Bab 43

2003 Words
"Tapi benar kan, Kakak punya pacar?" tanya Salsa. "Astaghfirullah. Salsa. Enggak," jawabku. "Kakak jangan ngajarin adiknya bohong, dong. Ini teman Kakak sendiri, lho, yang bilang. Mana mungkin dia bohong," ucap Salsa. "Dia emang pembohong. Makanya jangan dekat-dekat dengan dia!" kataku. "Berarti kalau dia emang beneran pembohong, dia termasuk orang munafik ya, Kak? Kan salah satu tanda orang munafik itu kalau sedang berbicara ia dusta. Semoga Kakak gak tergolong golongan itu," ucap Salsa. Mempunyai adik seperti Salsa adalah tantangan yang sangat besar. Ia terlalu cantik untuk dibiarkan pergi sendiri. Ia terlalu lemah untuk tidak dilindungi. Dan ia juga terlalu pintar untuk dibohongi. Termasuk juga dibohongi oleh kakaknya sendiri. Aku merasa kalah darinya. Padahal sejatinya, bisa dibilang aku ini juga tergolong manusia yang pintar. Jika tidak tergolong, mana mungkin aku bisa masuk di sekolahan itu tanpa harus mengeluarkan biaya? Tapi sialnya, kepintaran yang aku miliki itu ternyata masih kalah dari Salsa. Mungkin benar, di atas langit masih ada langit. Maka dari itu tidak ada satupun manusia yang boleh menyombongkan dirinya. "Udah Dik, jangan dibahas!" pintaku. "Harus dibahas. Setidaknya sampai Kakak menjawab yang sebenar-benarnya," ucapnya tegas. "Kalau terus dijawab, ujung-ujungnya pasti kamu akan tetap tidak percaya dengan apa yang Kakak katakan," ucapku. "Ya kalau yang Kakak katakan itu adalah kebohongan, aku nggak akan bisa percaya. Tapi kalau itu fakta, aku pasti percaya lah, Kak, " jawab Salsa. "Terus bagaimana kamu tahu Kakak berbohong atau tidaknya?" tanyaku. "Makanya saat aku nanya Kakak sudah punya pacar atau belum, Kakak harus jawab udah punya pacar. Baru aku percaya kalau Kakak sedang tidak berbohong," jawab Salsa. Ya begitulah adikku. Salsa si gadis cantik yang terkadang juga bersifat menyebalkan. Lukanya tertutupi oleh cerianya. Padahal kutahu hatinya rapuh, tapi dia bersikap seolah dia adalah gadis yang tangguh. Tak tahu kenapa, setiap kali aku melihat bawelnya Salsa, aku seperti melihat kemiripan antara dia dengan Shela. Seolah-olah, jiwa Shela telah bereinkarnasi ke jiwa Salsa. Ya meskipun Shela masih ada di dunia ini dan walaupun juga aku tidak pernah percaya dengan adanya reinkarnasi. "Kalau Kakak jawab iya, kamu sudah gak nanya-nanya lagi?" tanyaku sambil menyendok nasi di hadapanku dan melahapnya. "Tentu saja," jawab Salsa. "Janji?" tanyaku. "Iya Kak. Janji," jawabnya. "Huff ... Oke kalau begitu. Jawabannya iya," jawabku. "Nah. Tuh kan? Ternyata Kakak emang udah punya pacar. Siapa Kak, namanya? Orangnya cantik, gak? Dia rumahnya di mana?" tanya Salsa bertubi-tubi. "Satu lagi ciri-ciri orang munafik. Bila berjanji, ia mengingkari," ucapku. Dia hanya tersenyum lebar samb menggaruk-garuk kepalanya. Melalui kalimat itu, akhirnya aku bisa membuat Salsa kehabisan kata-kata. Saat itu aku merasa aman untuk sementara waktu. Salsa tak bisa lagi bertanya lebih lanjut tentang Shela. Pikirku kala itu, biarlah waktu yang mempertemukan Shela dengan Salsa. Yang terpenting adalah Firman. Bisa-bisanya lelaki itu malah menceritakan masalah Shela ke adikku. Dia memang teman yang akhlaknya minus. Di malam itu pula aku langsung mengintrogasi tersangka. Dia telah mempergunakan mulutnya untuk berbuat kejahatan. Salsa belum pantas untuk mengetahui tentang hal itu, tapi sialnya lelaki yang satu itu tanpa izin ke aku malah memberitahukannya ke Salsa. "Gue dengar-dengar, lo tadi sore ketemu adik gue, ya?" tanyaku basa-basi terlebih dahulu. "Iya. Eh, tapi tadi siang apa sore, ya? Gue agak lupa," katanya. "Halah. Lupakan saja! Terus, lo bilang apa ke adik gue?" tanyaku. "Gue bilang kalau dia makin lama makin cantik," jawab Firman. "Parah. Adik gue lo gombalin," kataku. "Lah. Gue cuma berbicara fakta, Niel. Menurut lo, adik lo cantik, gak?" tanya Firman. "Ya cantik," jawabku. "Ya udah. Kan betul apa yang gue katakan. Adik lo emang cantik. Terus di mana letak kesalahannya?" tanyanya. Sebenarnya masih ingin kubantah dirinya. Akan tetapi aku segera ingat dengan tujuanku bertanya seperti itu ke dia. Kulupakan dulu soal sikap genitnya ke adikku. Saat itu, aku berpikir untuk langsung bertanya ke inti permasalahan. Tentang Shelania yang ia bahas bersama adikku sebelum malam itu tiba. "Tadi Salsa nanya ke gue. Nanya tentang gue yang katanya udah punya pacar," ucapku. "Terus gue tanya dia dapat info itu dari mana. Dia jawab kalau itu dari lo," lanjutku. "Hahaha ...." Dia malah tertawa. "Aneh. Kurang waras lo?" tanyaku. "Bukan begitu. Tapi yang tadi itu benar sekali wahai anak muda. Gue yang udah kasih tahu salsa kalau lo itu punya pacar," ucap Firman. "Sialan lo! Ngapain pakai ngasih tahu ke Salsa segala? Dia belum saatnya tahu," ucapku. "Lah. Dia adik lo. Ya dia harus tahu lah soal kakak iparnya kelak," kata Firman. "Lah. Kakak ipar. Gue masih sekolah, woi. Belum pantas mikir sampai sejauh itu," ucapku. "Iya, gue tahu. Lo emang masih anak sekolah. Tapi pemikiran lo dan tanggung jawab lo atas keluarga kan gak perlu diragukan lagi. Bisa lah sehabis lulus SMA langsung nikah," kata Firman. "Lo yang udah tua aja belum nikah. Ini malah nyuruh gue segera nikah," kataku. "Gue emang sengaja kayak gini. Gue mau nikah belakangan. Biar apa? Biar laki-laki lain kayak lo dan orang-orang seperti yang di sana itu dapat memilih cewek mana yang pantas untuk jadi pasangan hidupnya. Kalau gue mau nikah duluan terus merebut kriteria cewek yang salah satu dari mereka sukai gimana? Kan gue gak tega. Gue juga gak sejahat itu," ucap Firman panjang lebar. "Heh, gaya lo ketinggian. Itu kalau si ceweknya mau sama lo. Kalau enggak?" "Sejauh ini belum ada sejarahnya seorang Firman ditolak oleh seorang perempuan," ucap Firman dengan sombongnya. "Oh ya? Cobain itu ke Shela! Kalau bisa, gue akui lo hebat," tantangku. Kepercayaanku yang begitu besar pada rasa cinta Shela yang hanya akan diberikan untukku seorang membuatku tak ragu untuk menantang Firman. Aku yakin, sehebat apapun dia dalam hal mendekati seorang gadis, pasti itu tidak akan berhasil kalau gadis yang ia dekati adalah Shela. "Waduh! Kalau itu bukannya gue gak bisa, ya. Tapi gue aja yang gak mau. Alasannya banyak. Di samping karena Shela itu pacar lo, dan gue gak mungkin merebut dia dari lo, gue juga ada alasan lain lagi. Gue tahu dia cantik, tapi gue gak begitu tertarik. Dia masih terlalu kecil buat gue," ucap Firman panjang lebar. Aku cuma mendengarkannya. "Apanya yang kecil?" tanyaku. "Umurnya lah. Lo pikir apaan?" jawab sekaligus tanya Firman balik. "Ya gak tahu. Makanya gue nanya," jawabku. "Oh." "Itu doang alasannya?" tanyaku. "Itu doang gimana? Itu udah banyak, woi!" ucap Firman. "Ah, iya iya." "Ya udah. Kembali ke topik utama. Kenapa lo pakai bilang gue udah punya pacar sih, ke Salsa?" tanyaku. Sungguh saat itu aku benar-benar belum bisa menerima dengan Firman yang bilang soal itu ke Salsa. "Lah. Nanya itu lagi?" tanya Firman balik. "Makanya segera dijawab. Biar gue gak nanya lagi," ucapku. Aku tidak tahu harus aku gambarkan seperti apa perasaanku kala itu. Dengan Firman yang sudah bilang ke adikku soal Shela, aku mempunyai ketakutan tersendiri atasnya. Pikiranku melayang, memikirkan jika nantinya bapakku sampai tahu soal itu. Bukannya apa-apa. Tapi saat itu aku merasa bahwa belum pantas diri ini mempunyai seorang kekasih. Aku masihlah seorang anak SMA. Pikiran pun belum terlalu matang. Belum bisa berpikir layaknya orang dewasa. Aku takut jika bapak marah kalau tahu aku berpacaran. Dan sialnya aku tak sempat memohon ke adikku untuk tidak bilang tentang itu ke bapak. Aku yakin kalau gadis kecil itu pasti akan menceritakannya. "Gue sebenarnya juga gak mau membahas soal itu dengan adik lo. Tapi berhubung gue kehabisan topik pembicaraan, ya gue bahas aja. Eh, gak tahunya kebablasan. Tapi tenang aja. Gue belum sempat ngasih tahu nama Shela ke adik lo, kok," ucap Firman. Firman memang menyebalkan. Tapi secara tidak sadar dirinya telah membuktikan adanya sebuah persahabatan. Ia seperti orang yang tidak punya dosa ketika melakukan sesuatu yang tidak aku suka. Ia pun tak ada niatan untuk meminta maaf ke aku. Itulah yang kumaksud dengan ia telah membuktikan adanya persahabatan antara aku dengannya. Selama tidak terlalu keterlaluan, dalam persahabatan tidak perlu ada kata 'maaf'. Firman telah mengamalkannya pada hari itu. Aku merasa sedih campur senang. Tak kusangka pada akhirnya aku bisa mendapatkan teman yang benar-benar bisa kuanggap sebagai teman. Esok harinya saat class meeting masih berlanjut, dan lombanya adalah lomba futsal, aku lebih memilih untuk menyendiri di tangga lantai bawah. Di sana rasa nyaman dan ketenangan itu bisa aku rasa. Jauh dari huru-hara dan sorakan demi sorakan menyebalkan dari para penonton yang menyaksikan pertandingan futsal. Tak ada yang kulakukan selain hanya duduk sambil melihat orang-orang dari kejauhan. Sumpah, rasanya dikucilkan itu benar-benar menyakitkan. Andai waktu itu aku punya satu saja teman. Maksudku teman laki-laki. Mungkin aku tidak akan merasa kesepian seperti itu. Hari-hariku hanya berisi kesedihan. Di satu sisi aku membenci mereka. Sangat membenci malahan. Akan tetapi di sisi lain, ada rasa lain yang hadir seiring dengan adanya rasa benci, yaitu perasaan untuk menjadikan mereka teman. Tapi aku tahu itu sulit atau bahkan hampir mendekati mustahil. Melihat sikap mereka ke aku yang seperti itu, kurasa selamanya pun mereka tak akan pernah bisa berubah. "Lah, dicariin dari tadi ternyata ada di sini." Suara perempuan yang sangat familiar di telingaku membuatku agak tersentak. Segera kualihkan pandang ke arah datangnya suara itu. Dan tepat seperti dugaanku, ternyata dia memanglah Shela. "Nyariin? Ada apa?" tanyaku. "Lo lupa, ya? Kan kemarin gue minta lo supaya ngumpul sama gue aja. Eh waktu tadi gue cari, ternyata gak ada. Makanya gue cari sampai ketemu di sini," jawab Shela panjang lebar. "Maaf." Hanya kata itu yang bisa aku sampaikan ke dia. Sementara kata-kata lain, rasanya masih belum bisa aku gunakan. Aku masih kepikiran soal keinginan mendadakku untuk mempunyai seorang teman dari kalangan lelaki. "Gak apa-apa. Kalau begitu gue juga di sini aja, ya," ucapnya. "Iya," jawabku singkat. Dia pun duduk di sampingku. "Kok cuek, sih," protesnya. "Kan gue emang kayak gini," kataku. "Iya juga sih." "Gue mau nanya, Niel," ucapnya lagi. "Nanya apa?" tanyaku. "Lo beneran gak mau masuk perusahaan papa gue, kah? Perusahaan papa gue benar-benar butuh karyawan, lho," tanyanya. "Bukannya gak mau, Shel. Tapi kayak kurang pantas aja. Itu perusahaan besar. Masa gue bisa masuk ke sana dengan mudah. Bahkan gue aja masih belum lulus SMA. Lagipula gue kan udah kerja di dua tempat itu," jawabku. Sebenarnya itu adalah kesempatan langka yang bisa aku dapatkan. Masuk di perusahaan sebesar perusahaan milik papanya Shela. Dan aku yakin gajinya pun pasti akan sangat besar. Akan tetapi, pada hari itu aku menolaknya. Ah, tidak. Bahkan aku pernah menolaknya langsung ketika papanya Shela menawarkannya ke aku. Bagiku, itu bukan masalah gajinya. Seperti apa yang aku ucapkan, aku cuma merasa tidak pantas saja bisa dengan mudah masuk ke dalam perusahaan itu hanya atas dasar papanya Shela merasa berhutang budi ke aku saja. Maka dari itu aku menolaknya. Memang ada sedikit sesal yang aku rasa. Harusnya jika aku bisa masuk ke sana, maka beban hidupku pun akan menjadi semakin ringan. Dan aku bisa mendapatkan waktu luang yang lebih banyak dari sebelumnya. Tapi pilihanku bukan sekedar pilihan. Ia adalah sesuatu yang harus aku jalankan. "Begitu, ya? Ya sudahlah. Keputusan ada di tangan lo. Tapi kata papa gue, kalau lo berubah pikiran, lo bisa kapan saja masuk ke perusahaannya," ucap Shela. "Iya. Terima kasih," ucapku. "Hm. Lo menyendiri terus gak bosen?" tanyanya kemudian. "Enggak," jawabku. "Biar gue tebak. Lo pasti juga ingin dapat teman, kan?" tanya Shela. Aku kembali harus dibuat berpikir. Kekuatan seperti apa yang ia miliki sehingga ia selalu bisa membaca isi hati dan pikiranku. Kalau disebut kebetulan, kenapa kejadian semacam itu seringkali terjadi? "Lo manusia, kan?" tanyaku. Entah kenapa pertanyaan bodoh semacam itu malah keluar dari mulutku. "Eh. Kok nanyanya kayak gitu, sih," ucap Shela. "Ya habisnya, lo kayak tahu gitu apa yang ada di dalam hati gue," ucapku. "Eh, emang lo beneran mikirin itu?" tanyanya. "Iya," jawabku singkat. Lucunya dia malah bertepuk tangan. Senyumnya pun ia alihkan menjadi suara gelak tawa yang sangat lucu. Aku pada saat itu cuma diam. "Gue ini bukan manusia. Hahaha," katanya. "Terus?" tanyaku. "Gue ini orang," jawab Shela. "Manusia sama orang sama aja, Shel," ucapku. "Hahaha ... Habisnya pertanyaan lo juga salah. Jelas-jelas kaki gue napak tanah, punya dua mata, satu mulut, dua telinga, doyan makan pula. Masih ditanya manusia atau bukan?" ucap Shela. Kupikir kala itu, benar juga katanya. Dia memang manusia. Manusia yang pandai dalam membaca kata hati dan pikiran orang lain. Akan tetapi mungkin cuma orang-orang tertentu saja yang bisa ia baca hati dan pikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD