BAB 15

3686 Words
(Chiara Aylin) Padahal aku berusaha untuk menghindarinya. Namun, sekarang aku malah berakhir di gendongannya. Aku hanya terkena smash bola voli namun wajahnya sepanik ini. Yang aku rasakan tadi pun hanya pening sesaat karena kaget dengan benturan bola secara tiba-tiba. Gak akan membekas apapun. Cuma malunya aja yang lebih gede. Mana ada sih yang gak malu ketika dia lagi berdiri di pinggir lapang terus tiba-tiba kebentur bola. Kak Farran menurunkanku dengan hati-hati di atas ranjang UKS. “Dia kenapa kak?” tanya anggota PMR yang lagi piket di jam istirahat. Dia kayanya anak kelas 10 atau kelas 11. Entah siapa namanya, dia manggil Kak Farran dengan Kak juga. Aku mendecih, bukan karena aku merasa menjadi orang satu-satunya yang berhal manggil dia denan Kak Farra, tapi karena anak PMR ini lebih cantik dan lebih langsing. “Kena bola voli.” Kalau saja Kak Farran tahu apa yang ada di dalam kepalaku saat ini dia pasti akan nasehatin panjang lebar. Dia paling gak suka kalau aku membanding-bandingkan diriku dengan orang lain. Katanya dimatanya gak ada yang lebih cantik dari aku. Tapi ya mau gimana lagi, perempuan kan gak lepas dari komentar tentang fisik selama hidupnya. Saat ghibah dengan Haru pun kadang dia membicarakan tentang fisik. Belum lagi tetangga, kerabat, dan teman lama yang ketemu setelah sekian lama pasti yang dibilang pertama kali. Wah… makin cantik ya. Sekarang tinggi ya, udah kaya model. Kamu suka nyalon dimana, rambut kamu bagus. Belum lagi saran-saran yang tak lepas dari fisik juga. Kaya… Kayanya lo cocok kalau pake baju ini, badan lo cocok. Coba deh kamu pasang behel, pasti senyumnya lebih cantik. Nanti warnain rambut ya, biar wajah kamu kelihatan lebih fresh. Itu dunia perempuan yang menghantui aku juga. Kak Farran barangkali faham karena dia juga punya kakak perempuan. Tapi, berusaha faham gak sama artinya dengan dia jadi perempuan. Dunia perempuan itu rumit. Aku pernah sekali bicara begitu padanya. Dan Kak Farran bilang kalau perempuan suka memperumit dunianya sendiri. Padahal cantik, tapi selalu bilang ke diri sendirinya jelek. Tapi beneran, sosok cewek anak PMR ini punya wajah yang sangat cantik. Aku gak tahu siapa namanya, tapi berkali-kali ketika dia lewat berhasil menarik perhatian anak cowok di kelas. Dan dengan wajah bidadari ini dia masih kegatelan sama Kak Farran. Cihhh… Aku mendengus. Namun, tak ada yang sadar satu orang pun. Cewek itu menganggguk-angguk. “Wah… merah banget itu dahinya.” Katanya sambil menatapku ngeri. Lebay banget padahal aku cuma kena bola. Wajar aja merah kan baru beberapa saat lalu. Nanti juga hilang merahnya. Cewek ini kelihatan jelas sekali lagi berusaha menarik perhatian Kak Farran. Pura-pura amat simpati dengan keadaanku. “Kalau kaya gini harus di kompres pake es kan?” tanya Kak Farran. Dia seperti sudah tahu tapi memastikan pada anak PMR ini. Untuk menghargai dia yang anggota PMR mungkin. Kak Farran sebenarnya tahu banyak hal. Gak mungkin dia gak tahu apa yang harus dia lakukan pada orang yang baru saja kena smash bola voli sepertiku. Cewek itu mencondongkan tubuhnya memperhatikan wajahku dengan seksama. “Iya nih kak, harus di kompres pake es.” Dia menatap Kak Farran. “Aku maintain es ke warung Mamang Harris ya buat kompres em…” Anak PMR itu menatapku. “Lo Chiara kan?” Aku hendak menunjuk name tag di seragamku namun berubah takjub karena ternyata anak PMR ini tahu namaku. Apa aku cukup populer? Sudah jelas, Kak Bima alasannya. “Iya, ini Chiara. Anak 10 IPS 3.” Kak Farran yang menjawab. “Aku mintain es buat kompres dahinya Chiara dulu ke Mamang Harris ya.” Cewek itu jelas sekali sedang pencitraan di depan Kak Farran. Tanpa sadar aku memutar bola mata dan ketahuan Kak Farran. Jadinya aku memalingkan wajah tak mau dilihat olehnya. Akan aneh banget kalau aku ketahuan cemburu di depan dia disaat aku lagi gencar menunjukan rasa marahku. Kak Farran menghela napas. Lalu kembali menatap anak PMR itu. “Gak usah.” Tolak Kak Farran. Dia mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya. “Gue minta temen maintain ke Mamang Harris.” Jawabnya sambil tersenyum. “Eh, gapapa.” Cewek itu mengambil ponsel dari tangan Kak Farran begitu saja. Kak Farran menatapnya kaget. “Kalau itu karena kakak gak mau ngerepotin aku, aku gak merasa di repotin kok.” Dia tersenyum manis sekali. “Udah tugas aku sebagai anggota PMR buat mengurus siswa yang sakit.” Dia memang pencitraan parah. “Gue gak sakit ya. Cuma kena bola doang.” Aku hendak bangun dan kembali ke kelas. Akan tetapi tangan Kak Farran mendorong bahuku membuat aku kembali tidur. Aku menatap Kak Farran kesal. “Gak usah berlebihan juga Kak. Aku gapapa.” “Harus di kompres nanti memarnya bikin pusing.” Ujarnya. “Jelas-jelas kamu gak keliatan baik-baik aja.” Kak Farran yang terlihat khawatir ini membuat aku pun menurut. Tiduran kembali di ranjang UKS. Pusingnya udah gak kerasa sebenernya. Tapi emang masih kerasa panas di kening. “Dan…” Kak Farran kembali pada anak PMR itu, menatap name tag di dadanya. “Makasih ya, Vin. Tapi temen gue lagi di warungnya Mamang Harris.” Kak Farran mengambil ponselnya dari tangan Vina. “Biar temen gue yang maintain es.” Dia tersenyum ramah. Berusaaha tak membuat gadis di hadapannya tersinggung oleh penolakannya. Vina tak menjawab lagi. Terlihat kesal karena tawarannya untuk membantu di tolak. Dia pikir bisa menarik perhatian Kak Farran sementara ada pacarnya disini. Jangan harap ya. Namun detik berikutnya dia mengangguk. Syukurlah dia tampak menerima dengan lapang d**a penolakan dari Kak Farran. Lagipula bukan siapa-siapa kenapa harus kesal karena di tolak? “Jo, maintain es ke Mamang Harris ya. Iya, Chiara di UKS. Kena bola voli. Beliin roti juga ya. Sama minta tolong tanyain HP nya Chiara sama yang ada di sekitar lapangan voli ya.” Ucap Kak Farran sesaat setelah menempelkan ponselnya ke telinga. Sama seperti aku yang gak punya banyak teman dekat, maksudnya teman yang buat aku gak sungkan buat minta bantuan, Kak Farran pun sama. Kalau di Bumi Nusantara aku selalu berputar di Kak Bima, Haru, dan beberapa teman sekelas yang aku suka. Kak Farran lebih sempit lagi, terlepas dari statusnya sebagai anak populer dia gak pernah terlihat bersama orang lain selain Kak Kaline dan Kak Jonathan. Tidak. Akhir-akhir ini orang yang dekat dengan Kak Farran bertambah satu, Kak Dara. Dia memang aktif di organisasi, namun dia cuma memanfaatkan kesempatan itu seperlunya. Kak Farran butuh organisasi seperti OSIS dan ekskul lainnya hanya untuk menambah nilai bagus dirinya. Layaknya orang pintar di kelasku Kak Farran juga cukup ambisius sebenernya. Cuma gak kelihatan aja. Gak kaya si peringkat pertama di kelasku yang masuk banyak organisasi demi membuat namanya dikenal banyak orang, menambah relasi, memperbagus rapotnya, Kak Farran hanya masuk di organisasi penting. OSIS, klub sains, paskibra, klub Bahasa Inggris juga. Gak terlalu berlebihan. Selain itu katanya dia juga punya kedudukan terhormat di OSIS, paskibra, dan klub Bahasa, Kak Farran boleh ikut kumpul jika dia mau. Memang ketika pintar kamu akan punya keuntungan tersendiri. Seperti Kak Farran. Aku bangga namun iri juga. Aku harus bersusah payah menunjukan diri layak ketika masuk ke sebuah club. Ngomong-ngomong dua bulan lalu aku anggota club Bahasa Jepang. Masuk karena tertarik dengan Negeri Sakura itu. Negara kecil yang terkenal sebagai negara yang punya disiplin yang tinggi itu buat aku menjadikannya sebagai negara nomor satu yang harus aku kunjungi. Karena cita-cita itulah membuat aku menggebu-gebu untuk masuk club Bahasa Jepang. Nyatanya, aku gak cocok dengan club itu. Terlalu senioritas dan aturan-aturannya terkesan memaksakan yang tujuannya seperti hendak balas dendam senior kepada junior. Seperti wajib banget nyapa senior pas ketemu dan melakukan sebuah misi. Mau nyapa aja challenge nya susah banget. Alasan aku keluar dua bulan lalu karena ketika aku ketemu senior aku malah di kasih tantangan untuk nembak cowok secara random yang lagi jalan di trek. Gila! Aku gak bilang keberatan, aku tetap pergi tapi tak melakukan yang disuruhnya. Minggu berikutnya, di pertemuan selanjutnya aku gak datang kumpul. Berlanjut minggu berikutnya. Minggu berikutnya. Sampai akhirnya setelah absen satu bulan lebih, aku menitipkan salam sama Raini kalau aku keluar dari club. Raini anak kelas 10 IPA 1 yang entah kenapa betah dengan aturan club yang gak masuk akal itu. Dan memang sepertinya sejak awal kehadiranku gak ternotice oleh senior, keluarnya aku gak berefek apapun. Artinya gak ada drama-drama senior atau teman yang berbarengan masuk club denganku memohon-mohon agar aku tak keluar. Tapi, mending seperti itu. Aku gak suka drama. Ayah pun mengajari aku untuk menentang aturan yang gak masuk akal. Kak Bastian pun mendukung aku yang memutuskan keluar dari club itu. Lagipula aku gak mau menyiksa diri sendiri untuk tetap tinggal di lingkungan yang gak buat aku nyaman. Aku memilih untuk meninggalkan itu terlepas keinginan aku untuk pergi ke Jepang. Ayah pun bilang kalau dia bisa membiayai aku les Bahasa Jepang kalau aku mau. Sayangnya aku belum pengen seserius itu. Gak ngapa-ngapain setelah pulang sekolah itu surga. Kalau aku les Bahasa Jepang, itu artinya aku harus mengorbankan dua hari dalam seminggu untuk belajar Bahasa Jepang. Aku gak mau menambah hari tak bebas lain setelah latihan angkat besi. Btw, angkat besi itu soal lain. Aku tak keberatan kalau hari latihan ditambah. Aku enjoy dengan semua yang dilakukan. Tempat latihannya apalagi sekarang Jihan sudah pindah tempat les ke Ganesha dan Kak Farran bilang akan sering mengantar Jihan ke tempat les. Juga pelatihnya yang super ramah, baik, dan bersahabat. Dan juga anggotanya, meskipun sering usil dan jahil tapi jarang sekali ada yang sampai kepo banget urusan orang. Buktinya saat mereka tahu Kak Farran pacarku gak ada yang bertanya lebih. Cukup sebatas tahu kalau Kak Farran pacarku. Titik. “Hai Vina!!” sapa Kak Jonathan riang sambil masuk ke UKS. Kak Kaline muncul di belakang Kak Jonathan. Mereka berdua memang gak terpisahkan. “Lo gapapa kan?” Kak Kaline menghampiriku. Duduk di tepi ranjang. “Gapapa kak.” “Hal juga Kak Jo.” Balas Vina. Tersenyum pada Kak Jonathan. Kak Farran mengambil es balok yang dibungkus plastik kecil dari tangan Kak Jonathan. Dia lalu beranjak ke sudut UKS. Menuju lemari, membukanya entah apa yang sedang dia lakukan. Sementara itu Vina sudah larut dengan percakapan dengan Vina. Mereka membicarakan tentang live streaming Sehun EXO semalam. Sehun? Siapa Sehun? Orang mana. “Kok bisa Kak Jonathan bisa akrab sama banyak orang?” tanyaku. Lupakan tentang siapa Sehun yang dibicarakan dua orang itu. Aku mendadak geli karena Kak Jonathan benar-benar manifestasi seorang Ik Jun di Hospital Playlist-nya SMA Bumi Nusantara. Kak Kaline menggedikan kepalanya, matannya memutar, namun senyumnya mengembang geli. “Biasa, dia kan suka SKSD orangnya. Siapapun yang dia temuin di koridor dan gak dia tahu pasti dia stop terus dia tanya-tanya. Gak jelas emang dia hidupnya. Kadang suka malu sendiri kalau dia tiba-tiba berhentiin orang dan ngajak ngobrol orang itu. Kadang ya, ada orang yang pendiem banget dia ajak ngobrol panjang lebar. Engga, Jonathan paksa lawan bicaranya ngobrol banyak sama dia. Gak peduli kalau yang dia ajak ngobrol gak nyaman. Dia mana peduli.” “Kak Jonathan kaya deket sama siapa aja.” Gumamku sambil menatap Kak Jonathan dan Vina yang masih membicarakan entah siapa itu. Sekarang Kai? Kai siapa lagi? “Ya… gitulah.” Jawab Kaline. “Tapi ujung-ujungnya dia sama gue kalau kemana-mana. Kan ngeselin.” “Mungkin karena Kak Jonathan udah terlanjur nyamannya sama lo doang kak.” Kak Kaline mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. Menatap Jonathan sekilas dengan tatapan penuh kesombongan. “Bener, dia emang udah terlalu nyaman sama gue. Pasti gak bisa lah dia jauh dari gue sebentar pun. Lagian, mana bisa dia jauh dari cewek secantik gue.” Aku tertawa geli mendengar sepercaya diri apa Kak Kaline ketika mengatakannya. Tapi aku memang menyetujuinya. Siapa sih yang gak betah temenan sama Kak Kaline. Udah canti, baik, asik, seru. Dia dimataku pun sosok cewek yang keren. Cewek yang berani bicara tegas ketika diperlukan, cewek yang gak malu bicara keras di saat yang tepat. Ya… saat aku di labrak Kak Dara waktu itu di tangga. Orang lain mana ada yang bicara saat Kak Dara marah-marah sama aku. Cuma Kak Kaline. Di dunia pertemanan ada dua tipe. Pertama orang yang punya setelah dia berusaha keras buat dapetin temen. Yang kedua orang yang didatengin banyak orang buat di jadiin temen. Kak Kaline tipe yang kedua. Banyak sekali sebenernya yang ingin berteman sama Kak Kaline, tapi ya… pertemanan Kak Kaline itu cuma berputar-putar antara dia dan kak Jonathan, kalau Kak Farran itu cuma pelengkap yang entah kenapa malah cocok sama mereka berdua. “Pernah suka gak sama Kak Jonathan?” tanyaku seketika membuat Kak Kaline bungkam. Senyum di wajahnya seketika luntur. “Tabu ya bahas soal perasaan buat mereka berdua.” Kak Farran bergabung, duduk di sisi ranjang yang lain. Tanpa permisi menempelkan es yang sudah di buntel handuk ke keningku. Berlebihan. Gak tahu kenapa aku suka dengan perhatiannya. “Hah?” “Walaupun mereka berdua deket banget, mereka itu punya batas suci tak kasat mata. Kaya… haram aja bahas perasaan.” Kak Jonathan menatap Kak Kaline, mengangkat kedua alisnya. “Ya gak?” “Sok tahu lo.” Balas Kak Kaline ketus. “Kaline sama Jonathan walaupun kelihatannya deket, tapi mereka sebenernya dua orang yang ribet.” Lanjut Kak Jonathan. Ini baru namanya ghibah yang halal. Ngobrolin orang di depan orangnya sendiri. Dan aku gak tahan kalau gak menanggapinya. “Emang iya? Ribetnya gimana kak?” “Ya ribet.” Katanya sambil lalu. Ekspresi sebal Kak Kaline dia abaikan. “Ya kalau suka ya tinggal bilang aja suka. Lagian kenapa kalau sahabatan terus saling suka. Kan wajar, jatuh cinta gak bisa di atur-atur harus kapan dan sama siapa jatuhnya. Kalau udah jatuh ya jatuh aja.” “Emang Kak Jonathan punya perasaan sama Kak Kaline?” tanyaku. Sedikit melirik Kak Kaline yang tengan menatpa bengis Kak Farran dengan matanya yang disipitkan. “Menurut kamu?” Kak Farran malah nanya ke aku. “Jonathan ada rasa gak sama Kaline?” Aku melirik Kak Kalin, tersenyum jahil. “Menurut aku sih ada. Cuma ya kenapa gak jadian kalau suka.” Kak Farran mengangkat kompresan dari dahiku. “Nah itu… karena Kalinenya ribet. Jonathannya juga ribet.” “Ya gak?” tanya Kak Farran pada Kak Kaline langsung mengabaikan tatapan gadis itu yang seperti hendak memotong-motongnya saat ini. “Lo ribet kan?” “Resek lo.” Hardik Kak Kaline. Dia pun bangkit dari duduknya dan menarik Jonathan keluar dari UKS begitu saja. Tak lama Kak Jonathan kembali ke dalam. Sebelum menarik Vina kelaur Kak Jonathan sempat menatap jahil pada kami berdua. “Chiara!! Gue baru tahu lo ketampol bola voli.” Haruku muncul dari pintu dan berteriak histeris. Kak Jonathan yang masih diambang pintu menghalanginya. Menyuruhnya keluar. Alhasil dia menarik keluar Vina dan Haruku bersamaan. Haruku tak menyerah, dia berusaha masuk. “Gue harus lihat keadaan temen gue dulu.” “Dia udah baik-baik aja kok.” Ujar Kak Jonathan. “Mana percaya gue sama lo.” Dengus Haruku. “Tanya Kaline sana!” “Chiara udah baikan kok.” Sekarang bukan Kak Jonathan yang memaksa Haruku agar tak masuk ke UKS. Kak Kaline yang sepertinya punya pikiran yang sama dengan Kak Jonathan merangkul Haruku. “Balik ke kelas aja ya, biarin Chiara istirahat di UKS.” “Tapi dia sendirian. Gue temenin aja sekalian bolos.” Haru bersikeras. “HP nya juga ada di gue. Tadi ada anak kelas 11 yang ngasih HP nya Chiara sama gue. Biar dia gak bosen gue temenin aja.” Dasar, sok perhatian banget Haru. Padahal niat sebenarnya dia pengen nemenin udah dia bilang. Dia pengen bolos. Kak Farran mengambil tanganku, membuat aku yang sekarang memegangi kompresan sendiri. Dia bangkit dari duduknya. “Mau kemana?” aku merasa gak rela dia pergi dari sini. Namun, Kak Farran gak menjawab, dia berjalan menuju pintu masuk. Berhadapan dengan Haru. “Sini.” Katanya. Haru menatap bingung. “HP nya Chiara.” Seolah terhipnotis, Haru memberikan HP ku begitu saja ke Kak Farran. “Biar gue yang nemenin Chiara di UKS.” Ujarnya. Tanpa memperdulikan ekspresi kebingungan Haruku, Kak Farran menutup pintu UKS. “Masih marah?” tanyanya. Kak Farran menyerahkan HPku. Dia menarik kursi, duduk di samping ranjang. Aku pun teringat kembali apa yang terjadi sebelumnya. Ingat kalau aku lagi marah karena tahu dia sering jalan berdua sama Kak Dara. Kalau sama Kak Kaline mungkin lain ceritanya. Masalahnya dia jalan sama kakak kelas yang gak aku suka. Kakak kelas yang pernah marahin aku di tangga gara-gara gak sengaja nabrak pundaknya. “Masih gak mau ngobrol sama aku?” tanyanya. Entah kenapa aku merasa udara di UKS ini menipis. AC yang diam bisu di sudut ruangan pun seolah berkonspirasi agar aku merasa panas saat ini. Di tatap sebegitu instensnya oleh Kak Farran gak buat aku baik-baik aja. Aku sedang marah tapi aku malah bingung, gak tahu harus bilang apa. Mendadak aku ngerasa aku bersalah karena udah marah gak jelas sama dia. “Aku tadi nunggu kamu di Perpus. Ternyata kamu malah pergi ke kantin.” “Kok tahu aku ke kantin.” “Haru bikin status.” Jawabnya. Aku meletakan kompresan dan mengecek status w******p Haruku. Akhirnya setelah sekian lama gak ke kantin sendiri lagi. Lengkap dengan foto blur punggungku. “Haru tuh ya, apa-apa dibikin status.” Gumamku kesal. Aku tahu Kak Farran masih menatap wajahku. Tapi aku tak mau melihatnya, memilih untuk melihat poster anatomi manusia yang ditempel di dinding UKS. Meskipun wajah Kak Farran lebih menarik daripada gambar manusia tanpa kuli itu. Dan aku baru sadar kalau di sudut dekat dispenser ada patung tengkorak manusia. Ini kali pertama kalinya aku masuk UKS SMA Bumi Nusantara. Gen yang menurun dari ayah buat aku punya fisik yang kuat dan gak gampang sakit. “Mau kan dengerin aku?” tanyanya. Membujuk aku dengan lembut. Aku tak menoleh. “Chi…” panggilnya. “Chiara.” Panggilnya sedikit tegas. Aku mendengus. “Yaudah ngomong aja, apa susahnya bilang kalau kamu emang ada apa-apa sama Kak Dara. Tinggal bilang itu lama banget.” Aku mendengar kekehan Kak Farran. Heran kenapa dia malah tertawa, aku pun menoleh. “Malah ketawa lagi.” Dengusku. “Kalau kamu ngira aku sama Dara ada hubungan yang kaya gitu… kamu salah.” “Salah dimananya? Gak ada maling yang mau ngaku.” “Tapi aku bukan maling.” Bantahnya tak terima. “Yaudah, kalau gitu pembohong.” “Pembohong?” suara kak Farran semakin terdengar tak terima. “Pembohong gimana sih?” “Kamu waktu itu bilangnya gak ada hubungan apa-apa sama kak Dara, gak punya perasaan sama dia. Tapi nyatanya… kamu jalan sama dia beberapa kali. Itu namanya kamu bohong tahu.” Aku hendak menunjukan sama Kak Farran semarah apa aku saat ini. Persoalan dia sering pergi sama cewek lain bukan hal yang bisa aku tolerir begitu aja. “Makanya aku pengen jelasin aku sama Dara kaya gimana. Biar kamu gak salah faham.” “Cowok sama cewek gak bakalan sering jalan bareng kalau gak ada rasa suka.” Kataku tegas. Kak Farran memiringkan kepalanya. “Darimana kamu dapet quotes kaya gitu?” “Ada!” Aku memalingkan muka. Kak Farran menghela napas. Dituduh sedemikian rupa olehku tak membuat wajahnya kelihatan kesal sedikitpun apalagi marah. Dia menatapku penu kesabaran. Malah dia tersenyum. “Chi…” panggilnya lembut. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya. “Dara lagi nyoba deketin cowok yang dia suka. Dia minta bantuan aku. Karena dia terlanjur buat hubungan dia sama cowok itu rumit.” “Kenapa minta tolongnya sama kamu?” Sial, aku kalah oleh tatapan lembut dan genggaman tangannya. “Karena cowok yang Dara suka gak bakal mau dateng kalau bukan aku yang minta.” Jelasnya. “Cowok itu deket sama aku pas masih jadi pengurus OSIS. Dia rivalnya Dara.” “Ha? Kak Yudis?” “Iya, Dara suka sama Yudis.” Jawab Kak Farran. Aku diam seribu Bahasa. Sebelumnya memang pernah dengar gosip tentang kedekatan Kak Dara dengan Kak Yudis ketika mereka masih sama-sama masih memanggu jabatan tinggi. Kak Yudis ketua OSIS dan Kak Dara ketua MPK. “Terus kenapa dia suka tag kamu. Ngeselin tahu gak sih.” “Kalau itu aku gak tahu… Dara kadang narsis emang.” “Percaya kan?” tanyanya. Matanya menatap ke kedalaman iris mataku. Aku seolah terhipnotis dalam gelombang yang dia pancarkan. Aku kalah. Dan aku salah. “Aku minta maaf.” Aku menghela napas. “Aku cemburu buta.” Kak Farran justru tertawa. “Kenapa malah ketawa?” aku menatapnya sebal. “Orang serius juga.” “Kamu lucu.” Dia mengacak-ngacak rambutnya dengan tangannya yang lain. Karena tangan kanannya masih menggenggam tanganku. “Sering-sering cemburu ya.” “Gak mau lagi.” Jawabku ogah. “Cemburu itu gak enak.” “Tapi kan dengan kamu cemburu aku jadi tahu sesuka apa kamu sama aku.” “Dasar.” Kak Farran tiba-tiba diam. Menatapku dalam, bibirnya melengkung tipis. Wajahnya yang penuh cinta itu buat aku melayang. Melayang yang gak tahu entah kemana. Tapi aku sadar aku sebenarnya gak kemana-mana, malah gak bisa bergerak sama sekali. “Tetap sama aku ya.” “Iy…” “Chiara!!” pintu UKS terbanting disusul dengan pekikan khawatir seseorang. Kak Farran seketika melepaskan genggaman tangannya dan berdiri canggung. Kak Bima menatapku khawatir dari ambang pintu. Wajahnya berkeringat dan dadanya kembung kempis. Tanpa aba-aba dia berlari dan memelukku. “Ya ampun, jantung Kak Bima rasanya mau copot waktu denger kami pingsan gara-gara kena bola voli.” Ucap Kak Bima khawatir. “Lagian bocah gini kenapa maennya di pinggir lapangan sih. Kan bahaya.” Aku menatap Kak Farran malu, sikap Kak Bima ini buat aku gak punya muka di depan cowoku. Kak Bima bilang aku bocah. “Siapa yang smash kamu sampai pingsan tadi?” Kak Bima berdiri dengan galak. “Tunggu?” aku menahan tangan Kak Bima. “Pingsan? Siapa yang bilang aku pingsan.” “Anak-anak yang lihat kamu bilang kamu pingsan makanya di gendong ke UKS.” Cerita macam apa itu? Aku gak pingsan sama sekali. Tadi Kak Farran berlebihan aja langsung gendong aku ke UKS. “By the way” Kak Bima menatap Kak Farran yang berdiri pucat. “Farran makasih udah bawa adik saya ke UKS.” Cerita anak-anak lain memang berlebihan. Pingsan? Aku ingin tertawa. Tapi aku besyukur karena hal itu gak membuat perlakuan Kak Farran padaku berlebihan. Tak membuat kak Farran memberikan perhatian khusus padaku. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD