Diusir

365 Words
Setelah selesai berkemas, aku segera pamit pada Ibu, walaupun yang kupamiti tidak mau keluar kamar. Hanya Kak Drew yang mengantarku keluar hingga pagar depan. Kak Barbetta juga sepertinya masih kesal dan belum keluar kamar. "Gih, sana, pergi yang jauh! Biar nggak ada yang gangguin Pange gue lagi! Dasar upik abu ga tau diri!" ketus Kak Drew sambil mengunci pintu pagar. Tidak ada rasa iba sedikit pun melihatku yang masih menangis dan bingung akan menuju kemana setelah ini. "Jangan hina aku lagi, Kak. Suatu saat nanti aku akan buktikan, aku bisa lebih hebat dari kakak!" Kak Drew hanya mencibir, lalu masuk dan langsung menutup pintu. Suasana sudah sangat sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sambil menggendong ransel di punggung, kulangkahkan kaki perlahan, berjalan semakin menjauhi rumah yang sudah kutinggali selama tiga tahun itu. "Mau ke mana malam-malam gini?" Kuhela napas dalam dan membuangnya kasar. Akhirnya kuputuskan berjalan ke halte bus di depan komplek. Setidaknya di sana aku bisa duduk sambil berpikir. Untungnya halte saat ini sedang sepi, hanya ada aku seorang. Jadi aku bisa puas menangis meratapi nasibku yang begitu malang. Sudah hampir satu jam menangis, perasaanku yang tadi begitu kacau sudah jauh lebih baik. Namun, tetap saja masih belum tau tujuanku malam ini. "Ya Allah, aku harus ke mana? Masa iya malam ini harus tidur di sini?" Kulihat kondisi sekitar, melihat kira-kira di bagian mana yang bisa dimanfaatkan untuk bisa berbaring sebentar. Tiba-tiba sinar terang yang berasal dari sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik, berhenti di depan halte tempatku berada sekarang. Nomor polisi mobilnya hanya terdiri dari dua angka dan satu huruf di belakang. Nomor yang hanya khusus dimiliki oleh mobil orang-orang kaya. Sambil memeluk erat ransel, aku bersiap-siap pergi dari sana. "Duh, jangan-jangan ini mobil bos mafia yang suka mencari gadis muda untuk dijual ke luar negeri." Aku mulai berpikir macam-macam. Detak jantungku berdegup kencang karena takut. Kurapal lagi doa-doa seraya memohon perlindungan. Beberapa menit setelah mobil berhenti, dari kursi penumpang keluar seorang pria tegap berpakaian safari hitam-hitam. Perlahan ia menghampiriku seraya mengeluarkan sebuah kertas dari saku bajunya. Sepertinya sebuah foto. Pandangannya mengamatiku dari atas sampai bawah. Setelahnya ia berjalan sedikit menjauh dan mengeluarkan ponselnya. "Tuan, nona muda sudah berhasil kami temukan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD