Bab 38

1630 Words
"Astaghfirullah," ucapku. "Kenapa?" tanyanya. "Otak lo kotor banget, sumpah," jawabku. "Eh, bukanlah. Itu bijak namanya. Memanfaatkan semua hal untuk hal yang kita sukai," kata Firman. "Terserah lo aja lah. Yang jelas, gue ingin menjaganya, bukan merusaknya," ucapku. "Wih, keren," katanya. "Gak usah keren-keren! Lihat tuh!" ucapku. Dan tepat saat itulah aku berhasil mencetak gol dalam permainan bola pada play station tersebut. Aku berteriak lumayan kencang yang membuat Firman mendesak karenanya. Kalau saja ada satu saja orang dari sekolahan yang sama denganku melihat aku pada waktu itu, pasti dia tidak akan menyangka kalau itu adalah aku. Karena apa? Karena sebuah sikap yang sangat berbeda telah aku tunjukkan. Kalau di sekolahan aku sangat dingin dan tidak peduli apapun, serta selalu dianggap rendah, tapi saat itu aku telah menampakkan sikap hangat dan memposisikan diri seolah setara dengan posisi orang lain. "Sialan! Curang lo," ucap Firman yang saat itu sudah kalah 1-0. "Lah, alasan," ucapku. "Cih, okelah. Lihat nih, gue bales," katanya. "Silahkan, Bos," ucapku. Tapi faktanya, sampai menit akhir pun skor masih bertahan 1-0. Padahal sejatinya aku jarang sekali main PS. Ah, bisa dibilang itu adalah permainan PS pertamaku setelah sekian tahun aku tidak pernah memainkannya. Seingatku, sebelum itu, terakhir kali aku bermain PS adalah pada saat aku masih kelas 6 SD. Senang saja rasanya. Seolah hilang semua derita. Nestapa ku juga mendadak sirna. Karena semua hal yang telah tercipta. Aku tak pernah menyangka bahwa hal itu akan menjadi nyata. Aku punya teman atau bahkan sahabat yang bisa membuatku tertawa. Saat itu aku juga berharap dia akan selalu ada. Tapi, aku sadar bahwa suatu saat, perpisahan itu pasti akan tercipta. Nanti akan kuceritakan lagi tentang di mana kini sahabatku itu berada dan sudah jadi apa dia. Ada tiga orang yang berperan penting dalam kehidupanku. Maksudku tiga orang yang tergolong baru aku temui. Firman, April dan tentunya juga Shela. Tiga manusia yang telah menguatkan aku ketika aku merasa seluruh dunia seakan membenciku. 2 sahabat dan satu cinta. Heh, benar-benar tidak bisa aku percayai. Masih di hari Minggu itu pula, tepatnya ketika aku baru saja pulang dari main PS bersama Firman. Saat itu aku sedang berada di kamar, rebahan untuk melepas penat. Ponsel yang aku letakkan di atas kasur tiba-tiba berbunyi. Tentu aku tahu bahwa itu adalah tanda adanya panggilan masuk. Aku bergegas mengambil ponselku dan melihat siapa yang sedang mencoba menghubungi aku. Tertera dengan jelas nama sang pacar, yaitu Shela. Entah kenapa jantungku langsung berdebar kencang di saat tahu bahwa sang penelepon adalah Shela. "Halo," ucapnya. "Iya, Shel," balasku. "Ini hari Minggu lho Niel. Apa lo sibuk?" tanyanya. "Sekarang enggak kok. Ada apa?" jawab sekaligus tanyaku. "Emm ... Gimana, ya? Gak mau jalan-jalan, gitu?" tanyanya. Aku jadi merasa bersalah karenanya. Waktu pagi hari yang harusnya sudah aku rencanakan untuk menghabiskan waktu dengan Shela, secara tanpa diduga-duga Firman juga menginginkan waktuku itu. Kalau kalian menjadi aku, mungkin kalian juga akan memilih hal yang sama seperti apa yang aku pilih. "Jalan-jalan ke mana, Shel?" tanyaku sambil menyelipkan sedikit tawaku. "Ya terserah aja. Maunya ke mana?" tanyanya balik. "Hmm." Kulihat jam di ponselku, dan ternyata sudah menunjukkan pukul 10:20 siang. Kurasa di luar juga pastinya akan sangat panas. "Sudah hampir jam setengah sebelas. Lo nggak takut panas?" tanyaku. "Eh, masa sih udah jam setengah sebelas?" tanyanya balik. "Iya Shel," jawabku. "Sebentar!" ucapnya. "Hmm." Tak tahu apa yang sedang ia lakukan. Pikiranku cuma mengarah ke satu tebakan, yaitu dia sedang melihat ke arah jam dinding untuk memastikan jam sudah menunjukkan pukul berapa. Dan tak lama aku menunggu, aku sudah mendapatkan jawabannya. "Lah iya. Udah siang aja nih. Hehehe," katanya. "Emang lo ke mana aja? Kok baru sadar?" tanyaku. "Ketiduran. Hahaha. Ini baru bangun," jawabnya. Dasar gadis aneh. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala ketika mendengar pengakuan bahwa pada jam setengah sebelas, dirinya baru saja bangun tidur. "Eh, jangan salah paham, lho ya," katanya kemudian. "Salah paham gimana?" tanyaku. Namun, belum sempat dirinya menjawab pertanyaanku, pintu kamarku diketuk oleh seseorang dan diiringi dengan suara imut dari seorang perempuan yang kusebut adik. Ya, Salsa lah dalang di balik pengetuk pintu itu. "Sebentar!" ucapku dan kemudian mematikan panggilan telepon begitu saja. "Kak, aku masuk, ya," ucap Salsa. "Iya, Sa," jawabku. Dan kemudian pintu kamar pun terbuka. Lalu, sosok gadis kecil yang cantik pun terpampang jelas di depan mataku. Ia berjalan pelan mendekati aku. "Kakak ngomong sama siapa?" tanyanya. "Ha? Kan sama kamu, ini," jawabku. "Bukan itu maksudku. Tadi, sebelum aku ngetuk pintu, kakak kayak ngomong sama seseorang," katanya. "Mana ada? Salah dengar mungkin," ucapku. Bola matanya terlihat bergerak liar dalam mengamati sesuatu yang ia rasa aneh di kamarku. Hingga kurasa dia menemukan keanehan itu pada ponsel yang aku pegang waktu itu. "Ooo ... Habis teleponan, ya. Sama pacar nih pasti," katanya. "Sok tahu banget, sih," sangkalku. "Cie, Kak Daniel udah punya pacar," godanya. "Sa, kamu mau apa?" tanyaku serius, sekaligus untuk mengalihkan pembicaraan itu. "Nggak mau apa-apa kok, Kak. Cuma mau permen kapas yang banyak," jawabnya. "Maksud kakak, kamu mau apa masuk ke kamar kakak. Apa ada hal yang penting?" tanyaku. "Oh, iya Kak, ada," jawabnya. "Apa?" tanyaku. "Genteng rumah bocor. Bapak nyuruh kakak buat benerin. Takutnya nanti kalau hujan, banjir rumah kita," katanya. "Itu doang?" tanyaku. "Iya." "Ya udah, kamu aja yang benerin genteng," kataku. "Eh, aku mana bisa. Lagian bapak nyuruhnya juga kakak yang benerin," katanya. "Hahaha ... Iya, nanti kakak benerin. Sekarang keluar dulu, sana! Kakak ngantuk, mau tidur," usirku. "Idih." "Udah, sana!" usirku lagi. "Bilang aja mau teleponan sama ceweknya lagi. Pakai alasan mau tidur. Hmm ... Mentang-mentang udah punya pacar," ucap adikku. "Keluar, Sa!" ucapku mencoba tetap sabar. "Iya, iya." Sungguh dia adalah gadis yang menyebalkan. Tapi meski begitu, dia tetap mau menuruti perintahku. Dia keluar dari kamarku. Tak lupa juga mengembalikan posisi pintu kamarku seperti semula. Maksudku, dia menutup pintu kamarku kembali. Akan tetapi, aku tak bisa dengan mudah percaya. Ketika pintu itu tertutup, aku tidak langsung melakukan aktivitas teleponan lagi dengan Shela, melainkan memeriksa terlebih dahulu apa adikku masih berada di depan pintu kamarku atau tidak. Pelan-pelan aku berjalan ke arah pintu. Aku yakin sekali dia masih berada di sana. Dan langsung kubuka pintu itu. Alhasil, dugaanku pun benar. Dia memposisikan telinganya menempel di pintu kamarku. Jadi, saat pintu itu kubuka, dia pun agak terkejut. "Hayo, ngapain?" tanyaku. "Oh, enggak Kak. Ini, tadi ada sesuatu di pintu kamar kakak," jawabnya berbohong. "Bohong dosa lho," kataku. "Enggak, Kak. Ya Allah," katanya. "Enggak apa?" tanyaku. "Enggak bohong," jawabnya. "Lalu?" "Apanya yang lalu?" tanyanya balik. "Lalu apa namanya kalau bukan bohong?" "Ya ... Pokoknya gak bohong," jawabnya. "Bohong dan menguping itu perbuatan yang gak baik lho, Sa. Bisa mendapatkan dosa. Kamu mau berdosa, dan nantinya masuk neraka?" tanyaku. "Ya enggak lah, Kak," jawabnya. "Ya makanya itu, kamu jangan bohong!" ucapku. "Emm ... Iya Kak. Aku ke kamar dulu, ya. Bye," ucapnya sambil bergerak secepat kilat untuk menjauh dariku. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah adik kecilku itu. Setelahnya segera kututup pintu dan kembali masuk ke kamarku. Entah kenapa ada sebuah keyakinan yang teramat besar bahwa Salsa tidak akan menguping lagi. Ya, aku tahu dia tipe orang yang mudah untuk menerima nasihat baik dan menjalankannya. Karena itulah aku percaya. Aku berniat untuk menghubungi Shela lagi. Pembicaraan antara aku dan dia tadi belum berakhir karena terganggu oleh kehadiran adikku secara tiba-tiba. Namun, baru saja aku ingin menelepon dia lagi, dia duluan yang meneleponku. Aku tersenyum sekaligus untuk ke sekian kalinya harus geleng-geleng kepala. Tak tahu apa itu kebetulan atau memang sudah disengaja. "Hahaha, aneh," ucapku ketika panggilan sudah terhubung. "Loh, apanya yang aneh, Niel?" tanyanya tak paham. "Lo, aneh," jawabku. "Eh, aneh gimana?" Dia masih bertanya. Dari bayanganku, saat itu dia sedang memasang wajah polos penuh tanda tanya. "Lo neleponnya pas banget deh momennya. Setelah urusan gue selesai, dan kebetulan banget Lo nelepon," ucapku. "Ooo ... Jadi aneh begitu. Hahaha ... Kirain apaan," katanya. "Emang tadi itu siapa? Kok kayak suara cewek," tanyanya kemudian. "Adik gue," jawabku. "Oh. Ada apa dengan adik lo?" tanyanya. "Nggak sih. Gak ada apa-apa. Dia cuma teriak-teriak, nyuruh gue benerin genteng yang bocor," jawabku. "Hahahaha." Dia tertawa. "Kenapa ketawa?" tanyaku. "Emm ... Nggak sih. Lucu aja gitu adik lo," jawabnya. "Semua orang juga bilang gitu, tapi aslinya nyebelin," kataku. "Nyebelin gimana?" tanyanya. "Hmm ... Nanti lah lo akan tahu sendiri," jawabku. "Oh ya, tentang yang tadi, gimana?" tanyaku kemudian. Maksudku adalah tentang percakapanku dengan dia yang sempat terputus. Jujur saja, aku agak penasaran dengan maksud perkataan terakhirnya itu. "Oh, yang salah paham itu?" tanyanya. "Iya lah," jawabku. "Hmm ... Jadi maksud gue, gue emang bangun jam segini, tapi bukan berarti gue tadi pagi belum bangun lho, ya. Gue tadi malam tidur jam 10, terus bangun jam 5. Lalu sholat subuh, bersihin kamar dan setelahnya belajar masak sama Bi Darmi. Terus gue sarapan. Setelah sarapan gue ke kamar main game sambil rebahan. Eh tahunya gue malam ketiduran. Hahaha," ucapnya panjang lebar. Seperti sedang mendengar curhatan kegiatan sehari-hari seseorang dari bangun sampai tidur kembali, tapi ucapan Shela yang panjang lebar itu mudah sekali untuk aku mengerti. "Belajar masak?" tanyaku. "Hehehe ... Iya," jawabnya. Aku senyum. "Emang belum bisa masak?" tanyaku lagi. "Ya kalau udah bisa, gue gak mungkin belajar masak dong, Niel," jawabnya. Aku manggut-manggut mengerti. "Lo tenang aja. Suatu saat, kalau gue udah pandai masak, gue akan sering buatin makanan untuk lo," katanya. "Eh, kenapa?" tanyaku. "Ya karena lo pacar gue. Emang gak boleh bikinin makanan buat pacar sendiri?" jawab sekaligus tanyanya. "Hmm ... Boleh sih, asal ...." Aku menggantung ucapanku. "Asal apa?" tanyanya. "Asal jangan keasinan aja," jawabku. Tak lupa kuselipkan tawa di setiap kata yang aku ucapkan. "Hehehe ... Tenang aja! Nggak akan keasinan kok," katanya. "Iya deh." Tiada lagi sikap dingin yang aku tunjukkan ke dia. Masa-masa itu, kalau sudah berurusan dengan dia, semuanya seperti berubah. Sikap dingin tak lagi aku pelihara. Apalagi tatapan kebencian seperti apa yang seringkali aku tunjukkan ke orang-orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD