"Huff ... Ke mana dia tadi?" tanyaku pelan pada diriku sendiri.
Selepas aku menjalankan peranku sebagai kamera pengawas, selanjutnya aku pun mengganti peranku sebagi pemain utamanya. Namun kala itu lawan mainku telah menghilang. Aku pun mencarinya.
Dari banyaknya kerumunan manusia yang mengitari lapangan untuk melihat pertandingan basket itu tak jua kutemui wajah seorang Shelania. Padahal dari mataku, dia adalah gadis yang paling mudah untuk dikenali. Intinya aku menganggapnya sebagai gadis tercantik di sekolahan itu.
Hingga mataku pun menangkap sosoknya. Si cantik itu kini tengah berdiri di lantai dua sembari memegangi ponselnya seraya sesekali memandangi lapangan. Ia sendirian di sana.
"Shela Shela. Dasar gadis aneh. Seenaknya sendiri," ucapku pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Kenapa aku menyebutnya aneh dan seenaknya sendiri? Karena sebenarnya, semua murid diwajibkan untuk berada di area lapangan. Tidak boleh ada satupun murid yang berada di lantai atas ataupun di dalam kelas. Tapi lain lagi bagi Shela. Dia dengan beraninya malah melanggar kewajiban itu.
"Hei, kenapa malah di sini?" tanyaku sewaktu sudah sampai sana.
"Oh. Hei. Lo juga kenapa di sini?" tanyanya balik ke aku.
"Jawab dulu!" pintaku.
"Hm. Gak kok. Males aja di sana," jawab Shela.
"Kenapa males? Bukankah kalau di sana nanti akan ada cowok yang nyamperin lo, terus nanyain lo ikut pertandingan basket atau enggak?" ucapku.
"Ih. Jangan bilang kalau lo telah melihat kejadian yang tadi," ucap Shela.
"Kejadian apa?" tanyaku pura-pura tak tahu.
"Ah, enggak. Gue udah jawab. Sekarang giliran lo yang menjawab. Kenapa bisa ada di sini?" tanya Shela ke aku.
"Mau ke toilet," jawabku berbohong.
"Lah. Bukannya di lantai bawah juga ada toilet? Jangan bohong dong! Gue tahu lo pasti mau nyamperin gue, ya?" tebaknya.
"Kalau sudah tahu jawabannya, kenapa masih nanya?" tanyaku. Shela tersenyum malu-malu tanpa menjawab pertanyaanku.
Waktu itu, aku memang tak bisa sehebat orang-orang dalam hal percintaan. Aku masihlah tergolong pendatang baru dalam dunia itu. Meski begitu, aku pernah mempunyai pemikiran yang menurutku lumayan keren. Jika cinta merupakan bangun ruang kubus, aku masihlah bangun datar perseginya, atau bahkan baru rusuk-rusuknya. Aku masih terlalu jauh untuk membangun cinta itu secara sempurna.
Tapi, aku sadar bahwa Shela juga akan melengkapinya. Kumpulan persegi pun nantinya bisa bersatu menjadi sebuah bangun ruang kubus, begitupun rusuk-rusuknya jika digabungkan dan dihubungkan juga akan membentuk bangun ruang tersebut. Seperti aku dan Shela, yang memulainya dari sebuah garis lurus yang disebut rusuk. Lalu saling menghubung hingga membentuk bangun datar dan kemudian pada akhirnya menjadi bangun ruang.
Bahkan sebuah bangun ruang pun ada proses pembentukannya. Apalagi cinta. Dulu aku juga percaya kalau suatu ketika pasti akan ada dua hal yang bisa menghiasi kisah cintaku dengan Shela. Antara kisah itu berakhir dengan keberhasilan, atau bahkan berakhir dengan kegagalan. Dan jujur aku tak pernah mau mendapat pilihan yang kedua.
"Lo gak ikut main basket?" tanya Shela ke aku.
"Tolong katakan kapan gue pernah berkontribusi dalam kelas," ucapku.
"Pasti berat banget ya, jalan hidup lo?" tanya Shela.
"Biasa aja," jawabku.
"Biasa aja menurut ucapan lo. Tapi menurut hati, pikiran dan perasaan lo, gue yakin pasti lo bilang kalau itu sangat berat," kata Shela. Aku diam. Karena itu memang benar.
"Nggak lah. Masih berat beras satu karung," jawabku.
"Daniel. Kok lo bercanda lagi, sih. Serius dong!" pintanya.
"Oh. Oke."
"Malah jawabnya singkat. Jangan singkat gitu kalau jawab!" pintanya lagi.
"Terus?" tanyaku.
"Ya jawab yang panjang," ucap Shela.
"Hm."
"Malah kayak gitu. Yang serius dong, ih," ucap Shela.
"Hahaha ... Sudah, kita turun aja yuk, sekarang!" ajakku.
"Gue kan udah bilang Niel. Gue males di bawah," kata Shela. Aku tersenyum singkat ke dia.
Sejenak juga kupandangi area bawah. Tak ada mata yang mengawasi aktivitas kami berdua kala itu. Semua mata lebih terfokus pada pertandingan basket yang sedang berlangsung.
"Ya udah kalau gitu gue aja yang turun," ucapku.
"Eh, jangan!" cegah Shela.
"Kenapa jangan?" tanyaku.
"Di sini aja. Temani gue," jawabnya.
"Heh, kan harusnya kita gak boleh ada di sini. Kita wajib berada di lapangan, kan?"
"Para guru yang mewajibkan, tapi gue merasa itu bukan kewajiban gue," jawab Shela dengan entengnya.
Pemikirannya terlalu berani untuk gadis mungil sepertinya. Bahkan aku yang merupakan seorang laki-laki saja waktu itu agak merasa takut jika ada seseorang, entah itu dari golongan guru atau siswa yang tahu kalau kami sedang berada di tempat yang tidak diperbolehkan.
Shela memang hebat. Apalagi dalam hal semacam itu. Dia adalah gadis paling berani yang pernah aku kenal. Meski dia pernah berada di posisi sangat ketakutan akibat kejadian kala itu di malam hari. Tapi selain itu, ia benar-benar sangat mengagumkan.
"Makanya itu lo juga di sini aja. Ini bukan kewajiban lo. Para guru yang memaksanya. Lo nggak harus menurutinya. Kuasa atas diri lo adalah terletak pada diri lo sendiri, bukan orang lain," kata Shela menasihati aku.
"Tapi kewajiban kita sebagai murid adalah mematuhi guru-guru kita, Shel. Kalau perintahnya baik, ya dituruti saja," kataku.
"Makanya itu ayo turun!" ajakku kemudian.
Pikirku, guru adalah orang tuaku sewaktu di sekolahan. Maka dari itu aku selalu mencoba untuk menghormatinya, mematuhinya dan bisa selalu bersikap sopan kepadanya. Asal dengan satu catatan. Sang guru bisa melakukan hal itu pula padaku. Kalau tidak, aku bisa saja melakukan hal yang sama seperti apa yang aku lakukan ke Pak Ratno pada hari itu.
"Hm. Ya sudahlah. Nurut apa kata lo aja. Tapi gue minta sesuatu, ya," kata Shela.
"Apa?" tanyaku.
"Lo harus tetap berada di samping gue," jawab Shela.
Aku terkejut saat Shela memintaku untuk selalu tetap berada di sampingnya. Bukannya apa-apa. Sekali lagi adalah tentang pandangan orang lain terhadap hubunganku dengan Shela. Bagaimana mungkin si kaya bisa menerima si miskin menjadi pacarnya?
Cuma itu yang aku khawatirkan. Kalau aku pikir dengan menggunakan logika, rasanya tak akan ada yang bisa menerima jika aku dan Shela berpacaran. Aku tahu mungkin tidak semuanya begitu. Tapi tetap saja banyak yang seperti itu.
"Kalau gue mau ke toilet?" tanyaku.
"Ya gue ikut," jawab Shela.
"Ikut ke dalam?" tanyaku.
"Ih. Ya nggak lah. Nunggu di luar," jawab Shela. Aku tertawa kecil.
"Kenapa malah ketawa?" tanya Shela.
"Nggak apa-apa. Cuma aneh aja. Shela yang katanya galak, ternyata malah lucu kayak gini," jawabku.
"Berarti kita sama. Gue juga merasa aneh. Daniel yang katanya super cuek, nyatanya malah sehangat ini," kata Shela.
Waktu itu sepertinya aku sudah mempunyai keputusan yang tepat. Ya, aku bersedia untuk tetap berada di samping Shela. Setidaknya sampai kegiatan pada hari itu berakhir. Batinku menekan, menyuruhku untuk tidak melakukannya. Sekali lagi, mereka lah penghalangnya. Tapi raga ini tak bisa menolak permintaan sang Bidadari.
"Hm. Jadi gimana nih? Mau nggak? Kalau gak mau, gue mau di sini aja sampai pulang," ucap Shela.
"Iya," jawabku singkat.
"Iya apa?" tanya Shela.
"Iya mau," jawabku.
"Beneran mau?" tanya Shela lagi.
"Iya Shel," jawabku.
Gerakan indah dari bibirnya membuatku ikut bahagia. Senyum itu adalah nuansa yang tak bisa kudapatkan dari setiap kaum hawa. Hanya dia yang bisa memberikannya. Dia adalah Shelania.
Jujur awalnya aku tak terlalu mengerti kenapa perasaan cinta ke dia bisa tumbuh semakin besar. Aku cuma mengerti tentang pertama kali aku melihatnya, aku langsung bisa tertarik ke dia tapi dalam arti belum mencintainya. Tapi lama kelamaan perasaan itu tumbuh semakin besar hingga masuk dalam keadaan tidak bisa kehilangan dia. Ya, aku sangat takut kehilangan dia. Seolah-olah dia telah mengambil setengah dari nyawaku dan jika dia menghilang, maka setengah dari nyawaku itupun akan ikut menghilang.
Kami turun dari lantai dua dan menuju area lapangan sekolahan. Tak perlu bergandengan tangan. Pandangan matanya yang seolah terpikat ke aku itu telah membuatku jadi salah tingkah. Aku ingin melarangnya melakukan hal itu, tapi aku tahu dia itu Shelania. Mana bisa gadis itu dengan mudah mau menuruti ucapan orang lain, bahkan ucapanku sekalipun.
"Dengan lo berada di samping gue kayak gini, gue yakin gak akan ada cowok yang mendekati gue selain lo," bisik Shela ke aku.
"Makanya tetap berada di sini kalau lo gak mau gue diambil sama orang lain," lanjutnya.
Aku seperti mati bahasa. Tak bisa aku berkata apa-apa. Bahkan untuk mengucap 'iya' pun juga tidak bisa. Pandanganku pun tak bisa tenang. Aku selalu mengarahkannya ke segala arah untuk mencari apakah ada sosok manusia yang memperhatikan aku dengan Shela.
"Daniel. Sudah nggak usah dipikirin soal orang-orang. Biarkan saja mereka berasumsi seenaknya. Yang penting kita nggak mendengarnya, sepertinya nggak terlalu masalah," ucap Shela.
"Iya," jawabku singkat.
"Eh. Hei, itu teman-teman sekelas lo kan, yang sedang bertanding?" tanya Shela kala itu.
"Teman?" tanyaku.
"Oh, maaf. Lo gak pernah menganggap mereka teman, ya?" kata Shela.
Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Ia seperti bisa membaca isi hatiku. Entah kekuatan telepati atau apa, aku pun tidak tahu.
Ini adalah kebencianku. Yang entah bagaimana caranya bisa dipahami oleh Shela dengan hampir sempurna. Ini adalah dendamku. Yang tak tahu mengapa bisa dimengerti oleh Shela.
Sejatinya saat itu aku juga ingin suatu ketika orang-orang yang telah banyak menjahati aku itu bisa berkawan baik denganku. Tapi aku tidak pernah tahu cara untuk mewujudkannya. Saat itu aku masih terlalu naif dan hanya memikirkan tentang kebencian dan balas dendamku kepada pembunuh ibuku.
"Iya. Mereka teman-teman gue," ucapku.
"Eh, Niel ...."
"Kenapa?" tanyaku lembut.
"Ah, gak apa-apa kok," jawab Shela.
"Kenapa lo gak ikut main?" tanya Shela setelahnya.
"Itu adalah pertanyaan yang sama seperti yang tadi. Gue rasa gue nggak perlu menjawabnya," jawabku.
"Eh iya, Niel. Maaf lagi. Gue lupa. Hahaha," ucap Shela.
Sifatnya yang keras mendadak sirna di kala ia sedang bersamaku. Shelania si gadis yang menakutkan pun seperti telah hilang dari peradaban. Dia terlalu lembut untuk ditakuti. Dia terlalu lucu untuk diwaspadai.