Shelania telah mengubahku. Aku juga tak tahu mengapa ia bisa melakukan hal itu. Dia bahkan bisa menaklukkan sang manusia berhati batu sepertiku. Dia juga telah membuktikan kepada dunia dan tentunya juga kepadaku bahwa tidak semua orang kaya sesuai dengan dugaanku. Sungguh aku merasa bahwa bersamanya selalu membuatku candu, dan ketika berpisah dengannya entah kenapa aku merasa rindu. Itulah Shelania, si gadis cantik yang berhasil menuliskan namanya di dalam hatiku.
Aku tahu, bukan hanya Shela yang sudah berhasil mengisi kisah hidupku. Tapi kisah tentangnya seakan-akan adalah salah satu bagian terbaik dari drama kehidupanku. Bercerita tentangnya adalah hal yang sangat membuatku gembira. Tak tahu mengapa. Hanya saja seolah-olah aku merasa kalau aku sedang kembali ke masa-masa itu. Indah sekali kenangannya.
Aku ingat tentang hari-hari itu. Suka dan duka berkumpul menjadi satu. Konflik dengan orang-orang di kelasku masih terus berlanjut dan bahkan saat itu, kapan konflik itu akan berakhir pun aku tidak tahu. Tapi setidaknya, selalu ada dua wanita hebat yang menguatkan aku. Yang satu menguatkan aku dari balik bayangan dengan cara mengeluarkan kata-kata motivasinya, dan yang satunya lagi secara terang-terangan membelaku. Aku bersyukur ada mereka di dalam kehidupanku.
"Hei, Niel. Ayolah! Setidaknya berilah perlawanan sedikit. Tapi jangan sampai berkelahi," ucap April kala itu.
Seingatku, saat itu posisi kami sedang berada di dalam kelas. Cuma berdua, dan tidak ada orang lain selain kami. Kala itu aku baru saja dibully habis-habisan oleh beberapa orang di kelasku, salah satunya adalah Ryan.
"Apa untungnya?" tanyaku. Sungguh aku sangat emosi.
"Kalau lo berani melawan, setidaknya menyangkal kata-kata mereka, bukankah itu bisa membuat lo sedikit dipandang sebagai seorang pemberani?" kata April.
"Gue gak tahu, Niel. Sakit aja gitu lihat sahabat gue dibully habis-habisan, sedangkan gue gak bisa memberikan pertolongan sedikitpun. Gue gak seberani Shela, Niel. Tapi gue gak ingin lihat lo diperlakukan kayak gitu lagi. Makanya itu gue minta lo belajar untuk melawan," pintanya kala itu.
Adalah April, sang gadis cantik yang merupakan satu-satunya teman yang aku miliki di dalam sekolahan neraka itu. Aku tidak mencintainya, tapi aku sangat takut kehilangannya. Apapun sebabnya, tapi itulah yang kurasakan waktu itu.
Mungkin alasannya adalah persahabatan. Sulit mencari orang yang seperti dirinya. Orang yang tidak mau meremehkan atau bahkan merendahkan orang lain. Kalau kupikir-pikir, dia adalah manusia paling dewasa di kelasku. Maksudku adalah tentang pikirannya. Aku bahkan tidak bisa memastikan jika seandainya aku jadi dia. Di saat semua orang membully, maka mungkin aku pun akan ikut membully, atau paling tidak malah hanya memilih untuk menghindar dan tidak memperdulikan. Namun kenyataannya si gadis hebat itu
"Lo tenang aja. Gue udah biasa," ucapku.
"Iya sih, biasa. Tapi itu buat lo. Cobalah sekali-kali lo berpikir, jika gue atau Shela dibully kayak gitu dan lo melihatnya secara langsung. Pasti lo akan tahu apa yang gue rasain. Jangan selalu diam, Niel! Ada masanya buat lo untuk melakukan perlawanan. Kalau lo terus-terusan diam, maka diam lo itu akan dianggap sebagai diam seorang pecundang, walaupun sebenarnya ada alasan tertentu kenapa lo begitu," ucap April panjang lebar.
"Tapi gue gak punya hak untuk memaksa lo ngelakuin apa yang gue inginkan. Gue ini siapa? Cuma teman lo, yang bahkan tidak berani menunjukkan ke orang-orang bahwa kita ini berteman. Tapi gue berharap lo bisa menggunakan sedikit saja saran dari gue," lanjutnya.
Tak tahu mengapa kata-kata ajaib darinya selalu teringat dalam ingatanku. Selalu saja begitu. Dia punya kata-kata yang bisa menyentuh ke dalam kalbu. Nampaknya di masa lalu, si pecundang ini ternyata mempunyai seorang sahabat yang sangat berharga dan patut untuk diingat selalu.
Aku tersenyum kala itu. Ya, walau masih ada perasaan emosi karena pembullyan itu, tapi aku bisa menampakkan senyumku kepada April, sahabatku.
"Iya. Akan gue coba. Terima kasih atas simpatinya," ucapku.
"Jangan cuma mencoba, tapi lakukanlah dengan sungguh-sungguh!" ucap April.
"Hmm, iya. Semoga bisa, ya," ucapku.
"Iya. Ya udah gue ke kantin dulu," pamitnya.
"Iya."
Dan sampai situ saja perbincanganku dengan dia. Memang begitulah dia ketika berada di sekolahan. Sebisa mungkin dia menghindari ada yang melihat tentang dia yang melakukan perbincangan denganku, atau hanya sekedar melakukan pertemuan. Aku maklumi itu. Karena pun, akan sangat berisiko jika ada satu saja orang yang tahu kalau dia berteman denganku. Bisa-bisa dia juga ikut dikucilkan. Dan aku tidak mau jika dia mengalaminya.
Sudah cukup bagiku dengan mendapatkan perlakuan terhormat seperti itu. Walau cuma datang dari satu atau dua orang. Setidaknya dengan itu bisa sedikit menutupi luka yang aku rasakan. Dan memang benar. Kalau saja dulu tidak ada mereka, mungkin hasilnya akan sangat berbeda.
Terkadang aku juga ingin mengubah pernyataan banyak orang yang menyatakan bahwa ketika seseorang merasa kehadirannya sangat berharga bagi orang lain, maka ia akan bersikap semena-mena. Aku sangat ingin mengubahnya. Nyatanya pernyataan itu tidak untuk setiap orang. Shela, Firman dan April contohnya. Bahkan di saat aku menunjukkan kalau aku setiap saat sangat mengharapkan kehadiran mereka pun, mereka masih tetap baik dan tak sekalipun bersikap semena-mena ke aku.
"Teman-teman lo hebat, ya?" ucap Shela.
Saat itu sepulang sekolah, aku dan Shela sengaja untuk pulang belakangan. Alasannya hanya satu. Aku ingin memanfaatkan sedikit waktu luangku untuknya sebelum pada akhirnya nanti aku kembali harus bekerja. Sungguh jika dibandingkan dengan hidup anak muda yang lain, dulu itu hidupku memang jauh lebih menderita. Waktu main pun hampir tak ada. Berbeda dengan kebanyakan anak muda lain yang hampir 24 jam waktunya hanya untuk bermain.
Tapi anehnya, aku malah mensyukurinya dan senang karena keadaan itu telah menimpaku sejak awal. Aku sadar, dengan keadaan yang aku alami, itu membentukku menjadi pribadi yang hebat di kemudian hari. Pribadi yang mengerti tentang kerasnya kehidupan dan terbiasa untuk menghadapinya.
"Hebat gimana?" tanyaku balik.
"Berani membully orang yang jelas-jelas jauh lebih hebat dari mereka," jawab Shela.
Bukan aku meninggikan diriku. Akan tetapi setelah Shela menjawab pertanyaan yang aku berikan, aku langsung mengerti bahwa orang yang dimaksud dalam jawabannya itu adalah aku.
"Memangnya siapa orang hebat yang dibully itu?" tanyaku sok polos. Pura-pura tidak tahu.
"Ya lo lah, Niel. Siapa lagi? Gitu aja masih nanya," kata Shela.
"Gue hebat dari mananya sih, Shel?" tanyaku.
"Udah deh, ah. Jangan merendah!" pinta Shela. Aku tersenyum kaku.
"Oke. Dari mana lo tahu gue tadi dibully?" tanyaku to the point.
Senyuman manis khas Shelania yang ia tunjukkan ke aku benar-benar berhasil membuat jantungku berdebar hebat. Saat itu sebenarnya aku salah tingkah. Gadis secantik dia tersenyum ke aku, pasti sebagai lelaki normal, aku pun tak bisa memungkiri bahwa jauh di lubuk hati terdalamku, aku merasa malu-malu. Tapi lagi-lagi, aku memutuskan untuk menyembunyikan rasa itu darinya.
"Jangan Lo kira gue gak tahu, Niel. Gue punya banyak orang yang bisa memberi gue berita kapan saja. Sayangnya, berita itu telat tersampaikan ke gue. Andai tidak, gue pasti udah datang dan bully mereka balik," kata Shela. Dan aku tahu bahwa dia bukan cuma sekedar omong kosong. Apa yang diucapkannya harusnya bisa saja jadi kenyataan.
"Sudahlah! Cuma masalah kecil, itu," kataku.
"Masalah kecil untuk Lo, tapi masalah besar bagi orang yang menyayangi Lo, Niel," ucap Shela.
"Mana mungkin ada orang yang akan terima jika orang yang ia sayangi dibully habis-habisan, Niel?" lanjut Shela.
"Hm. Ya sudahlah. Ayo kita pulang!" ajakku.
Sebenarnya aku cuma mencoba untuk menghindar agar Shela tidak lagi membahas soal pembullyan itu. Jujur aku agak sedikit malu. Di depannya aku seperti orang yang sangat lemah. Yang tidak bisa melakukan perlawanan apapun ketika aku dibully. Meski aku tahu kalau Shela pun telah mengerti kenapa aku tak bisa melawan, tapi tetap saja yang namanya perasaan selalu datang tanpa diduga-duga.
"Lo masih nanti kan ke toko bukunya?" tanya Shela.
"Iya," jawabku singkat.
"Nah. Makanya di sini aja. Nanti kalau udah mau masuk waktu bekerja, kita pulang. Jarang-jarang lho, Niel, kita ada waktu buat berdua," kata Shela.
"Gak baik Shel, berduaan. Katanya kalau laki-laki dan perempuan berduaan, maka yang ketiganya adalah ...." Aku menggantung kata-kataku. Tak mau mengucap nama makhluk terkutuk itu.
"Tak apa. Kan katanya berdua denganmu pasti lebih baik," ucap Shela. Aku tertawa kecil.
"Hm."
"Jangan ham hem doang dong!" pinta Shela.
"Lalu?" tanyaku.
"Ya ngomong," jawab Shela.
"Ngomong apa?" tanyaku.
"Ya apa-apa," jawab Shela. Aku diam.
"Ya udah kalau gak mau ngomong duluan. Gue aja yang ngomong," ucap Shela.
Aku masih diam. Tak tahu mengapa otak ini begitu hebat untuk mengingat kejadian itu. Bahkan aku sendiri mengakui kalau kejadian yang satu ini tak terlalu memberikan kesan apa-apa. Tapi aku bisa mengingatnya dengan hampir sempurna.
"Siapa orang-orang yang udah bully lo?" tanyanya. Aku lagi-lagi dibuat terdiam.