Nona Muda

401 Words
"Tuan, Nona muda sudah berhasil kami temukan," ucap seorang pria tegap yang menghampiriku di halte pada seseorang di ujung telepon. Siapa pria ini? Siapa yang dia maksud dengan nona muda tadi? "Selamat malam, Nona Cinde." Pria itu menundukkan sedikit badannya. Kok, dia tau namaku? "Perkenalkan, saya Asykar. Saya datang untuk menjemput Anda." "Jemput? Jemput ke mana, Om? Saya kan nggak kenal Om." Jangan-jangan, dia penculik. "Saya sudah lama mencari-cari nona. Silakan, Nona. Kakek Anda sudah menunggu," sahut pria itu lagi sambil membukakanku pintu belakang mobil. "Saya nggak punya Kakek, Om," ucapku sambil bersiap-siap untuk segera kabur dari sini. "Cinde, akhirnya gue nemuin lo di sini. Gue udah denger dari Barbetta, kalo lo diusir. Yuk, ikut. Gue bantuin cari kos-kosan di sekitar sini." Mas Pange tiba-tiba muncul di depanku. Apa, aku ikut sama Mas Pange aja, ya? Nggak, ah, yang ada nanti aku makin dianiaya sama Kak Drew. Aku diusir dari rumah kan, juga gara-gara dia. "Ayo Om, kita berangkat." Aku berbalik menghampiri mobil yang pintunya masih terbuka. meninggalkan Mas Pange yang masih terlihat bingung. Yang penting aku harus kabur dulu deh dari Mas Pange. Soal om -om ini siapa, itu urusan nanti. Semoga saja dia bukan orang jahat. Tapi kalau dia jahat, aku akan lompat dari mobil ini. "Baik, Nona." Sekali lagi dia membungkukkan badan. Setelah menutup pintu mobil, ia lalu duduk di kursi depan, di sebelah supir. Mas Pange masih melongo di atas motornya. Saat sadar kalau mobil berjalan, ia bergegas menyalakan motor dan mengejarku. "Cinde, lo mau ke mana? Mereka itu siapa?" seru Mas Pange. Tangannya mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil tempat aku duduk, tapi mobil berjalan semakin cepat. Membuat Mas Pange jauh tertinggal di belakang. Sampai ia tidak terlihat lagi. Akhirnya aku bisa terlepas dari Mas Pange. Satu masalah selesai sudah, sekarang tinggal memastikan siapa orang-orang ini. Kalau mereka penculik seperti bayanganku, harusnya kan tanganku diikat dan mulutku disumpal kain. Mereka juga akan memperlakukanku dengan kasar. Namun, ini tidak. "Maaf, Om. Sebenarnya kita ini mau ke mana?" tanyaku pelan pada Om Asykar. Eh, bener kan, namanya tadi Asykar. "Kita mau pulang ke rumah, Nona." Aku semakin bingung. "Iya, tapi rumah siapa, Om?" "Rumah kakek anda, Nona, yang sekaligus rumah anda juga." Mataku membulat sempurna, "Tapi saya nggak punya kakek, Om. Saya yatim piatu. Dari kecil saya tinggal di panti asuhan." "Soal itu, nanti akan dijelaskan langsung oleh kakek anda." Pria itu menjawab singkat, kemudian memfokuskan matanya ke depan lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD