Bab 42

1450 Words
Terkadang aku pun masih berpikir, bagaimana bisa gadis secantik dia bisa tertarik padaku yang super sederhana? Apakah selera dia yang terlalu rendah? Meskipun dia sudah pernah bilang alasan yang sebenarnya kenapa ia bisa mencintai manusia seperti aku, tapi rasanya aku masih ingin mendapatkan jawaban yang lain darinya. Hari itu adalah hari pertama diadakannya class meeting. Di dalam perlombaan basket itu tentunya aku tak ikut bermain. Aku bukanlah orang penting di dalam kelas. Yang ada atau tiadanya akupun tak berpengaruh sama sekali. Sedih sekali rasanya, tapi bersyukurnya aku selalu bisa tabah untuk menghadapinya. Di hari itu Shela juga ikut berpartisipasi dalam pertandingan basket itu. Wajar saja, posisinya di kelas sangat berlawanan dengan aku. Dia tergolong orang terpenting di kelasnya. Yang ketika dia tidak ada, itu seperti ada yang kurang. Kulihat tubuh mungilnya itu bergerak cepat sambil membawa bola melewati lawan. Kelincahan dan ketangkasannya memang patut untuk diapresiasi. Pantas saja jika dia pernah bisa membuat musuhnya masuk rumah sakit. Matanya yang indah itu sekilas menatapku. Dengan senyum termanis yang pernah ia tunjukkan ke orang lain. Aku iri pada si kulit bundar yang ia pegang. Seharusnya aku yang berada di posisi itu. Terus berada dalam genggamannya yang jika terebut oleh orang lain dia akan mengejar dan mendapatkannya balik. Aku iri padanya. Saat itu kelas Shela harus mengalami kekalahan. Lawannya terlalu kuat untuk ia dan teman-temannya hadapi. Tubuhnya yang mungil terlalu lemah untuk bola-bola atas. Sehingga dia pun harus rela menerima kekalahan. "Tidak apa-apa. Pertandingan ada yang menang dan ada yang kalah," ucapku. Dan apa kau tahu kapan aku berucap seperti itu? Itu terjadi ketika setelah permainan berakhir, Shela kembali mendekat ke arahku. Ya, bahkan ketika ia sedang letih-letihnya, dia juga yang masih berinisiatif untuk menghampiri aku. "Hah, tapi gue capek," katanya sambil mencoba mengatur napasnya. "Namanya juga lari-larian," ucapku. Sebenarnya saat itu juga aku mempunyai inisiatif untuk membelikannya minuman. Tapi perasaan itu kembali menghalangi aku. Perasaan itu telah mengembalikan raguku hingga pada akhirnya aku gagal menuruti inisiatifku itu. Sejak saat itu, aku mengutuk diriku sendiri. Aku kesal pada diri yang merasa selalu salah ketika akan melakukan sesuatu. Aku marah pada jiwa yang mendadak ragu untuk melakukan apa yang aku mau. Aku benci pada raga yang tak pernah mampu menjalankan inisiatifku. Aku tahu kalau semua hal pasti butuh proses. Tapi tak seharusnya proses itu abadi tanpa adanya hasil. Andai Shela mempunyai sifat seperti kebanyakan gadis lain. Yang selalu ingin dimanja dan dimengerti. Mungkin sudah dari dulu dia membuangku jauh-jauh. Aku memang terlalu sibuk bergelut dengan pikiranku sendiri sampai lupa bahwa sesekali Shela juga butuh diperhatikan. Tapi untungnya, dia selalu mengerti tentang itu. Bagiku Shela adalah gadis paling pengertian yang pernah aku kenal. Ia terlalu berharga untuk dilupakan. Mungkin pada hari itu, beberapa orang sempat melihat kedekatan ku dengan Shela. Tapi aku tak tahu siapa yang sempat melihatnya. Aku juga mencoba untuk tidak peduli. Sama seperti Shela yang seringkali tidak peduli dengan beberapa hal. "Kan, apa gue bilang? Gak akan ada yang berani mengolok-olok lo," ucap Shela setelah pulang sekolah. "Belum. Bukan gak ada," kataku. "Ih, kok ngomongnya gitu, sih. Jangan negatif dong! Harus selalu positif," kata Shela. "Hm. Iya iya, Shel," ucapku. "Jadi besok kumpul sama gue aja. Biar gak sendirian. Biar ada teman," ucapnya. "Ha?" "Gue gak perlu mengulang kata-kata gue, kan?" tanya Shela. "Ah, enggak enggak. Tapi, tentang itu, lihat besok aja deh," ucapku. "Kenapa harus nunggu besok? Apa sih yang bikin lo ragu? Pandangan teman-teman kita terhadap hubungan kita? Atau lo takut diancam sama orang-orang yang suka sama gue? Atau jangan-jangan, ada cewek lain yang suka sama lo atau lo suka?" tebak Shela. Aku terkejut setengah mati mendengar tebakannya. Aku tahu dia tidak bermaksud menuduhku yang bukan-bukan. Mungkin saja dia cuma lelah menerka-nerka tentang aku yang selalu ragu untuk mempublikasikan hubungan percintaan dengannya ke orang-orang. "Jangan berpikir yang bukan-bukan, Shel!" pintaku. "Huff ... Iya, gue minta maaf. Gue tahu alasan lo adalah karena orang-orang itu, kan?" tebaknya lagi. Dan aku akui tebakannya yang satu itu memang benar. "Ditekan oleh keadaan memang menyakitkan. Tapi cobalah untuk menekan balik keadaan itu," lanjutnya. Aku tak tahu maksudnya. "Maksudnya?" tanyaku. "Jika keadaan yang menekan lo itu adalah tentang yang itu, maka tekan balik aja," jawabnya. "Dengan cara?" tanyaku lagi. "Bersikap bodoh amat dan tidak pedulian. Percayalah, dengan begitu lo pasti gak akan punya keraguan lagi kalau mau menghampiri gue atau bahkan bersama gue setiap saat sewaktu di sekolahan," jawabnya. Aku diam. "Lo udah berhasil memakai sikap seperti itu dalam hal lain, Niel. Masa dalam hal yang satu ini lo gak bisa memakainya?" ucapnya lagi. "Semoga aja, ya," ucapku. "Semoga aja apa?" tanya Shela. "Bisa," jawabku. "Gue yakin lo pasti bisa lah, Niel," ucap Shela. Nyatanya tidak semudah itu untuk mengendalikan perasaan. Butuh waktu, dan itupun belum tentu bisa berhasil. Atas dasar alasan trauma, atau atas dasar rasa takut yang berlebihan di masa-masa ke depannya, hilang sudah jiwa yang bangga akan kemampuan dirinya. Tapi saat itu terjadi, seseorang yang entah harus aku sebut apa datang dan bertekad untuk mengembalikan kebanggaan atas diriku sendiri. Tak perlu kusebutkan siapa dia. Karena pastinya semuanya pun sudah tahu tentangnya. "Aku dengar kakak udah punya pacar, ya?" Malam hari masih di hari yang sama. Tepatnya pada waktu sehabis magrib, Salsa melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat mendadak ke aku. Aku yang sedang makan malam pun dibuat hampir tersedak karenanya. "Pacar apaan?" tanyaku balik. "Ah, jangan bohong deh. Kakak jawab yang jujur aja. Udah punya pacar, kan?" "Nggak," jawabku cepat. "Bohong dosa lho, Kak," kata Salsa. "Yang bilang bohong malah dapat pahala itu siapa, Dik?" tanyaku. "Eh. Jangan salah, Kak. Bohong bisa juga dapat pahala, lho. Misal bohong untuk kebaikan," kata adikku. "Oh iya, ya. Hahaha. Kakak lupa," ucapku. "Terus bohong yang kayak gimana lagi ya, Dik, yang dapat pahala?" tanyaku kemudian. Bukan tanpa maksud aku bertanya seperti itu. Aku ingin Salsa berhenti bertanya-tanya lagi tentang aku yang sudah mempunyai pacar. Aku ingin merahasiakan identitas Shela terlebih dahulu. Bahkan ke keluargaku sekalipun. "Yang aku tahu cuma itu dong sih, Kak," jawab Salsa. "Ada lagi, loh. Kamu mau tahu?" tanyaku. "Nggak. Aku cuma mau tahu kakak emang udah punya pacar beneran?" Dia bertanya lagi soal itu. Gadis kecil yang selalu kuanggap sebagai gadis yang polos itu ternyata sudah tumbuh dewasa. Ia semakin sulit untuk dikelabuhi. Dan sepertinya malah tidak bisa aku kelabui. "Enggak, Dik. Ya Allah. Pacar apaan sih, maksudmu?" tanyaku. "Pacar beneran lah, Kak. Cewek, cantik, rambut panjang. Tapi masih cantikan aku, sih," ucap Salsa. "Oh." "Kakak udah punya, kan? Hayo ngaku!" kata adikku. "Astaghfirullah. Salsa, kan kakak udah bilang kalau semua itu gak benar," kataku. "Tapi aku dapat informasi dari sumber yang terpercaya loh, Kak," katanya. "Sumber yang terpercaya? Siapa?" tanyaku bingung. "Teman kakak. Rekan kerja kakak di warung kopi itu," jawab Salsa. "Oh. Firman?" tanyaku. "Ya itulah pokoknya. Aku gak mau nyebut namanya," kata Salsa. "Kenapa?" tanyaku sambil sedikit tertawa. "Dia genit," jawab Salsa. Aku tertawa pelan. Firman memang tergolong lelaki yang suka menggoda para gadis. Terlebih lagi yang cantik seperti Salsa. Itu yang malah menjadi sasaran empuknya. "Hahaha ... Jangan-jangan kamu yang malah pacaran sama dia," ucapku. "Ih, enggak. Sembarangan aja," katanya. "Lalu kok bisa ketemu sama dia? Pasti kalian janjian mau ketemuan. Hayo ngaku!" ucapku. "Kakak apaan sih. Tadi nggak sengaja ketemu di jalan waktu aku habis dari warung. Nggak tahu juga dia mau ke mana," katanya. "Nggak sengaja ketemu atau emang janjian untuk ketemuan?" tanyaku. "Kakak jangan gitu dong. Aku emang nggak sengaja ketemu sama dia," kata Salsa. "Oh. Nggak sengaja ketemu terus akhirnya ketemuan beneran?" tanyaku. "Enggak, Kakak. Udah ah, Kakak gitu mulu. Ini membahas tentang Kakak, bukan malah membahas tentang aku," kata Salsa. "Kata dia, Kakak sering ketemuan sama perempuan di warung kopi tempat Kakak bekerja," ucap Salsa lagi. "Oh. Terus?" tanyaku. "Terus dia juga bilang cewek Kakak itu cantik banget," ucap Salsa. "Kata Firman, cantikan mana sama kamu?" tanyaku. "Gak tahu. Hahaha. Aku gak nanya," jawab Salsa. "Hm. Harusnya nanya," ucapku. "Ya sudahlah. Kapan-kapan aja aku tanyain," ucap Salsa. Selepas itu muncul kembali keinginan untuk membuat salsa kesal. Aku manfaatkan kata-kata yang ia ucapkan itu sebagai kunci utama untuk memulai misiku. Kukira saat itu, dengan aku membuatnya kesal, Salsa akan menyerah untuk membahas lagi soal pacarku. Aku lupa bahwa Salsa adalah seorang gadis yang mempunyai tingkat keingintahuan super tinggi. "Cie ... Berarti kapan-kapan mau ketemu sama Firman lagi nih ceritanya," ucapku. "Kakak! Bukan begitu. Ya mungkin kalau ketemu di jalan atau di mana, bisa aku tanyain," ucap Salsa. "Berarti kalau nggak ketemu mau kamu samperin ke rumahnya, ya?" tanyaku lagi. "Ah, ngeselin banget sih, Kak. Sudahlah, males," kata Salsa. Padahal saat itu aku sudah bisa tersenyum lega. Salsa tak mau lagi membahas soal yang itu denganku atau bahkan tak mau berbicara denganku lagi. Namun seketika ketenangan ku pun pudar di kala ia mengeluarkan kata-katanya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD