Aindra sudah memberitahu jadwal ngampusnya pada Ashen. Sang majikan memberinya semangat belajar.
"Lu harus jadi orang sukses. Kalo lu sukses, lu bisa balas dendam sama orang yang dulu menghina dan ngerendahi lu!"
Hampir sama dengan pesan dari Rokayah. Orang tidak akan melihat siapapun bahkan kebaikan apapun jika kita bukan siapa-siapa. Tapi, kalau orang itu sukses, setidaknya ketika berbuat salah, masih ada yang membela selama tadinya selalu baik.
Aindra mengingat pesan yang sangat baik bagi kehidupannya itu. Dulu, ketika ia menjadi raja. Jangankan orang mau merendahkannya lebih banyak dia yang merendahkan orang lain bahkan pada orang kepercayaannya—Mark.
Aindra mengendarai motor melalui jalan yang kemarin dilalui. Selain jarak yang dekat jika pagi hari banyak pengendara motor yang juga lewat sana di banding melalui jalan utama.
Hanya butuh waktu lima belas menit saja, ia sampai di halaman parkir kampus. Pemuda itu langsung mendata diri karena tiba-tiba pihak staf meminta data para penerima beasiswa dengan mengirim bukti pesan singkat yang dikirimkan dari kampus.
Setelah mendata. Aindra langsung masuk ke kelasnya. Ia duduk di kursi paling depan. Dirinya tentu mau fokus pada materi yang diberikan.
Tak lama satu-persatu mahasiswa dan mahasiswi masuk ke dalam kelas. Aindra duduk di depan posisi paling pojok. Tubuhnya yang tinggi tentu menghalangi pandangan di belakang. Jadi ia memilih memiringkan tubuhnya agar teman di belakang bisa lihat.
"Ndra!" Dodo langsung duduk di sebelah kursinya.
Pemuda berkulit hitam manis itu terengah seperti habis maraton.
"Kenapa Lu, dikejar utang?" kekeh Sailendra.
"Ais ... syialan lu, gue kira telat bro, eh masih ada waktu sepuluh menit lagi ... untung-untung!" jawabnya sambil mengelus d**a.
Banyak anak didik yang belum masuk kelas mereka masih melihat papan mading. Karena berkerumun jadi menyulitkan semuanya. Akhirnya pihak kampus memarahi mereka semua.
"Mestinya kalian lebih peka dengan informasi, ketauan banget ngampus cuma buat nongki doang!"
Suara itu begitu terdengar hingga ke dalam ruang kelas Aindra. Dodo sampai terkekeh mendengar umpatan para staf kampus melihat kemalasan para mahasiswa itu.
"Kadang gue kasian sama anak-anak yang bener-bener mau ngampus demi memperbaiki diri tapi mereka minim keuangan, kek gue," keluhnya.
Aindra hanya diam menanggapi, mengira semua hal biasa saja. Mereka semua yang mendaftar baru saja lulus SMA. Sifat labil dan manja tentu masih melekat di diri mereka.
"Ya, biasa selalu disediakan sama orang tua, tapi nggak mau dibilang anak mama atau anak papa. Pacaran biar dibilang dewasa begitu nikah belum kerja, yang susah juga orang tua," ocehnya lagi.
"Lu kenapa Do? Kesambet?" kekeh Aindra.
Dodo berdecak kesal. Dosen datang tapi kelas hanya separuh saja terisi. Hari pertama dosen memberi keringanan pada yang terlambat. Tapi, tidak ada hari lain.
"Saya akan langsung meng-alpa mahasiswa yang hadir walau satu menit setelah kehadiran saya di kelas!" ancamnya tegas.
"Iya pak!" sahut semua kompak.
Absensi dilakukan. Sailendra jadi sorotan bukan dari namanya saja yang unik tapi warna mata pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu memang berbeda dari yang lainnya.
"Kamu orang mana?" tanya dosen penasaran.
"Saya nggak tau pak, di sini saya hanya sebatang kara," jawab pemuda itu.
Dosen itu akhirnya memulai mata kuliahnya. Sailendra yang sudah belajar mulai paham apa itu ekonomi dasar. Bagaimana terbentuknya ekonomi berasal.
"Jadi pergerakan ekonomi itu stabil karena daya jual dan daya beli masyarakat stabil atau meningkat!" terang dosen itu.
"Sampai sini ada yang ditanyakan?" Aindra langsung tunjuk tangan.
"Ekonomi memburuk itu bisa didasari apa, selain ketidak bijakan aturan pemerintah dan kasus korupsi?"
"Wah pertanyaannya cukup sulit ini. Kita belum menyasar ke arah economic chaos atau kepanikan ekonomi. Nanti ada tahapan untuk sampai sana," jelas dosen bernama Rudi.
"Tapi saya akan menjelaskan hanya secara garis besarnya ..."
Jam mata kuliah selesai. Duduk selama empat jam nonstop membuat semua menegakkan pinggang kecuali Sailendra.
"Nggak cape lu Ndra?" tanya Dodo.
"Mata gue udah sepet, ngantuk!" lanjutnya sambil menguap.
Tak ada tugas, karena hari pertama. Aindra harus buru-buru ke toko agar langsung bisa bekerja. Dodo sempat mengajaknya untuk nongkrong dulu, tapi langsung ditolak oleh pemuda bermata abu itu.
"Gue kan sambil kerja, jadi nggak bisa main. Nggak enak sama Boss gue, udah baik banget dia," jelas Aindra.
Dodo mengangguk tanda mengerti. Sebenarnya banyak yang ingin berteman dengan Sailendra. Tapi pemuda itu memilih hanya memiliki satu teman yakni Dodo. Ia tak mau banyak berkawan karena pasti akan banyak pula godaan dan dia tak bisa fokus dengan tujuannya.
Pemuda itu kembali melalui jalur yang sama ketika ia pergi tadi. Beberapa sepeda motor juga lewat dan saling memberi klakson untuk menyapa. Kali ini waktu yang ditempuh lebih lama sepuluh menit dibanding ke kampus, karena Aindra harus sedikit berhati-hati karena jalan yang ia lalui berlawanan arah.
Motor berhenti dan toko sudah buka. Ashen sudah ada di sana, pria bermata sipit itu juga tak segan membersihkan toko, walau tadi Aindra sudah membersihkannya sebelum berangkat ke kampus.
"Koh, biar saya saja," ujar pemuda itu tak enak hati.
"Udah ... nggak apa-apa. Sana lu bebersih diri dulu, trus lu makan siang. Owe udah beliin Lu nasi Padang," titah pria itu.
"Wah, makasih koh. Jadi nggak enak ngerepotin,"
Ashen mengkodekan jemarinya agar Aindra tak perlu sungkan. Pemuda itu langsung segera membersihkan diri dan memakan makanan yang dibawa oleh atasannya. Usai makan ia kembali bekerja.
Sementara di tempat lain. Sebelas pria mendapat pekerjaan mereka dengan cepat. Terlebih mereka yang sangat pintar dan begitu cekatan. Ziyad diterima sebagai kepala staf keamanan karena ia memang basic di bidang itu. Bahkan ia bisa menciptakan sistem keamanan yang sangat baik pada perusahaan.
Sebelas anak buah Ziyad, ada yang menjadi staf akunting, staf admin dan paling banyak staf management produksi. Hanya satu yang satu kerjaan dengan Ziyad dan menjadi asisten pria itu. Dan syukurnya mereka bekerja di satu kantor.
"Hari ini kita baru diterima sebagai karyawan magang. Artinya selama tiga hingga enam bulan ke depan, kita baru diangkat menjadi karyawan tetap," ujar Ziyad ketika makan siang tiba.
Sebelas pria berkumpul di satu meja. Pandangan dingin dan tatapan tajam membuat semua orang takut mendekati mereka. Bahkan tak ada satu pun yang berani mengerjai kesebelas pria tampan itu.
"Halo ... boleh gabung?"
Tiga orang gadis mendatangi meja Ziyad dan sepuluh anak buahnya. Almather langsung menolak dengan sopan.
"Wah maaf ya, mejanya penuh dan kami tengah berdiskusi antara lelaki,"
"Ih, trus kita duduk di mana. Semua penuh juga nih?!" seru wanita cantik itu kesal.
Almather menatap sekeliling. Memang semua meja penuh. Ia menatap Ziyad. Pria itu berdiri dan mengajak semuanya untuk menyudahi acara makan dan perbincangannya.
"Loh kok malah pergi. Kan memang di sini ada tiga kursi kosong tadi?" tanya salah satu karyawati cantik.
"Kami sudah selesai kok," ujar Berawa.
Sebelas pria bertubuh tegap keluar. Semua mata melihat mereka dan kebanyakan adalah kaum hawa. Mereka terpekik tertahan melihat ketampanan sebelas pria itu.
"Gila cakep banget itu karyawan baru!"
"Aku mau di rumah ngang.kang aja nggak pake apa-apa asal sama yang paling gede itu!" ujar salah satu sangat vulgar.
"m***m kalian semua!" kikik salah satunya.
"Ih ... nggak apa-apa, nggak bayar ini. Duh, anu aku udah basah padahal baru ngomong doang!" rengek wanita yang satunya mengeluh.
"Njiirr ... beneran gila ya Lu ... pake acara ngompol!"
Ziyad dan rekan-rekannya sudah tak mendengar perkataan absurd dari para karyawan wanita di perusahaan ini. mereka sudah pergi ke tempat kerja masing-masing dan berjanji akan pulang bersama.
Sore menjelang. Ziyad sudah membereskan semua pekerjaan. Ia menerima sebuah pesan jika sepuluh anak buahnya juga telah menunggu kepulangannya. Pria tampan itu bergerak dari ruangan dan menuju lobby.
"Ko ... hai!" sapa Pole nyaris memanggil komandan pada Ziyad.
Pria itu hanya menatap datar anak buahnya. Kedekatan sebelas orang itu menjadi buah bibir semua pekerja.
"Kenapa mereka kek pacaran sih?" tanya salah satu curiga.
"Apa jangan-jangan?"
"Hush ... nggak boleh nuduh sembarangan!" sanggah salah satu dari mereka.
"Komandan, kita harus bertanya perihal keberadaan Yang Mulia!" sahut Almather.
"Info terakhir yang kita dapatkan jika Yang Mulia Pangeran Sailendra Hovert ada di kota ini," jawab Ziyad yakin.
"Kota ini sangat luas komandan!" Ziyad mengangguk setuju.
Ia menatap jalan di mana orang hilir mudik. Mereka tak ada yang saling sapa. Tak ada saling tegur bahkan jika ada yang terjatuh, Ziyad yakin tak ada yang menolong.
"Yang mulia ... anda ada di mana?" gumamnya pelan.
sedang lima kilometer dari lokasi Ziyad berdiri. Aindra menepuk telinganya yang tiba-tiba berdenging. Ia menoleh ke sebuah arah.
"Siapa yang memanggilku?" gumamnya bertanya.
Pemuda itu menggeleng. Ia tengah membantu menurunkan beberapa alat elektronik yang baru saja datang. Pemuda itu juga langsung mencatat semua yang telah masuk dan yang keluar. Ashen begitu bangga dengan kinerja karyawan barunya itu.
"Begitu Elu lulus, gua nggak mau lu cuma jadi kacung, lu harus lebih baik lagi dari ini, gue yakin lu bakalan jadi orang!" gumamnya yakin.