Bab 37

1371 Words
"Oh, gitu? Kalau dia udah ngaku kayak gitu sih, gak masalah. Tinggal kamunya aja. Apa jangan-jangan malah kamu yang cinta sama dia," ucap Kak Soni. "Heh, tidak," jawabku. Jujur saat aku menjawab, bayang-bayang wajah Shela mendadak hadir. "Ya baguslah kalau gitu," katanya. Malam itu telah kudapat sebuah jawaban yang cukup masuk akal dari Kak Soni. Tentang hubungan dua insan berbeda jenis yang didasarkan pada persahabatan. Ternyata, menurut Kak Soni pun persahabatan antara lelaki dengan perempuan itu memang benar-benar ada. Tidak semuanya akan berakhir dengan percintaan. Tapi malam itu, bukan cuma tentang hal itu saja yang aku tanyakan. Akan tetapi ada satu hal lagi yang kupertanyakan ke seseorang yang telah aku anggap sebagai kakak kandungku itu. "Oh ya, sebenarnya ada satu lagi yang ingin aku tanyain, Kak," kataku. "Nah, apa?" tanyanya. "Ini tentang dunia percintaan. Misal ada lelaki yang dari segi harta kekayaannya tergolong tidak mampu, dan punya pasangan perempuan dari keluarga kaya raya. Tapi banyak orang yang menghujat hubungan mereka berdua. Apa yang harus dilakukan oleh keduanya itu, Kak?" tanyaku. "Ya nggak melakukan apa-apa. Biarin saja! Emang kenapa kalau mereka menghujat? Selama itu cinta, hujatan gak akan terasa. Lebih baik diam saja, dan jangan marah. Karena kalau marah, kita gak tahu ke depannya seperti apa. Bisa saja jadi kayak kakak ini. Hahaha," jawab Kak Soni dan diakhiri dengan tawa. "Kenapa Kak?" tanyaku. "Kenapa apanya?" tanyanya balik. "Kenapa masih bisa tertawa? Padahal seharusnya sedih dengan hukuman ini," jawabku. "Hahaha. Kenapa harus sedih? Ya dinikmati aja lah, Niel," kata Kak Soni. Ya itulah Kak Soni. Mirip denganku yang seringkali menyembunyikan luka agar aku sendiri yang merasakannya. Atau mungkin memang sifatku yang seperti itu adalah mencontoh ke sifat Kak Soni yang memang juga seperti itu. Tapi saat itu, aku mendadak teringat dengan kata-kata April yang diucapkan padaku melalui telepon pada beberapa hari sebelumnya. Dan entah kenapa aku jadi bisa membuat kata-kata yang mirip dengan kata-katanya untuk aku ucapkan ke Kak Soni. "Selalu ada tawa di balik derita. Aku tahu Kak Soni sedang menderita, tapi menutupinya dengan tawa. Iya kan?" "Hahaha ... Ya iya, sih. Mana ada orang yang suka hidup di sel tahanan, Niel?" "Hmmm ... Iya. Semoga saja hukuman Kak Soni diringankan. Misal besok sudah bebas, gitu," kataku. "Hahaha ... Biarpun itu tidak mungkin, tapi semoga aja, ya," ucap Kak Soni. Dia, lelaki aneh yang selamanya akan selalu kuanggap sebagai kakakku. Lahir dari rahim ibu yang berbeda, juga dari bapak yang berbeda, tapi rasanya, kami sudah seperti saudara kandung. Dia menderita di dalam sel tahanan, tapi dia selalu menutupi lukanya agar adiknya ini tak tahu bahwa ia sedang menderita. Dia pun bahkan tak pernah melupakan aku, adikku dan juga bapakku. Setiap aku ada masalah yang membuatku bingung, Kak Soni selalu bisa memberikan solusi yang menurutku cukup baik. Terlepas dari apakah aku akan menggunakan solusinya itu atau tidak setelahnya, tapi aku akui, apa yang ia sarankan ke aku benar-benar sangat membantu. Esok harinya adalah hari Minggu, dan di hari itu, terutama saat pagi hari adalah waktu yang sangat luang buatku. Aku sudah mempunyai rencana untuk bertemu Shela pada hari itu, tapi niatku harus digagalkan eh suara motor milik si Firman yang mengarah ke rumahku. Ya, Minggu itu dia datang ke rumahku tanpa aku undang dan tanpa sebuah perjanjian. Aku yang kebetulan sedang duduk di teras rumah pun memudahkan dia untuk langsung berkomunikasi denganku. "Woi, ikut gue yuk!" ajaknya. "Ke mana?" tanyaku. "Main PS. Sekali-kali," jawabnya. "Gak mau," jawabku tegas. Karena tentu aku sayang uangnya. "Gue yang bayarin," ucapnya kemudian. "Gas lah," ucapku. "Cih. Giliran gratis aja cepet," gumamnya. Aku tertawa. "Oke. Sebentar, gue izin bapak sama adik gue dulu," kataku. "Oh iya, sampai lupa. Bapak lo gimana keadaannya?" tanyanya. "Alhamdulillah, baik-baik saja," jawabku. "Alhamdulillah," katanya. Setelahnya tak ada percakapan apa-apa. Aku masuk, tapi dengan tanpa rasa berdosanya Firman juga ikut masuk ke rumahku. Aku ingat betul wajah menyebalkannya itu di saat aku menoleh ke belakang. Tapi aku cuma melihatnya saja. Walau bagaimanapun juga, posisiku saat itu adalah sebagai tuan rumah. Dan aku tentunya juga tahu bahwa seorang tamu harus dimuliakan. Tak mungkin jika aku melarangnya untuk ikut masuk. "Sa, bapak mana?" tanyaku ke Salsa yang sedang duduk di kursi ruang tamu sambil melakukan kegiatan rutinnya, yaitu menggambar. "Lagi ngasih makan ayam," jawabnya. "Oh." "Hei, Salsa," panggil Firman ke adikku. Adikku menoleh ke arah Firman. "Iya Kak?" "Makin cantik aja, kamu," pujinya. "Hehehe. Terima kasih, Kak," kata Salsa. Langsung kupukul lumayan keras punggungnya sebagai isyarat untuk dia menghentikan kegenitannya ke adikku. Bukannya apa-apa. Waktu itu aku merasa adikku masih cukup kecil untuk mendapatkan perlakuan seperti apa yang Firman lakukan. "Apa sih, Niel?" protesnya. Aku tak menjawab. Dan bersamaan dengan itu bapakku tiba-tiba datang, ikut berkumpul dengan kami bertiga di ruang tamu. "Eh, ada Firman. Niel, kok gak disuruh duduk?" ucap bapakku. "Eh, enggak usah, Pak. Terima kasih. Kita mau langsung aja kok," kata Firman dengan sopan santun. "Lah, mau ke mana?" tanya bapakku. "Mau main, Pak. Hehehe," jawab Firman. "Iya Pak," lanjutku. "Oh. Ya udah. Pulangnya jangan kesiangan, ya," ucap bapakku. Aku mengiyakan. Tanpa bertanya ke mana tempat tujuanku, bapak dengan begitu mudahnya mengiyakan. Dan itulah yang kusukai dari bapak. Dia seolah-olah sepenuhnya percaya ke aku bahwa aku tidak akan pergi ke tempat yang buruk. Dia juga seakan percaya ke aku bahwa aku selalu bisa menjaga diriku baik-baik. Selama bapak tahu aku pergi dengan siapa, sepertinya itu tidak menjadi masalah. Singkatnya, aku dan Firman pun mulai berangkat. Tentunya dengan naik motor milik si Firman, karena sejatinya memang dialah yang mengajak. Aku bersyukur, setidaknya motorku jadi tidak akan kehabisan bensin. Dan satu hal lagi. Bukan aku menganggap kalau Firman tidak ada teman sehingga dia sampai harus mengajakku. Aku tahu teman dia banyak. Hanya saja mungkin hari itu dia memang ingin bermain PS dengan rekan kerjanya yang satu ini. Jujur saja, aku senang. Hal yang tak pernah aku dapatkan selama bertahun-tahun, kembali bisa aku dapatkan dari diri seorang Firman. Ya biarpun bisa dibilang usia kami terpaut lumayan jauh, setidaknya dia masih bisa kuanggap sebagai temanku, bukan kakakku. "Adik lo tambah cantik aja, Niel," katanya sewaktu di atas motor. "Emang dari dulu dia cantik," ucapku. "Kalau daftar jadi adik ipar lo, boleh dong gue," katanya. "Mau gue bunuh?" tanyaku kejam. "Wih, santai Bos," katanya. "Ya makanya jangan goda-godain adik gue. Dia masih kecil. Belum saatnya," kataku. "Baiklah calon kakak ipar," katanya. "Oke. Lo masih beruntung sekarang," kataku. "Lah. Apanya yang beruntung?" tanyanya. "Kalau gue bunuh lo sekarang, gue mungkin juga akan ikut tewas," jawabku. "Hahaha ... Iya juga, ya." Anggap saja itu sebagai canda dua sahabat. Tidak mungkin juga aku benar-benar akan membunuh Firman kalau sampai dia jatuh cinta dengan adikku secara sungguh-sungguh. Paling tidak, aku hanya tidak menyetujuinya saja. Bukannya apa-apa. Umurku dengan umur Firman saja sudah terpaut cukup jauh, apalagi dengan adikku. Eh, entah juga, sih. Sebenarnya malah lebih bagusnya begitu. Tapi apapun itu, aku sadar kalau saat itu adikku masih sangat kecil. Dia masihlah seorang gadis yang baru masuki masa pubertas. Dan di masa-masa itulah aku sebagai kakak diharuskan untuk lebih ekstra dalam menjaganya. Termasuk menjaganya dari kata-kata pujian yang Firman lontarkan ke dia. Aku tahu bahwa seorang perempuan pasti akan terbang karena sebuah pujian. Dan aku tidak mau adikku juga sampai seperti itu. "Nah, ini tempatnya," ucapnya ketika kami sudah sampai di depan sebuah bangunan sederhana yang kutahu adalah tempat rental PS. "Ngomong-ngomong, lo bisa main PS gak?" tanyanya kemudian. "Cih, meremehkan," ucapku. "Gue nanya, Niel," katanya. "Hahaha, ya bisa lah," ucapku. "Oh ya udah." Setelah itu, kami pun masuk. Ternyata suasana di dalam memang cukup ramai. Wajar saja. Hari itu adalah hari Minggu. Para pelajar ataupun pekerja kantoran tentu saja libur. Dan untuk melepas penat setelah 6 hari sebelumnya bekerja ekstra, di hari Minggu itupun mereka memanfaatkan waktu liburnya untuk bermain PS. Kami memilih tempat yang menurut kami paling nyaman. Lalu setelah itu, tinggal kesenangan lah yang tercipta. Tak begitu lama, hanya dua jam, tapi itu sudah memberikan kenangan yang sangat berarti bagiku. Ejekan demi ejekan yang keluar dari mulut kami berdua, dan tak lupa juga kami membahas hal yang penting sembari bermain PS. "Andai saja Tiara suka main PS. Pasti udah gue ajak tuh dia. Jadi gue bisa main PS sambil rangkul-rangkul dia. Hahaha. Lo juga. Lo bisa ajak si Shela buat main PS sama lo. Kan lumayan tuh. Hehehe," ucap Firman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD