Bab 6

1231 Words
Davina jadi gelagapan begitu mendengar teriakan Arlo. “Ak—aku masuk ke sini karena aku ingin mengajak Kak Arlo bicara. Aku tadi sudah mengetuk pintu berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Aku pikir Kak Arlo sudah tidur, jadi aku memastikan saja,” ucapnya beralasan. “Aku sedang mandi karena itu tidak mendengar ketukanmu. Sekarang keluar dari kamar ini dan jangan masuk lagi! Aku mau pakai baju!” perintah Arlo dengan dingin. “Iya, Kak.” Sebelum keluar, Davina diam-diam melirik bagian atas tubuh suaminya yang tegap dan berotot. “Tunggu, Davina!” Arlo memanggil istrinya sambil berkacak pinggang. “Ap—pa, Kak?” Davina kembali membalikkan badan. Dia hampir gagal fokus karena melihat otot perut suaminya yang terbentuk dengan indah. Dalam hati, wanita itu ingin sekali menyentuhnya. Pasti terasa padat dan keras. “Apa kamu sering diam-diam masuk kamar ini tanpa sepengetahuanku?” Arlo memandang Davina dengan tatapan curiga. Davina menggeleng. “Tidak, Kak. Baru kali ini aku masuk ke sini tanpa seizin Kak Arlo,” sanggahnya. Arlo menaikkan sebelah alisnya. “Benarkah? Kenapa sepertinya ini bukan yang pertama?” “Aku tidak bohong, Kak. Aku bersumpah baru sekali ini.” Davina mengangkat tangan kanannya dengan jemari membentuk huruf V agar suaminya percaya. Pria tampan itu tersenyum sinis. “Oke. Kumaafkan kali ini. Kalau kamu masuk ke kamar ini tanpa seizinku lagi, kamu akan tahu akibatnya,” tegas Arlo sambil menatap tajam sang istri. “Iya, Kak. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” Davina tampak ketakutan. “Keluar dari kamar ini sekarang! Aku akan keluar sebentar lagi,” perintah Arlo. Davina mengangguk tanpa bersuara. Bergegas keluar lalu menutup pintu kamar. Setelah itu, dia menghela napas lega. “Sepertinya besok aku harus memasang CCTV di kamar ini,” gumam Arlo sambil berjalan menuju pintu. Dia mengunci pintu kamar setelah istrinya pergi. Pria itu kemudian mengenakan kaos pendek dan celana selutut untuk bersantai di rumah. Sesudah mengeringkan dengan handuk dan memastikan tak ada lagi air yang menetes dari rambut yang baru saja dikeramas, pria itu keluar dari kamar tanpa bersisir. Davina terlihat duduk di sofa sambil bermain gawai saat Arlo menghampirinya. Pria itu kemudian duduk di sebelah kiri sang istri. Tidak bersisian, tapi berjarak. Arlo memilih berada di ujung kiri sofa sementara Davina di ujung lainnya. Arlo mengambil remote lalu menyalakan televisi. Mencari saluran televisi yang hampir 24 jam menyiarkan berita. Setelah itu dia menyandarkan punggung di sofa dengan tangan bersedekap. “Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Arlo tanpa basa-basi dengan pandangan tetap mengarah ke layar televisi di hadapannya. “Apa Kak Arlo tadi lembur di kantor? Kok baru pulang,” tanya Davina dengan hati-hati. “Tidak,” jawab Arlo pendek. “Ke mana kalau tidak lembur?” tanya Davina lagi yang berhasil membuat Arlo melirik sekilas padanya. “Itu bukan urusanmu,” jawab Arlo dengan ketus. “Kita sudah sepakat tidak mencampuri urusan masing-masing, Davina. Jangan kamu coba-coba mau tahu semua urusanku,” tegasnya. “Aku tidak ingin mencampuri urusan Kak Arlo. Aku hanya mau tahu Kak Arlo tadi pergi ke mana? Karena aku seperti melihat Kak Arlo di restoran X dengan seorang wanita. Aku hanya ingin memastikan itu Kak Arlo atau bukan.” Davina memaparkan alasannya. Sontak Arlo menoleh pada istrinya karena terkejut. “Kamu melihatku bersama wanita?” Davina mengangguk. “Iya. Aku lihat Kak Arlo keluar dari ruang privat sambil merangkul seorang wanita,” jelasnya. Tanpa diduga Arlo malah tersenyum lebar dan sama sekali tidak terlihat panik. “Baguslah kalau kamu sudah melihat, jadi aku tidak perlu memberi tahu kalau aku sudah menemukan cintaku,” ucapnya dengan santai. Davina sangat terkejut mendengar ucapan suaminya. “Wanita tadi pacar Kak Arlo?” Dia merasa penasaran. “Anggap saja begitu. Yang jelas, dia wanita yang aku cintai dan cari selama ini. Sesuai kesepakatan kita sebelum menikah, kalau kita sudah sama-sama menemukan cinta, kita akan bercerai. Karena itu besok aku akan menghubungi pengacara untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan,” ujar Arlo tanpa beban. “Maksud Kak Arlo, kita akan bercerai?” Davina tidak percaya dengan apa yang didengar telinganya. Arlo mengangguk. “Iya. Bukankah begitu perjanjian kita? Kamu lupa atau pura-pura lupa, Davina?” Pria itu mengerutkan kening. Tidak suka dengan tanggapan yang diberikan Davina. “Aku ingat, Kak. Tapi apa harus secepat ini? Setidaknya kita harus punya alasan yang kuat untuk meyakinkan orang tua kalau kita sudah tidak cocok dan ingin berpisah.” Davina merasa keberatan dengan tindakan yang akan diambil Arlo. “Lebih cepat itu lebih baik, Davina. Kamu bisa bersama pacarmu, aku juga bisa bersama wanita yang aku cintai tanpa harus terbebani dengan ikatan pernikahan kita. Kita bisa bebas melakukan apa pun yang kita mau,” timpal Arlo. Davina menggeleng. “Aku tidak bisa kalau secepat ini, Kak. Setidaknya beri aku waktu untuk mencari alasan yang tepat. Aku rasa orang tua kita juga tidak akan begitu saja mengizinkan kita bercerai.” “Buat apa mencari-cari alasan, Davina? Tinggal bilang saja kita sering bertengkar dan tidak pernah cocok, itu sudah cukup. Kamu mau cari alasan apalagi?” sergah Arlo. “Kita sudah dewasa, tidak perlu izin mereka untuk bercerai. Cukup beri tahu mereka kalau kita akan bercerai sambil mengatakan alasannya. Aku yakin mereka tidak akan keberatan. Atau jangan-jangan kamu yang tidak ingin bercerai denganku, jadi sengaja mengulur-ulur waktu?” Arlo memicingkan mata, merasa curiga pada wanita yang selama dua tahun menjadi istrinya di atas kertas. Davina tampak terkejut dan gugup. “Bukan begitu, Kak. Seperti yang kita tahu bersama kalau pernikahan kita ini karena bisnis. Bagaimana nanti nasib perusahaan kalau kita bercerai? Bagaimana nasib para karyawan? Apa Kak Arlo tidak memikirkan hal itu?” Arlo tertawa kecil. “Meskipun kita bercerai, perusahaan tetap bisa bekerja sama, Davina. Kerja sama itu tidak akan putus begitu saja kecuali salah satu dari kita melakukan wanprestasi. Perceraian bukanlah wanprestasi, itu masalah pribadi. Tidak bisa dicampur dengan urusan perusahaan,” terangnya. Davina kembali menggeleng. “Tidak akan semudah itu, Kak. Pernikahan itu hal pribadi bagi orang lain, tapi tetap berpengaruh pada kerja sama perusahaan dalam kasus kita. Pasti akan ada dampak bagi perusahaan dari perceraian kita. Entah itu kecil atau besar.” Dia coba membuka pikiran Arlo. Davina tahu, suaminya itu kelihatannya keras, tapi hatinya sangat baik dan lembut. Pria yang mempunyai lesung pipi itu terdiam. Pandangannya mengarah pada televisi, tapi sejatinya dia memikirkan apa yang dikatakan oleh istrinya. Menimbang baik dan buruknya keputusan yang diambil demi kepentingan pribadinya. Apakah itu adil untuk ribuan karyawan yang bekerja di perusahaan atau tidak? Arlo menghela napas panjang sebelum kembali bersuara. “Oke. Aku akan menunda gugatan cerai sampai aku bisa menemukan solusi untuk perusahaan dan karyawan. Aku target paling lama satu bulan, setelah itu aku akan langsung ke pengadilan tanpa membicarakan lagi sama kamu,” putusnya kemudian. Davina akhirnya bisa menghela napas lega. Tepat seperti dugaannya kalau Arlo tidak akan mengabaikan perusahaan dan karyawan yang menjadi tanggung jawabnya selama ini. “Oke, aku setuju, Kak,” timpalnya sambil mengulurkan tangan pada sang suami. “Apa ini?” Arlo mengernyit melihat uluran tangan Davina. “Tanda kalau kita sudah sepakat,” jawab Davina sambil tersenyum manis pada suaminya. “Oke.” Arlo pun balas mengulurkan tangan. Mereka berdua kemudian bersalaman. Setelah itu Arlo mematikan televisi. Dia keluar kamar hanya untuk bicara dengan Davina, jadi begitu pembicaraan selesai, Arlo akan kembali ke kamarnya. “Apa aku boleh kenal dengan wanita yang Kak Arlo cintai?” Davina memberanikan diri bertanya saat Arlo bangkit dari duduknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD