Bab 11

1216 Words
Joan mengerutkan kening karena merasa aneh dengan pertanyaan yang Niko ajukan. “Kak Niko serius tanya itu?” Pria berkacamata itu mengangguk. “Tentu saja.” “Kenapa?” Joan mengernyit. “Aku ingin tahu saja, apa aku masuk ke dalam kriteriamu atau tidak,” jelas Niko. Joan tersenyum miring. “Sama sih kaya perempuan pada umumnya, Kak. Pria yang baik, pekerja keras, bertanggung jawab, mapan, sayang keluarga. Kalau bisa sih good looking dan juga good rekening,” selorohnya kemudian. “Kriteria mapan itu yang bagaimana, Jo? Apa harus punya rumah dan mobil?” Niko memastikan definisi mapan menurut gadis yang duduk di hadapannya. Joan menggeleng. “Tidak harus begitu, tapi kalau punya keduanya jadi nilai tambah. Realistis saja harga rumah sekarang mahal sekali, kalau memang belum ada tidak masalah. Nanti bisa membeli rumah bersama setelah nikah. Mapan itu setidaknya dia punya pekerjaan yang bagus untuk menafkahiku dan anak-anak kami nanti,” jelasnya. Niko tersenyum lebar mendengar jawaban Joan karena merasa masuk kategori pria yang bisa jadi suami gadis itu. Mobil dia sudah punya, rumah memang belum karena Niko berencana membelinya sebelum menikah agar sesuai selera calon istrinya. “Apa kamu sudah menemukan sosok pria seperti itu, Jo? Pria yang kamu sukai dan ingin kamu jadikan suami?” Niko menatap Joan dengan intens. Joan terkesiap mendengar pertanyaan Niko, tapi gadis itu tetap berusaha bersikap wajar. Otaknya berpikir keras untuk mencari jawaban yang tepat. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Arlo adalah pria yang disukainya. “Kalau aku sudah menemukan pria itu, pasti sekarang aku sudah menikah, Kak. Atau setidaknya sedang menyiapkan pernikahan.” Joan memberi jawaban yang aman agar tidak mendapat pertanyaan yang mengejutkan lagi dari Niko. “Berarti kesempatan untukku masih terbuka lebar dong, Jo?” Niko memastikan. Joan pun menganggut. “Terbuka untuk siapa saja karena aku belum tahu siapa jodohku nanti.” “Apa termasuk pria semalam, Jo?” Lagi-lagi Niko membuat Joan mati kutu. Joan tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya. “Kak Arlo sudah menikah dan punya istri. Aku pasti menolak karena dia masih jadi suami wanita lain,” sahutnya kemudian. Niko menghela napas lega. Saingannya berkurang satu. Arlo jauh lebih mapan darinya, pasti akan jadi saingan beratnya kalau pria itu masih single. Jawaban Joan jadi oase untuknya walaupun tidak akan mudah mengambil hati gadis itu. “Kak Niko, maaf aku harus balik ke kantor,” ucap Joan setelah menghabiskan minumannya. Dia kemudian mengeluarkan selembar uang berwarna merah dari dalam dompet, lalu meletakkannya di atas meja. “Aku titip bayar pesananku ya, Kak.” “Masukkan kembali uangmu, Jo. Aku yang mengajak, jadi aku yang membayar.” Niko mendorong uang itu ke arah Joan. “Tapi, Kak.” Joan merasa keberatan karena dia tidak ingin terus berutang budi pada pria sebaik Niko. Karena setiap pergi bersama, selalu pria itu yang mengeluarkan uang. Niko tidak pernah mau kalau Joan yang membayari. Katanya sudah jadi tugas pria untuk menyenangkan wanita. Jadi, selama dia mampu menanggung semua pengeluaran saat mereka bersama, Niko tidak akan menerima uang sepeser pun dari Joan. “Tidak ada tapi-tapian, Jo. Ambillah. Masukkan ke tabungan untuk membeli rumah masa depan kita nanti,” titah Niko sambil tersenyum manis. Joan tersipu mendengar ucapan Niko. Andai Arlo tidak menguasai hatinya sejak SMA, pasti dia sudah jatuh cinta pada pria itu. Joan juga pasti langsung menerima perjodohan mereka, tidak perlu beralasan ingin mengenal lebih dulu. *** Arlo tidak tenang karena pesannya tak juga dibalas oleh Joan padahal jam istirahat sudah berlalu. Pria itu seperti biasa menanyakan kabar Joan dan menu makan siangnya. Andai bisa, dia sudah menyambangi gadis itu dan mengajaknya keluar. Namun, Arlo tidak bisa pergi begitu saja karena sedang meeting sekaligus makan siang dengan calon investor perusahaan yang nanti akan menerima dampak dari perceraiannya dengan Davina. “Pak, ada telepon dari Pak Kamal,” bisik Bram, asisten pribadi Arlo. “Kamu sudah bilang ‘kan aku sedang meeting?” Arlo menoleh pada asistennya. Bram menganggut. “Sudah, Pak. Beliau ingin Pak Arlo datang ke rumah setelah ini.” “Oke,” sahut Arlo. Pria itu meminta maaf pada sang calon investor karena diinterupsi oleh asisten pribadinya. Meskipun pembicaraan bisnis mereka sudah selesai dan tinggal menikmati hidangan yang disajikan, Arlo tetap tak enak hati. Sesudah pertemuan itu selesai dan tamunya pulang, Arlo menghubungi sang papa. “Aku baru selesai meeting, Pa ... Papa, mau bicara apa? ... oke, aku pulang sekarang.” Dia lalu mengakhiri panggilan tersebut. “Bram, kamu kembali ke kantor sendiri. Aku harus ke rumah besar,” ucap Arlo pada asisten pribadinya. “Baik, Pak. Nanti Bapak kembali ke kantor atau tidak?” tanya Bram sambil melihat agenda sang pimpinan di ipad. “Aku tidak tahu, tapi kemungkinan besar tidak. Kosongkan jadwalku setelah ini. Kalau ada pertemuan penting, jadwalkan besok pagi,” jawab Arlo. “Oh ya, jangan lupa kabari aku kalau ada hal yang mendesak dan aku harus turun tangan,” imbuhnya. “Siap, Pak. Ini kunci mobilnya.” Bram menyerahkan kunci mobil milik Arlo. Dia memang yang mengendarai mobil sang atasan kalau mereka ada meeting atau acara di luar kantor. Arlo tidak suka memakai sopir pribadi karena lebih suka mengendarai sendiri mobilnya daripada mobil perusahaan. “Aku pergi.” Arlo meraih kunci mobil lalu beranjak menuju tempat parkir mobil. Pria itu kemudian melajukan kendaraan tersebut menuju kediaman kedua orang tuanya. Arlo menghentikan mobil lalu menekan klakson dua kali di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah yang dikelilingi pagar tembok yang tinggi. Tak lama pintu itu pun terbuka secara otomatis. Seorang satpam yang berjaga di pos, mengendalikan gerbang tersebut dengan remote control. Arlo kembali melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah. Memarkirkan BMW hitam itu di depan garasi. Baru kemudian masuk ke rumah megah bercat putih tersebut. Pria itu langsung menuju ruang makan, di mana kedua orang tuanya berada. Dia memberi salam pada papa dan mamanya sebelum ikut duduk di sana. “Kamu tidak ikut makan sekalian?” tanya Linda, sang mama, pada Arlo. “Aku barusan makan siang dengan calon investor, Ma,” jawab Arlo. “Memangnya kamu mencari calon investor lagi?” tanya pria yang sebagian rambutnya sudah memutih. “Iya, Pa. Bukankah semakin banyak investor semakin bagus, jadi kita tidak banyak mengeluarkan uang sendiri,” jawab Arlo sambil mengetukkan telunjuk di atas meja. “Siapa investornya?” Kamal, sang papa, kembali bertanya. “Ada kenalanku,” sahut Arlo yang malas menjelaskan pada papanya. “Kenapa Papa ingin tahu? Aku sudah dewasa dan bisa mengatur semuanya sendiri, Pa,” protesnya kemudian. “Kalau kamu sudah dewasa, kenapa tidak segera punya anak?” Papa Arlo menatap putra semata wayangnya itu. Arlo menghela napas panjang. Inilah kenapa dia enggan pulang ke rumah orang tuanya dan memilih tinggal bersama Davina karena selalu didesak untuk segera punya anak. Apalagi sekarang dia berencana cerai dengan istrinya. Tidak mungkin ingin punya anak. Namun, Arlo ingin menyimpan dulu rencana perceraiannya sampai waktunya tiba. “Dewasa bukan berarti sudah siap untuk punya anak, Pa.” “Apa lagi yang membuatmu belum siap? Umurmu sudah matang, punya istri, mapan, rumah ada, kendaraan ada. Kurang apa lagi?” desak sang papa. “Kurang orang yang kucintai, Pa,” batinnya, tapi itu tidak diucapkan Arlo. Untuk saat ini biarlah dia saja yang tahu siapa sosok yang sudah mencuri hatinya. Itu lebih aman untuk Joan. Papanya bisa melakukan sesuatu yang tidak terduga kalau ada yang coba menghalangi keinginannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD