Kehidupan Baru

352 Words
"Jadi, nanti kamu akan tinggal di sini bersama kakek, Cinde," ucap Sultan Andromeda. Aku masih menggeleng-gelengkan kepala atas semua yang baru saja terjadi. Sulit sekali rasanya untuk mempercayai ini semua. Siapa yang menyangka, bahwa kehidupanku yang beberapa menit lalu masih tidak jelas akan tinggal di mana, beberapa saat selanjutnya malah akan tinggal di rumah mewah bak istana ini. "Tapi saya masih belum percaya, Tuan. Eh, maksud saya, kakek. Bagaimana bisa kakek yakin kalau saya adalah cucu kakek?" Sultan tersenyum. "Besok pagi akan kakek ceritakan semuanya. Sekarang sudah larut malam. Kamu pasti lelah. Istirahatlah," sahutnya bijak. "Asykar, tolong panggil pelayan untuk mengantar Cinde ke kamarnya." "Baik, Tuan." Om Asykar menghubungi salah satu pelayan melalui intercom yang terpasang di dinding belakang, tempat ia berdiri. Tak lama kemudian muncul seorang wanita bereseragam hitam-putih yang sebelumnya sudah aku lihat di pintu masuk tadi. "Bi Jariyah, tolong kamu antar nona muda ke kamarnya." Wanita yang dipanggil Bi Jariyah itu hanya menjawab dengan membungkukkan sedikit badannya. Kuperhatikan ia juga tidak berani untuk memandang langsung ke arah Tuan Sultan Andromeda. "Mari Nona, ikut saya," ucapnya hormat yang sontak membuatku jadi salah tingkah. Ia meminta tas ranselku untuk ia bawakan, tapi kutolak secara halus. Bi Jariyah membawaku ke lantai dua rumah ini. Kami melintasi sebuah lorong panjang yang dialasi oleh karpet berwarna coklat keemasan. Kemudian ia membuka sebuah ruangan. "Nona, ini kamar nona. Silakan beristirahat . Jika Nona butuh bantuan, jangan sungkan hubungi saya melalui intercom yang ada di kamar nona," ucapnya lagi. "Baik, Bu. Terima kasih banyak," jawabku canggung sambil membungkukkan badan. Membuat wanita paruh baya di depanku ini mengatupkan mulut untuk menahan tawa. "Nona bisa panggil saya, Bi Jariyah. Saya dan para wanita yang berseragam di rumah ini adalah pelayan nona. Baik, Nona, Saya permisi. Semoga Nona betah tinggal di rumah ini." "Oh, iya, Bi. Saya boleh minta tolong?" "Silakan Nona." "Tolong Bibi panggil saya, Cinde saja. panggilan nona terdengar aneh di telinga." "Maaf, Nona, tapi itu tidak mungkin saya lakukan. Sudah peraturan di rumah ini seperti itu." Aku mengangguk-anggukan kepala. "Kalau begitu panggil saya Cinde jika kita hanya berdua saja, ok? Saya harap kita bisa menjadi teman."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD