Cucu Sultan

527 Words
Mobil melaju cepat membelah jalanan Jakarta, memasuki kawasan perumahan elit yang sebelumnya hanya aku lihat lewat televisi atau internet. Deretan rumah mewah tingkat dua dan tiga berjajar di sepanjang jalan masuk. Gerbang masuk juga dijaga khusus oleh empat orang tim keamanan. Om Asykar menurunkan jendelanya. Empat security tadi langsung berdiri dan memberi hormat, membuka portal dan mempersilakan mobil jalan. Mobil berhenti di sebuah rumah mewah berwarna putih. Rumah tinggi yang dipagari dengan tiang besi berwarna hitam dan pucuknya berwarna emas. Pintu pagar otomatis terbuka saat mobil kami mendekat. Pemandangan di dalam pagar lebih luar biasa lagi. Halaman rumahnya sangat luas, terdapat berbagai aneka tanaman hias yang dihiasi berbagai lampu, sangat terpelihara dan semakin indah dipandang di tengah kegelapan malam ini. Ada juga air mancur beserta kolam ikan di sisi kiri rumah. Supir menghentikan mobil tepat di depan sebuah pintu masuk. Pintu kayu berukuran besar yang tingginya hampir dua kali tinggiku. Om Asykar turun lebih dulu, sedangkan aku masih dibuat takjub dengan pemandangan yang ada di depan mata. "Silakan, Nona." Lagi-lagi Om Asykar membukakan pintu untukku. Aku turun perlahan lalu mengambil posisi tepat di sampingnya. "Mari ikuti saya." titahnya. Aku mengekor di belakang Om Asykar. Saat pintu terbuka beberapa orang berpakaian seragam menyambut kami sambil membungkukkan sedikit badan mereka. Aku pun ikut membungkukkan badan saat lewat di depan mereka. Om Asykar terus berjalan. Ia menuju sebuah ruangan yang cukup luas. Sepertinya ini ruang keluarga, karena terdapat beberapa sofa dan ada sebuah televisi layar datar berukuran sangat besar di sana. "Nona harap tunggu di sini dulu." Om Asykar kemudian pergi meninggalkanku. Mataku menyapu seluruh isi ruangan. Benar-benar rumah yang sangat mewah seperti istana. Lantainya, dindingnya, atapnya, kaca jendelanya, semuanya membuatku berdecak kagum. Tiba-tiba mataku mengarah pada sebuah foto besar yang terpajang di tengah ruangan ini. Terpasang wajah seorang pria tua berpenampilan rapi layaknya seorang raja. Di bawahnya tertulis Sultan Andromeda. Namanya terdengar tak asing. Di mana ya, aku pernah mendengar nama itu? Oh, iya! Sultan Andromeda kan nama pemilik Hotel Sultan yang terkenal itu. Aku menutup mulut. Takpercaya kalau sekarang ini aku sedang berada di dalam rumah seorang milliuner di negeri ini. Pantas saja rumahnya sangat mewah. Tak berapa lama, Om Asykar datang kembali. Kali ini ia bersama seorang pria tua yang duduk di atas kursi roda. Pria tua itu adalah Sultan Andromeda! "Ini Nona Cinde, Tuan," ucap Om Asykar penuh hormat. Pria tua itu menatapku. Mata tuanya mengisyaratkan rasa rindu dan sayang yang begitu besar. "Cinde, cucuku. Sekarang kamu sudah sebesar ini. Tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik." . Aku masih diam. Bingung dengan apa yang terjadi. "Kemarilah," panggilnya seraya melambaikan tangan. Aku menurut. Berjalan perlahan menghampiri Tuan Sultan, lalu dengan ragu kuraih tangan pria tua itu kemudian menciumnya. Ia tersenyum. "Kamu juga tumbuh menjadi anak yang penuh sopan santun. Bagus itu." "Umm, maaf, tapi Tuan, ada maksud apa saya dibawa kemari?" tanyaku hati-hati dengan kata-kata yang sesopan mungkin. "Panggil saja Kakek," ucapnya lalu tertawa kecil. "Cinde, kamu adalah cucuku yang telah lama hilang. Sudah lama Kakek menugaskan Asykar untuk mencarimu kemana pun. Kakek lega sekali akhirnya bisa menemukanmu sebelum kakek meninggalkan dunia ini." Apa? Jadi, aku adalah cucu Sultan Andromeda? Kakek kaya raya ini? Tapi bagaimana bisa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD