Aindra menatap pria yang asal menuduhnya dengan tatapan tajam. Pria itu menelan salivanya. Netra abu-abu milik Aindra menandakan jika ia bukan penduduk asli sini. Tetapi jika melihat baju yang dikenakan Aindra, sungguh jauh dari kesan orang berada. Pria itu menyeringai licik pada Aindra setelah berbisik padanya.
Aindra hanya bergeming dengan ancaman dari penjaga toko itu, ia masih ingin tau apa yang pria yang mestinya melayani siapapun yang datang ke toko. Bukankah siapa saja bisa datang ke tempat ini! Pikir Aindra
“Kamu memang mau mencuri kan?” tuduhnya lagi kini lebih berani.
“Kenapa anda menuduh saya seperti itu, apa ada bukti jika saya akan mencuri?” tanya Aindra kesal.
“Halah ... bilang aja iya! Sudah sana pergi, sebelum saya panggilin polisi!” usir pria sekaligus mengancam.
“Saya ingin bertemu dengan Koko Ashen, saya ke sini atas ....”
“Saya bilang pergi ya pergi!” sentak pria itu memotong perkataan Aindra. “Saya nggak peduli kamu mau ketemu siapa. Di sini sekarang saya berkuasa!”
“Tapi saya ....”
“Tolong ada rampok!” tiba-tiba pria itu berteriak.
Aindra terkejut bukan main. Bagaimana bisa orang ini langsung meneriakinya rampok, padahal ia tak berniat untuk itu. Beberapa orang mulai berdatangan.
“Hei ... ada apa ini!” teriak salah satu pria.
“Tolong pak, dia mau merampok saya!” teriak pria yang di toko tempat di mana Aindra juga berada.
“Saya tidak ....”
“Hah ... maling mana mau ngaku, kita hajar dia!” teriak salah satu pria memprovokasi.
Orang-orang mulai menarik Aindra dan memukulinya. Pria penjaga toko tersenyum dan membiarkan keributan terjadi.
“Mampus Lo! Lo pikir bisa nyingkirin gue dari tempat ini?” gumamnya sambil tersenyum sinis.
Pria itu bukan tak tau jika akan ada pria datang yang mencari atasannya. Ia sangat tau, dan sang majikan memang bermaksud menggantikan posisinya dengan orang yang baru datang itu. Tentu hal itu adalah yang sangat tidak ia inginkan.
“Biar dia mampus. Kalo boss nanya, gue bilang aja kalo nggak ada yang dateng ke sini,” pikirnya licik.
Sedang Aindra yang tengah dikeroyok hanya bisa bertahan tanpa melawan. Orang-orang makin membabi buta memukulinya. Sungguh Aindra sangat ingin tau kemampuan tubuh yang ia tempati ini. Dulu ia begitu kuat dan tak bisa ada yang menembus tubuhnya. Ilmu kebal yang ia miliki juga sangat mumpuni. Pria itu hanya merasa perih di tubuhnya yang dipukuli orang.
“Hei ... berhenti! Jangan main hakim sendiri!” teriak salah satu dari kejauhan.
Seorang polisi datang dan melerai semuanya. Beberapa masih berusaha ingin menyiram Aindra dengan bensin.
“Saya bilang jangan main hakim sendiri!” teriak polisi itu.
“Dia mau merampok pak!” teriak salah seorang.
“Iya ... tapi ini negara hukum. Kenapa harus dipukuli?” teriak polisi itu.
“Biar kapok, nggak ada yang mencuri lagi!” sahut salah satu pengeroyok dengan nada marah.
“Sekarang, ada bukti nggak kalo dia merampok?” tanya polisi itu. “Kalian bisa dituduh dengan pasal tuduhan palsu dan penganiyaan!” sahut polisi itu tegas.
Semua diam. Memang mereka hanya mendengar teriakan minta tolong jika ada rampok. Tapi laki-laki yang dituduh malah tidak melarikan diri. Pria itu tetap tenang dan menyahuti jika ia tidak merampok. Mereka semua akhirnya di bawa ke kantor polisi. Aindra diperiksa secara menyeluruh, tak ada benda tajam dan benda terlarang lainnya.
“Mana senjatanya kalo merampok?” tanya polisi.
“Dibuang kali pak!” sahut salah satu pengeroyok masih kesal.
“Sekarang, toko mana yang mau di rampok?” tanya polisi lagi.
“Toko elektronik milik Ko Ashen, pak!”
“Di sana banyak cctv, kita bisa langsung periksa. Dia bawa senjata atau tidak,” ujar polisi lagi.
Kini semua diam dan mulai ketakutan. Memang dari awal, mereka hanya terprovokasi karena suara teriakan untuk menghajar pria tak bersalah itu. Aindra pun ditanya tentang kejadian sebenarnya lalu pria itu menjelaskan.
“Nah, dengar sendiri, kalau saudara ini tidak merampok, bukti pun tidak ada. Sekarang kalian yang harus dipenjara karena main hakim sendiri!” ujar polisi itu menatap sepuluh pengeroyok tajam.
“Ja-jangan pak ... ka-kami hanya terprovokasi saja,” ujar mereka ketakutan.
“Ini negera hukum, maka kalian akan saya tindak tegas agar tidak berbuat seenaknya!” sahut polisi itu lagi.
“Mas ... tolong kami mas ... kami tak mau dipenjara. Kasihan anak istri kami di rumah,” pinta salah satu dari mereka memelas pada Aindra.
Pemuda itu menggeleng. Tadi mereka tanpa ampun menghajarnya bahkan hendak membakar dirinya. Aindra tidak mau kejadian itu terulang lagi pada orang lain. Maka ia menindak tegas perbuatan main hakim sendiri itu.
“Saya akan laporkan mereka atas main hakim dan tuduhan palsu!”
“Dasar nggak punya perasaan!” sentak salah seorang bertubuh tambun dengan memakai baju singlet saja.
“Tau tadi kita bakar aja dia!” lanjutnya berang.
“Wah, anda berniat membunuh?” sahut polisi makin kesal atas ketidak sadaran orang-orang ini.
“Sudah tau salah malah buat dosa dengan ingin menghilangkan nyawa orang lain!”
“Petugas kurung mereka semua dengan dakwaan pembunuhan berencana!”
“Pak ... ampun pak!” teriak sepuluh orang itu.
“Kita bawa surat penangkapan pada penjaga toko Koh Ashen!” titah pria itu.
“Pak, mereka nggak didakwa beneran seperti itu kan tadi?” tanya Aindra yang iba dengan dakwaan berat itu.
“Kenapa, kau kasihan?” tanya polisi itu ditanggapi anggukan Aindra.
Mereka tengah berjalan ke toko elektronik milik Ashen dan membawa surat penangkapan atas dasar provokasi.
“Iya, pak saya kasihan,” jawab Aindra.
“Tenanglah. Mereka hanya saya kasih pelajaran dan memasukkan si pelayan tak tau diri itu,” ujar perwira itu.
Mereka sudah sampai di toko Ashen. Kebetulan sang pemilik ada di tempat. Ia nampak terkejut akan kedatangan dua polisi dan satu pria berpakaian sederhana ke sana.
“Selamat siang Ko!”
“Siang ... ada apa ini?” tanya pria bermata sipit itu.
“Saya membawa surat penangkapan atas nama saudara Pardi,” ujar perwira itu lalu menyerahkan surat penangkapan pada Ko Ashen.
“Atas dasar apa ya?”
“Atas dasar provokasi dan tuduhan palsu atas Saudara Sailendra dengan tuduhan merampok!”
“Eh ... kamu Sailendra dari toko Bushen itu ya?” tanya Ashen terkejut.
“Benar Ko, tadi saya ke sini tapi langsung diusir dan diteriaki rampok,” jawab Aindra langsung.
“Pardi ... sini Lu!” teriak Ashen mulai marah.
Sosok pria berlari dari arah belakang, ia sangat terkejut dengan kehadiran polisi dan pria yang tadi ia teriaki rampok.
‘Mampus gua!’ runtuknya sesal dalam hati.
“Lu bilang tadi nggak ada yang datang cari gua hah! Eh ... ini orangnya ada malah lu nuduh dia rampok .. bener-bener ya!” teriak pria itu marah dengan aksen tiongkoknya.
“Tadinya kalo dia datang, gue mau pindahin lu ke pusat buat jadi mandor utama. Eh elu malah boongin gua!” omelnya lagi sangat kecewa.
“Lu ikut tuh polisi dan elu gua pecat!” tekan Ashen tegas.
“Ko ... jangan ko ... saya nyesel ko ...!”
“Nggak ada!” tolak pria mata sipit itu sambil berkacak pinggang. “Lu dah boongin gue, gue nggak suka!”
Pardi menunduk penuh penyesalan. Gara-gara tak ingin bersaing dengan pegawai baru. Malah dia kehilangan kesempatan untuk naik jabatan, bahkan kini ia pengangguran juga. Sailendra di minta untuk tinggal oleh Ashen karena toko itu sepi dan tak ada penjaganya. Polisi setuju, Pardi sudah dibawa oleh polisi lain ke penjara.
“Jangan satuin sama orang-orang yang mukulin anak ini. Kasihan dia anak yatim, ibunya sakit adiknya banyak,” ujar Ashen meminta pengertian.
“Nanti saya suruh anak buah jemput dia. Pardi bakalan kerja di tempat yang deket sama rumah ibunya, biar dia nggak kejauhan dan bisa sesekali jagain ibunya yang sakit,” ujar pria bermata sipit itu.
“Ya, udah ko. Biar saya urus, tempat ini sangat aman dari pencurian sebenarnya. Makanya saya heran ada berani yang merampok siang bolong gini,” ujar polisi.
Perwira itu pun pergi. Ashen menunjuk kamar untuk karyawan barunya itu.
“Di sini kamu hanya saya suruh berjaga tiap pagi dan sore,” ujar pria baik itu.
“Kata Bushan kamu juga mau kuliah ya?” Aindra mengangguk.
“Ya, udah. Pas kamu kuliah tutup toko, sebenarnya ini gudang penyimpanan saja bukan toko sesungguhnya. Saya punya kunci cadangan, jadi kalau tutup, kamu kuliah gitu aja!” sahut pria itu melanjutkan kata-katanya.
Pria itu pun kini membantu Aindra menjaga toko, ada beberapa pembeli yang disambut ramah oleh pemuda itu. Bahkan dengan gamblang Aindra menjelaskan beberapa type televisi hingga pendatang itu membeli satu unit yang paling besar.
Tiba-tiba tokonya didatangi oleh orang-orang yang mengeroyok Aindra tadi. Ashen sempat kaget dengan kedatangan sepuluh orang dengan wajah tertunduk malu. Orang yang mereka kira rampok ternyata orang yang ditunggu oleh pemilik toko.
“Mau ngapain kalian datang? Cari pekara lagi?’ sentak pria bermata sipit tersebut.
“Kami datang mau minta maaf dan ngucapin terima kasih sama orang itu,” ujar seseorang menunjuk Aindra.
“Asal nunjuk aja Lo ... dia punya nama ha ... namanya Sailendra!” sentak Ashen tak menyukai orang-orang itu.
Aindra akhirnya memaafkan mereka dengan perjanjian agar tak lagi main hakim sendiri. Semuanya mengucap terima kasih. Baru tersadar jika semua berwajah babak belur dan tangan dibalut perban bahkan ada yang digips. Aindra mengendikkan bahu tak peduli.
Malam larut, toko sudah tutup satu jam lalu. Aindra belajar banyak hari ini. Pria itu sangat bersyukur dikelilingi orang-orang baik termasuk boss barunya.
“Semua boleh mendapat kesempatan kedua dan memperbaiki diri. Tetapi hukum harus tetap ditegakkan demi keadilan semua orang,” gumamnya bermonolog.
Aindra mulai memejamkan mata. Berharap tertidur lelap agar esok hari seluruh tubuhnya kembali segar. Sungguh hari ini ia merasa lelah. Baru saja menempuh ujian beasiswa yang menurutnya cukup sulit. Ditambah lagi kejadian dituduh mencuri karena pakaian yang dianggap gembel. Aindra kembali membuka matanya.
Ia terduduk dan melihat ransel lusuh dan sobek serta beberapa potong pakaian sederhana yang ia beli dari hasil kerja kerasnya. Ia menghela napas. Pemuda itu ingat perkataan Rokayah, istri dari Sueb. Wanita itu pernah berpesan padanya.
“Memang penampilan itu sebagian menganggap penting, karena dari sanalah ia dilihat oleh semua orang. Tapi sebelumnya, benahi dulu hatimu dan juga adabmu. Karena percuma penampilan bagus, tapi adabnya buruk.”
“Bu, Aindra sudah kangen sama ibu,” gumamnya lagi.
Senyum manis dan tulus dari sosok Rokayah. Ia tak pernah dapati wanita berhati baik di dunianya terdahulu. Bahkan wanita yang ia jadikan pengganti permaisuri malah berkhianat. Hanya pada diri Sueb lah ia menemukan kembali sosok mantan mertuanya dulu, Marques Albert Hall.
“Ah ... sudahlah, dari tadi kebanyakan mikir jadi nggak tidur-tidur!” runtuknya kesal pada diri sendiri. “Kebanyakan berkhayal bisa lama-lama aku gila!”
Akhirnya pemuda itu kembali berbaring dan memejamkan matanya. Tak mau berpikiran berat. Terserah apa yang terjadi besok, ia akan berpenampilan sopan dan ramah pada semua pengunjung toko yang datang, dan berdoa agar ia lolos dan mendapatkan beasiswa.
Perlahan tapi pasti, Aindra pun terlelap dan terbang bersama mimpi, mimpi di mana ia kembali bertemu dengan sosok pria yang selalu melindunginya. Pria itu begitu gagah. Aindra terharu dan memeluknya erat.
“Mark ... kau datang juga akhirnya,”