Bab 44

1234 Words
Kami duduk di tangga sana, berdua tanpa ada yang mengganggunya. Mata kami saling memandang satu dengan yang lainnya. Pembicaraan kami selalu berganti topik demi topiknya. Aku yang terkenal cuek ini terus mencoba untuk merangkai kata demi kata untuk tetap bisa mencairkan suasana. Tak ingin sedikitpun ada rasa canggung di antara kami berdua. "Ke lapangan, yuk!" ajaknya. "Ngapain?" tanyaku. "Kan lo sendiri yang bilang kemarin. Kita harus menaati apa yang guru kita perintahkan. Eh lo malah kayak gini. Gak baik, Niel," kata Shela. "Heh, pandai banget, sih. Ya udah ayo," kataku. Jelas aku langsung mengalah, karena biar bagaimanapun juga, dia benar. Aku lah yang khilaf pada waktu itu. Aku yang gagal menjalankan apa yang aku katakan sendiri pada hari sebelumnya. Seakan-akan aku adalah orang yang seringkali menarik sebuah kata-kata. Shela bukan cuma berperan sebagai pacarku dan membuat aku merasa mempunyai teman di dunia ini. Tapi dia juga memiliki peran lain di kehidupanku. Dia adalah penasihat yang baik ketika aku salah mengambil jalan. Dia adalah pengingat yang bijak di kala aku melupakan sesuatu. Dia adalah penuntun ke jalan kebenaran yang hebat di saat aku khilaf. Perannya yang sangat besar membuatku semakin ingin menjaganya sampai mati. Dia itu juga bisa menjadi penghilang emosiku di saat aku ingin menghajar habis-habisan orang yang membullyku. Shela juga lah yang bisa membuatku merasa kalau di dunia ini masih ada yang peduli terhadapku. Dia adalah gadis yang hebat, dengan segala yang ada di dalam dirinya. Jika sewaktu di sekolahan, ketika aku dibully atau dihina, Shela sering datang untuk melakukan pembelaan, maka sewaktu di luar sekolahan, aku sendiri lah yang harus mengurusnya. Berbeda dengan di sekolahan, yang mana aku masih mempertimbangkannya untuk melakukan pembalasan di saat ada orang yang jahat padaku. Ketika di luar sekolahan, aku tidak peduli apapun. Orang tuaku dihina, maka balasannya adalah ciuman dari kepal tanganku. Terlepas dari sepengetahuan Shela, aku pernah hampir berkelahi dengan seseorang gara-gara dia menghina bapakku. Pernah suatu ketika seorang lelaki yang umurnya 3 tahun lebih tua dari aku berucap ke temannya. Entah ia sengaja berucap seperti itu tepat ketika ada aku atau dia cuma keceplosan saja, aku tidak tahu. Yang pasti kata-katanya membuatku marah dan ingin langsung menghajarnya. "Lama-lama lo kayak bapaknya si Daniel. Hahaha. Udah beban, gak bisa apa-apa pula," ucapnya. Refleks tanganku langsung mengepal. Jika masih bisa berpikir jernih, aku akan berpikir ribuan kali untuk mengajaknya berkelahi. Beda usia 3 tahun dengan postur tubuhnya yang juga lebih besar pasti akan bisa mengalahkanku. Ya, jika berkelahi, 90 persen aku pasti kalah. Akan tetapi pada saat itu, emosiku menghancurkan segala pemikiran jernih itu. Tak peduli dengan perbedaan usia dan perbedaan postur tubuh. Dia sudah menghina bapakku dan aku mendengarnya melalui telingaku sendiri. Maka konsekuensinya adalah dia harus berhadapan denganku. "Apa lo bilang?" tanyaku kesal sambil menghampirinya. "Jawab!" Berbagai perkataan kasar aku tujukan ke dia sampai membuat orang-orang di sekitar datang dan menyaksikan kejadian itu. Aku yang sudah tersulut emosi pun tak peduli jikalaupun aku dijadikan tontonan. Belum sampai pada tahap jual beli pukulan, beberapa warga menahanku. Padahal tepat saat itu aku sudah melancarkan pukulanku ke arah lelaki tersebut. Begitulah aku. Sifat tempramentalku selalu keluar di saat aku mendengar orang tua atau keluargaku yang lain dihina oleh orang lain. "Sabar sabar!" ucap salah satu warga. "Bicarain ini baik-baik," kata warga yang lainnya. "Bicarain dulu baik-baik! Ada apa?" Ketenanganku sedikit demi sedikit mulai kembali. Meski begitu, aku masih merasakan emosi yang luar biasa. Tanganku yang terlanjur mengepal masih ingin merasakan pendaratan ke wajah lelaki itu. Namun aku juga sadar, aku sudah tidak bisa melakukannya. Ketika para warga bertanya ke aku, emosiku belum sepenuhnya hilang. Arah pandangan mataku masih terfokus ke lelaki sialan itu. Kuingat betapa marah dan kesalnya aku pada hari itu. Siapa yang tidak kesal jika bapaknya dihina seperti itu. "Dia menghina bapak," ucapku penuh emosi. "Menghina? Menghinanya bagaimana, Daniel?" tanya salah satu warga. Aku diam untuk beberapa saat. "Tanya ke dia langsung!" jawabku. Mungkin agak sedikit kurang sopan dalam ku menjawab. Tapi sekali lagi, aku masih dalam keadaan emosi meski ketenanganku sudah agak kembali. Perlu diketahui bahwa orang yang sedang emosi sangat sulit untuk mengendalikan diri. Lelaki itu mengakui bahwa dia memang bersalah. Tapi selepas itu, dia juga menjelaskan kalau dia sebenarnya tidak bermaksud untuk bilang seperti itu. Sebenarnya itu hanyalah sebagai bentuk candaan dia ke teman-temannya. Tapi ia tak menyangka pada akhirnya akan jadi seperti itu. Aku menerima penjelasannya? Sejatinya tidak. Bapakku dibuat bahan candaan. Bapakku disebut beban yang tidak berguna. Jelas aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Namun keadaan memaksaku untuk memaafkannya. Meski begitu, dia dan semuanya tak pernah tahu apa yang ada di dalam hatiku. "Gue minta maaf kalau itu menyinggung perasaan lo. Sumpah, gue gak bermaksud," ucapnya sambil menjulurkan tangannya ke arahku. Aku diam dan terus memandangnya. "Gue nyesel sudah bilang kayak gitu. Harusnya gue bisa menjaga perkataan gue. Maafin gue," katanya lagi. Masih terlalu berat untuk memaafkan sebuah kesalahan yang tak biasa. Bahkan jika seandainya yang bilang seperti itu adalah Firman, sudah kupastikan persahabatanku dengan dia hanya sampai pada titik itu saja. Tapi pada akhirnya pun aku memilih untuk memaafkannya dan menyimpan kebencian kepadanya di dalam hati saja. Dia tidak tahu kalau aku adalah seorang pengingat yang hebat. Apa yang dia lakukan pada waktu itu dan apa yang dia ucapkan tak akan pernah aku lupakan untuk selamanya. "Nah, kalau kayak gini kan bagus. Gak ada berantem-beranteman. Dan untuk kamu, jangan diulangi lagi! Menghina orang tua itu gak baik. Dosa besar," kata salah satu warga. "Iya Pak. Saya menyesal. Saya nggak akan mengulanginya lagi," katanya. Selepas itu, semuanya berakhir dengan damai. Tapi tidak dengan hatiku. Aku pulang dengan keadaan hati sepertiku terbakar hebat. Rasanya masih tak bisa aku memaafkannya begitu saja tanpa mencicipi wajahnya melalui kepal tangan ini. Melalui kejadian itu pula aku mengerti kalau bukan orang kaya saja yang bisa menghina orang sepertiku dan juga keluargaku. Bahkan orang dari kalangan biasa saja pun bisa melakukannya. Berkat itu pula aku sadar bahwa yang salah adalah manusianya, bukan harkat dan martabatnya. Shela anak orang kaya, tapi sekalipun tak pernah merendahkan aku maupun orang lain yang berada di bawahnya. "Bapak dengar tadi sore kamu mau berkelahi, ya?" tanya bapak pada malam itu sehabis magrib. Aku tak tahu bapak mendapatkan informasi itu dari siapa. Mungkin dari Salsa. Tapi Salsa pun aku tak tahu mendapatkan informasi dari siapa pula. "Bapak tahu dari mana?" tanyaku. "Kamu tidak perlu tahu. Jawab aja! Berantem kenapa?" tanya bapak balik. Andai mengabaikan pertanyaan orang tua itu tidak berdosa, aku pasti sudah mengabaikan pertanyaan bapakku kala itu. Karena itu, akupun mau tidak mau harus menjawabnya. Dengan awalan senyuman singkat yang kumaksudkan untuk membuat hati bapakku sedikit tenang, aku pun kemudian menjawab apa yang ia tanyakan. "Nggak kenapa-napa kok, Pak," jawabku berbohong. "Nggak mungkin kalau gak ada alasannya kamu berantem," kata bapakku. "Beneran, Pak. Gak kenapa-napa," jawabku. Aku bingung ingin beralasan apa. Pandanganku bahkan tak bisa hanya terfokus pada bapakku. Bola mataku bergerak liar melihat sekeliling. Hingga aku menyadari, gadis kecil yang kupanggil adik itu sedang mengintip dari balik tembok. Aku tahu tapi aku diam saja. Aku membuat diriku seolah-olah tak sempat melihatnya. Karena hal itu pula aku jadi tahu kalau bapak mendapatkan informasi tersebut dari Salsa. Kalau Salsa mendapatkan informasinya dari mana, aku tidak begitu mempertanyakannya. Lebih tepatnya tidak memperdulikannya. "Jawab kenapa?" tanya bapakku lagi. "Huff ... Iya, Pak. Bapak benar. Pasti ada alasan di balik kemarahanku yang menyebabkan aku hampir berkelahi," kataku. "Ya apa alasannya?" tanya bapak. "Dia menghina Bapak. Mana mungkin aku terima," jawabku. "Menghina bagaimana, Niel?" tanya bapakku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD