Arlo mengernyit mendengar pertanyaan sang istri. “Buat apa mau kenal sama dia? Mau membandingkan siapa yang lebih cantik di antara kalian?” tanyanya sinis.
Davina menggoyangkan kepala ke kiri kanan. “Tidak, Kak. Aku hanya ingin tahu wanita seperti apa yang bisa membuat Kak Arlo jatuh cinta,” ungkapnya jujur.
“Benarkah?” tanya Arlo yang dijawab anggukan oleh Davina.
Arlo kemudian tersenyum sambil membayangkan sosok Joan. “Dia tidak hanya cantik wajahnya, tapi juga hatinya. Wanita yang baik, polos, apa adanya, dan punya prinsip. Tidak pernah ikut-ikutan tren, bisa membawa diri, tetap seperti dirinya yang dulu aku kenal,” bebernya.
“Aku jadi semakin penasaran, Kak,” celetuk Davina yang diam-diam merasa iri pada Joan karena Arlo bisa tersenyum saat membicarakannya. Karena selama ini pria itu lebih sering bersikap ketus padanya.
“Kalau sudah waktunya, kalian pasti akan aku kenalkan. Tapi, tidak dalam waktu dekat ini karena aku harus memastikan semuanya berjalan dengan baik,” lontar Arlo.
“Kalau begitu aku akan menunggu sampai saat itu tiba, Kak,” ucap Davina.
Arlo mengangguk lalu beranjak meninggalkan sang istri. Masuk ke kamar, mengunci pintu, kemudian berbaring di atas ranjang. Bukannya tidur, angan pria itu justru berkelana memikirkan masa depan.
Sementara itu di luar kamar, Davina masih duduk di sofa. Mencari cara agar bisa bertemu atau setidaknya melihat sosok wanita yang selama ini dicari suaminya. Arlo pernah bercerita kalau dia mencintai seseorang dan sedang mencari wanita itu karena mereka lost contact. Karena itu Davina ingin secepatnya tahu meskipun Arlo sudah berjanji akan mempertemukan dia dengan wanita itu suatu hari nanti.
Mungkin benar apa yang dikatakan Arlo, kalau Davina ingin membandingkan dirinya dengan Joan. Dia ingin tahu daya tarik apa yang dimiliki Joan sampai Arlo tidak meliriknya sama sekali sejak menikah. Padahal kalau Arlo mau membuka hati, Davina juga mau menjalani pernikahan seperti yang lain. Membentuk keluarga kecil yang bahagia.
***
Niko langsung meninggalkan kompleks apartemen Joan setelah gadis itu naik ke lift bersama pria yang diakui sebagai kakak kelasnya. Dia pulang dengan membawa rasa cemburu di hati. Siapa yang tidak cemburu kalau gadis yang disukainya pergi dan dekat dengan pria lain. Namun, tak ada yang bisa dilakukannya karena Joan belum menjadi kekasihnya.
Sebelum pulang ke kos, pria itu membeli makanan di salah satu warung kaki lima. Dia belum makan karena tadinya berniat mengajak Joan makan malam, tapi ternyata gadis itu malah pergi makan malam dengan pria lain. Sebenarnya salahnya sendiri karena tidak memberi tahu Joan terlebih dahulu kalau akan mengajaknya pergi. Alhasil Niko pulang dengan perut kosong dan hati yang kecewa.
Setelah masuk ke kamar kos dan mengunci pintunya, Niko langsung mencuci tangan. Perutnya sudah sangat lapar karena terakhir diisi saat makan siang. Sedangkan sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam. Pantas saja sejak tadi perutnya terus keroncongan.
Pria itu menikmati makan malamnya sambil menonton televisi. Dia melihat saluran bisnis yang berkaitan dengan pekerjaannya di bank pelat merah. Melihat perkembangan ekonomi dan bisnis saat ini.
“Ah aku ingat siapa pria tadi!” Niko tiba-tiba berteriak saat melihat tayangan di televisi. “Pantas saja aku seperti pernah melihat dia,” desisnya.
Saluran televisi yang dilihat Niko sedang menampilkan profil seorang pebisnis muda yang sukses mengembangkan perusahaan milik keluarganya sekaligus merintis bisnisnya sendiri. Pebisnis yang sedang ditampilkan itu adalah Arlo. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui kalau Arlo sudah punya istri yang sangat cantik. Putri dari seorang pengusaha ternama, seperti juga Arlo yang merupakan putra seorang pejabat dan juga pengusaha.
Selain sepak terjak Arlo dalam dunia bisnis, dalam acara itu juga ditampilkan foto dan video pernikahan Arlo. Pantas saja Niko seperti tidak asing saat melihat kakak kelas Joan itu. Sebagai anak pejabat dan pebisnis muda yang sukses, tentu saja nama dan wajahnya sering muncul di berita ekonomi dan bisnis.
“Joan tahu tidak ya kalau pria itu sudah punya istri?” gumamnya. Niko merasa gelisah sampai menghentikan makannya padahal hanya tinggal beberapa suap.
“Jangan-jangan Joan tidak tahu makanya mau diajak makan malam. Harusnya dia menolak ‘kan kalau tahu? Kecuali itu makan malam untuk urusan bisnis. Tapi tidak mungkin seorang akuntan makan malam bisnis dengan pemilik perusahaan lain.” Niko sibuk dengan pemikirannya sendiri.
“Apa sebaiknya aku memberi tahu Joan soal ini?” tanyanya pada diri sendiri. “Joan bakal marah enggak ya kalau aku kasih tahu?” Niko masih saja gelisah.
“Sebenarnya ada hubungan apa antara Joan sama pria itu? Tidak mungkin mereka pacaran ‘kan?” Niko menepis pemikiran yang muncul di kepalanya. Joan bukan wanita yang suka menggoda pria, apalagi pria yang sudah beristri. Joan tipikal wanita baik-baik yang tidak mudah tergoda oleh pria.
“Hubungan mereka pasti dekat karena pria tadi menggenggam dan mengantar Joan sampai ke unitnya. Aku saja belum pernah ke sana, selalu ketemu di lobi,” cetusnya.
“Atau jangan-jangan mereka sepupu atau saudara jauh?” Niko masih sibuk menerka-nerka hubungan Arlo dan Joan. “Tapi Om Damar tidak pernah bilang kalau Joan punya saudara di sini? Katanya di Jakarta cuma sendiri. Apa mungkin pria tadi pas ada di Jakarta terus mengajak Joan pergi?” Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa bingung sendiri dengan segala pemikirannya.
“Kalau mereka saudara, kenapa pria tadi terlihat tidak suka sama aku? Harusnya sebagai saudara yang baik ‘kan mendukungku mendekati Joan bukan malah kaya benci dan sinis gitu. Apalagi dia sudah punya istri, ngapain juga resek banget.” Niko merasa kesal sendiri dengan apa yang dia pikirkan.
“Apa besok aku ajak Joan makan siang sekaligus menanyakan soal itu ya? Semoga saja dia mau,” harapnya. “Tapi, bagaimana kalau Joan menolak?” Belum juga mencoba, Niko sudah berpikiran yang tidak-tidak.
“Apa aku WA sekarang saja ya biar besok dia tidak makan siang sama teman-temannya?” Niko mengambil gawai lalu membuka aplikasi pesan. Mencari bilah obrolan dengan Joan untuk mengirim pesan tertulis pada gadis itu.
Niko: Jo, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?
Selesai mengetik, Niko mengirim pesan tersebut. Keningnya mengerut karena pesan itu hanya centang satu, artinya belum terkirim. “Pasti Joan sudah tidur dan hapenya dimatikan ini,” gumamnya setelah teringat kalau gadis itu tadi bilang akan langsung tidur karena merasa pusing.
“Semoga saja besok pagi Joan langsung membaca dan membalas WA-ku,” harapnya.
Niko kemudian meletakkan gawai ke atas meja. Setelah itu melanjutkan lagi makan malamnya yang tertunda sambil memikirkan cara untuk memberi tahu Joan soal Arlo agar gadis itu tidak marah padanya.