Aindra akhirnya lolos dan mendapat beasiswa. Pemuda itu sangat senang hingga ketika melayani pembeli, ia selalu tersenyum. Wajahnya yang memang tampan, membuat siapa saja terpukau. Banyak pengunjung datang membeli beberapa barang juga memberinya tips.
“Saya senang dengan pelayanannya yang ramah dan dia juga sangat tampan dan rajin,” puji salah satu pengunjung.
“Haiya ... kalau kamu gini terus lama-lama saya jadi kaya ha,” seloroh Ko Ashen dengan dialek kentalnya.
Aindra jadi tersipu malu. Pemuda itu jarang mendapat pujian karena memang tempramennya yang dingin dan datar. Sudah dua minggu ia bekerja di toko pria bermata sipit itu. Di sana juga banyak toko serupa yang dijaga oleh penjaga toko wanita. Pemuda itu langsung menjadi idola semua gadis.
“Mas Aindra, makan bareng yuk, aku yang traktir,” ajak salah satu gadis penjaga toko dengan wajah malu-malu.
“Maaf ya, saya udah dapat makanan dari boss saya. Sayang nggak dimakan,” tolak pemuda itu datar.
Ko Ashen hanya menggeleng dengan penolakan karyawannya itu. Di mana banyak pria akan memanfaatkan situasi dengan tampang yang ia miliki. Sedang Aindra memilih menolak berdekatan dengan gadis-gadis manis itu.
“Jangan gitu, nggak baik nolak rejeki. Saya kan nggak pernah kasih kamu makan,” tegur pria bermata sipit itu.
“Nggak apa-apa koh, saya nggak mau bikin cewek baper,” jawab pemuda itu.
“Halah sok-sokan bikin baper,” tawa Ashen mendengar perkataan karyawannya itu.
Aindra hanya tersenyum tipis. Mata abunya memang begitu menarik perhatian. Ashen begitu terhipnotis pada sosok karyawannya itu. Selain Aindra yang memang sangat tampan. Pemuda itu juga memiliki karisma luar biasa.
“Kau tau, aku rasa dirimu itu cocoknya jadi raja yang duduk di singgasana,” ungkap Ashen memberi pendapat.
Lagi-lagi Aindra tersenyum simpul. Pemuda itu memilih menyusun pembukuan toko. Ia harus belajar dengan cash flow toko ini. Ketika dia menjadi raja, semua kepengurusan pemasukan pajak diurus oleh beberapa perdana Menteri. Kali ini ia harus tau bagaimana uang itu masuk dan juga keluar, bagaimana pemasukan balance dengan pengeluaran. Aindra harus belajar banyak, agar suatu saat ia tak ditipu lagi.
“Oh, ya ... kapan kamu kuliah?” tanya pria berkulit putih dan beraksen kental itu.
“Senin depan koh.” jawab pemuda itu.
“Jaraknya lumayan jauh, ntar sore Lu ikut owe ya,” ajak pria itu.
“Kita tutup awal tokonya,” lanjutnya.
“Baik koh,” sahut Aindra.
Sore menjelang. Ashen mengajak karyawan barunya itu ke dealer motor terdekat. Pria itu memilih motor matic bekas yang masih bagus. Setelah memilih beberapa. Akhirnya pria bermata sipit itu membeli satu unit motor.
“Lu bisa kendarain tuh motor kan?” Aindra mengangguk tapi dengan ekspresi bingung.
“Ini motor buat akomodasi Lu. Owe mau Lu biar mudah dan cepet. Lu juga bakal owe suruh-suruh, jadi Lu bisa pake ini ke kampus,” ujar pria itu lagi.
“Yang bener Koh?” Aindra tak percaya mendapat kepercayaan sebesar itu dari tuannya.
“Iya, kamu jaga yang bener ya,” sahut pria itu.
Aindra begitu senang sampai ia tersenyum hingga kelihatan giginya yang putih dan rata. Sampai penjaga dealer yang melayaninya memuji ketampanan pria itu.
‘Ganteng amet Koh. Dapat karyawan dari mana?” seloroh pemilik dealer.
“Owe dapat dari langit,” kekeh Ashen.
Aindra disuruh pulang terlebih dulu sambil membawa motor barunya. Beberapa pegawai toko yang bersebelahan dengan toko yang ia jaga, langsung memujinya.
“Wuih ... dapat motor baru nih, Si Pardi aja yang kerja sama Koh Ashen lima tahun nggak dapet tuh,” ujar karyawan toko memberitahu.
Aindra hanya tersenyum tak menanggapi perkataan teman seprofesinya itu. Pemuda itu memarkirkan motor di depan tokonya. Mengunci ganda agar aman dari pencuri. Aindra membuka toko kembali. ia kembali membaca pesan singkat yang diberikan oleh pihak kampus, masa orientasi siswa tak jadi diadakan karena banyaknya penolakan dan trauma para orang tua terhadap kegiatan semacam pengenalan antara senior dan junior.
“Memang apa yang pernah terjadi sih?” tanyanya bingung.
Aindra memilih tak acuh pada pesan itu ia memilih melihat jadwal awal perkuliahan dimulai kapan. Senin depan ia harus ke kampus untuk mengetahui sendiri di mana ia ditempatkan dan mulai masuk jam berapa..
“Kata petugas kampus kemarin biasanya pengumuman sudah ada sebelum hari pelaksanaan pendidikan kampus,” gumamnya pelan.
“Nanti minta ijin dulu deh sama Koh Ashen,” lanjutnya.
Sementara itu di tempat lain Ziyad bersama sepuluh orang bawahannya sampai di sebuah kota. Pandangan mereka mengedar, mengamati semua orang yang lewat. Ketampanan sebelas orang yang tengah berdiri mengamati membuat para wanita terpekik histeris, terlebih tubuh kesemuanya tinggi dan tegap.
“Panglima!” panggil salah satu di antara mereka.
Ziyad berdecak kesal pada anak buahnya itu. Ia sudah memberitahu sebelumnya agar tak terlalu formal. Mengetahui kesalahannya, pria itu menunduk dan malah membuat Ziyad makin kesal.
“Katakan apa yang ingin kau katakan?” sahut pria itu pada akhirnya.
“Kita tak bisa begini terus dalam pencarian yang ... maksud saya tuan muda,” ujar pria itu masih menunduk.
Ziyad paham maksud dari ajudannya itu. Mereka sudah sepuluh hari mengitari kota ini hanya diam dan mengamati. Tak bertanya dan malah sempat ada polisi mendatangi mereka dengan padangan curiga.
“Jadi bagaimana usulmu?” tanya Ziyad.
“Perbekalan kita sudah nyaris habis. Kita akan segera jadi gelandangan atau mati kelaparan jika kita tak mencari kerja,” ujar ajudannya itu.
“Kalau begitu kita duduk dan bicarakan apa idemu selanjutnya,” ujarZiyad.
Panglima besar sebuah pasukan terkuat tentu tak semerta-merta membuat dirinya jauh dari sikap arogan. Pria itu sangat menghargai para anak buahnya. Ia juga pendengar yang baik. Maka ia akan mendengarkan saran dari salah satu perwira terbaiknya ini.
Mereka duduk di kursi taman kota. Salah satu di antaranya membeli air kemasan botol dan beberapa bungkus roti. Usai minum ajudan tadi kembali bersuara.
“Kita harus membeli atau setidaknya menyewa rumah di sekitar sini, lalu mencari pekerjaan. Dari informasi yang saya dapatkan. Pendidikan tertinggi akan mendapat jabatan yang bagus. Di sini kita semua bergelar sarjana. Kita bisa mencoba sambil perlahan mencari keberadaan yang mulia,” Ziyad mengangguk pelan.
‘Kita juga harus berpikir positif, apa yang dilakukan oleh yang mulia saat ini, apa yang dia lakukan ketika mendapati dirinya tak memiliki apapun. Saya kira yang mulia bukanlah orang berpikiran pendek,” lanjutnya berasumsi.
“kau benar sekali. Jika dipikir pasti yang mulia menggali diri dan mengasah kemampuannya,’ jawab Ziyad yakin.
“Nah maka itu kita harus mulai bekerja, setidaknya sekarang kita menyewa rumah. Saya akan berpenampilan biasa saja, agar kita tak lagi ditipu orang,” ujarnya.
Ziyad mengangguk. Pria itu memuji kecerdasan anak buahnya itu. Memang karena merasa dirinya seorang panglima dengan kekayaan yang tak bisa dihitung, membuat Ziyad terlalu angkuh dan menggelontorkan uangnya tanpa pikir jika ia tengah ditipu.
Sang ajudan menyamar jadi orang biasa,, ia mendapat sebuah kos-kosan. Pria itu langsung menyewa sebelas kamar. Selama satu tahun penuh dengan harga jauh di bawah perkiraan orang itu. Setelah mendapat hunian, mereka mencari pekerjaan melalui internet. Memang Ziyad dan sepuluh anak buahnya memiliki ponsel canggih masing-masing.
Setelah memberi surat lamaran via online. Mereka hanya tinggal menunggu kabar pemanggilan wawancara dengan membawa beberapa berkas yang diminta. Sekarang jaman canggih. Perusahaan tak lagi membuka lowongan dan membuat antrian panjang. Mereka hanya mengiklankan pekerja yang dibutuhkan di internet, jika berminat tinggal menghubungi orang yang melamar.
Sementara di tempat lain. Aindra mendapat ijin dari majikannya untuk pergi ke kampus melihat jadwal dan pembagian kelas. Pemuda itu menatap mading yang terpampang nama-nama mahasiswa yang menerima beasiswa. Ada namanya di urutan kedua, ia tersenyum bangga. Tiba-tiba bahunya ditepuk membuat ia sedikit terkejut dan menoleh.
“Sorry bro,” ujar pemuda itu terkekeh.
“Kenalin gue Dodo Rihwanto,” ujarnya memperkenalkan diri.
Sailendra yang sedikit tertutup menjabat tangan pemuda yang dibawah usianya.
“Sailendra,”
“Wuih ... nama lu udah kek nama dinasti kerajaan aja!” entah sindiran atau pujian, Aindra tak mau menyimpulkan ia kembali menoleh pada pengumuman di depannya.
Pemuda bernama Dodo itu menggosok tengkuknya. Ia jadi kikuk mengira pemuda yang ia sapa merupakan sosok yang ramai seperti dirinya. Ia pun melihat pengumuman yang ada di papan mading itu. Melihat namanya satu kelas dengan pemuda yang baru saja berkenalan dengannya, langsung terpekik girang.
“Bro, kita sekelas!” Aindra menoleh.
Dodo menunjuk nama pemuda itu berikut namanya. Mereka ada di kelas management A1. berarti pendidikan dimulai pagi hari selama dua sampai empat jam ke depan. Dodo berdecak kecewa.
“Yah kelas pagi, nggak bisa molor panjang ceritanya ini mah!”
Aindra memilih menggubris kekecewaan teman barunya itu. Ya, Aindra langsung mengklaim jika Dodo akan menjadi teman bahkan lebih. Ia mencatat jadwalnya yang dimulai pukul 08.30. dengan materi ekonomi dasar selama empat semester, berarti selama empat jam pemuda itu harus berkutat dengan pelajaran itu.
“Udah punya diktatnya belum?” tanya Dodo.
“Diktat?’
“Iya, buku panduan atau buku utama untuk belajar ekonomi dasar. Kalau nggak ada kita bisa beli atau foto kopi beberapa bab di perpus,” ujarnya.
“Tapi mending fotokopi aja deh, lebih murah dibanding beli,” saran pemuda itu.
“Ya udah ayo,” Sailendra.
“Kemana?” tanya Dodo bodoh.
“Ke perpus lah, semoga buka dan kita bisa belajar lebih awal apa itu ekonomi dasar,” ujar Aindra melangkah.
“Woi ... perpus lewat sini!” teriak Dodo.
Sailendra yang memang belum tau hanya menatap pemuda yang berlawanan arah dengannya. Di lihatnya plang penunjuk jalan kampus. Tulisan perpustakaan ada di jalur Dodo hanya tinggal belok kiri. Sailendra berlari kecil dan menyusul teman barunya itu.
Malam telah larut. Aindra baru saja meletakkan fotokopian yang baru saja ia dapatkan. Pemuda itu belajar giat sesuai arahan dari Sueb dan Rokayah. Ia tak boleh menyia-nyiakan waktu yang ada. Perlahan ia pun memejamkan mata dan terlelap.