Bab 46

1474 Words
Sebuah penyesalan yang tak pernah ada habisnya. Aku bisa merasakannya sampai setelah hari-hari berikutnya. Kejadian kala itu sungguh telah memberi pelajaran yang sangat berharga bagiku dalam hal cinta. Tak pernah terbayang di pikiranku jika seandainya Shela memilih untuk pergi selamanya dari kehidupanku. Bagaimana jika hal itu benar-benar sampai terjadi? Sebesar apa kesedihan yang akan aku rasakan? Dan sampai kapan penyesalan itu akan terus menghantuiku? Aku tak bisa membayangkannya. Aku hanya bersyukur karena Shela pada akhirnya bisa kembali ke aku. Bahkan dengan hubungan yang jauh lebih baik. Andai dia menghilang, mungkin aku tak bisa lagi menemukan gadis yang mencintaiku apa adanya. Tak kan lagi kutemui gadis cantik yang bisa bertahan dengan sifatku. Dan tak akan lagi aku bisa mendapatkan gadis yang bisa memahami ku. Sekali lagi, aku sangat bersyukur. "Kalau lo, ada juga gak, yang lo sesali di dunia ini?" tanyaku kemudian. "Ada," jawabnya singkat. "Apa itu?" tanyaku. "Sifat gue. Jika seandainya gue bisa dari dulu lebih sungguh-sungguh untuk bersekolah, tidak mungkin sekarang ini gue menjadi sebodoh ini," jawabnya. "Jangan gitu! Gak baik," ucapku. "Kenyataannya gue emang kayak gitu, Niel," ucapnya. "Emangnya dulu lo itu gimana?" tanyaku penasaran. "Parah banget. Sering telat masuk kelas. Sering keluar kelas waktu jam pembelajaran masih berlangsung dan pergi ke rooftop sampai jam pembelajaran itu selesai. Dan yang paling sering terjadi adalah, gue sering tidur di kelas. Bahkan ketika ada guru yang menerangkan di depan," ucapnya panjang lebar. "Yang kayak gitu itu masih lo lakuin kan, sampai sekarang?" tanyaku. "Hehehe ... Terkadang sih. Tapi itu kan emang bawaan dari sifat gue yang dulu. Gak mudah untuk mengubahnya, Niel," katanya. "Iya. Gue mengerti. Pelan-pelan, ubahlah! Tidak ada yang tidak mungkin. Lo pasti bisa mengubahnya, kok," ucapku. "Iya. Semoga aja," katanya. Aku memang tak pernah tahu secara detail tentang sifat Shela sebelum kami saling mengenal itu seperti apa. Aku cuma tahu kalau dia adalah gadis yang sangat pemberani. Tak ada satupun orang yang ia takuti. Bahkan sekalipun itu kakak-kakak kelas ataupun para lelaki. Namun, aku seperti tidak mempercayai kalau Shela punya sikap yang seperti itu. Pasalnya ketika bersamaku, ia mendadak berubah menjadi gadis yang lemah lembut dan selalu butuh perlindungan dariku. Maka dari itu aku sedikit tak percaya dengan sejarah masa lalunya. Oh ya, satu lagi tentang dia. Kalau ada yang bertanya kenapa ada perempuan yang bisa secinta itu terhadap lelakinya, padahal lelakinya itu adalah seorang yang sering terhina, maka akan aku jawab kalau aku pun tidak mengetahuinya. Mungkin aku cuma beruntung, dan jika seandainya dia tidak ada, tak akan ada pula gadis yang bisa mencintai aku seperti dia mencintaiku. "Oh ya, kapan gue boleh ke rumah lo?" Dia masih melanjutkan pembicaraan denganku pada hari itu. "Em ... Kapan, ya?" tanyaku pada diri sendiri. "Kenapa masih mikir sih, Niel?" tanyanya. "Entahlah Shel. Gue malu," jawabku. "Malu punya pacar kayak gue?" tanyanya. "Eh, ya bukan, lah. Kalau yang itu, gue malah bangga," jawabku. Nampak jelas dari mataku kalau dia sedang menahan salah tingkahnya agar tidak terlihat olehku. Namun itu sia-sia. Karena aku sudah sempat melihatnya. "Ya terus karena apa?" tanyanya. "Gue takut lo gak betah di rumah gue," jawabku. "Lah. Kenapa gak betah? Rumah lo ada hantunya, kah?" tanyanya. "Bisa dibilang begitu," jawabku. Mendadak raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. "Eh, emang beneran ada hantunya?" tanyanya lagi. "Iya. Hantunya cewek, cerewet pula, dan terkadang manja," jawabku. "Lah. Hantu apaan yang punya sifat kayak gitu?" tanyanya. "Nggak tahu. Dia juga manggil gue dengan sebutan 'Kakak'," ucapku lagi. Dia memandangku kesal. Aku sudah tahu kalau dia pun telah menyadari apa yang aku maksud. Shela memang sangat pandai dalam memahami. "Parah. Adik sendiri dibilang hantu," katanya. Aku tertawa. "Hahaha ... Sekali-kali. Mumpung dia gak ada di sini. Kalau ada, pasti dia udah ngoceh nggak karuan," kataku. Dia juga tertawa. "Jadi, kapan gue boleh ke sana? Gue juga pengen ketemu sama adik lo," tanya Shela lagi. Sumpah aku bingung ingin memberikan jawaban yang bagaimana. "Nanti aja gue kabarin," jawabku. "Kenapa harus nanti? Kan bisa dipastikan dulu sekarang, kapan gue boleh ke sana," ucapku. "Kalau tahun depan, gimana?" tanyaku. "Ih. Kelamaan," jawabnya. Aku lagi-lagi tertawa. "Hahaha ... Ya sudah kalau begitu biar nanti aja gue kasih tahu lo tentang waktunya," kataku. "Hm. Okelah. Tapi jangan lama-lama!" "Iya. Secepatnya," kataku. Sejatinya kala itu aku masih belum siap untuk membawa Shela datang ke rumahku. Banyak sekali alasannya mengapa. Salah satunya adalah aku takut jika ada orang-orang kompleks yang melihat dan bergosip yang buruk-buruk tentangku. Namun, di sisi lain aku juga tak bisa mengabaikan permintaan Shela. Dia tidak pernah meminta apapun ke aku dan sekali meminta, aku malah mengabaikannya. Padahal permintaannya itu tergolong permintaan yang sangat sederhana yang bisa dengan mudah untuk aku turuti. Berhari-hari aku memikirkannya. Akan tetapi aku tak kunjung mempunyai keputusan. Aku masih bingung. Antara aku mau menuruti permintaan Shela atau menolaknya secara halus. Tapi jika pilihan kedua yang aku pilih, aku seperti tidak menghargai Shela. Kupikir saat itu, pilihan yang terbaik adalah pilihan yang pertama. Aku sudah mempunyai pilihan, yaitu akan mengajak Shela datang ke rumahku apapun yang terjadi. Tidak peduli apa yang akan dikatakan orang-orang tentangku dan juga Shela. Sifat tidak peduliku mendadak muncul. Hari itu sewaktu di sekolahan. Aku yang harusnya akan memberitahukan ke Shela tentang dia yang boleh datang ke rumahku pada akhirnya harus menemui kegagalan. Perasaan emosi akibat ucapan dari orang-orang di sekolahan itu tentang hubunganku dengan Shela membuatku jadi ragu untuk melaksanakan keputusanku. Aku memang payah saat itu. Mudah sekali berubah pikiran hanya gara-gara ucapan dari orang-orang yang tidak berguna di hidupku. "Ayolah Niel. Jangan pikirin ucapan mereka. Gue yakin seratus persen pasti ada dalang di balik ini semua. Gak mungkin mereka sekejam itu sama lo kalau gak ada yang menjadi kambing hitam. Makanya itu gue suruh lo supaya mencoba untuk lebih dekat dengan teman-teman sekelas lo," ucap Shela. "Bagaimana gue bisa lebih dekat kalau respon mereka saja seperti itu?" ucapku. "Ya jangan menyerah! Pokoknya sebelum nanti kita keluar dari sekolahan ini, lo harus bisa mengubah keadaan ini," ucap Shela. "Gue juga pasti akan membantu. Apapun yang terjadi," lanjutnya. Sumpah aku merasa seperti menjadi orang yang sangat lemah. Aku tak bisa mengambil keputusan dengan tepat. Aku juga terlalu mudah berubah pikiran. Dan yang lebih parahnya lagi, aku masih suka emosian. Andai saat itu aku tidak terikat dengan janjiku ke Salsa agar aku tidak berantem lagi. Dan andai saat itu mereka bertiga sampai menghina orang tuaku. Sudah aku pastikan kalau aku akan berkelahi dengan mereka. Tidak peduli jikalaupun harus 3 orang melawan satu orang. "Lo gak malu ya, punya pacar yang selalu tertindas kayak gue?" tanyaku. Entah kenapa bisa-bisanya aku bertanya seperti itu ke Daniel. "Jangan ngomong gitu! Gue gak suka," kata Shela dengan nada yang sangat serius. "Oke," kataku. "Pokoknya lo gak usah peduli dengan apa yang dikatakan oleh orang lain terhadap lo. Namanya juga benci. Jadi apapun yang lo lakuin, sekalipun itu benar, tetap saja akan disalahkan oleh mereka. Makanya itu satu-satunya jalan adalah dengan tidak peduli terhadap mereka. Lalu perlahan demi perlahan mengubah sifat mereka dan menjadikan mereka teman," ucap Shela panjang lebar. "Iya Shel," ucapku. Cara ia menasihati terasa sama seperti cara Salsa dalam menasihati aku. Sebuah kesamaan yang membuatku bisa mengingat keduanya meski cuma melihat salah satunya. Menurutku memang mereka berdua sangat cocok untuk menjadi kakak beradik. Asumsinya juga cukup bagus. Jujur sebelum ia bilang bahwa ada dalang di balik tertindasnya aku, aku pun juga sudah mempunyai pemikiran seperti itu. Dan kala itu, ada satu nama yang sangat aku curigai. Akan tetapi aku tak berani untuk berprasangka buruk terhadapnya. Aku juga tak bisa menuduh dia sembarangan. Oleh karena itulah aku selalu memilih untuk diam. Tapi saat itu, Shela telah berjanji padaku untuk membantuku dan membuat perubahan yang sangat besar untuk kehidupan sekolahku. Aku tak pernah tahu cara apa yang akan ia lakukan. Aku juga tak tahu dengan cara yang belum aku ketahui itu, apa dia bisa berhasil atau tidaknya. Tapi terlepas dari itu, aku sangat menghargai janjinya itu. Setidaknya dia sudah membuktikan padaku kalau ia benar-benar tulus untuk membuat perubahan besar di hidupku. Dalam arti perubahan menuju yang lebih baik. Kring! Ponselku berbunyi sewaktu aku sedang berada di dalam kamar. Saat itu adalah pada saat sore hari, tapi entah jam berapa, aku lupa. "Halo," ucapku di telepon. "Halo Niel. Ini gue April," ucap seseorang yang meneleponku itu. "Ya, gue udah tahu," ucapku. Dia tertawa kecil. "Kita bisa bertemu sebentar, gak?" tanyanya. "Emang ada apa?" tanyaku balik. "Gue butuh guru. Segera," jawabnya. "Guru? Emang lo mau apa? Dan gurunya siapa?" tanyaku lagi. "Kan besok ada tugas tuh. Nah, gue sama sekali gak paham. Boleh gak, gue minta waktu lo buat bimbing gue?" tanyanya balik. Sebenarnya aku agak berat. Takutnya jika secara tidak sengaja Shela tahu dan akan cemburu. Itu mungkin akan menyakiti hatinya. Kesannya, aku seperti sangat jahat ke dia. Tapi April adalah sahabatku. Dan dia pun juga sama cuma menganggapku sebagai seorang sahabat, tidak lebih. Jahat juga rasanya jika seorang sahabat meminta tolong, aku malah tak bisa membantunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD