Niko menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Joan. Dia harus menyusun kata dan kalimat agar Joan tidak tersinggung karena salah paham. Karena pertanyaan yang akan dia ajukan bersifat pribadi dan mungkin sensitif bagi beberapa orang.
“Jo, sebelumnya aku minta maaf kalau lancang menanyakan soal ini sama kamu. Aku melakukannya karena aku sangat peduli dan tidak ingin kamu kecewa atau sakit hati di kemudian hari.” Niko menatap Joan dengan penuh perhatian.
“Kak Niko sebenarnya mau ngomong apa sih? Kata-katanya kok kaya serius banget.” Joan jadi penasaran.
“Aku harap kamu tidak tersinggung dan menjawab pertanyaanku dengan jujur, Jo. Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan pria yang bernama Arlo itu? Dia sudah punya istri ‘kan?” Niko benar-benar memberanikan diri bertanya pada Joan dengan risiko gadis itu akan marah padanya.
Joan tentu saja terkejut mendapat pertanyaan tersebut dari Niko. Namun, dia segera bisa menguasai diri. “Sepertinya aku lupa bilang semalam kalau Kak Arlo itu kakak kelasku pas SMA, Kak. Kak Arlo memang sudah menikah, Kak,” jawabnya dengan jujur.
“Kalian baru ketemu setelah reuni akbar kemarin atau memang sudah akrab sejak SMA?” Niko semakin ingin tahu.
Joan berpikir sejenak sebelum menjawab. “Dua-duanya benar, Kak.”
Niko mengerutkan kening. “Maksudmu gimana kok dua-duanya benar?”
Joan tersenyum. “Aku kenal Kak Arlo sejak hari pertamaku masuk SMA. Dia orang pertama yang kuajak bicara begitu aku sampai sekolah. Aku baru tahu kalau Kak Arlo wakil ketua OSIS waktu para pengurusnya datang ke setiap kelas untuk memperkenalkan diri pada siswa baru.”
“Waktu aku masuk jadi anggota peleton inti, Kak Arlo ternyata juga salah satu anggota. Karena sering ketemu, kami jadi akrab. Tapi setelah Kak Arlo lulus, kami tidak pernah bertemu dan berkomunikasi. Baru ketemu lagi di reuni kemarin.” Gadis itu bercerita dengan wajah ceria saat mengenang pertemuannya dengan Arlo.
“Jadi kalian sudah lama kenal dan akrab?” Niko kembali memastikan.
Joan pun menganggut. “Iya, Kak.”
“Maaf, ya, Jo. Apa memang hubungan kalian hanya sebatas kakak dan adik kelas? Karena aku lihat sikapnya semalam seperti cowok yang tidak suka ceweknya kenal dengan cowok lain.” Niko lagi-lagi menanyakan hal yang sensitif pada Joan.
“Permisi, apa benar minumnya es jeruk dan es lemon tea?” Seorang pramusaji yang membawa nampan berisi beberapa gelas minuman, menyela pembicaraan keduanya.
“Benar, Mas,” jawab Niko seraya tersenyum pada pramusaji tersebut. “Saya es jeruk, dia es lemon tea.” Dia memberi tahu sang pramusaji agar tidak salah meletakkan gelas.
Pramusaji tersebut kemudian menempatkan segelas es jeruk di depan Niko, dan segelas es lemon tea di hadapan Joan. “Silakan dinikmati,” ucapnya sebelum meninggalkan meja keduanya.
“Ayo diminum dulu, Jo.” Niko mengajak gadis di hadapannya untuk minum terlebih dahulu sebelum kembali berbicara.
Joan mengaduk isi gelas, kemudian meminumnya. Rasa haus yang tadi dirasakan kini telah hilang.
“Apa hubunganmu dengan dia, Jo?” Niko mengingatkan Joan karena belum menjawab pertanyaannya.
“Itu hanya perasaan Kak Niko. Kami hanya berteman. Mana mungkin hubungan kami lebih dari itu. Kak Niko tahu ‘kan kalau Kak Arlo sudah menikah,” sanggah Joan.
“Benar kamu hanya menganggapnya teman, Jo?” tanya Niko lagi.
Joan menganggut. “Iya, sama seperti aku dan Kak Niko,” jawabnya santai.
“Tapi aku ingin kita lebih dari teman, Jo. Aku single, kamu single. Tidak ada salahnya kita lebih saling mengenal agar bisa melangkah ke tahap selanjutnya. Apa kamu tidak ingin membahagiakan Om Damar dan Tante Aida dengan menikah, Jo?” Niko menatap intens gadis yang duduk di depannya itu.
“Aku juga ingin menikah, Kak. Tapi kalau belum bertemu jodoh, aku harus gimana?” Joan balas menatap Niko.
“Kita berusaha menemukan jodoh dengan lebih mengenal lawan jenis, Jo. Seperti aku lebih ingin kenal sama kamu. Menyamakan visi misi ke depan. Mencari tahu apa yang disukai dan yang tidak. Bisa lebih mengenal sifat masing-masing,” ujar Niko.
Joan mengerutkan kening. “Bukankah tiap ketemu kita jadi lebih saling mengenal, Kak?”
“Iya, Jo. Tapi aku ingin kita lebih intens berhubungan,” sahut Niko.
“Intens gimana?” Joan tidak mengerti apa yang diinginkan oleh pria berkacamata itu.
“Maksudku kita lebih sering ketemu, ngobrol, pergi, makan bareng,” jelas Niko.
“Kita ‘kan sekarang juga sedang ketemu, ngobrol, dan makan bareng, Kak,” timpal Joan.
“Tapi waktu kita terbatas sekarang, Jo. Kamu nanti harus balik ke kantor sebelum jam 1.00. Kita bertemu paling hanya 45 menit,” keluh Niko.
Joan tersenyum geli melihat Niko yang seperti sedang merajuk. “Terus maunya Kak Niko gimana?”
“Aku ingin setiap hari ketemu sama kamu, Jo. Entah dengan menjemput kamu kerja atau aku ke apartemenmu setelah pulang dari kantor. Atau mungkin kamu main ke kosku.” Niko mengungkapkan keinginannya.
Joan tertawa kecil. “Masa harus setiap hari ketemu, Kak? Nanti bosan loh kalau ketemu setiap hari.”
“Justru itu yang aku cari, Jo. Kalau aku ketemu kamu setiap hari apa aku akan merasa bosan? Atau aku justru merasa tidak bisa kalau tidak ketemu kamu sehari saja,” lontar Niko.
“Orang menikah itu tentu niatnya sekali untuk seumur hidup, Jo. Kita akan hidup bersama dengan pasangan. Bertemu dan berinteraksi setiap hari dalam waktu yang lama. Tidak mungkin ‘kan kita menikah dengan orang yang membuat kita bosan? Pasti kita kan mencari orang yang membuat nyaman dan betah saat bersama,” imbuh Niko.
Joan mengganggut. Sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Niko. “Makanya kita tidak bisa menikah dengan sembarang orang, Kak. Butuh waktu dan proses sampai kita merasa yakin kalau orang itu adalah jodoh kita. Bukannya aku tidak mau mencari suami, tapi kalau masih beluum sreg gimana? Apa ya tetap mau dipaksakan demi membahagiakan orang tua sementara hati kita tidak bahagia?”
“Berpura-pura bahagia itu melelahkan, Kak. Apalagi harus terus menahan perasaan dan tidak bisa mengekspresikan diri. Lama-kelamaan bisa jadi gila,” lanjut Joan.
“Iya, Jo. Sejauh ini aku merasa nyaman sama kamu. Obrolan kita juga nyambung, tidak timpang sebelah. Makanya aku ingin kita bisa lebih dekat dan saling mengenal. Siapa tahu kita cocok, terus menikah dan membahagiakan kedua orang kita. Bagaimana menurutmu?” Niko memandang Joan dengan intens.
Joan tersenyum. “Biarkan saja semua berjalan apa adanya, Kak. Aku tidak mau memaksakan diri meskipun aku juga senang ngobrol sama Kak Niko.”
“Apa—” Belum sempat Niko bertanya, seorang pramusaji datang membawakan makan siang mereka. Pria berkacamata itu terpaksa menunda bertanya sampai mereka selesai makan. Dia tidak ingin mengurangi kenikmatan makan dengan membicarakan hal yang sensitif. Mereka membicarakan cita rasa hidangan yang disajikan dan makanan kesukaan Joan selama makan siang.
Niko melihat jam yang tertempel di dinding kafe sesudah makan. Dia masih punya waktu sepuluh menit sampai Joan kembali ke kantor. Karena sedang dinas luar, jadi Niko tidak terburu-buru ke kantor.
“Jo, tipe pria seperti apa yang kamu inginkan jadi suami?” Niko tiba-tiba menanyakan hal yang klise.