PEMBUKTIAN

1448 Words
Aindra benar-benar menggunakan waktu untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Ciri seorang pemimpin adalah ketenangan dalam bertindak, sigap dalam berperilaku dan tanggap dalam menentukan tindakan dan tepat dalam memutuskan. Hari ini pemuda itu memilih melatih diri dengan berlatih silat sendiri. Ia mengalirkan semua energi dalam satu titik yakni jantung, pengendalian detak jantung melibatkan emosi, Aindra harus bisa mengendalikan seluruh olah diri dari latihan ini. Dua jam berlalu, pemuda itu menyudahi sesi latihannya. Ashen yang sedari tadi menontonnya latihan bertepuk tangan. Aindra bukan tak tau jika ia diamati sembunyi-sembunyi oleh majikannya. Pemuda itu hanya tersipu ketika Ashen bertepuk tangan. "Ah, andai gue punya anak cewe, udah gue suruh lu nikahin anak gue," selorohnya. Aindra makin tersipu. Ashen jadi terpukau melihat ketampanan yang tersembunyi di balik wajah kasar dan kusam anak buahnya itu. "Eh, gue saranin elu buat ke salon ya. Bukan apa-apa perawatan muka itu juga penting, sayang muka ganteng tapi ketutup sama komedo dan jerawat," ujarnya memberi saran. "Belum ke kumpul duitnya, koh. Kemarin beli sabun cuci muka khusus aja," jelas Aindra. "Suara kamu juga bagus, sering olah vokal aja biar kanak-kanaknya ilang," lagi-lagi Ashen memberi saran. Aindra akan selalu mendengarkan saran yang baik untuknya. Pemuda itu juga telah menonton treatment di sebuah kanal video internet, bagaimana cara membersihkan muka khusus wajah pria. Dulu, ketika menjadi raja. Kulit wajah Aindra sangat halus, putih dan bersih. Bibirnya juga merah seperti buah ceri. Tubuhnya tegap dan berotot, dadanya bidang, punggungnya kokoh dan bahunya tegap dan lebar. Sailendra benar-benar sosok pria sempurna. Belum lagi dengan wajahnya yang sangat tampan. Pagi ini ia kembali kuliah setelah membereskan toko, Ashen memang datang pagi karena ada barang yang mau masuk. Jadi pria itu membantu anak buahnya bekerja. "Mana buku laporan pemasukan barang?" tanya pria bermata sipit itu. "Ini koh," ujar Aindra memberikan sebuah buku. "Ntar ditaruh di sini lagi ya koh," pintanya memohon. "Iya, gue tahu!" sahut Ashen. "Sana lu berangkat, jangan terlambat!" Aindra pun pamit berangkat. Salah seorang pengangkat barang menatap kepergian pemuda itu dengan tatapan setengah iri. "Enak banget jadi dia, pagi-pagi pergi. Di mana-mana tuh kerjaan yang dipentingin!" gerutunya,"cari kerja susah bro!" "Eh ... lu kenapa turunin yang bukan barang gue?" sentak Ashen menegur pria yang nyinyir. "Ah ... eh ... maaf koh, nggak sengaja," ujarnya gagap. "Lu ngomongin orang aja bisa lu!" bentak Ashen menyindir. "Kerjaan lu aja nggak bener!" Pria itu tampak malu kena tegur pemilik toko. Akhirnya ia pun menurunkan barang milik Ashen dan menaikan kembali barang yang salah turun tadi. Sedang di tempat lain. Ziyad fokus dengan pekerjaannya. Pria itu sangat teliti dengan semua pergerakan yang ada di layar. "Layar tiga belas kenapa seperti ditempel sesuatu?" tanyanya. "Eh mana?" tanya salah seorang petugas sekuriti. Ziyad menunjuk salah satu layar. Ada setengah yang terlihat sedang setengahnya seperti ada yang menutupi. Ziyad langsung mengkoordinir petugas lapangan dengan menggunakan alat handy talky. Petugas itu tampak ada di layar yang bermasalah. Ia membuang benda yang menempel dengan bantuan kayu dan kain yang diberi tinner. Seketika benda menempel itu hilang dan layar kembali terang. "Siapa yang iseng menaruh permen karet di kamera ini?" tanya petugas lapangan. "Saya akan periksa skrip kamera. Kita akan tau siapa yang menutup kamera di akses masuk dan keluar pintu darurat!" ujar Ziyad sigap. "Ketua, bagaimana kalo saya saja yang periksa skrip kameranya," tawar salah satu staf keamanan. Ziyad adalah seorang panglima perang terkuat. Tentu ia tau dan bisa membaca gelagat orang gugup dan merasa bersalah. "Tidak, kita akan bentuk tim dan mengkaji semua skrip kamera dan membahasnya melalui meeting dengan pimpinan perusahaan!" tolak Ziyad tegas. Pria berperut buncit itu menelan saliva kasar. Sebuah rencana besar sebentar lagi akan terkuak. Ia harus memberitahu salah satu pihak yang lebih tinggi dari Ziyad untuk menghentikan pembacaan skrip kamera pengintai. Benar saja ketika Ziyad ingin melapor pada atasan. Aksinya dihentikan oleh salah satu manager perusahaan. "Saya harap anda mengerti batasan. Di sini saya adalah atasan, jadi anda hentikan laporan tentang kamera bermasalah itu," ujar staf itu. "Kenapa mesti dihentikan pak?" tanya Ziyad dengan nada penuh penekanan. Tatapan tajam dan menusuk milik pria itu membuat staf itu takut. Ia jadi gugup setengah mati. "Loh kalo saya bilang berhenti ya berhenti. Kalau tidak kamu saya pecat dan langsung saya black list!" ancam staf itu berani. "Oh silahkan. Saya akan buat surat pengaduan langsung pada pihak pusat jika ada yang hendak melakukan pencurian tapi langsung ditutupi oleh salah satu pemimpin perusahaan, bagaimana?" tantang Ziyad. Pria itu menghapus keringat di dahinya. Ia hendak menarik tubuh pria yang jauh lebih besar dari tubuhnya. sayang, posisi Ziyad bergeming dari tempatnya. "Apa maksud anda menarik saya?" tanya Ziyad heran. "Ck ... ayolah, kau perlu berapa?" bisik staf itu. "Maksudnya anda mau menyogok?" pertanyaan keras dari mulut Ziyad membuat semua menoleh padanya. Staf itu mulai panik. Akhirnya semua dibawa ke sebuah ruangan dan di adili oleh staf penanganan situasi. Ziyad sangat tenang dalam menjawab semua pertanyaan yang mengintimidasinya. Tentu saja sebagai panglima perang, ia dengan mudah menangani tekanan apa pun. "Saudara Aindra, anda dipanggil oleh CEO!" Staf itu makin pucat. Akhir dari semua karirnya akan dimulai hari ini. Benar saja, satu jam Ziyad di panggil, nyaris sepuluh staf dan tiga sekuriti yang terlibat dipecat tidak hormat. Ziyad dapat bonus bersama tim lainnya yang berani mengungkap kejahatan staf. Sedang di kampus, untuk pertama kalinya Sailendra presentasi di depan kelas. Dosen bertepuk tangan dengan review yang diberikan olehnya. Begitu detil dan sangat rapi. "Bagus Ndra, kamu saya beri nilai A untuk tugas pertamamu. Sedang yang lain saya beri nilai B plus, karena saya puas dengan apa yang teman kamu ini presentasikan!" Dodo langsung bertepuk tangan senang. Ia sebenarnya lupa menulis reviewnya hari ini. Beruntung nama temannya yang dipanggil pertama kali. Dosen keluar. Semua mengerubungi pemuda itu. Aindra hanya tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari semua teman sekelasnya itu. "Padahal presentasi gue sama loh kek Lo," celetuk salah satu di antara mereka. Semua menoleh pemuda itu termasuk Aindra. Pemuda itu tampak kaget melihat respon teman-temannya. "Kalo emang sama kesimpulan terakhir tadi apa?" tanya Dodo penasaran. "Itu ... apa ... eeumm anu ...," pemuda itu gugup. "Zaki ... Zaki, orang kamu itu sama bodohnya sama gue, nggak usah ngaku-ngaku kalo tulisan kamu itu sama dengan punya Aindra!' ketus Gewa. "Bener tulisan gue sama!" akunya teguh pendirian. "Kalo gitu mana tulisan Lo, gua mau baca!" sambar Dodo. "Ya ... itu gua nggak bawa ...." "Huuuuu!!!" semua menyoraki pemuda yang berusia sembilan belas tahun itu. "Beneran tulisan gue sama!" teriaknya benar-benar tak mau kalah. "Kalo emang benar, besok elu harus bawa, kita mau baca!" tekan Ando menantang. Pemuda bernama Zaki itu gelagapan. Ia ingin kembali berkilah tapi langsung diberi mental oleh Gewa. "Kamu tau boong itu dosa besar. Jika kamu terus berbohong, kita semua bakalan nggak percaya ketika kamu benar!" "Ck ... nggak usah dengerin orang suka ngibul deh, ke kantin yuk gua traktir!" ajak Sapto anak orang kaya. Sapto menarik tangan Aindra dan semua meninggalkan Zaki. Beberapa gadis mengikuti Sapto dan lainnya. Memang kelas Aindra lebih banyak mahasiswa dibanding mahasiswinya. Usai mata kuliah, semua anak keluar dengan wajah lega. Aindra bergegas kembali ke toko, ia merasa terlalu lama meninggalkan pekerjaannya, padahal waktu tetap sama ia tempuh dalam belajar yakni selama empat jam. Tadi ada tiga mata kuliah dengan masing-masing satu semester di mata kuliah awal dan dua semester di mata kuliah akhir. Aindra memakai helmnya dan langsung memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Kali ini ia tak melewati potong arah. Ashen menyuruhnya untuk ke toko salah satu saudaranya, sebuah toko elektronik di pusat kota. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai. Aindra menggunakan aplikasi penunjuk arah di ponselnya dan menemukan toko bernama sama sesuai kertas memo yang ada di tangannya. "Permisi Koh Along!" sapanya ketika sampai di toko yang di maksud. "Eh ya?" Seorang pria bertubuh sama dengan Ashen hanya saja, pria ini memakai baju khas Tiongkok. Memakai kacamata kecil. "Saya Sailendra dari toko Koh Ashen mau ambil barang!" Aindra memberi memo ditangannya. "Ah ... elu olangnya ... sini-sini," ajaknya. Aindra mengikuti pria itu. dua boks besar kini diikat di belakang motornya dengan kuat. Setelah yakin ikatannya kuat. Pemuda itu pamit dan membawa hati-hati kendaraannya. Bertepatan motornya bergerak. Ziyad tengah menatap anak buahnya yang ada di belakang tubuhnya. motor yang Aindra bawa melewati Ziyad yang berdiri di pinggir jalan. Ketika Aindra telah lewat. Ziyad menoleh ke arah motor yang tadi melewatinya. Tentu saja tubuh Sailendra tak terlihat karena tertutup boks tinggi. "Kenapa jantungku berdetak kencang ketika motor itu lewat ya?" gumamnya bertanya dalam hati. Ziyad meraba dadanya. Sambil menatap motor yang sudah mulai menjauh dari pandangannya dan hilang. Sedang di atas motor Sailendra juga sama. Ia melihat kaca spion dan menatap pria yang jauh di belakang. "Apa aku tadi sempat menyenggolnya?" pikir pemuda itu. Ia menggeleng dan menggas motornya agar lekas sampai di tempat kerjanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD