Damar mengernyit menatap pria yang menyapanya. Dia merasa kenal dengan pria tersebut, tapi tak yakin karena penampilannya begitu gagah dan berwibawa apalagi tubuhnya dibalut setelan jas yang harganya tidak kaleng-kaleng. “Iya, saya. Maaf Anda siapa?” Pria itu tersenyum. “Om, lupa dengan saya?” tanyanya sambil meletakkan tangan di depan d**a. “Saya Arlo, Om,” akunya kemudian. “Ya Tuhan, Nak Arlo. Maaf, Om pangling karena penampilanmu sangat berbeda sekali kalau pakai jas seperti ini.” Damar menepuk bahu Arlo lalu bersalaman dengannya. “Om, rasanya kenal, tapi bingung siapa. Daripada salah sebut nama jadi Om tanya tadi.” “Tidak apa-apa, Om. Wajar agak lupa karena kita baru sekali bertemu.” Arlo berusaha memaklumi meskipun merasa sedikit kecewa. Dia lalu beralih pada Aida. “Halo, Tante. Ma

