Joan terkejut saat melihat Arlo berdiri di samping pintu unitnya sambil berbicara di telepon. Dia terlihat semakin tampan dan menawan dengan lengan kemeja dilipat sampai di siku. Pria yang menyandar pada dinding dengan kaki kanan sedikit ditekuk itu belum menyadari kehadiran sang adik kelas. “Mau apa Kak Arlo ke sini?” tanya Joan dalam hati. Dia sengaja memperlambat langkahnya agar tidak mengganggu pembicaraan Arlo yang tampak serius. Arlo memutuskan sambungan telepon saat tanpa sengaja menoleh ke arah Joan yang berjalan pelan menuju unitnya. Wajah tampan yang semula tampak serius itu langsung menyunggingkan senyum manis. “Hai, Jo,” sapanya dengan penuh ceria. “Hai, Kak.” Joan membalas sapaan kakak kelasnya itu. “Kok enggak ngabarin dulu kalau mau ke sini,” protesnya. “Sengaja mau bik

