Sore di rumah kaca itu terasa seperti mimpi yang dirangkai dari kelembutan serta cahaya keemasan. Di antara ribuan bunga mawar kuning yang bermekaran, Aveline dan Dominic duduk berdua di atas sofa panjang yang disediakan di tengah ruangan. Suasananya hangat, teduh, dan harum. Aveline bersandar di d**a Dominic, mendengarkan detak jantung pria itu seperti sebuah lagu klasik yang menenangkan. Manik birunya menyusuri perlahan setiap mawar yang terhampar di sekelilingnya. “Aku suka sekali warna kuning ini…” gumannya. “Tapi kenapa, Dominic? Kenapa kamu memilih mawar kuning dari semua warna bunga yang ada?” Dominic menundukkan wajahnya untuk mencium pucuk kepala Aveline sebelum menjawab pelan, “Karena warna kuning adalah simbol dari harapan.” Ia menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan

