Rumah kaca itu beserta ribuan mawar kuning yang bermekaran di dalamnya, telah menjadi saksi dari dua jiwa yang tengah saling mendekap, lebih dalam dari sebelumnya. Dominic memeluk Aveline dari belakang, tubuh mereka masih menyatu dalam kehangatan yang belum sepenuhnya reda. Jemarinya menyusuri lengan ramping berkulit halus gadis itu lalu berhenti di perutnya, seolah ingin memastikan bahwa gadis ini sungguh-sungguh nyata, dan bukan hanya bunga dalam mimpi panjangnya. Aveline tertawa kecil saat pria itu kemudian mengecup tengkuk lembutnya hingga berulang kali, seperti tak puas-puas mencicipi aroma manis dari kulitnya yang hangat. “Kamu clingy sekali pagi ini…” guman Aveline, yang masih setengah mengantuk dan manik birunya yang mengerjap malas. Dominic pun menarik tubuh Aveline lebih de

