurnya di dalam bathup. "Siapa Mousie? Dan kenapa m***m?!" tanya Maggie mengerutkan keningnya. Clara hanya meringis menenggelamkan kepalanya ke dalam air. **  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD