Joan menatap pria yang duduk di hadapannya itu dengan perasaan campur aduk. Andai saja bisa, dia ingin memeluk pria itu dan mengatakan akan menunggunya. Namun, gadis itu sadar tidak akan mudah untuk bisa bersama Arlo. Perbedaan mereka terlalu besar. Arlo adalah putra seorang pejabat dan juga pengusaha, sementara keluarganya hanya orang biasa. Apa mungkin keluarga Arlo bisa menerimanya?
Dia tidak memungkiri bila masih sangat mencintai Arlo. Hatinya berbunga-bunga saat pria itu menyatakan cinta. Apalagi saat Arlo memintanya jadi kekasih. Joan merasa terbang sampai langit ke tujuh. Akan tetapi, dia tidak bisa mengabaikan kenyataan yang ada kalau Arlo sudah menikah. Walaupun pria tampan itu sudah berjanji akan bercerai dengan Davinda dan melindunginya dari perundungan, tapi tetap tidak bisa menjamin mereka akan bisa bersama dan hidup bahagia.
“Jo, tolong jangan diam seperti ini! Katakan saja apa yang kamu inginkan sebagai bukti atau jaminan!” Arlo memandang Joan dengan tatapan memohon. Dia jadi semakin frustrasi karena gadis itu tetap diam. Arlo bukan orang yang bisa membaca pikiran orang sebab itu dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh Joan.
“Aku ingin pulang, Kak. Tiba-tiba kepalaku agak pusing.” Joan memegang pelipis kanannya untuk meyakinkan pria itu. Dia memang pusing, tapi bukan karena tidak enak badan, melainkan bingung memberikan jawaban pada kakak kelasnya itu.
Arlo terkesiap. “Kamu pusing? Oke. Aku bayar bill dulu, setelah itu kita pulang.” Pria itu kemudian meminta tagihan lewat walky talky yang disediakan di ruangan privat tersebut untuk berkomunikasi dengan pihak restoran.
Joan memejamkan mata sambil memijat kedua pelipis saat menunggu karyawan restoran membawakan tagihan mereka. Arlo memandang gadis itu dengan raut khawatir dan bingung karena saat berangkat tadi kondisi Joan baik-baik saja. Kenapa Joan tiba-tiba pusing? Tidak mungkin karena keracunan makanan ‘kan? Kalaupun iya, harusnya dia juga merasa pusing sebab mereka menikmati hidangan yang sama. Berbagai macam pertanyaan dan dugaan memenuhi pikiran Arlo.
Tak lama kemudian pintu ruangan tersebut diketuk sebelum dibuka oleh seorang karyawan restoran. Dia membawa tagihan dan mesin EDC yang akan digunakan sebagai sarana pembayaran. Arlo bukan tipe orang yang suka membawa uang tunai. Pria itu lebih suka menggunakan kartu debit atau kredit untuk melakukan pembayaran.
Setelah mengecek jumlah tagihan, Arlo menyerahkan kartu debitnya pada karyawan tersebut. Usai memasukkan nomor PIN dan pembayarannya sukses, kartu tersebut dikembalikan pada Arlo. “Terima kasih, Pak,” ucap karyawan tersebut.
“Sama-sama.” Arlo menyimpan kembali kartunya, sesudah itu menghampiri Joan yang masih menunduk dengan mata terpejam. “Bagaimana kalau kugendong keluar?” tawarnya.
Joan menggeleng. Dia membuka mata lalu menatap Arlo. “Aku masih bisa jalan kok, Kak,” sahutnya.
“Oke.” Arlo kemudian berdiri sedikit menjauh. Memberi ruang pada Joan untuk berdiri. Tanpa diduga, Joan sedikit terhuyung saat bangkit dari duduk. Dengan sigap Arlo pun merangkul pinggang gadis itu.
“Terima kasih, Kak,” ucap Joan. “Tolong lepaskan! Aku bisa jalan sendiri,” pintanya setelah bisa berdiri.
“Tidak, Jo. Berdiri saja tadi sempoyongan, bagaimana kamu bisa jalan sendiri? Aku akan memapahmu keluar,” tolak Arlo dengan tegas.
“Kita nanti akan jadi pusat perhatian orang-orang, Kak. Aku tidak mau menambah masalah.” Joan beralasan.
“Kita bisa lewat belakang, Jo.” Arlo kemudian mengalihkan pandangan pada karyawan restoran yang masih ada di ruangan privat tersebut. “Mas, bisa minta tolong tunjukkan kami jalan keluar lewat belakang,” pintanya dengan sopan.
“Bisa, Pak. Tapi kita harus keluar dari ruangan ini dulu, baru nanti masuk ke area dapur,” jawab karyawan tersebut.
“Oke. Tidak masalah. Kami akan keluar sekarang, Mas.” Arlo memindahkan tangannya dari pinggang ke bahu Joan. Merangkul bahu indah itu untuk membantu menopang Joan saat berjalan.
“Ayo, kita pulang, Jo.” Ajakan Arlo itu disambut anggukan oleh Joan. Mereka kemudian berjalan pelan ke luar dari ruangan itu lalu mengikuti sang karyawan restoran menuju area dapur. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat keduanya keluar dari ruangan privat tersebut.
“Itu tadi Kak Arlo, ‘kan? Tapi dengan siapa? Apa pacarnya?” Wanita yang baru keluar dari toilet itu terus bertanya-tanya dalam hati. Ada sedikit rasa nyeri dan tidak rela kala melihat pria yang sudah dua tahun menjadi suaminya itu bersama wanita lain.
“Bae, ada apa?” Suara seorang pria berhasil membuyarkan lamunan wanita itu.
Wanita cantik itu menoleh ke arah sumber suara. “Tidak ada apa-apa. Kok kamu nyusul ke sini, Bae?”
“Aku khawatir karena kamu lama sekali ke toilet, makanya aku susul. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu, Bae. Ternyata kamu malah melamun di sini.” Pria itu mencubit ujung hidung mancung sang kekasih karena gemas.
“Maaf, Bae. Aku tadi seperti melihat orang yang aku kenal, tapi aku ragu. Eh, kok malah aku melamun di sini,” aku wanita itu sambil mengikik.
“Ya udah. Yuk balik ke ruangan kita.” Pria itu kemudian merangkul kekasihnya itu dengan mesra menuju ruang privat yang bersebelahan dengan ruangan yang tadi digunakan Joan dan Arlo.
Sementara itu di dalam mobil yang dikendarai Arlo, Joan memejamkan mata sambil menyandarkan punggung di kursi. Posisi duduknya setengah berbaring karena Arlo menyetel kursinya seperti itu. Suasana di dalam mobil lengang karena Arlo tidak ingin menganggu Joan yang sedang beristirahat. Setidaknya gadis itu bisa tidur selama perjalanan menuju apartemennya.
Arlo memberhentikan mobil di depan lobi begitu tiba di kompleks apartemen Joan. “Jo, kita sudah sampai,” ucapnya sambil menggoyang lengan gadis yang duduk di sampingnya.
Joan perlahan membuka mata lalu menoleh ke samping. Gadis itu lalu menegakkan tubuh dan melepas sabuk pengaman. Saat hendak membuka pintu, Arlo mencegahnya.
“Jangan keluar dulu, Jo. Aku akan membantumu naik.” Arlo bergegas keluar lalu memutar lewat depan mobil menuju sisi kiri. Dia membuka pintu mobil, sebelum membantu Joan keluar. “Pelan-pelan saja, Jo,” sarannya saat gadis itu keluar dari mobil.
“Kepalaku sudah lebih enakan, Kak. Tidak perlu dipapah lagi,” ucap Joan karena Arlo merangkul bahunya lagi.
“Oke, tapi aku harus tetap mengantar dan memastikan kamu masuk dan istirahat di unitmu, Jo,” tegas Arlo yang jelas tidak mau dibantah.
“Iya, Kak.” Joan pun mengangguk lemah.
“Pak, tolong parkirkan mobil saya. Kuncinya ada di dalam,” pinta Arlo pada petugas yang berjaga.
“Baik, Pak.” Petugas itu langsung melakukan apa yang diminta Arlo.
Joan dan Arlo lalu beranjak memasuki lobi apartemen. Joan berjalan sendiri, tapi tangannya digenggam erat oleh Arlo. Pria itu sama sekali tidak mau melepaskan meskipun Joan keberatan karena akan dilihat banyak orang.
“Tidak ada banyak orang di lobi, Jo. Tenanglah,” timpal Arlo setelah melihat situasi lobi yang memang sepi. Hanya ada satu atau dua orang yang duduk di sana.
“Joan,” panggil seseorang saat keduanya hampir mendekati lift. Seketika tubuh Joan menegang setelah mendengar suara yang akhir-akhir ini sangat familier di indra pendengarannya.