Bab 5

1105 Words
Di dalam sebuah mobil yang sedang melaju membelah jalanan ibukota, Davina berkali-kali melakukan panggilan pada Arlo, tapi tak juga dijawab. Wajahnya tampak kesal. “Apa dia sedang bersenang-senang sama wanita tadi?” gerutunya. “Kamu sebenarnya telepon siapa sih, Bae? Kok jadi kesal gitu?” tanya Evan, kekasih Davina yang tidak direstui hubungannya karena pria itu bukan dari keluarga pengusaha seperti mereka. Evan sebenarnya sudah merintis bisnisnya sendiri, tapi dalam skala kecil. Namun, itu tidak cukup bagi keluarga Davina yang perusahaannya sudah besar. Mereka menginginkan menantu yang sepadan agar suami Davina tidak hanya menumpang hidup dan memanfaatkan kekayaan keluarganya. “Aku telepon Kak Arlo. Aku kesal karena dari tadi teleponku enggak diangkat,” gerundel Davina dengan mimik cemberut. “Tumben telepon. Memangnya ada perlu penting?” Ada rasa nyeri yang Evan rasakan saat menanyakan hal itu. Bagaimana tidak? Davina sedang bersamanya, tapi malah membicarakan Arlo. Suami yang katanya tidak pernah menyentuhnya sama sekali sejak mereka menikah. Wajar ‘kan kalau Evan merasa cemburu. “Aku hanya ingin tahu dia di mana sekarang. Ada yang mau aku bicarakan nanti di apartemen,” jawab Davina tanpa menjelaskan lebih lanjut. “Mungkin dia sedang sibuk, atau sudah tidur, jadi tidak mengangkat telepon,” ujar Evan yang berusaha menenangkan sang kekasih. Davina menggeleng. “Tidak mungkin. Pasti dia sedang bersenang-senang dengan wanita lain,” sahutnya. “Biarkan saja dia bersenang-senang. Kita juga bisa bersenang-senang, Bae.” Evan menggoda sang kekasih dengan mengedipkan sebelah mata. Davina melirik Evan. “Aku sedang malas pergi ke hotel, Bae. Aku ingin langsung pulang,” sahutnya. “Tidak perlu ke hotel. Kita bisa bersenang-senang di mobil. Kita belum pernah melakukannya ‘kan, Bae. Pasti sensasinya beda. Kamu mau ‘kan?” Evan mulai mengelus paha Davina yang masih tertutup gaun. “Jangan aneh-aneh, Bae. Bahaya tahu kalau sambil nyetir.” Davina menolak usulan sang kekasih. “Kan ada fitur autopilot, Bae. Aku akan tetap melihat jalan, jadi tidak usah khawatir. Please, mau ya? Aku sudah turn on nih.” Evan menarik tangan kanan Davina lalu meletakkan di depan pangkal pahanya. Davina sudah tidak terkejut dengan permintaan Evan. Mereka sudah sering melakukan hubungan layaknya suami istri justru sesudah Davina menikah dengan Arlo. Bahkan kegadisannya diberikan pada kekasih gelapnya itu seminggu setelah menikah karena Arlo sama sekali tidak pernah menggaulinya. Jadi, dia melampiaskan kebutuhan batinnya dengan Evan. “Kamu nih cepet banget turn on, Bae,” protes Davina sambil tetap memberikan sentuhan pada kekasihnya itu. “Tapi ‘kan ga cepat turn off dan bisa membuatmu merasakan surga dunia, Bae.” Evan melirik Davina dengan senyum menggoda. Pandangannya mulai terlihat sayu. Pria itu kemudian menekan tombol autopilot agar tidak perlu fokus menyetir dan bisa asyik masyuk dengan kekasihnya. Kebetulan kondisi jalanan juga sudah tidak terlalu padat. Meski begitu, dia tetap melihat ke depan dan sesekali memegang kemudi. Kedua sejoli yang sudah terbakar nafsu itu sudah tak memedulikan hal lain. Mereka saling menyentuh dan memberi kesenangan pada pasangannya. Tanpa merasa malu, Davina pindah ke pangkuan Evan. Dia duduk menghadap kekasihnya itu. Keduanya tersenyum saat Davina mulai bergerak untuk merasakan surga dunia. Mereka kemudian saling memanggil nama kala mencapai nirwana bersama. Napas keduanya masih terengah-engah saat mendekati kompleks aparteman Davina. Cukup lama mereka bersenang-senang di dalam mobil karena sensasi yang dirasakan benar-benar menantang adrenalin. Tanpa merapikan diri terlebih dahulu, Davina kembali ke tempat duduknya sebelum masuk ke kompleks apartemen. Dia akan merapikan diri di tempat parkir sebelum turun dari mobil. “Thanks, Bae. You’re the best.” Evan mengecup pipi Davina setelah memarkirkan mobil milik kekasihnya itu. “You’re welcome. Kamu memang yang paling bisa membuatku bahagia, Bae.” Davina memuji sang kekasih sambil merapikan penampilannya yang sedikit berantakan. “Itu karena aku mencintaimu, Bae.” Evan menangkup wajah Davina lalu mengecup bibir kekasihnya itu dengan penuh kelembutan. Tak lama Davina menjauhkan diri. Hampir saja wanita itu terlena dengan permainan Evan. Untung saja dia masih ingat kalau berada di kompleks apartemennnya. Akan berisiko kalau sampai ketahuan sedang asyik masyuk di dalam mobil. Apalagi kalau Arlo sampai memergoki, mungkin pria itu akan memandangnya sangat rendah. “Kenapa, Bae? Kamu tidak suka aku menciummu?” Evan terlihat kecewa. Davina menggeleng. “Bukan aku tidak suka, tapi kita sekarang ada di tempat parkir, Bae. Aku tidak mau sampai ketahuan orang-orang.” Dia mengungkapkan alasannya. “Oke.” Evan akhirnya juga menjauhkan diri. “Bisa kita ketemu lagi besok? Aku masih kangen, Bae,” pintanya dengan tatapan memohon. Davina pun menganggut. “Aku akan ke apartemenmu, tapi aku tidak bisa memastikan jam berapa,” ucapnya. “It’s okay. Yang penting kita besok bisa melepas rindu lagi.” Evan mengedipkan sebelah matanya dengan genit. “Aku balik dulu, Bae.” Pria itu mendekatkan diri lagi, mengecup pipi sang kekasih sebelum keluar dari mobil mewah keluaran Jerman milik Davina. Mereka tadi pergi dengan mobil Davina. Evan datang ke sana mengendarai mobilnya sendiri lalu ditinggal di tempat parkir. Baru setelah itu mereka pergi bersama. Davina merapikan diri kembali setelah kekasihnya pergi. Memastikan penampilannya tidak berantakan serta kondisi mobilnya tetap rapi dan bersih. Sesudah itu, dia baru keluar dari mobil, kemudian menaiki lift menuju lantai di mana unitnya berada. Wanita yang rambutnya diwarnai cokelat karamel itu masuk ke unitnya setelah memasukkan kode pintu. Dia melihat sepatu Arlo ada di tempatnya, berarti suaminya itu sudah pulang. Davina kemudian masuk ke kamar utama sebelum mengajak Arlo bicara. Hari ini dia harus mencari tahu siapa wanita yang tadi bersama Arlo di restoran. Davina meletakkan tas, membersihkan diri, kemudian berganti pakaian sebelum bertemu dengan suaminya. Dia harus menghilangkan aroma Evan yang melekat pada tubuh dan pakaiannya saat mereka berasyik-asyik tadi. Setelah menyemprotkan sedikit parfum, wanita itu pun keluar dari kamar. Arlo belum terlihat duduk di sofa seperti biasa. Pria itu memang punya kebiasaan melihat berita sebelum tidur. Karena itu Davina menuju kamar tamu di mana sang suami tidur selama ini. “Kak Arlo,” panggilnya setelah mengetuk pintu. Wanita itu melakukannya sebanyak tiga kali, tapi sama sekali tidak ada sahutan. “Apa Kak Arlo langsung tidur setelah pulang?” gumam Davina. Dia memutuskan membuka pintu kamar tersebut karena penasaran. Saat Davina masuk, tanpa diduga Arlo juga baru keluar dari kamar mandi sambil memasang handuk di pinggangnya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” Arlo menatap tajam Davina yang berdiri di pintu kamarnya. Davina menelan saliva kala melihat badan Arlo yang nyaris polos. Meskipun sudah menikah selama dua tahun, dia sama sekali belum pernah melihat Arlo dalam keadaan tanpa pakaian. Sebagai wanita normal tentu saja dia terpana hingga tak mendengarkan suaminya. “Davina, sekali lagi aku tanya. Untuk apa kamu masuk ke kamarku?” seru Arlo. Kali ini suaranya terdengar lebih keras dari tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD