bc

Devil Under Our Feet

book_age16+
51
FOLLOW
1K
READ
adventure
dark
twisted
demon
male lead
multi-character
realistic earth
supernature earth
supernatural
special ability
like
intro-logo
Blurb

Dark Fantasy

•TAMAT•

Saat kau tau ada makhluk lain yang tinggal di bawah kakimu, saat itu juga kau tidak akan aman. Mereka tidak terlihat, tapi mereka bisa melihatmu. Kau tak bisa melawan mereka, tapi mereka bebas melakukan apa pun.

Peringatan! Jika langit sudah gelap, jangan pernah melangkah keluar dari batas. Kau tidak mau iblis di bawah sana merasukimu, kan?

chap-preview
Free preview
•Yuuma Hiroto•
•1822, Yokohama, Japan• Puk! Seorang pria paruh baya menghela napas setelah membunuh nyamuk yang hinggap di pipinya. “Mau sampai kapan kita disuruh menunggu begini? Ya ampun ....” “Ya, mau bagaimana lagi, tuan Furuya terus tersiksa karena Nyonya membenci keberadaan sake di rumah. Makanya dia minum di luar,” balas pria sebayanya yang ikut berdiri di pintu masuk kedai minum. “Aku sendiri tidak masalah tuan minum-minum, tapi kalau nyonya sampai tau suaminya minum bersama wanita-wanita itu, tuan Furuya bakal tamat! Kita juga!” tekan temannya dengan suara pelan saat mengucapkan kalimat terakhir. Walau cemas, mereka masih menunggu di luar, ditemani lentera kertas dengan sinarnya yang pelit dan tombak di lengan. Suara nyamuk kembali mengusik. Tak heran, sekarang malam musim panas, musim nyamuk berburu tanpa takut kedinginan. Mata si pengawal dengan rambut yang dikepal berotasi mengikuti si serangga menjengkelkan. Nyamuk itu kemudian mendarat di dahinya yang lebar. Sambil menahan napas, dia mengangkat tangan perlahan. Pak! “Aa! Eh? Gak kena?” Suara nyamuk tadi masih berdenging. Temannya—si pengawal berkuncir rendah—menyenderkan tombak di tembok kayu kedai, lalu fokus mengincar nyamuk. Si pengawal berkepal ikut-ikutan mengangkat tangan. Saat kedua tangan mereka saling bertepuk, mendadak tanah bergetar pelan dan segera berhenti. Mereka berdua bergeming. “Kau merasakannya?” “Merasakan apa?” sahut si kepal dengan mata membulat. “Getaran! Barusan!” Si kepal mengerut dahi, menatap kakinya dengan bingung. “Baik-baik saja, tuh.” Getaran besar seketika berlangsung dari bawah kaki kedua pengawal. Lentera kertas gantung bergoyang hebat di gantungan, yang sebelahnya jatuh dan kertasnya terbakar lilin di dalamnya. Kedua pengawal berusaha menyeimbangkan tubuh, tapi gempa itu terlalu hebat. Tanah yang mereka injak retak, tanpa memberi kesempatan, tanah dan kedua pengawal longsor ke bawah. Getaran tidak reda, tanah yang jatuh ke dalam semakin meluas, meruntuhkan pintu utama kedai dan jalan setapak utama. Tuan Furuya yang tertawa jenaka di pangkuan wanita bayaran bermake up tebal terheran saat getaran terasa di ruangan yang dia sewa. Dengan terhuyung dia berusaha duduk. “Haa? Ada apa?” Empat wanita penghibur dengan kimono yang terbuka di bagian bahu menjerit panik saat lantai tatami ambruk ke bawaqh disusul separuh bagian depan ruangan. Tuan Furuya kaget, segera berdiri. Karena mabuk dan gempa, dia berjalan terhuyung ke arah lubang dan jatuh ke dalam. “Furuya-sama!” teriak para wanita bayaran itu. Tuan Furuya mengerang kesakitan karena tubuh gempalnya mendarat di atas puing-puing kerangka pintu kertas. “Siapa yang berani berbuat kekacauan di wilayahku?” bentaknya entah pada siapa. “Furuya-samaaaaa!” Teriakan dari atas terdengar bergaung dan jauh. Tuan Furuya mengadahkan kepala ke atas. “Cepat panggil pengawal di luar dan tarik aku ke atas.” “Baik, Furuya-sama!” Lilin lentera yang membakar tatami membuat penerangan darurat di dalam lubang dalam itu. Masih dalam pengaruh alkohol, dia berjalan melihat sekitar. Ditemukan dua pengawal yang dia maksud tadi. Si pengawal berkuncir kepalanya terjebak di bawah puing-puing beton dan sudah pasti tak bisa diselamatkan. Sedangkan yang satu lagi tangannya tertimpa tatami empuk. “Sebenarnya apa yang terjadi?” Tuan Furuya merasakan keberadaan lain selain dirinya dan dua pengawalnya di lubang itu. Sebagai orang yang pernah mempelajari bela diri, dia sudah akrab dengan hawa yang mengoarkan emosi negatif seperti yang dia rasakan sekarang. Namun, secepat apa pun dia menggeser mata, dia tak dapat melihat sosok yang dimaksud. Di mana dia? Hawanya terasa sangat mencekam tapi tidak mungkin dia bisa menyembunyikan diri sebagus ini dariku. “Tunjukkan dirimu! Aku tau kau ada di sini!” Dua orang wanita berkimono yang masih ada di ruangan bertanya. “Ada apa, Furuya-sama? Anda jangan bergerak jauh-jauh,” tuturnya khawatir. Tanpa tuan Furuya suruh pun sosok itu memang sudah ada di dekatnya. Sosok transparan dengan hawa pembunuh. Leher petinggi desa itu dicekik seraya diangkat sampai dia tak menapak. Lengan gempalnya berhasil menyentuh udara padat di depan lehernya. Tidak mungkin, kenapa ada manusia yang tidak berwujud? Dua wanita yang menyaksikan teriak, menjauh dari tepi lubang dengan saling memeluk. “Siapa kau?” tanyanya dengan parau, berusaha memasok udara. “Aku?” Suara itu berbayang, seperti suara orang licik dan geraman serigala yang berucap bersamaan. “Yang pasti bukan manusia.” Suara keretak tulang belakang leher berbunyi bersamaan dengan napas terakhir tuan Furuya. Asap yang keluar dari mulut petinggi itu diseruput sosok transparan. Begitu pun dengan seorang pengawal yang hanya tertindih tatami tadi. Tubuh kaku tuan Furuya membiru, sosok transparan itu melepas tangannya, membiarkan jasad itu jatuh. Dia mengekeh jahat. “SIAPA SANGKA ADA MAKHLUK LAIN HIDUP DI ATAS DUNIAKU?” Berkat mengonsumsi roh manusia, sosoknya mulai agak nampak. Sosok itu memang berwujud manusia, tapi dia tak punya kontrol mata seperti orang normal. Matanya berotasi ke belakang, melihat bagian dalam kepalanya lalu kembali berputar ke depan. “Waah, bahkan tubuhku terasa sangat berat dan penuh. Inikah, manusia?” Dia tertawa lepas, mengangkat kedua tangan di udara dengan sorai gembira. “Haloo, tetangga! Aku akan mampir dan menyeruput roh kalian!” Seorang wanita dengan kimono keunguan pingsan setelah menyaksikan keanehan itu. “Hey, bertahanlah!” seru temannya. Temannya itu juga tercekik. Matanya membulat ketika bertatapan dengan mata penghuni bawah tanah. Aku tidak mau mati! Maki wanita itu sambil mencakar tangan lawannya. Sayang, jiwanya ikut terisap dengan cepat. •2022, Tokyo, Japan• Laki-laki SMA bersurai hitam legam dengan poni yang lurus di atas mata menggeser pintu sebuah kamar di rumah sakit bernomor 33. Dia menaruh tas sekolahnya di sebelah seraya duduk di bangku tanpa sandaran punggung, matanya menatap kelabu si Kakak yang terbaring damai di atas ranjang. “Halo, Aniki (Kakak laki-laki). Maaf, aku baru menjenguk sekarang.” Laki-laki yang lebih tua dua tahun darinya itu bernapas dengan tenang, seperti sedang menikmati mimpi indahnya selama satu tahun dan menolak bangun. “Sekarang tanggal tiga bulan Mei, tahun dua ribu dua puluh dua. Sudah sebulan aku jadi anak SMA di sekolah yang sama denganmu. Para Senpai (Kakak kelas) yang tau aku adikmu terus menanyai keadaanmu sekarang. Ya ampun, aku tak menyangka bakal ada sebanyak itu yang bertanya. Ketua OSIS memang hebat, ya,” cibir Hiroto di akhir pada Kakaknya. Hiroto melirik mata Kakaknya yang tidak terbuka juga. “Cepatlah bangun dan ucapkan selamat kelulusan padaku, Kakak b**o. Aku gak masalah kau mau menyalahkanku atas kondisimu sekarang ....” Hiroto menunduk kelabu. “Memang karena diriku kau jadi begini.” Pintu kamar bergeser, mengageti Hiroto. Seorang perawat masuk dengan vas bunga di tangan yang satunya. “Ara, adiknya Yuuma Jun-san, kan, ya?” Hiroto bergegas mengambil tasnya, kemudian keluar dari kamar. “S-saya pamit! Permisi!” Perawat itu membelalak, kemudian terkekeh. Dia menaruh vas bunga yang airnya baru saja di ganti di ambang jendela. “Kau punya adik pemalu ternyata, Yuuma-san,” ujarnya pada Kakak Hiroto. Di dalam bus, di jalan pulang, Hiroto menangkap layar LED pada bangunan Mall yang menampilkan berita hangat terkini. ‘Prajurit termuda di Akibara Guild—Hayashi Kazan, kembali menorehkan prestasi. Dia berhasil mengamankan wilayah pemukiman di Chiba dari serangan empat sosok Iblis. Diduga Iblis tersebut muncul dari ....’ “Prajurit termuda, kah?” gumamnya pelan dengan kepala bersandar di kaca bus. Dia teringat akan ucapan kakaknya yang juga mengejar karier sebagai prajurit pemburu iblis di Akibara Guild—perusahaan penyedia jasa pemberantas iblis tertua dan terbesar di Jepang. Saat itu Hiroto yang tak menganggap serius ucapan Jun membalasnya remeh. “Mana bisa, mereka pasti merekrut om-om dengan skill bertarung yang mumpuni. Bukan pemuda yang mengibaskan pedang seperti mengibaskan raket nyamuk. Kau bahkan tak bisa melihat iblis.” Layar LED menunjukkan pemuda bersurai Indigo gelap berpostur tinggi tegap dan cukup berotot sedang memasuki bangunan Akibara Guild. “Aniki, ada orang yang menyelakmu, tuh. Cepatlah bangun kalau kau ingin jadi prajurit juga,” katanya. Hiroto sampai di rumah setengah jam kemudian. Baru hendak membuka pintu, dia mendengar suara benda pecah dari dalam. Segera dia masuk, mencari barang tersebut. Rumahnya berada di lantai satu rumah susun tingkat tiga. Rumah serba putih itu luasnya cukup tuk menampung lima orang anggota keluarga dengan dua kamar terpisah. Perabotan di dalam kebanyakan perabotan lama yang diturunkan dari orang tua Ayah dan Ibu. Laki-laki bersurai hitam legam itu mendapati Ayahnya yang sedang memunguti pecahan piring keramik di samping meja makan. “Ooh, Hiroto? Okaeri (selamat datang),” kata Ayahnya yang tersenyum konyol. Hiroto menarik napas lega. “Ya ampun, ada yang pecah lagi?” Dia langsung meraih sarung tangan karet yang terkulai di keran bak cuci piring, lalu ikut memunguti pecahan piring di lantai kayu. “Hati-hati, dong.” Ayahnya tertawa, kepalanya terbentur bangku di meja makan saat hendak berdiri. “Adudududuh!” “Ayah!” Pria berusia empat puluh itu tertawa lagi. Hiroto mengerjap. “Loh, bukannya Ayah harusnya bekerja sekarang?” “Aah, Ayah dipecat karena menumpahkan beton basah ke badan bos dari atas ....” Si Ayah sontak mengacungkan jempol. “Tapi tenang saja, Hiroto! Ayah bakal cari kerja lagi!” Masalahnya bukan di situ, Ayah. Batin Hiroto miris. “Walaupun begitu, Ayah jangan pernah cuci piring lagi. Aku gak mau makan dengan nasi di dalam gelas nanti.” “Kalau gitu, Ayah bakal masak—“ “Eng-gak.” “Ayah bantu jemur—“ “Gak. Pokoknya Ayah cari kerja aja, urusan rumah biar Hiroto yang kerjakan,” tegas laki-laki enam belas tahun itu seraya memasukkan pecahan piring ke plastik hitam terpisah. “Itu kan kesepakatan kita.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.0K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.7K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook