Suara tamparan keras terdengar di ruangan itu. Bahkan suara lantang Atha yang mengusir Dava bisa terdengar sampai kedalam. “Pa! apa yang Papa lakukan?” Desy dan Dina begitu terkejut saat mendengar suara teriakan Atha. Dina melihat pipi kanan Dava yang memerah. Ia lalu melangkah mendekati Dava. “Kamu gak apa-apa?” tanyanya cemas. Dava menganggukkan kepalanya, “aku memang pantas untuk mendapatkan semua ini,” ucapnya sambil mengusap pipinya yang terasa panas. “Dina! Bukannya Papa sudah menyuruhmu untuk masuk ke kamar! Apa kamu sudah gak mau mendengarkan Papa lagi!” seru Atha dengan tatapan nyalang. “Pa... sudahlah. Kita dengarkan dulu apa maksud kedatangan Dava kesini,” ucap Desy sambil mengusap lengan suaminya. “Gak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi, Ma. Semuanya sudah berakhir sa

