Tujuh

1353 Words
Elvina masuk ke kamar Dimas untuk melihat apa yang dilakukan pria itu karena tak kunjung keluar untuk menemaninya. Dimas yang sedang memainkan ponsel sambil berbaring di ranjang pun segera meletakkan ponsel di sampingnya lalu memberikan senyumnya pada Elvina, senyum yang selalu membuat jantung Elvina berdebar lebih cepat. Senyum yang selalu membuat Elvina terpana karena keindahan dari rupa pria yang mungkin dalam waktu dekat ini akan menjadi miliknya. “Sini,” panggil Dimas karena Elvina hanya terpaku di depan pintu kamarnya, Elvina berjalan menghampiri Dimas. Di kamar yang cukup besar itu sudah ada ranjang berukuran queen dengan seprai dan selimut berwarna abu-abu, foto masa muda Dimas yang terletak di meja yang seperti meja belajar miliknya, dengan kursi yang dapat diputar seperti yang dimilikinya di kantor. Lemari berwarna cokelat tua yang berukuran cukup besar, dinding kamar itu bercat abu-abu terang, Elvina bisa melihat gitar menggantung di temboknya, yang menandakan bahwa sang pemiliknya pasti bisa memainkan alat musik itu. Juga beberapa figura bergambar not balok. Yang ditempel di tembok. Ada satu set komputer yang mungkin sudah lama tidak dipakai karena memang tampak sudah tua. Puas melihat ke sekeliling, Elvina pun duduk di kursi berroda itu, melihat foto Dimas yang berseragam SMA dan memegang gitar, sepertinya foto itu diambil saat acara pentas seni yang dilakukan di sekolah jika melihat latar belakangnya. Elvina mengambil foto itu dan memperhatikannya dengan seksama, jika dilihat dari foto tersebut, Dimas belum banyak jerawat di wajahnya, mungkin di akhir SMA baru lah jerawatnya muncul yang membuatnya break out parah. “Mas Radhika juga katanya pernah ikut pentas seni di sekolah, pegang gitar juga,” tutur Elvina, tak sadar menceritakan suaminya. Sebelum bertemu dengannya, Radhika pernah menceritakan bahwa dia sering ikut pentas seni di sekolah dan memainkan gitar, meskipun setelah menikah, tak pernah Elvina melihat Radhika memainkannya satu kali pun di hadapannya. Dimas menurunkan kakinya dari ranjang dan mengambil foto itu, tersenyum pada Elvina dan menarik kursi Elvina mendekat ke arahnya, cukup dekat sampai dia bisa merasakan napas Elvina yang menerpa wajahnya. Dimas mengusap kepala Elvina, “jangan ngomongin Radhika terus dong,” protesnya. Elvina mengigit bibir bawahnya, mungkin dia telah salah berucap, meskipun Dimas sahabat mendiang suaminya, namun tak seharusnya dia terus mengingat akan hal itu, ingatkan dia untuk tak terlalu sering menceritakan Radhika di hadapan Dimas nanti. Dimas memangkas jarak diantara mereka dan mengecup bibir Elvina sekilas, hanya beberapa detik kemudian dilepasnya sembari tersenyum manis. “Mau pulang sekarang? Masih ada waktu jika mau ajak Yonna jalan ke mall,” tutur Dimas, melihat jam yang melingkar di tangannya, waktu masih menunjukkan pukul tiga sore. Dan Elvina mengangguk dengan wajah tanpa ekpresinya karena terkejut dicium secara mendadak oleh Dimas seperti tadi. Entah kapan dia akan terbiasa dengan perlakuan Dimas yang selalu tiba-tiba namun terasa sangat manis. Dimas berdiri dan mengulurkan tangannya untuk digandeng Elvina. Sesaat melupakan ponselnya yang berada di ranjang, hingga dia kembali membalikkan tubuhnya dan mengantungi ponsel yang memperdengarkan nada notifikasi namun diabaikannya itu. Elvina berpamitan pada ibu Dimas, yang ternyata sudah menyiapkan makanan untuknya dibawa pulang, kue bolu keju buatannya, ternyata dia sudah membuatnya sejak sebelum Elvina datang tadi, karena Dimas yang berkata kalau Elvina suka keju. “Tante, maaf jadi merepotkan,” ujar Elvina, sambil mengambil kue bolu yang sudah di letakkan dalam mika plastik dan dimasukkan dalam plastik transparan itu saat ibu Dimas menyodorkannya. Melihat dari banyaknya keju yang ditaburkan di atas kue membuat Elvina menjilat bibirnya, rasanya pasti sangat nikmat. “Nggak merepotkan kok, tante memang suka membuat kue, nanti kapan-kapan tante buatkan yang cokelat untuk Yonna,” tuturnya sambil tersenyum dan melirik pada Dimas yang tampak sibuk membalas pesan di ponselnya. “Terima kasih banyak tante, El pamit pulang ya,” ucap Elvina, menyalami ibu Dimas dan membalas kecupan di pipinya. “Hati-hati di jalan, segera kabari tante setelah dapat tanggal untuk lamaran ya,” ucap ibu Dimas sambil mengedipkan mata pada Elvina. Elvina mengangguk dan berjalan mengekor Dimas menuju ke mobil yang telah terparkir di halaman rumah besar itu. Dimas melajukan mobilnya melewati gerbang rumah, lalu menuju rumah Elvina, beruntung sore ini cuaca tampak cerah, tak hujan seperti biasanya. Dimas memutuskan menyetel radio untuk mengusir sepi, karena Elvina yang tampak memainkan ponselnya, dia berkata kalau dia memberi pesan kepada ibunya untuk menyiapkan Yonna yang ingin diajak pergi ke Mall jadi mereka bisa langsung berangkat setelah sampai rumah nanti. “Malam nanti, aku akan bilang ke bapak kamu, mengenai keinginan keluargaku melamar kamu. Kamu sudah tahu kan aku ingin cepat menikahimu?” tanya Dimas tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di hadapannya. Elvina menoleh pada Dimas, raut wajahnya sangat serius dan dia hanya mampu mengangguk menanggapinya. Terkadang dia merasa ragu karena baru mengenal pria itu, namun melihat ibu Dimas tadi yang baik terhadapnya, membuat dia yakin jika Dimas pasti juga mewarisi kebaikan dari ibunya, dan bisa bersikap hangat. “Kenapa diam saja?” tanya Dimas, menoleh pada Elvina yang kedapatan sedang memandangi wajahnya, Elvina segera berdehem mengatasi canggungnya dan menatap jalanan di hadapannya, tak menghiraukan suara musik yang mengalun dari radio di mobil. “Tadi ibu kamu cerita, kalau  hmmm, mereka tidak merestui hubungan kamu dengan Kamila?” tanya Elvina, dengan terus memandangi jalanan di hadapannya. Lalu lintas cukup padat sore ini, membuat mobil yang dikendarai Dimas berjalan cukup pelan. Dimas menoleh pada Elvina, lalu berganti memandang jalanan. “Ya, begitulah.” “Boleh tahu alasannya?” “Mereka bilang usia Kamila lebih tua dari aku, Kamila bisa saja menyetir hidup aku, wanita itu terlihat ambisius, dan ... ya omongan mereka terbukti,” jawab Dimas, tersenyum untuk menutupi getir di hatinya. Elvina hanya mengucap kata Oh untuk menanggapinya, tak tahu harus berkata apa? Terkadang dia sebal dengan dirinya yang tak luwes dan lugas dalam berkata, dia juga mempunyai sifat plin plan yang sangat kentara dan satu lagi, dia selalu tak enakkan pada permintaan orang lain, membuatnya sering di manfaatkan. Beruntung dia berteman dengan Lita yang tegas dan cablak yang sering mengarahkannya juga memarahinya jika dia menerima permintaan orang lain untuk membantunya, padahal dirinya sedang kerepotan termasuk dalam hal pekerjaan. “Aku boleh minta satu hal sama kamu?” tanya Dimas, Elvina menatap Dimas, mereka bertatapan beberapa detik karena lampu rambu lalu lintas yang menyala merah membuat Dimas menginjak rem dan bisa mengalihkan pandangan dari jalanan. “Minta apa?” “Setelah kita menikah, aku ingin kamu berhenti kerja dan fokus mengurus anak, aku nggak mau menunda momongan. Kamu tahu kan aku lima tahun menikah dengan Kamila namun tak dikaruniai anak. Padahal tak ada masalah dengan kesuburanku,” tukas Dimas. Elvina terdiam, memutuskan tatapan diantara mereka dan menerawang ke depan. Bagaimana dengan kebutuhan anaknya? Terlebih dia terbiasa bekerja, apakah dia bisa menjadi ibu rumah tangga seutuhnya? “Aku akan memenuhi kebutuhan kamu dan Yonna, seluruhnya akan aku tanggung, aku akan kasih kamu uang bulanan yang lebih dari gaji kamu, untuk kebutuhan kamu pribadi, terserah kamu mau dipakai apa? Kurasa aku mampu melakukan itu.” Seolah dapat membaca kekhawatiran Elvina saat dimas mengucapkan hal tersebut sambil tersenyum, memegang tangan Elvina yang berada di pangkuan Elvina dan membawanya ke pangkuannya, meletakkan di atas pahanya. Elvina memperhatikan tangannya yang berada di genggaman Dimas. Terasa sangat nyaman. Lampu rambu lalu lintas berubah jadi kuning lalu hijau, Dimas melepas pegangan tangannya, membiarkan tangan Elvina berada di atas pahanya, lalu berganti memegang persnelling, untuk melajukan mobilnya. “Kalau itu yang kamu mau, aku akan menurutinya, aku mau jadi istri yang baik untuk kamu, ajarin aku ya?” Elvina memandang wajah Dimas yang sudah tersenyum. Tangan Dimas kembali berada di atas tangannya, mengusapnya dengan lembut. “Kita belajar sama-sama ya,” tukas Dimas sembari menoleh dan lagi-lagi memberikan senyum mautnya yang membuat Elvina selalu terpana. Beruntung jantungnya buatan Tuhan sehingga tak melompat keluar saat berdetak cepat seperti ini, tangan Dimas yang mengusap tangannya seolah mengalirkan sengatan listrik yang membuat pacu jantungnya semakin cepat. Dimas kembali melepas tangan Elvina dan memegang persnelling, “Jangan ke bawah ya tangannya, belum waktunya,” ledek Dimas membuat Elvina tertawa, berpikiran untuk ke arah sana pun tidak terlintas sama sekali untuknya saat ini. Jika saja dia lebih berani, ingin rasanya Elvina merebahkan kepalanya di bahu Dimas, namun dia tak mempunyai keberanian atau inisiatif yang lebih. Dia masih belum terlalu mengenal Dimas lebih jauh, dia tak mau apa yang dia lakukan ternyata adalah hal yang tak disukai Dimas. Kareanya, dia hanya membiarkan semuanya mengalir seperti air yang mengalir di arus pelan namun pasti. Dan dia hanya bisa mengikuti kemana arus itu membawa tubuhnya pergi. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD