Malamnya, lewat dari jam enam, ketiga remaja itu pergi dari markas ke rumah sakit Universitas Tokyo dengan berjalan. Kali ini Hiyori membawa panah yang mirip dengan milik Akio, tapi dengan mata pisau yang tajam. Hiroto menatap kagum ujung belakang panah yang mencuat dari tabung kayu di sisi pinggang perempuan itu. “Rasanya seperti kita mau memburu rusa,” kekehnya. Chiyo menggaruk kecil wajahnya seraya tersenyum kaku. “M-mungkin Enma bakal mengamuk lagi, jadi aku siap-siap. B-bukan berarti aku tidak percaya—“ “Tidak apa-apa, senpai. Justru bagus kalau penuh antisipasi begitu,” kata Hiroto. “Aku juga tidak akan membiarkan iblis ini melukai siapa pun lagi.” Ada jeda sebentar saat mereka melewati pertigaan, melihat sesosok iblis tipe satu yang langsung Kazan hadapi dengan jimat dan guci. “

