Semua Demi Ibu

511 Words
"Benarkah itu Juna? Makasi ya, Nak." Ibu Suri terbangun, lalu langsung memeluk erat putranya. "Ibu akan segera mempersiapkan pernikahan kalian. Kau hanya harus tetap bekerja seperti biasa, memimpin hotel kita." "Tapi Bu, Juna akan kembali ke Malang untuk menemui Ratu dulu. Biar bagaimanapun, dia istri Juna. Dia tetap harus tau tentang hal ini." Ibu Suri yang merasa takut kalau kepergian anaknya ke Malang akan membuat Juna tidak kembali lagi ke sisinya langsung histeris. "Tidaaak! Ibu tidak mengizinkanmu pergi ke Malang lagi. Kamu tidak boleh ke mana-mana!" "Bu, Juna hanya ingin memberitahu Ratu, tidak lebih. Ibu nggak usah khawatir berlebihan, ya. Nggak bagus buat kesehatan Ibu." Juna berusaha menenangkan Ibu Suri. Ia memeluk erat ibundanya dengan penuh kasih sayang. "Kalau begitu, biar Ibu sendiri yang akan menjemput Ratu. Ibu akan mengajak Ratu tinggal di sini." Mata Arjuna berbinar. "Sungguh, Bu?" Ibu Suri mengangguk pelan. "Tentu saja." Keesokan harinya, Ibu Suri ditemani beberapa orang pengawalnya berangkat menuju Malang. Setibanya di kediaman Ratu, ia langsung memerintahkan salah satu pengawalnya untuk turun dan menyuruh Ratu menemuinya. Terlihat jelas kalau ia enggan untuk turun ke tempat yang menurutnya sangat tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal. "Kamu suruh gadis itu menemui saya. Saya tunggu di sini," titahnya pada sang supir. Tidak lama kemudian Ratu muncul. Awalnya dia mengira kalau Arjuna yang menjemput. Ia begitu bahagia sampai lupa untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak. Ratu hanya mengenakan baju daster yang warnanya sudah pudar karena ia baru saja selesai mencuci pakaian. Hal itu semakin membuat Ibu Suri memandang rendah padanya. Dari dalam mobilnya, Ibu Suri menurunkan kaca jendela. Ia tidak jadi menyuruh Ratu untuk naik. Ratu yang berdiri persis di samping mobil Ibu Suri terkesiap. "I-ibu," ucapnya terbata. Refleks ia langsung membungkukkan badannya. "Sekarang juga kamu bersiap. Ikut saya ke Jakarta. Arjuna sudah menunggu." Mendengar nama Arjuna, seketika membuat perasaan Ratu yang selama ini dilanda rasa rindu menjadi sangat bahagia. Dadanya berdegup kencang dan pipinya mulai berwarna merah. Wajar saja, karena sudah hampir dua minggu, ia sama sekali belum bertemu suaminya. "Ba-baik, Bu. Sebentar saya siap-siap dulu." Ibu Suri menyuruh Ratu duduk di kursi depan. Ia tidak ingin duduk bersebelahan dengannya. Selama perjalanan, tidak ada komunikasi yang tercipta. Suara di antara mereka hanya berasal dari lagu yang diputar siaran radio. "I-ibu apa kabar? Kata Mas Juna, kemarin Ibu sakit. Apa sudah sehat?" tanya Ratu sehati-hati mungkin. Sambil sedikit menengok ke belakang, ia berusaha untuk memecahkan kebisuan di antara mereka. "Hmm," jawab Ibu Suri tanpa melihat ke arah Ratu. Ia malah menghardik Hendro, supirnya. "Hendro, apa tidak bisa lebih cepat lagi! Saya sudah sangat gerah di dalam!" "Baik, Bu. Saya akan coba cari jalan lain yang tidak macet. Apa Nyonya Muda tau jalan yang lebih cepat menuju bandara?" tanya Pak Hendro. "Hei! Siapa yang kau panggil nyonya muda!" hardik Ibu Suri lagi. "Sebut dia sesuai nama aslinya!" Ratu sedikit kaget melihat reaksi Bu Suri. Ia tidak lagi berani mengeluarkan suara sedikit pun. Setelah menempuh perjalanan udara selama satu setengah jam, mereka tiba di rumah keluarga Andromeda. Ibu Suri langsung turun dari mobil dan pergi begitu saja dari hadapan Ratu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD