"Silakan, Nyonya Muda," ucap Pak Hendro seraya membukakan pintu untuk Ratu.
"Terima kasih, Pak. Apa Bapak tau dimana saya bisa menemui suami saya?"
"Maaf, saya tidak tau, Nyonya."
"Baiklah, terima kasih, Pak."
Walaupun Ratu berasal dari keluarga sederhana, tapi ia tau bagaimana harus bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya menghampiri Ratu.
"Maaf Bu Ratu, perkenalkan, saya Bi Aidah, kepala asisten rumah tangga di sini. Saya diperintahkan nyonya besar untuk mengantar Ibu ke kamar dan menjelaskan semua tugas ibu selama bekerja sebagai ART di sini."
Ratu terperenyak. "Maksud Bi Aidah? Saya harus bekerja di rumah ini sebagai asisten rumah tangga?"
Bi Aidah hanya membalas dengan anggukan sambil memandang ratu dengan pandangan iba.
Malam harinya, Arjuna yang baru saja tiba di rumahnya, langsung menuju kamarnya untuk menemui Ratu. Namun, di kamarnya tidak ada siapa-siapa.
"Ibu, bagaimana perjalanannya tadi?" Juna menemui Ibu Suri yang sedang beristirahat.
"Alhamdulillah lancar," jawab Ibu Suri lalu tersenyum.
"Apa ibu tahu di mana Ratu? Kenapa dia tidak ada di kamarku?"
"Dia tidur di kamar belakang."
"Kamar belakang? Maksud ibu kamar pembantu? Tapi kenapa, Bu?"
Juna bangkit dari atas ranjang ibunya. "Juna akan ajak dia ke kamar Juna."
"Arjuna, kamarmu hanya boleh ditempati oleh Selena. Wanita miskin itu sengaja ibu ajak ke sini agar dia sadar. Kalau di rumah ini posisi yang tepat untuknya hanyalah sebagai asisten rumah tangga.
"Ibu!" bentak Arjuna.
Ibu Suri terkejut, lalu ia memegangi d**a kirinya sambil meringis kesakitan. Tak lama kemudian ia tak sadarkan diri.
"Ibu! Ibu!" pekik Arjuna. "Pelayan! Cepat hubungi dokter!" Arjuna panik. Ia menyesal tadi sempat membentak ibunya dengan suara keras. "Ibuuu, maafkan Juna, Bu," isaknya.
***
"Maafkan Mas, Ratu. Ini semua mas lakukan demi kesehatan Ibu. Mas terpaksa menuruti keinginannya untuk menikah dengan Selena," ucap Arjuna sambil memeluk erat Ratu saat ia menemui istrinya itu malam ini. Ibu Suri memerintahkan Arjuna untuk segera memberitahu Ratu mengenai pernikahannya yang akan dilangsungkan minggu depan di Australia—tempat Selena tinggal saat ini.
Pecah tangisan Ratu mendengar pernyataan dari Arjuna. Bayangannya kalau ia akan segera bersatu dengan sang suami di rumah ini pupus sudah. Ia juga harus bekerja di rumah ini, karena tanpa sepengetahuan Juna, Ibu Suri sudah membeli seluruh tanah di sekitar tempat tinggal Ratu di Malang. Termasuk tanah tempat bapak Ratu bekerja. Ibu Suri mengancam akan memberhentikan bapaknya dari pekerjaannya sebagai mandor tani.
Ratu hanya bisa tersedu. Kabar baik tentang kehamilannya urung ia ungkapkan pada sang suami. Dalam hatinya ia bertekad akan menyembunyikan kehamilannya dari siapa pun di rumah ini. Ia tidak mau anaknya nanti akan mendapat perlakuan yang sama dari keluarga ayahnya.