Joan bangun pagi dalam kondisi badan yang lebih segar. Semalam tidurnya begitu nyenyak karena rasa lelah yang dirasakannya. Setelah mandi dan selesai bersiap, gadis itu baru menyalakan gawai yang sejak semalam dinonaktifkan. Tanpa diduga banyak sekali pesan yang masuk. Namun, dia mengabaikan semua pesan tersebut karena harus secepatnya memesan ojol agar tidak terlambat sampai di kantor.
Sambil berjalan menuju lobi, dia mulai memindai pengirim pesan satu per satu. Melihat mana yang sekiranya penting dan mana yang tidak. Setelah membuka dan membalas pesan dari sang mama, dia membaca pesan dari Niko. Sesudah itu mengetik balasan.
Joan: Maaf baru balas, Kak. Oke, mau makan siang di mana?
Joan setuju makan siang bersama Niko untuk menebus rasa bersalahnya karena kejadian semalam. Tak butuh waktu lama, balasan dari Niko diterima.
Niko: Di kafe samping kantormu saja bagaimana? Kebetulan aku ada pekerjaan di dekat sana.
Joan tersenyum membaca pesan dari Niko.
Joan: Oke. Nanti aku langsung ke kafe begitu masuk jam makan siang.
Niko: Sip. Sampai ketemu nanti, Jo.
Setelah itu Joan kembali mencari pesan yang akan dibuka selanjutnya.
Arlo: Pagi, Jo. Bagaimana kabarmu hari ini?
Pesan dari sang kakak kelas langsung membuatnya tersenyum lebar. Sejenak dia lupa kalau belum memberi jawaban pada Arlo.
Joan: Pagi, Kak. Kabarku baik. Kak Arlo, bagaimana?
Gadis itu membalas pesan sang pujaan hati dengan perasaan bahagia. Bukannya membalas pesan, Arlo malah menelepon Joan.
“Jo, kamu sudah berangkat ke kantor?” tanya Arlo tanpa basa-basi begitu Joan mengangkat teleponnya.
“Sebentar lagi. Aku sedang menunggu ojol,” jawab Joan tanpa merasa curiga sedikit pun.
“Oke. Aku tunggu di lobi ya.” Tanpa menunggu tanggapan sang gadis, Arlo langsung menutup telepon.
Joan mengernyit sambil menatap ponselnya. “Maksudnya apa menunggu di lobi? Tidak mungkin ‘kan sepagi ini Kak Arlo datang ke sini?” gumamnya. Setelah itu Joan mengecek aplikasi ojol untuk melihat posisi sang pengemudi.
Begitu pintu lift terbuka, Joan sangat terkejut saat mendapati Arlo sudah berdiri menunggunya di depan lift. Berbeda dengan ekspresinya yang heran, pria itu malah menunjukkan senyum terbaiknya.
“Pagi, Jo,” sapa Arlo dengan sangat manis.
“Pagi juga. Kenapa Kak Arlo ada di sini?” tanya Joan dengan ekspresi heran.
“Tentu saja menjemput dan mengantarmu ke kantor,” jawab Arlo dengan santai.
“Maaf, Kak. Aku sudah pesan ojol. Lagian arah kantor kita berlawanan. Kalau Kak Arlo mengantarku dulu, nanti Kak Arlo bisa terlambat ke kantor.” Joan beralasan. Kalau mereka sering terlihat bersama dan berinteraksi seperti ini, lama-lama orang bisa salah paham. Bisa-bisa sebelum Arlo bercerai, dia sudah dianggap sebagai pelakor. Namun, susah untuk menghindar dari Arlo yang datangnya selalu seperti jalangkung.
“Batalkan saja pesanan ojolnya, Jo,” usul Arlo.
Joan menggeleng. “Tidak boleh seperti itu, Kak. Kasihan pengemudinya kalau dibatalkan begitu saja. Siapa tahu di rumahnya ada anak dan istri yang menunggu bapak itu membawa uang hasil narik untuk membeli bahan makanan.” Dia menolak dengan keras usul kakak kelasnya itu.
“Aku ganti ongkos ojolnya plus uang kompensasi,” tukas Arlo. “Pengemudinya sudah sampai mana?” tanyanya kemudian.
Joan mengecek aplikasi ojol bersamaan dengan notifikasi kalau pengemudinya sudah tiba. “Barusan sampai di depan, Kak,” jawabnya sambil menunjukkan layar gawainya.
“Kita temui pengemudi ojol itu dan batalkan pesanannya.” Seperti biasa, tanpa meminta izin terlebih dahulu, Arlo langsung meraih tangan Joan dan menggenggamnya.
“Kalau dibatalkan nanti Kak Arlo terlambat ke kantor.” Joan masih berusaha menolak usulan kakak kelasnya itu. Dia merasa lebih aman dan nyaman berangkat dengan ojol daripada diantar Arlo ke kantor.
“Tidak usah banyak alasan, Jo. Itu kantorku, tidak masalah jam berapa pun aku datang ke sana, tidak akan ada yang memarahi,” timpal Arlo yang membuat Joan baru ingat kalau pria itu adalah pemilik perusahaan. Tentu saja dia bebas datang kapan saja.
“Pak, maaf, istri saya tidak jadi naik ojol. Silakan mau dibatalkan atau dijalankan ordernya. Bapak tidak perlu khawatir karena saya akan mengganti ongkos yang seharusnya dibayar plus kompensasinya,” ucap Arlo pada pria yang mengenakan jaket berwarna hijau. Pengemudi ojol itu sempat ingin protes, tapi begitu mendengar akan diganti ongkosnya ditambah uang kompensasi, dia pun setuju.
Arlo kemudian menarik dompet dari saku celana belakang. Mengambil beberapa lembar uang berwarna merah lalu diberikan pada pengemudi ojol itu. “Segitu cukup ‘kan, Pak?” tanya Arlo setelah menyerahkan uangnya.
“Sangat cukup. Terima kasih, Pak, Bu, semoga dilancarkan rezekinya. Saya permisi dulu.” Wajah pengemudi ojol itu terlihat begitu bahagia karena mendapatkan rezeki yang tidak terduga di pagi hari. Dia tidak bekerja hari itu pun, bisa menutupi kebutuhan keluarganya selama beberapa hari.
“Ayo segera masuk mobil biar kamu tidak telat ke kantor.” Arlo membuka pintu mobil yang sudah terparkir di depan lobi untuk Joan. Mau tidak mau gadis itu menurut agar tidak terlambat. Berbeda dengan Arlo yang bebas datang kapan saja ke kantor, Joan harus menuruti aturan jam kerja kantornya.
“Jo, mulai hari ini jangan naik ojol lagi karena aku yang akan mengantarmu ke kantor!” putus Arlo tanpa berunding dulu dengan Joan saat mereka meninggalkan kompleks apartemen tersebut.
Seketika Joan menoleh pada pria yang sedang memegang kemudi itu. “Aku tidak mau, Kak. Cukup hari ini saja Kak Arlo mengantarku!” tolaknya secara langsung.
Arlo mengernyit sembari menoleh ke sisi kirinya. “Kenapa, Jo? Bukankah lebih nyaman berangkat naik mobil?”
“Bukan masalah lebih nyaman atau apa, Kak. Tapi ini juga masalah adab. Apa pantas seorang pria beristri mengantar wanita lain bekerja?” sergah Joan. “Tadi Kak Arlo juga menyebutku istri waktu bicara sama driver ojol. Maksudnya apa?”
Arlo terkesiap mendengar kata-kata Joan. Dia merasa tertampar karena tak pernah memikirkan hal itu. Hanya karena ingin lebih dekat dengan Joan, membuatnya lupa diri. Melupakan kenyamanan Joan saat bersamanya. Yang ada di pikirannya hanya melindungi gadis itu dari keluarganya, terutama sang papa.
“Aku minta maaf, Jo.” Arlo terlihat menyesal. “Aku tidak ingin kita lost contact lagi seperti dulu, jadi aku begini. Apalagi kamu belum memberi jawaban,” imbuhnya.
“Jangan membuat alasan yang tidak masuk akal, Kak,” timpal Joan.
“Tidak masuk akal bagaimana, Jo? Alasanku memang itu,” sanggah Arlo.
“Kak Arlo tahu aku tinggal dan kerja di mana. Kak Arlo tahu nomorku. Bagaimana bisa lost contact? Kecuali aku pindah dan mengganti nomorku,” ujar Joan.
“Jujur saja itu yang aku takutkan, Jo. Apalagi hubungan kita menggantung seperti ini. Aku takut kamu tidak mau ketemu dan menghindari aku.” Arlo mengungkapkan ketakutan yang dirasakannya.
Joan tersenyum sinis. “Jemuran kali digantung,” lontarnya. “Memangnya ada ya hubungan pertemanan yang menggantung?” Gadis itu menoleh pada pria di samping kanannya.