"Ibuku sakit apa Asykar? Bukankah sudah ada dokter terbaik yang merawatnya? Buat apa lagi aku pulang?"
"Ibu Suri mau bertemu Tuan Muda. Sudah seminggu ini beliau tidak mau makan. Beliau hanya ingin disuapi oleh Tuan Muda."
Arjuna mendengkus kasar. Sebagai anak tentu saja ia juga menyimpan rasa rindu akan sang Ibu. Apalagi saat ini ibundanya sedang sakit. Membuat hati kecilnya diliputi rasa tak tega. Akhirnya Arjuna memutuskan untuk menemui ibunya.
"Dek, Mas pamit pergi ke Jakarta sebentar, ya. Ibunda sedang sakit."
"Boleh aku ikut Mas?" tanya Ratu.
"Mas rasa jangan dulu, Dek. Kondisinya sedang tidak tepat. Mas takut kehadiranmu akan semakin memperparah sakitnya. Nanti kalau Ibu sudah membaik, Mas akan menjemputmu. Oh, iya, Dek. Kamu nggak usah menghubungi, Mas, ya. Biar Mas saja."
Bersama Asykar, Arjuna lalu pergi ke Jakarta. Ia meningggalkan Ratu bersama kedua orang tuanya di Malang.
***
Sudah hampir seminggu berlalu tapi Arjuna belum juga kembali ke sisi Ratu.
"Kenapa ayahmu belum juga kembali, ya, Nak?" tanya Ratu seraya mengusap pelan perutnya yang masih datar. Kemarin, taklama setelah Arjuna pergi, Ratu sudah terlambat datang bulan selama seminggu. Hasil test packed-nya terdapat dua garis merah. Ratu ingin segera memberitahu Arjuna tentang kehamilannya saat dia pulang nanti sebagai kejutan, tapi hingga kini sang suami belum juga menampakkan diri. Bahkan tidak menghubunginya sama sekali. Sedangkan untuk menelepon lebih dulu Ratu tidak berani.
***
"Nikahi Selena jika kamu ingin ibumu ini tetap hidup Juna!" ancam Ibu Suri di tengah-tengah sakitnya.
Arjuna hanya terdiam sambil menunduk. Tangannya masih terus memijat-mijat kaki sang ibu. Jujur dalam hatinya ingin sekali rasanya ia membantah dan menjawab kalimat ibunya tadi. Namun, hal itu urung dia lakukan demi untuk menjaga kondisi ibunya agar tetap stabil.
Setelah mengetahui perihal kesehatan ibundanya dari dokter Hasan, dokter keluarga mereka, Arjuna benar-benar merasa terpukul. Kesehatan ibunya dalam keadaan tidak baik. Sudah sejak setahun ini jantung Ibu Suri terus saja mengalami penurunan. Sebagai anak satu-satunya ia merasa sangat tidak berguna karena baru saja mengetahuinya sekarang, saat keadaannya sudah cukup parah.
"Arjuna, jawab Ibu!" ucap Ibu Suri dengan suara keras.
"Baik, Bu. Aku akan menuruti apa yang menjadi keinginan Ibu." Dengan sangat terpaksa akhirnya Arjuna menjawab.
"Maafkan Mas, Ratu," batin Arjuna.