57. Harapan dan Kenangan

903 Words

Mentari sore di Portofino mengintip malu dari balik pucuk-pucuk pohon pinus, menyelimuti udara dengan cahaya keemasan yang lembut. Sepulangnya dari shopping santai yang malah berakhir kacau, Dominic akhirnya mengajak Aveline pergi berkuda untuk menebusnya. Saat ini Aveline berdiri di depan istal, mengenakan celana krem lembut, blus putih longgar, dan sepatu berkuda dari kulit terbaik yang baru saja dikirim Dominic dari Florence. Ia mengepang longgar rambut pirangnya ke samping, menyisakan helai-helai lembut membingkai wajahnya yang bersih dan cantik. Di hadapannya, seekor kuda Andalusia berwarna abu keperakan yang gagah sudah disiapkan. Namun wajah Aveline masih menyiratkan protes. "Aku ingin naik kuda sendiri. Aku pasti bisa kalau diajarkan caranya," protes gadis itu seraya menatap

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD