“Hayashi Kazan ...,” ucap Hiroto tanpa formalitas.
“Hey, dia—“
“Tak perlu kaku-kaku begitu. Aku rasa kami seumuran.” Suara laki-laki itu terdengar datar, tidak bernada, bahkan terdengar tanpa emosi. “Bagaimana keadaanmu?”
“Baik.”
“Bukankah kau sudah paham dan sudah diajarkan untuk memakai jimat ke manapun kau pergi?” Kali ini dia terdengar menyalahkan. “Ke mana benda itu?”
Hiroto paham kalau itu kelalaian dia juga, walau si Kakek lebih patut di salahkan. “Sepertinya jatuh di suatu tempat ....”
“Kau harus waspada. Banyak iblis yang mengincar kembali mangsanya yang kabur. Jaga jiwamu kalau kau masih ingin hidup.” Laki-laki dengan potongan rambut undercut dan poni terbelah di sisi kanan itu beranjak pergi.
Ayah Hiroto menunduk hormat. “Terima kasih banyak.”
Hiroto memukul punggung Ayahnya. “Ayah, tak perlu sehormat itu.”
“Dia orang paling berjasa di Jepang, Hiroto. Mereka setara dengan pahlawan! Kita mesti menghormati mereka.”
Hiroto mendecak tak suka. “Pahlawan apanya. Dia baru saja bergabung. Kalau ada pemimpin Akibara atau prajurit legendaris mereka, wajar dihormati.”
Si Ayah mengerut dahi. “Kenapa kau terdengar seperti tidak suka dengannya?”
“Memang. Ayah tidak dengar caranya bicara barusan? Dia seperti arwah gentayangan, omongannya kosong seperti kabut. Bahkan, saat bicara sama Ayah, dia sama sekali tidak bersopan santun.”
Karena ucapan putranya sudah keterlaluan, dia mencubit hidung Hiroto. “Dia sudah menolongmu. Lagi pula, Ayah setuju dengannya. Di mana jimat yang biasa kau jadikan gelang itu?”
“Aaarg! Itu gara-gara Kakek! Dia mengetesku dengan melempar belati lalu belati itu memotong tali jimatnya!”
Ayah menghempas napas panjang. “Ya sudah, intinya kamu selamat dan baik-baik saja. Ya ampun, Hiroto, Ayah hampir mati berdiri pas melihat luka di kepalamu,” lirih Takahiro—Ayah Hiroto—sambil menangkup sisi wajah putranya.
Hiroto mendadak mengingat Ibunya, dia menunduk lalu bergumam, “Gomen (Maaf), aku akan berhati-hati lain kali.”
“Mmm. Sekarang gimana perasaanmu? Kepalanya masih sakit?”
“Iya. Aku akan berendam dulu baru tidur.”
Masyarakat Jepang memang terbiasa berendam air panas sebelum tidur. Biasanya mereka berendam dengan air panas bercampur bubuk mandi atau tanpa campuran apa pun.
Laki-laki bersurai hitam itu menyisir poninya yang basah ke belakang, lalu merebahkan diri di punggung bathub kayu yang agak sempit dan menjulurkan kakinya ke luar agar tubuh atasnya terendam.
Dia meringis saat air panas mengenai lukanya. “Aaaah, aku lupa kalau ada luka di sana. Biarlah, nanti tinggal di ganti.”
Manik gelapnya mengerling ke kaki kiri. “Yang tadi itu ... cuma salah lihat, kan, ya? Masa’ kakiku bisa begitu? Menjijikan sekali ....”
‘Menjijikan? Hah! Aku tersinggung!’
Hiroto membelalak, menoleh ke arah pintu kamar mandi. Suara siapa barusan? Batinnya menerka sambil was-was.
“Ayah?” panggilnya pelan sekedar mengecek. Tak ada jawaban. Lebih tepatnya, tidak ada siapa-siapa di luar pintu kamar mandi.
Hiroto bergidik ngeri, dia tertawa canggung. “Kayaknya aku kecapean, ya, aku pasti kelelahan karena syok.” Dia bergegas bangkit, memakai handuk panjang yang menutupi pusar sampai ujung bokongnya. “Aku kelelahan, aku kelelahan ....”
Ayahnya yang duduk menonton televisi mengerjap pada Hiroto—dalam balutan baju tidur bekas Jun—yang masih tertawa dengan terpaksa. “Cepat sekali berendamnya ....”
Hiroto masuk ke kamar, menutup pintu, menguncinya rapat, lalu melompat ke kasur dan langsung menyelimuti dirinya dari kaki sampai ujung kepala. “Aku hanya sedang kelelahan. Kelelahan membuat otakmu macet dan memikirkan hal bodoh. Ya, benar begitu,” rapalnya pada diri sendiri.
Keesokan harinya, pagi datang. Hiroto menarik selimutnya ke bawah. Dia tidak bisa tidur semalaman, alhasil matanya agak merah dan wajahnya lelah.
Dia mematikan alarm di Hapenya. Sudah jam enam lewat enam dan ini hari selasa. Waktunya untuk sekolah.
Selesai memakai gakuran—seragam siswa berwarna hitam dengan kerah persegi dan lima kancing emas, dia membuat sarapan. Kakeknya baru saja keluar dari kamar. “Bagaimana lukamu?”
Hiroto yang sedang mengoseng nasi goreng dengan sewot membalas. “Sudah baikan.”
Kakeknya menghela napas dengan kasar, duduk di meja makan. “Lagian, kenapa pergi tanpa membawa jimat,” cibirnya.
Dia pikir karena siapa aku pulang tanpa jimat? Batinnya geram.
Si Ayah baru saja kembali dari luar setelah membeli koran. “Ayah, Hiroto, selamat pagi.”
“Pagi, Ayah.”
“Hmmm,” balas si Kakek yang malas melihat menantunya.
Takahiro duduk di seberang Kakek. Walau sudah lama menjadi menantunya, pria itu tetap canggung. Apalagi, kakeknya adalah orang yang dulu pernah menolak Takahiro sebagai suami putrinya. Dan sepertinya, sampai sekarang si kakek masih tidak menganggapnya sebagai menantu.
Di saat seperti ini, Ai—mendiang Ibu Hiroto—yang jadi penengah. Ibunya selalu mengajak kakeknya dalam pembicaraan keluarga mereka dan mendukung Takahiro tuk lebih terbiasa dengan si Ayah mertua.
Hiroto menaruh dua piring di depan mereka. Kakeknya menatap Hiroto yang hendak menyuap dengan tajam.
“Apa, sih, Kek? Nasi gorengnya kurang?” tanya Hiroto mulai kembali jengkel.
“Kamu terlihat agak berbeda.”
“Haaa? Kakek semalam mabuk, ya?”
“Iya, Ayah juga merasa begitu,” tutur Takahiro.
“Semalam aku tidak tidur jadi mukaku begini,” jelasnya.
Berhubung sekolahnya dekat, dia tak perlu terburu-buru berangkat, apalagi sekolah mulai jam setengah delapan. Walau gerbang utama sudah tertutup di jam tujuh pas, Hiroto bisa memanjat tembok di dekat toilet yang berdekatan dengan dinding pembatas area sekolah dan masuk lewat pintu belakang bangunan yang mengarah ke lapangan.
Sejak dia masuk bangunan sekolah, anehnya banyak murid lain menatapnya lekat. Hiroto mencium dirinya sendiri. “Apa aku bau nasi goreng?”
Dia menggeser pintu. “Ohayooou (pagiiii)!”
“Oou, Hiro ... to?” seru ketua kelasnya, Matsu. Laki-laki bersurai orange itu mengerjap menatap punggung Hiroto pergi ke tempatnya duduk. “Hei, apa cuma aku yang merasa kalau Hiroto keliatan lebih ... garang?” bisiknya ke lawan main gamenya yang duduk di belakang.
Temannya—Kenma—melirik sebentar ke Hiroto, kemudian melirik kedua kalinya dengan mata membulat. “Mungkin dia bakal pergi ke acara kondangan teman Ayahnya nanti.”
“Kau sendiri, memangnya bakal mau ikut kalau kondangan?”
“Males banget.”
Hiroto menatap refleksi yang cukup terlihat dari jendela kelas di sampingnya. Dia membulatkan mata, memegang rambutnya sendiri yang tersisir ke belakang dengan sedikit helai yang tertinggal di depan, mirip rambut Superman. “Perasaan aku tidak menatanya ....”
Dia mengacak-acak rambutnya, memaksanya kembali turun, tapi surai hitam miliknya seperti tak setuju dan kembali tersisir ke belakang. “Loh, kok begini?”
“Hiroto, kupikir aku salah lihat, ternyata benar kau berdandan.” Laki-laki dengan surai berwarna Hazel bermodel mullet duduk di bangku kosong di depannya, kancing seragamnya dibuka dan dibiarkan menunjukkan kaos merah di baliknya. Dia menunjukkan senyum miring. “Mau ke mana habis pulang sekolah?”
Hiroto duduk dengan wajah jengkel. “Rambutku aneh, bukan aku yang merapikannya tapi sudah begini.”
“Telingamu juga agak aneh,” lontar laki-laki itu—namanya Fuyukichi Masao.
“Hah?” Hiroto kembali menatap dirinya di jendela. Samar, tapi memang ujung atas telinganya menjadi agak runcing. Mendadak terlintas ingatan soal tanda di kakinya. Seketika tangan laki-laki bersurai hitam itu menarik celana hitamnya ke atas, membuka bagian betis, lalu dia berseru tertahan melihat retakan di kakinya semakin naik dan sudah melewati lutut.
Masao mengintip dari depan, ikut melihat ke bawah. “Lihat apa yang terjadi pada kakiku, Masao!” bisik Hiroto tak percaya.
“Apa yang terjadi? Kakimu baik-baik saja.”
“Hah?”
“Ohayooou, Hiroto—uwah, rapih sekali hari ini. Mau kencan dengan Hiyori ya?” tanya teman Hiroto yang lain bernama Kazuya Eiji. Rambutnya agak bergelombang sehingga dia terlihat manis terlepas dari badannya yang lebih tinggi dan besar dari Hiroto dan Masao. Berbeda dari Masao dan Hiroto, Eiji memakai baju olahraga sekolah yang berwarna biru langit dengan bordiran nama sekolah berwarna putih di punggung.
“Eiji, lihat kakiku.”
Eiji berjongkok di depan kolong meja Hiroto, menatap kaki kiri temannya. Dahinya mengerut. “Kenapa? Kakimu terlihat baik-baik aja.”
Cuma aku yang bisa melihatnya? Kenapa? Dan juga, ini apa? Batin Hiroto yang digelayuti rasa penasaran sekaligus ngeri.
“Kau aneh sekali hari ini. Kau yakin kondisimu fit?” tanya Eiji sambil berdiri.
“Setuju. Dia bilang rambutnya terbentuk sendiri dan bukan dia yang menatanya tadi. Kau pikir rambutmu rambut Medusa?” sambung Masao.
Hiroto mendecak jengkel, melipat tangan di d**a. “Sungguh! Argh, ini membuatku takut. Apa mungkin gara-gara iblis tadi malam?”
“Iblis?” ulang Masao dengan membelalak. Seketika beberapa siswa kelas 1-b menoleh ke mereka bertiga dengan wajah kaku.
“Pelankan suaramu, bodoh,” lirih Hiroto sambil menarik belakang leher Masao untuk mendekat. “Sebenarnya semalam aku nyaris dibawa Iblis ke lubang—“
“Dibawa Iblis ke lubang—“ Masao dan Hiroto langsung bangkit, memaksa cowok tinggi itu menunduk lalu membungkam mulutnya yang berisik.
“Sudah kubilang jangan keras-keras!” tekan Hiroto. Eiji mengangguk.
“Walaupun begitu, aku selamat berkat pemburu,” lanjut Hiroto melepaskan bekapan di Eiji dan kembali duduk.
Masao langsung antusias. “Uwah, pemburu dari mana yang menolongmu? Apa dia terkenal?”
“Ya. Dari AG—Akibara Guild—, namanya Hayashi Kazan,” balas Hiroto malas.
Eiji menganga mendengar nama yang disebut, begitupun Masao. “K-ka-kau minta tanda tangannya tidak?” seru cowok dengan rambut bergelombang pendek itu.
“Untuk apa?”
“Untuk apa?” ulang Masao mengangguk dengan wajah mulai jengkel. “Dia pahlawan, wajar kalau kita kagum dan menginginkan tanda tangannya.”
Alis Hiroto menukik ke bawah. “Aku tidak kagum, tuh.”
“Tapi kami berdua iya.”
“Wakano-sensei datang!” Mendengar kata itu Eiji dan Masao bangkit, mengibrit kembali ke kelas.
“Kagum? Hah! Kenapa? Karena dia prajurit termuda di AG?” gumam Hiroto.
Tapi kenapa aku sebenci ini padanya? Mungkin benar kalau aku aneh hari ini.