BAB 14

1847 Words
(Chiara Aylin) Aku cuma gak nyangka ternyata selama ini Kak Farran deket sama Kak Dara. Maksudnya deket yang nyampe buat mereka leluasa pergi berdua. Mereka seperti pacaran. Di postingan Kak Dara pun beberapa kali mengetag Kak Farran. Ada satu, dua, tiga… ada lima postingan yang bertag cowokku. Postingannya memang gak pernah menunjukan foto mereka berdua. Ada foto Kak Dara di depan mall sambil memegang kresek berlogo toko donat terkenal. Ada juga foto Kak Dara di jalan memakai pakaian olah raga dengan rambut yang berantakan. Dan yang lainnya. Jangan tanya sejak kapan aku menangis seperti ini. Jangan tanya juga gimana perasaanku saat ini. Kacau. Pikiranku berkecamuk banyak sekali pertanyaan dan ketakutan tentang hubungan cowoku dan Kak Dara. Apa karena aku yang gak pernah bisa di ajak main Kak Farran jadi nyari cewek lain? Apa karena aku yang bahkan pacarana pun pengen diam-diam? Aku sadar, aku gak bisa sepenuhnya menyalahkan Kak Farran. Karena aku merasa bahwa aku punya campur tangan tak kasat mata untuk kebersamaan mereka. Hanya sedikit orang yang tahu aku pacaran dengan Kak Farran. Dan aku pun gak bisa memenuhi tugasku sebagai seorang pacar ke cowoknya kaya yang lain. Aku gak bisa pergi main di malam minggu, gak bisa pulang bareng, gak bisa gandengan di koridor sekolah, gak bisa pulang-pergi sekolah bareng. Bahkan hal sederhana, seperti saling senyum pun harus benar-benar dirahasiakan. Ting! Sebuauh notifikasi muncul di bagian atas layar ponselku. FarranH mulai mengikuti anda. Aku mematung sesaat. Notif itu sudah bersembunyi. Kembali memunculkan bagian atas profil i********: Kak Dara. Melihat postingan Kak Dara buat aku amat sangat gak baik-baik aja. Mana ada sih cewek yang baik-baik aja ketika baru tahu kalau cowoknya ternyata suka jalan sama cewek lain. Gak akan ada yang baik-baik aja. Semakin sedih lagi karena tanpa sadar aku memencet user name Kak Farran yang muncul di notifikasi. Sehingga sekarang aku diam mematung menatap feed instagramnya. Hanya ada 9 postingan disana. Ada fotonya bersama Kak Jonathan dan Kak Kaline ketika dua sahabatnya itu berhasil memenangkan medali emas di lomba panahan antar sekolah. Kemudian aku berhenti di foto keluarganya. Kak Farran pernah bilang kalau dia anak kedua dari dua bersaudara. Aku memperhatikan dalam diam dan lama. Kak Farran mirip sekali dengan kakak perempuannya, Kak Karrani. Tapi dia lebih mirip ibunya, seperti fotokopian. Foto yang diambil lebaran lima tahun lalu membuat senyumku mengembang tipis. Lucu, Kak Farran yang masih SMP itu terlihat seperti anak-anak. Berbeda dengan penampilannya sekarang yang punya wajah tegas, terlihat dewasa. Hanya dua foto itu yang menunjukan wajah orang, sisanya hanya foto-foto di jalan, foto langit, foto blur entah dimana namun samar-samar menunjukan foto dua orang anak SMA. Ting! Sebuah direct message masuk sesaat setelah aku memencet tombol untuk mengikuti balik dia. Cepat sekali, seolah-olah sebelumnya Kak Farran memang menunggu aku mengikutinya balik. FarranH Sejak kapan kamu punya Instagram ChiaraAHutomo Hari ini FarranH Kenapa tiba-tiba berubah pikiran buat i********:?   Buat stalking kamu sama Kak Dara. Ucapku dalam hati berapi-api.   ChiaraAHutomo Gpp FarranH Aku minta maaf soal tadi ChiaraAHutomo Apa? FarranH Soal aku yang pengen hubungan kita gak diem-diem lagi Aku takut nanti ketahuan dan malah buat kita berdua sama-sama sulit Gak ada niat pengen pamerin kamu sama sekali Kalau kamu punya pikiran kaya gitu ChiaraAHutomo Iya FarranH Kamu gapapa?   Kak Farran sadar dari balesanku yang singkat-singkat itu bahwa ada yang gak beres sama aku. Aku memang gak lagi baik-baik aja karena tahu ternyata dia sering pergi berdua dengan kak Dara. Membayangkan mereka pergi berdua, boncengan—dimana aku gak bisa seperti itu buat aku males banget buat antusias. Padahal biasanya aku seneng bukan main kalau Kak Farran udah chat aku. FarranH Karena Dara?   Aku mendecih. Dia sadar rupanya.   FarranH Jangan salah faham ya Aku sama dia temenan   Temenan kok sering pergi bareng? ChiaraAHutomo Kalau Kak Dara anggap kamu temennya juga gak? Aku menunggu, pertanyaan aku sepertinya buat dia berpikir. Hingga jeda dari pesanku ke balasannya cukup lama. Dengan kata lain berkali-kali tulisan mengetik muncul tenggelam. Seolah-olah dia menulis dan menghapus pesannya berkali-kali. ChiaraAHutomo Aku tahu kamu sama Kak Dara sering pergi berdua. Mungkin karena aku gak bisa pergi ya, makanya kamu pergi terus sama dia. Pacaran sama aku sulit banget ya? FarranH Enggak Aku gak ngerasa kalau pacaran sama kamu sulit ChiaraAHutomo Aku berusaha ngerti alasan kamu pergi terus sama Kak Dara karena aku gak bisa jadi cewek itu. Cewek yang bisa pergi-pergi keluar rumah FarranH Chi Aku telpon ya ChiaraAHutomo Gak usah FarranH Biar aku jelasin kaya apa aku sama Dara ChiaraAHutomo Gak perlu. Aku cukup sadar diri kok FarranH Aku telpon ya Aku gak bisa kamu terus terlarut sama pikiran salah tentang aku sama Dara ChiaraAHutomo Gak perlu. Jangan telpon ayah lagi dirumah FarranH Oke, besok ketemu di perpus ya jam 10 kaya biasa ChiaraAHutomo Lihat besok *** Hubungan Kak Farran sama Kak Dara pasti special. Buktinya Kak Farran bersikeras untuk menjelaskan seperti apa hubungan dia dengan Dara. Dia berusaha agar aku gak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sepengetahuanku. Ternyata Kak Farran seperti itu. Bilangnya suka banget tapi nyatanya dia sering keluar-keluar dengan cewek lain. Gosip tentang Kak Farran dan Kak Dara kembali aku dengar lagi. Haruku yang pertama kali kasih tahu kalau Kak Farran dan Kak Dara kelihatan jalan bareng dari parkiran ke kelas. Bahkan Kak Farran nganter Kak Dara ke kelasnya. Padahal kelas cowok itu ada di gedung yang lain dengan Kak Dara. “Mereka kayanya beneran pacaran deh Chi.” Haruku mengompori. Dia mengepalkan tangan di depan d**a, menatap ke depan dengan tatapan terpana. “Mereka cocok banget.” Haruku a.k.a fans berat Kak Farran pun mendukung hubungan cowok itu dengan Kak Dara. Aku jadi males nanti harus ke perpus buat nemuin dia. Dia pasti buat seribu macam alasan kenapa dia bisa jalan sama Kak Dara. Cowok kan biasanya gitu. Kalau kepergok main belakang pasti bakal mendadak pinter ngobrol. Hingga di jam istirahat aku lebih memilih untuk ke kantin. Ngantri di stand bakso yang antriannya selalu menguar sampai ke pintu masuk. Jam 10 lewat 15 baru aku sampai di depan Umi Hanifah tukang bakso. Dia tak banyak bicara hanya meladeni permintaan pembeli. Haruku sudah duduk di salah satu meja memakan makanan cimol. Aku hendak menghampirinya ketika tiga orang yang aku kenal lebih dulu duduk disana. Kak Farran menatapku, menyadari aku beberapa langkah lagi sampai di meja itu. Dia berdiri lalu mengambil alih mangkuk bakso dari tanganku. “Kok kuat sih bawa ini. Panas tahu.” Kak Farran meletakan mangkuk bakso di atas meja. Kalau aku memilih duduk disana, itu artinya aku harus duduk sebelahan sama dia. Aku gak mau, titik. Maka aku ambil mangkuk bakso itu dan duduk di meja yang lain. Bergabung dengan entah siapa. Namun, mereka yang terlalu asik ngobrol gak sadar kalau ada orang asing bergabung dengan mereka. Kak Jonathan dan Kak Kaline menatapku heran karena aku malah duduk di meja yang lain. Padahal Kak Farran sudah berbaik hati bawain mangkuk bakso dan menyimpannya di meja. Kak Farran menatapku sendu. Dia memang tahu kalau aku sedang ngambek karena tahu kalau dia suka pergi bareng Kak Dara. Tunggu, kenapa dia gak di perpus? Sudahlah, Kak Farran mungkin sadar karena aku tak kunjung datang. “Kenapa?” Kak Kaline duduk di hadapanku. Aku tahu jelas apa yang dia maksud dengan pertanyaannya. “Kenapa apanya?” “Marahan?” “Enggak.” Aku memasukan mie ke dalam mulut. “Terus kenapa menghindar?” “Gak menghindar.” “Jelas banget ya lo menghindar.” “Lagi gak pengen lihat mukanya aja.” Jawabku. “Tuh kan.” Kak Kaline memasukan sedotan es teh sisri dalam plastik ke dalam mulutnya. Menenggaknya sampai menyisakan es balok di dasar plastik. “Pantesan tuh dia maksa-maksa ke sini.” Aku mendongak. “Gue sama Jonathan gak pernah ke kantin ini kalau istirahat. Lebih suka makan di warung Mamang Harris. Tiba-tiba aja dia rusuh minta istirahat di sini.” Warung Mamang Harris itu ada di sudut yang lain kantin. Semacam kantin kedua dan hanya sebuah warung biasa yang menjajakan gorengan, mie, dan makanan ringan lainnya. Biasanya yang di warung Mamang Harris kelas12 dan beberapa anak kelas 10 dan 11 yang punya nyali tinggi datang kesana. Kenapa? Karena kalau kesana harus siap-siap kena goda Kak Kai dan Kak Vero. Mereka berdua pentolan kelas 11. “Ternyata karena lo gak temuin dia di perpus.” Dia menyeruput kembali es the sisri di plastik. Sebenarnya dia hanya menyeruput lelehan es. “Aku lagi kesel sama dia.” “Karena?” Seketika aku menatap Kak Kaline, mengisyaratkan padanya agar gak banyak tanya. “Oke.” Kak Kaline mengangguk-angguk. “Gue gak akan tanya apa masalah kalian. Cuma… coba obrolin dulu baik-baik ya.” “Males ngobrolinnya.” “Eh?” Aku bangkit berdiri karena bakso di mangkuk ku sudah habis. Saking gak mau berada di ruangan yang sama dengan Kak Farran sampai aku gak sadar bisa menghabiskan bakso dengan cepat. “Aku duluan ya Kak.” Mengabaikan kebingunan Kak Kaline aku beranjak pergi dari kantin. Haruku terjebak di sana karena harus meladeni ejekan Kak Jonathan seperti biasan. Kak Farran sejak tadi gak berhenti menatapku. Aku tahu itu. Cewek yang tadi berusaha membujuk aku agar mau bicara dengan Kak Farran menghampiri meja mereka dan menggeleng. Tampak jelas wajah kekecewaan di wajahnya. Mana aku peduli. Aku berniat kembali ke kelas dan melakukan apa aja disana. Entah mungkin tidur atau main HP aja di meja. Dari kantin ke kelasku, aku harus melewati lapangan bola voli. Baru sadar kalau lapangan selalu seramai ini tiap istirahat. Cowok-cowok kelas 11 IPS tengah bertanding melawan kakak kelasnya 12 IPS. Banyak yang hilir mudik di trek. Ada yang bergerombol dan ada yang berdua. Hanya aku aja yang berjalan sendiri. Gak sama Haruku kaya biasa. Bola voli menggelinding keluar lapangan setelah terjadi out. Bola diambil oleh siswi yang tadinya duduk berkelompok di pinggir trek. Seorang yang duduk di bawah tiang net menerikan perolehan point. “Sebelas! Lima belas!” Salah satu pemain keluar lapangan untuk mengambil bola. Menghampiri gerombolan cewek-cewek itu dan seketika teriakan cie membahana karena tingkah malu-malu si cewek saat memberikan bola pada salah satu pemain. Cewek itu kembali ke gerombolannya dan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Tampak salah tingkah. Yang mengambil bola itu pun juga mendapat teriakan cie dari teman-temannya. Aku menepi sebentar untuk melihat. Berdiri di samping pohon dan mengeluarkan ponsel karena ada chat dari Kak Bima yang masuk. Kak Bima Nanti Bastian jemput kamu pulang ya. Kakak ada urusan di sekolah sampai nanti sore.   Baru saja aku hendak mengetikan balasan tiba-tiba saja aku sudah terhuyung ke belakang sampai akhirnya jatuh. Rasa nyeri menyertai teriakan kaget dari orang-orang di sekeliling. Saat aku menoleh ke kanan, aku melihat bola memantul lalu menggelinding sampai akhirnya berhenti di kaki seseorang. Beberapa pemain kelas 12 IPS menghampiri aku yang baru saja diserah smash keras. “Kamu gapapa?” tanyanya. Entah siapa yang bertanya. Aku gak tahu. Aku terlalu malu untuk menyingkirkan telapak tangan dari wajahku. Rasa sakitnya gak seberapa. Tapi malunya luar biasa. Aku pengen buat lubang saat ini juga, pengen bersembunyi. Aku belum menjawab saat seseorang entah siapa mengangkat tubuhku dan membawaku keluar dari kerumunan kakak-kakak kelas 12 IPS. Aku mengintip dari sela-sela jari. Ternyata Kak Farran yang menggendongku. Tunggu! Kak Farran? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD