Bab 4

1279 Words
Arlo langsung menolehkan kepala, sementara Joan tetap diam sambil mengigit bibir bawahnya. Gadis itu merutuk dalam hati kenapa pria yang akan dijodohkan dengannya ada di sana. Seingatnya hari itu dia tidak ada janji dengan Niko. “Jo.” Pria bernama Niko itu kembali memanggil Joan hingga mau tidak mau membuat gadis itu menoleh padanya. “Kak Niko, kenapa ada di sini?” Joan memasang senyum manis pada pria berkacamata itu. “Aku ingin mengajakmu makan malam, tapi sejak tadi kamu tidak bisa dihubungi. Aku tanya sama petugas, katanya kamu sedang pergi. Jadi, aku di sini nungguin kamu,” jawab Niko tanpa mengindahkan Arlo yang berdiri di samping Joan. “Maaf, Anda siapa?” Arlo akhirnya bersuara karena sejak tadi seperti tak dianggap keberadaannya di sana. Niko kemudian menoleh pada Arlo dengan satu alis terangkat. Memandang pria itu dari atas sampai bawah. “Sepertinya saya pernah melihat Anda. Siapa Anda? Kenapa Anda menggenggam tangan Joan?” Pandangan Niko berhenti pada genggaman tangan keduanya. Hatinya terasa nyeri melihat pemandangan itu. Joan ingin melepaskan genggaman itu, tapi Arlo menahannya. Dia tidak suka melihat pandangan pria asing itu pada Joan. Arlo ingin menunjukkan kalau Joan adalah miliknya, meskipun masih di dalam angan-angan karena gadis itu belum memberikan jawaban pasti. “Kak Arlo, kenalkan ini Kak Niko. Kak Niko, ini Kak Arlo, kakak kelasku pas SMA.” Joan memutuskan mengenalkan keduanya sebelum terjadi perang urat syaraf di antara mereka. Meskipun sebenarnya enggan berkenalan, tapi demi Joan, mereka saling mengulurkan tangan dan berjabatan sambil menyebut nama masing-masing. Tanpa ekspresi dan senyum sama sekali di wajah keduanya saat berkenalan. “Jo, dia siapa?” Arlo bertanya pada Joan karena gadis itu tidak menyebut hubungan di antara mereka. Tidak seperti dirinya yang disebut kakak kelas oleh Joan. “Saya, pria yang akan dijodohkan dengan Joan.” Niko menjawab pertanyaan Arlo sebelum Joan dengan penuh percaya diri. Arlo terkejut mendengar jawaban pria tersebut. Joan sama sekali tidak bercerita kalau akan dijodohkan dengan pria lain. “Apa benar apa yang dia katakan, Jo?” tanyanya pada Joan yang tampak pucat. Gadis itu mengangguk. “Rencana orang tua seperti itu, tapi kami masih saling mengenal. Kalau cocok dilanjutkan, tapi kalau tidak ya tidak jadi,” jawabnya. Niko merasa bangga dan sesak dalam waktu yang bersamaan kala mendengar jawaban Joan. Meskipun belum lama mengenal gadis itu, tapi dia punya perasaan yang dalam terhadap Joan. Niko ingin lebih dekat dan menjadikan Joan sebagai istrinya. Namun, dia sadar tidak akan mudah mengambil hati Joan. Walaupun gadis itu baik dan ramah padanya, tapi dia bisa merasakan kalau Joan seperti memasang tembok pembatas di antara mereka. “Oh, jadi masih rencana.” Arlo memandang sinis pada Niko. “Jo, kamu sudah makan malam atau belum?” Niko bertanya pada Joan dan tak berniat menanggapi Arlo. “Joan sudah makan malam dengan saya. Sebaiknya Anda pulang saja, tidak perlu menunggu lagi karena Joan sudah makan.” Arlo mendahului Joan menjawab Niko. “Saya bertanya pada Joan, bukan Anda.” Niko tidak mau mendengar jawaban Arlo. Kepala Joan yang tadi tidak benar-benar pusing jadi berdenyut. Menghadapi dua pria secara bersamaan seperti ini sungguh membuat sakit kepala. Apalagi keduanya sama-sama tak ada yang mau mengalah. “Aku sudah makan malam. Kak Niko, sebaiknya pulang saja sekarang. Lain waktu kita bisa makan malam bersama.” Joan menatap Niko dengan penuh penyesalan. Menyesal karena harus mengecewakan pria sebaik Niko. “Kalau aku pulang, dia juga harus pulang, Jo.” Niko menuding Arlo. “Silakan Anda pulang dulu. Saya yang mengajak Joan, jadi saya harus bertanggung jawab mengantar pulang ke unitnya.” Arlo tentu saja tidak mau pulang begitu saja. “Aku bisa ke unitku sendiri, Kak. Sebaiknya Kak Arlo juga pulang. Kita akhiri ini di sini sebelum banyak orang melihat kita dan mengambil video serta menyebarkannya.” Joan mengambil jalan tengah agar mereka tidak jadi pusat perhatian. Mengingat sosok Arlo yang banyak dikenal orang sebagai pebisnis muda yang sukses sekaligus putra seorang pejabat. “Bukankah kepalamu masih pusing, Jo? Wajahmu juga pucat begitu. Bagaimana kalau kamu jatuh dan pingsan dalam perjalanan ke unitmu? Siapa yang akan menolongmu?” Arlo menunjukkan perhatian dan kekhawatirannya. Niko sontak memandang wajah Joan dengan intens. Betapa terkejutnya dia saat mendapati wajah gadis itu tampak memutih. Pria itu menyesal karena tidak menyadari hal itu. “Sebaiknya memang kamu ditemani ke atas, Jo. Kalau kamu tidak mau ditemani dia, aku yang akan menemanimu.” Niko menawarkan diri. Joan menggeleng. “Aku ditemani Kak Arlo saja. Kak Niko bisa pulang dulu,” putusnya. Dia memilih Arlo karena kakak kelasnya itu sudah beberapa kali datang ke unitnya sejak mereka bertemu di acara reuni akbar sebulan yang lalu. Sedangkan Niko sama sekali belum pernah masuk ke unitnya. Biasanya mereka janjian bertemu di lobi atau di tempat lain. Senyum kemenangan menghiasi wajah tampan Arlo. Joan lebih memilih bersamanya daripada Niko. Menurutnya itu sebuah kemenangan besar. “Anda sudah dengar apa yang dikatakan Joan? Sebaiknya Anda pulang karena kami akan ke atas,” ucapnya dengan senyum mengejek. Kedua tangan Niko yang ada di sisi badan mengepal. Dia merasa geram dengan sikap Arlo yang begitu arogan. Kalau tidak ada Joan di sana, pasti Arlo akan diberinya pelajaran. “Aku pulang dulu, Jo. Nanti aku hubungi kamu.” Niko memutuskan mengalah untuk saat ini demi kebaikan Joan. Joan menganggut. “Hati-hati di jalan, Kak,” ucapnya sebelum meninggalkan Niko, yang hanya bisa menatap punggung gadis itu bersama pria lain. Arlo merangkul bahu Joan saat berjalan memasuki lift. Dia tersenyum menyeringai pada Niko kala pintu lift menutup. “Tolong lepaskan tangan Kak Arlo,” pinta Joan saat lift membawa mereka ke lantai lima di mana unit gadis itu berada. “Kenapa, Jo? Kamu ‘kan masih pusing.” Arlo enggan melepaskan rangkulannya. “Aku sudah mendingan, Kak.” Joan menatap Arlo agar pria itu mau menurutinya. “Oke.” Arlo pun menarik tangannya. “Kak Arlo cukup mengantarku sampai di sini. Aku akan ke unitku sendiri,” ucap Joan saat bel lift berbunyi karena sudah mencapai lantai yang dituju. “Aku akan mengantar sampai unitmu dan memastikan kamu masuk ke sana dengan aman.” Arlo dengan tegas menolak keinginan Joan. Dia mengikuti Joan keluar dari lift lalu berjalan di samping gadis itu. “Aku bukan akan kecil yang harus diantar sampai masuk rumah, Kak,” protes Joan karena Arlo tetap mengikutinya. “Aku hanya ingin memastikan kamu tidak pingsan di jalan, Jo.” Arlo beralasan. Joan mengikuti saja keinginan Arlo karena malas berdebat. Kepalanya sudah cukup pusing hari ini. Mereka lalu berjalan menuju unitnya dalam diam. “Aku sudah di unitku. Kak Arlo sebaiknya pulang,” pinta Joan setelah tiba di depan unitnya. “Kamu masuk dulu. Setelah itu aku baru pulang.” Arlo tidak mau menuruti Joan. Tidak ingin menambah perdebatan lagi, Joan pun membuka pintu unitnya. “Terima kasih sudah diantar. Kak Arlo, hati-hati di jalan,” ucapnya sebelum melangkahkan kaki masuk ke unitnya. Arlo mengangguk. “Istirahatlah. Aku akan mengecek kondisimu besok pagi,” timpalnya. “Kenapa tidak ditutup pintunya?” tanya Arlo karena Joan masih berdiri di depan pintu. “Aku tunggu Kak Arlo pergi,” jawab Joan. “Aku akan pergi setelah kamu tutup dan kunci pintunya, Jo. Atau kamu ingin aku mampir ngopi dulu seperti biasa?” Arlo tersenyum menggoda. Joan menggeleng. “Tidak, Kak. Aku ingin segera tidur.” “Kalau begitu kamu masuk, tutup, dan kunci pintunya sekarang!” perintah Arlo. Joan mengangguk tanpa bersuara dan menuruti apa yang diperintahkan oleh Arlo. Setelah itu dia menatap monitor di samping pintu yang menunjukkan situasi di depan unitnya. Joan pun melihat Arlo pergi dari sana. Saat berjalan menuju lift, ponsel di saku dalam blazer Arlo menyala karena ada panggilan masuk. Namun, karena dalam mode diam, pria itu tidak menyadarinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD