Bab 45

1771 Words
Aku diam sejenak. Ku pertimbangkan untuk menjelaskannya secara rinci kepada bapakku. Aku takut jika aku memberitahukan tentang yang sebenarnya kepada bapakku, tentang lelaki itu yang menyebutnya beban, itu malah akan membuat bapak membenarkan apa yang lelaki itu ucapkan. "Bapak nggak perlu tahu kalau soal itu. Tapi Bapak tenang aja. Dia udah meminta maaf, kok. Dan aku juga udah memaafkannya," ucapku. "Syukurlah kalau begitu," kata bapak. "Iya Pak. Ya udah, Pak. Aku mau ke kamar dulu," ucapku. Bapak cuma mengangguk. Gadis kecil itu mungkin masih bersembunyi dari balik tembok. Aku tak begitu memperhatikannya. Aku terus berjalan untuk sampai ke tempat tujuanku, yaitu kamarku. Akan tetapi saat aku berjalan itulah aku seperti mendengar suara adikku. Mungkin ia sedang berbincang-bincang dengan bapak. Entah kenapa timbul rasa penasaran yang membuatku berbalik arah dan memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka. "Bapak jangan marah, ya, sama Kak Daniel. Aku percaya, Kak Daniel bukannya sok jago atau apa. Tapi kakak cuma menjaga harga diri keluarga ini, Pak. Bapaknya dihina, tentu kakak gak akan terima lah, Pak. Kakak mungkin masih trauma pada kejadian yang menimpa ibu dulu. Kakak gak mau ada lagi orang yang merendahkan harga diri orang tuanya. Makanya itu kakak nggak peduli kalaupun harus berkelahi untuk membalas orang yang telah merendahkan harga diri keluarganya," ucap Salsa panjang lebar. Aku agak terharu mendengarnya. "Coba Bapak bayangkan. Gimana jika aku atau Kak Daniel dihina oleh orang lain dan bapak mendengarnya secara langsung. Pasti Bapak akan marah, kan? Kak Daniel cuma menjaga kehormatan kita, Pak. Aku yakin 100 persen," lanjut Salsa. Saat itu kusandarkan tubuhku ke tembok. Rasanya tak percaya anak seusia Salsa bisa begitu mengerti tentang alasan aku melakukan sesuatu. Dari situ pula terbentuk alasan kenapa aku menyamakannya dengan Shela. Karena Salsa juga bisa mengerti apa yang ada di dalam hati dan pikiranku tanpa aku beritahu. Sama seperti Shela yang juga seperti itu. Rasa trauma yang membuatku kehilangan arti kata bahagia memaksaku untuk berbuat sedemikian rupa. Salsa benar, kejadian meninggalnya ibu telah membangkitkan perasaan itu. Aku menjadi orang yang temperamental jika sudah menyangkut pada penghinaan terhadap keluargaku. Aku selalu hilang kontrol jika sudah menyangkut itu. Harga diri ibuku yang direndahkan serendah-rendahnya oleh majikannya kala itu sungguh keterlaluan. Walaupun aku tidak tahu seperti apa dasyatnya ia merendahkan ibuku, tapi aku yakin kalau itu sangat keterlaluan. Itulah yang membuatku trauma berkepanjangan. Maka jangan heran jika aku sering menantang seseorang untuk berkelahi. Jangan sebut juga aku sebagai lelaki yang terlalu sering membawa perasaan. Karena aku sejatinya bisa saja bersikap bodoh amat dan tidak peduli. Asal tidak ada yang merendahkan harga diri keluargaku. "Hei, Dik," sapaku ke Salsa yang sedang belajar di kamarnya. "Eh, Kakak. Maaf, aku udah memberi tahu bapak soal Kakak yang hampir berkelahi. Tapi, katanya bapak gak marah kok ke Kakak. Sumpah," ucap Salsa cepat seolah-olah takut denganku. Aku yang awalnya diam pun mau tidak mau harus tertawa akibat tingkahnya yang lucu. Selepas itu akupun mendekati dia. "Nggak apa-apa, kok. Lagian kan emang benar Kakak tadi hampir berantem," ucapku. "Kakak gak marah?" tanyanya. "Marah kenapa?" tanyaku balik. "Kan aku udah lancang ngasih tahu Bapak tentang hal itu," jawab Salsa. Sumpah, wajahnya imut sekali kala itu. Dia nampak takut. Padahal aku adalah kakaknya. Dan semarah apapun seorang kakak laki-laki, tak mungkin ia akan memukul adik perempuannya. "Ya jelas lah marah. Gara-gara kamu, bapak jadi interogasi Kakak," ucapku sok marah. "Kakak beneran marah sama aku?" tanyanya agak takut. "Hahaha ... Nggak kok, Dik. Kakak cuma bercanda," jawabku. "Buat apa marah? Lagian kamu kan nggak sedang menyebar hoax. Kamu cerita tentang yang benar-benar terjadi. Lalu, mengapa Kakak harus marah?" ucapku. "Huff ... Kirain Kakak mau marah beneran ke aku," katanya. "Kalau marah beneran emang kenapa?" tanyaku. "Ya ... Gitu lah pokoknya," jawabnya ragu. Kutebak, alasannya adalah karena dia takut dengan amarahku. Ia tahu betul siapa diriku dan bagaimana saat aku marah. Tapi ia lupa kalau sekalipun aku tak pernah memarahinya. Kalaupun dia bersalah, aku cuma akan menasihatinya saja. Tapi begitulah Salsa. Sama seperti diriku, ia terlalu memikirkan risiko setiap kali ia melakukan sesuatu. Memang memikirkan risiko adalah hal yang harus dilakukan. Akan tetapi terlalu takut pada risiko tersebut juga merupakan hal yang tidak diperbolehkan. Apalagi jika karenanya membuat seseorang mengurungkan niat untuk melakukan sesuatu tersebut. Dalam arti sesuatu yang baik-baik. "Oh ya, kamu tahu dari mana soal kakak yang hampir berkelahi, tadi?" tanyaku. "Dari tetangga-tetangga, lah, Kak. Bukan dikasih tahu, tapi aku mendengar mereka bergosip kayak gitu," jawab Salsa. Aku manggut-manggut mengerti. Tebakanku sedikit salah. Kukira Salsa mendapatkan informasi tersebut langsung dari mulut seseorang yang menceritakan dengan detail kejadian sore itu. Akan tetapi ternyata ia mendapatkannya secara tidak sengaja. Melalui mulut para penggosip andal yang telah melegenda. Dari mulut tersebut, setiap kata yang terucap adalah ibarat sebuah berlian yang sangat berharga bagi orang yang mendengarnya. Dari mulut tersebut, kenyataan bisa diubah menjadi kepalsuan, dan kepalsuan bisa diubah menjadi kenyataan. Begitu dahsyatnya kekuatan kata dari mulut sang penggosip. "Tapi aku boleh minta sesuatu gak, Kak?" tanya adikku. "Apa?" tanyaku balik. "Kakak jangan sering terpancing emosi. Kakak jangan suka berantem-beranteman lagi. Kalau misal Kakak tadi berantem, Kakak bisa kalah, lho. Dia kan lebih tua dari Kakak. Pasti tenaganya juga lebih besar. Kalau Kakak kalah, Kakak pasti terluka," kata adikku. "Tapi Kakak kan gak terluka," ucapku. "Ya kan Kakak belum sempat berantem," kata Salsa. "Oh, jadi Kakak harus berantem dulu ya kalau ingin terluka. Ya udah, Kakak mau nantang berantem dia lagi sekarang," kataku. "Ih, Kakak!" bentaknya. "Pokoknya jangan berantem lagi! Sudah berapa kali sih, Kak, aku minta supaya Kakak jangan berantem? Tapi Kakak gak pernah mengabulkannya. Jawabannya cuma iya-iya doang tapi kenyataannya beda. Kakak kan bilang sendiri kalau salah satu tanda orang munafik adalah orang yang suka berkata dusta. Terus kata-kata yang Kakak ucapkan itu juga seperti janji yang Kakak emban. Tapi lagi-lagi gak dilaksanakan. Satu lagi, aku sudah percaya pada Kakak. Tapi Kakak malah mengkhianati kepercayaanku. Secara tidak sadar Kakak telah memenuhi 3 tanda orang munafik," ucap adikku panjang lebar. Dia menasihati aku lagi kala itu. Aku yang mendengarkannya pun merasa bersalah atas apa yang telah aku lakukan. Ucapannya tidak salah. Justru aku benarkan semua ucapannya. Aku telah pembohong, pengingkar janji dan juga pengkhianat. Parahnya aku baru sadar tentang hal itu setelah Salsa berucap. Aku diam cukup lama untuk mengatur perasaanku. Adikku bagai seorang ustadzah yang sangat pandai dalam menasihati seseorang. Ada satu lagi sisi menarik yang bisa aku lihat dari dia. Yaitu tentang dia yang tak ragu untuk menyampaikan kebenaran walau itu ditujukan kepada kakaknya sendiri yang juga bisa dibilang orang yang lebih tua dari dia. Biasanya orang yang lebih muda lebih memilih diam untuk menyampaikannya karena ia merasa tidak pantas untuk menasihati orang yang lebih tua. "Iya deh. Kakak nggak akan berantem lagi," kataku. "Selalu saja begitu. Ujung-ujungnya juga masih berantem," ucap Salsa. "Nggak kok. Kakak gak akan berantem lagi," ucapku mencoba meyakinkan dia. "Bagaimana aku bisa mempercayainya?" tanya Salsa. "Gimana, ya? Kakak juga bingung. Hahaha," jawabku. "Tuh kan? Kakak emang gak bisa dipercaya. Pasti ada rencana lagi buat berantem," katanya. "Ya udah. Gini aja," kataku. "Gimana?" tanya Salsa. "Kakak udah gak mau janji-janji lagi. Takutnya gak bisa menepati. Tapi, sebisa mungkin akan Kakak usahakan untuk tidak berkelahi dengan siapapun," ucapku. "Janji, ya," katanya. "Salsa. Kan Kakak udah bilang kalau gak mau janji-janji lagi," ucapku. "Itu berarti Kakak masih bisa kapan saja berantem?" tanya Salsa dengan polosnya. "Hei, pahamilah! Jika keadaan memaksa Kakak untuk berantem, dan berantem adalah jalan satu-satunya untuk keluar dari keadaan itu, maka terpaksa Kakak akan melakukannya. Tapi jika keadaan masih memungkinkan untuk menghindari perkelahian, maka Kakak akan ambil pilihan yang itu," ucapku panjang lebar. Sebenarnya aku sendiri pun tidak tahu apa aku bisa konsisten dengan ucapanku itu atau tidak. Pasalnya, aku adalah orang yang paling mudah terpancing emosinya jika ada yang menghina keluargaku. Tapi, yang kupikirkan kala itu adalah soal kekhawatiran adikku padaku. Demi dia, aku ingin mencoba melakukan hal yang sangat sulit untuk aku lakukan. "Awas saja jika Kakak menarik kata-kata itu kembali," ancam Salsa. "Tenang aja! Kakak gak akan menariknya, kok. Kan gak ada tali untuk dibuat narik," ucapku sambil tertawa pelan. "Gak lucu," ucap Salsa. Aku langsung terdiam. "Gak sopan lho, kayak gitu sama kakaknya sendiri," ucapku. "Aku gak peduli, pokoknya," katanya. "Hahaha." Aku tertawa. Kekhawatirannya padaku benar-benar luar biasa. Dia adalah seorang adik yang sangat sayang kepada kakaknya. Dia adalah adik yang baik. Aku sangat bersyukur punya dia. Jarang ada adik yang secara terang-terangan menunjukkan perhatiannya pada sang kakak. Bahkan mungkin jarang pula ada adik yang perhatian kepada kakaknya. Salsa mungkin cuma salah satu dari banyaknya orang yang bisa menjalankan perannya sebagai adik dengan baik. Akan tetapi menurutku, peran dia lah yang paling sempurna. Salsa tak pernah meminta apa-apa ke aku. Aku pun jarang punya inisiatif untuk memberikan sesuatu ke dia. Tapi apa yang dia lakukan? Dia bisa mengerti dan membalasnya dengan segala perhatian dan kasih sayangnya ke aku. Padahal aku tak pernah merasa telah berjasa untuk kehidupannya. Itulah Salsa. Satu-satunya adik yang aku punya. Dan dia adalah seorang perempuan. Maka dari itu, sebagai ganti atas pengertian dan perhatian dia, aku pun memutuskan untuk selalu menjaganya. Terutama menjaganya dari para laki-laki tidak baik yang ingin mendekat ke dia. Jangankan lelaki yang tidak aku kenal. Bahkan Firman, yang merupakan rekan kerja sekaligus sahabatku pun tak aku perbolehkan untuk mendekati Salsa. Alasannya cuma satu. Salsa masih kecil, dan dia pun mungkin kala itu belum bisa menjaga dirinya sendiri. Suatu ketika, perasaan benciku pada lelaki yang menghina bapakku itupun perlahan memudar. Oh ya, soal itu, Shela tidak mengetahuinya. Karena aku pun tidak menceritakan hal tersebut ke dia. Meski benciku memudar, sekali lagi aku masih mengingatnya untuk selamanya. "Hei Daniel. Gue mau nanya." Suatu hari, sewaktu berada di perpustakaan, Shela berucap ke aku. "Nanya apa, Shel?" tanyaku. "Ada gak sih sesuatu yang paling lo sesali selama hidup di dunia ini?" tanyanya. Aku benar-benar terkejut mendengar pertanyaannya. Bukannya apa-apa. Aku hanya merasa topik yang ia bicarakan sangatlah aneh. Tapi setelahnya aku segera berpikir. Bukankah Shela memang manusia yang susah ditebak? "Gue pernah marah semarah-marahnya kepada seorang perempuan yang berposisikan sebagai teman gue. Anehnya setelahnya gue malah meneteskan air mata di dalam kesendirian, menyesali tentang kenapa amarah itu harus gue munculkan," jawabku. "Marah ke perempuan? Hayo siapa itu?" tanya Shela. "Coba deh lo bercermin. Nanti pasti lo akan tahu siapa orang yang gue maksud," jawabku. "Ha? Berarti gue dong? Emang lo pernah marah apa sama gue?" tanya Shela. "Hahaha ... Gak deh, lupain aja!" jawabku. Maksudku adalah tentang kemarahanku ke dia sewaktu terjadi kesalahpahaman dariku atasnya pada hari itu. Rasanya sulit untuk melupakan kebodohanku. Andai waktu bisa diputar, pada saat itu aku pasti akan mencari kebenarannya terlebih dahulu. Itu sungguh sebuah kebodohan yang tidak pernah bisa kumaafkan sampai kapanpun juga. Bahkan sekalipun pada akhirnya pun hubunganku dengan Shela bisa membaik kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD