(Chiara Aylin)
Pembicaraanku dengan Kak Farran belum selesai. Haru yang masih patah hati karena di tolak Kak Bima menyusulnya ke perpustakaan. Tak memperdulikan apa yang telak diikrarkan Haru dulu-dulu.
Haram gue masuk perpus. Angker katanya, gak mau gue di ganggu setan.
Tapi sepertinya saat ini Haru lupa hal itu. Buktinya dia menerobos masuk saja ke dalam untuk mencarinya. Menagih pesan w******p nya yang tak aku balas. Lagipula mana bisa aku balas chat dari Haru sementara aku dan Kak Farran sedang bersitegang. Ini kali pertamanya aku dan dia berbeda pendapat. Tidak. Ini mungkin pertama kalinya Kak Farran mengatakan keinginannya. Dan aku sulit untuk memberikan apa yang dia mau.
Itu sama saja bunuh diri.
Kak Farran sudah angkat kaki dari perpus sesaat setelah Haru menjatuhkan pantatnya kursi. Entah apakah dia marah atau karena dia masih ingat pesanku untuk gak ketahuan siapapun. Kak Farran keluar dengan cara natural seolah sebelumnya gak lagi bicara dengaku. Sejak dua menit lalu kepergiannya, aku masih menatap pintu keluar. Mendadak merasa hampa dan sesak.
“Lo bener Chi, gue emang khilaf waktu suka sama cowok itu.” Saking kesalnya Haru sekarang tak mau memanggil nama Kak Bima.
“Harusnya sejak awal gue sadar kalau orang kaya di aitu cuma bisanya nyakitin doang. Orang sok galak kaya gitu mana tahu kasih sayang.” Haru menghembuskan napas. Suaranya berubah sendu. “Tapi harus ya dia bilang gue anak kecil.”
Haru masih sama cerewetnya seperti sebelumnya. Dimana perasaannya masih menggebu-gebu untuk Kak Bima. Aku tersenyum karena menyadari hal itu. Untuk yang diceritakan Haru, aku tak menangkapnya sama sekali. Kepalaku terlalu penuh dengan rekaman permintaan Kak Farran tadi.
“Dia keterlaluan banget ngomong kaya gitu. Kalau gak suka ya udah bilang gak suka aja. Jangan malah ngatain gue anak kecil. Gue jadi tahu gimana perasaan lo selama ini Chi terus dibilang anak kecil sama dia. Baru sekali aja dia bilang gue udah kesel setengah mampus. Udah syukur ya gue suka sama dia, eh dia malah nyia-nyiain gue gitu aja. Sok ganteng dia tuh. Sok galak juga. Sok dewasa.”
Haru begitu bersemangat menyumpah serapahi Kak Bima. Aku tersenyum masam padanya. Bingung dengan posisiku saat ini yang sahabat Haruku dan juga adik Kak Bima. Aku harus membela siapa. Membela Haru aku rasa salah, sejelek apapun Kak Bima juga di mataku, dia tetap kakak kandungku. Kakak yang lebih sering bertemu denganku daripada kakak yang lain. Dan Haru pun sahabatku, teman sebangku yang langsung menemaniku ketika MOS dengan alasan aku yang terlihat bisa di ajak bicara. Kalau aku tidak membela Haru itu sama artinya aku mengibarkan bendera perang pada Haruku. Gadis bermata sipit ini cukup pendendam. Alamat aku gak akan punya tempat nanya pas ulangan.
Haru mendecih. “Gue yakin dia bakal nyesel nolak gue. Apa coba. Disukai sama gue itu kaya ketimpa durian runtuh. Beruntung banget. Ngeselin banget sih dia bilang gue anak kecil.”
“Lo marah karena di tolak atau karena di bilang anak kecil, Ru?” tanyaku.
“Ya… karena dibilang anak kecil lah!” Dia memukul meja pelan. “Enak aja dia nolak gue karena gue masih kecil.”
“Tapi lo kayanya marah karena dibilang anak kecil sama Kak Bim…”
“Stop!” potong Haruku sambil menempelkan telunjuknya di depan bibirku, mencegah aku menyebut nama kakakku.
Haru menyipit, menatapku sengit. “Jangan pernah kau ucapkan nama dia lagi di hadapanku.” Ucapnya sok antagonis.
“Oke.” Aku hanya bisa menyetujuinya, bola mataku berputar. “Gue lihat ya, Ru. Lo berapi-api gini karena lo gak terima Kak Bim…”
Haru kembali menutup mulutku. Menggeleng tegas. Dia benar-benar menjadikan Bima sebagai nama yang haram dia dengar dan dia ucapkan.
“Lo berapi-api jelek-jelekin kakak gue karena gak terima di tolak, Ru.” Ulangku lengkap. Lolos. Tak menyebut nama Bima sama sekali.
“Sorry Chi, gue bukan cewek yang marah karena di tolak.” Dia menggeleng meyakinkan. “Gue marah karena dibilang anak kecil ya sama dia.”
“Gue gak lihat hal itu tahu.”
“Beneran Chiara.” Haruku meyakinkan dengan suara yang lebih tegas. “Gue marah karena dia bilang gue anak kecil. Lagian cewek kaya gue bisa dapetin cowok manapun. Gue cuma bilang betapa sayangnya gue karena dia melewatkan cewek cantik macem gue.”
Aku terkekeh. “Lo perlu kaca sumpah.”
“Gue cantik Chiara!”
“Ya ya ya.”
***
Hari ini ada ulangan dadakan Bahasa Indonesia. Bu Tiara memang paling hobby membuat siswa-siswinya jantungan. Mana bisa ulangan di lakukan dadakan. Kelas di bagi menjadi dua kloter. Dari absen 1 sampai 15 yang ulangan di jam pertama. Sedangkan siswa-siswi yang absennya 16 sampai 31 di jam kedua. Untungnya aku satu kloter dengan Haru. Posisi tempat duduk Haru pun tepat di belakangku. Sehingga aku gak terlalu kesulitan mengisi jawaban, Haru memang suka murah hati ketika ulangan.
Haru seperti itu hanya sama aku saja sebenernya. Katanya, dia gak bisa membiarkan teman satu bangkunya tertinggal jauh darinya. Ngomong-ngomong Haru mulai sombong setelah dia Les di Gunadharma dan berhasil menyamai nilai si peringat satu beberapa kali. Dia tak merasa aku mengancam kedudukannya.
Syukurlah, lagipula aku pun sadar diri dengan kemampuan berpikirku yang hanya sebatas rata-rata dan tak pernah bisa melampaui peringkat lebih dari 15 besar. Selalu berputar putar di 15, 16, atau 17.
Ulangan di jam pertama selesai. Kloter pertama bergantian dengan kloter kedua.
“Untung mereka sempet baca-baca dulu karena kloter kedua.” Omel Haru. “Lha kita…”
Di jam kedua kamu di bebaskan untuk pergi kemanapun. Aku dan Haru memutuskan untuk pergi ke kantin untuk nongkrong sebelum harus masuk satu jam lagi di pelajaran Sejarah.
“Emang Ru, suka males banget kalau ulangan udah dibagi 2 kloter. Rasanya gak adil.” Aku menanggapi omelan Haru dengan reaksi yang sama. Ujian dibagi dua kloter memang gak pernah terasa adil.
“Yang kloter pertama deg-degan, nah yang kloter kedua enak bisa baca-baca dulu. Bahkan bisa nanya dulu soal yang keluar apa sama yang kloter pertama.”
“Tadi ada yang nanya juga sama gue soalnya apa.” Aku menanggapi. “Ya… gak gue jawab lah. Bodo amat dia marah sama gue. Persaingan di kelas itu harus fair.”
“Tumben lo peduli tentang persaingan di kelas?”
“Mulai mikir kali gue.”
Di pintu kantin tanpa disangka aku bertemu dengan tiga s*****n itu. Siapa lagi kalau bukan Farran, Jonathan, dan Kaline. Mereka memang hampir selalu terlihat bersama-sama kemanapun. Senyumku hampir terbentuk ketika Kak Farran berjalan begitu saja melewati aku dan Haru. Tak seperti biasanya dia akan menyapa aku atau Haru. Kak Jonathan dan Kak Kaline pun yang melihatnya terheran-heran oleh tingkah sahabatnya.
Aku menghela napas. Kak Farran memang marah. Ternyata dia yang tadi keluar cepat dari perpustakaan pun bukan karena ada Haru, tapi karena dia marah.
“Hai JKT48!” Kak Jonathan seperti biasa mengejek Haruku. “Salam buat Nabilah ya.” Katanya.
“Eh, Nabilah udah gak di JKT lagi ya.” Bentak Haru.
“Masa? Kok gue gak tahu.” Ucap Kak Jonathan, wajah bodohnya keluar.
Aku tak tertarik sama sekali dengan pertengkaran Haru dan Kak Jonathan. Biasanya aku akan tertawa. Kak Jonathan yang entah kenapa selalu suka mengejek Haru selalu tampak lucu di mataku. Masalahnya mana aku bisa tertawa sementara kepalaku berkecamuk bayangan Kak Farran yang melengos begitu saja. Tak menyapa apalagi tersenyum seperti biasanya.
Bagi kebanyakan orang status dan publikasi sebuah hubungan memang penting. Dan aku pun tahu itu. Situasinya sulit. Dan Kak Farran pun tahu. Lalu aku harus bagaimana? Bilang ke ayah dengan resiko aku akan di rumahkan dan Kak Farran yang gak tahu akan digimanakan.
Pacaran diam-diam sudah pilihan yang paling tepat.
“Ayo ah Chi.” Haru mengamit lenganku. Mengajak aku pergi karena dia sudah kalah berdebat dengan Kak Jonathan.
Punggung Kak Farran yang sejak tadi aku pandangi baru saja menghilang di tangga menuju kelas 11 IPA. Aku dan Kak Farran sempat bertatapan saat dia berbelok naik tangga. Namun, hanya sebatas itu. Tak senyum dan matanya pun terlihat dingin.
“Bisa-bisa mati muda gue kalau ketemu Kak Jonathan terus.” Lanjut Haru setelah dia berhasil menyeret aku masuk ke kantin. “Tekanan darah gue naik terus kalau ketemu dia.”
“Lain kali jangan ditanggepin aja, Ru. Apa susahnya? Orang yang usil itu suka lebih seneng kalau yang diusilinnya nanggepin.”
“Tapi dia tuh ngeselin, Chi. Gue gak bisa gak nanggepin keusilan dia. Karena terlalu ngeselin untuk diabaikan.” Haru tiba-tiba menghentikan langkahnya. Menatap gue yang bingung dengan langkah yang tiba-tiba berhenti.
“Kak Jonathan gak mungkin suka kan sama gue?”
Gue gak tahu darimana asalnya pikiran itu. Namun, dengan cepat gue membantah. “Gak mungkin. Jangan ngarang. Semua orang tahu Kak Jonathan sukanya sama Kak Kaline.”
Itu memang fakta, terlepas dari persahabatan mereka. Semua orang pun bisa tahu bahwa hati pria usil itu sebenarnya milik sahabatnya. Begitu juga sebaliknya. Cuma… gak ada yang tahu aja kenapa mereka tetap bertahan dalam hubungan persahabatan itu.
Perasaan memang rumit.
“Bisa jadi kan karena dia sering usilin gue, dia jadi pindah ke lain hati.” Haruku menunjuk dirinya dengan penuh percaya diri. Aku heran, darimana asalnya kepercayaan berlebih Haruku. “Ke gue.”
Aku menggeleng, merasa ada yang gak beres dengan sahabatku. “Di tolak buat otak lo sengklek ya.”
“Eh!” Haru menepuk pundaku. Jemarinya menunjuk ke lantai 2. Disana berdiri Kak Farran dan Kak Dara, saling berhadapan. Dan… terlihat begitu akrab dan dekat.
“Emang bener ya mereka lagi PDKT?” tanya Haru.
“Ha?”
“Gue denger dari yang lain. Banyak yang lihat mereka berdua sering bareng.” Haru menunjuk ke atas dengan bibirnya. “Kemaren aja mereka pulang bareng.”
“Masa?” aku berusaha menyembunyikan kecemburuan dengan nada bicara seolah ingin tahu.
“Iya… gue juga pernah tahu lihat mereka bedua di lampu merah. Pulang sekolah. Gak tahu mau kemana. Yang pasti mereka berdua kelihatan deket banget. Lihat aja tuh.”
Aku yang sejak tadi tak lepas memandangi mereka mengerucutkan bibir. Cemburu dengan interaksi Kak Farran dengan Kak Dara. Gadis itu gak canggung sama sekali saat memukul bahu cowok di depannya. Kak Farran tertawa setelah dipukul Kak Dara. Mereka tertawa bersama. Rasanya aku ingin punya kemampuan khusus untuk mendengar suara dari jarak jauh. Biar tahu apa yang mereka bicarakan sampai seseru itu.
“Gak nyangka Kak Dara yang galak bisa ketawa juga.” Gumam Haruku. “Gue sebagai fans Kak Farran sebenernya gak mau mengakui ini. Tapi mereka kok cocok ya.” Ucap Haru seolah dia sedang membayangkan masa depan yang membahagiakan.
Dia gak tahu aja aku baru saja menatap padanya dengan kesal. Haru gak tahu kalau orang disampingnya sedang ngebul. Cocok pala lu.
“Kak Dara juga sering bikin status di i********: kalau lagi sama Kak Farran.” Lanjut Haruku. Dia benar-benar gak tahu kalau kata demi kata yang keluar buat aku makin berasap.
“Emang iya?” tanyaku berusaha sewajar mungkin.
Haruku berdecak. “Lo gak punya i********: sih, jadinya gak tahu. Kemaren sore juga dia buat status lagi sama Kak Farran. Makanya download dong. Angkat beban terus kerjaan lo.”
Aku melirik sinis lagi ke atas. Saat itu Kak Farran juga menatap ke bawah. Tatapannya bertabrakan denganku. Aku melengos saja, memutus kontak mata secepat mungkin untuk menunjukan kalau aku sedang kesal padanya. Jadi dia sering pergi sama Kak Dara? Pantes dia waktu itu belain Kak Dara tak peduli aku yang jadi korban semprotan dia di tangga.
Memangnya cuma dia aja yang bisa marah. Aku juga.
***
Aku menunggu Kak Bima di depan ruang guru sambil memainkan HP. Katanya dia ada pekerjaan yang nanggung kalau ditinggal pulang. Aku diminta menunggu 30 menit. Yang dibilang Haru tentang Kak Dara yang sering membuat status i********: bersama dengan Kak Farran mendorong aku untuk mendownload aplikasi itu.
Instagram dan sosial media lainnya bagiku gak menarik. Kadang aku bertanya-tanya kenapa orang-orang punya banyak akun sosial media. f*******:, w*****d, twitter, ask.fm, i********:, dan masih banyak lagi. Ditambah sekarang tik tok lagi rame banget. Haru pun tak ketinggalan jadi salah satu pengguna tik tok. Berkali-kali dia ngajak aku untuk buat konten tik tok bersamanya.
Tak memakan waktu lama karena di dukung kuota internet unlimited yang baru diisi tiga hari lalu, aplikasi berlogo kamera itu sudah terpasang di HP ku. Aku mendaftarkan aku menggunakan email. Setelah memasukan beberapa data diri, men-setting sandi, dan memasukan kode dari SMS akunku pun jadi.
@ChiaraAHutomo
Itu username instagramku. Aku memfollow Haruku. Dan seketika bermunculan rekomendasi akun yang bisa aku follow di bawah bio Haruku. Ada Kak Jonathan dan Kak Kaline yang muncul paling awal. Tak heran mereka berdua memang popular dan punya follower ribuan. Ku geser profil-profil yang muncul semakin ke kiri.
Ada akun milik Kak Farran. Foto profilnya adalah foto setengah bibir dan lesung pipinya yang dalam. Aku menatapnya cukup lama. Senyum yang hanya terlihat setengah saja sudah buat jantungku disko di dalam sana. Sepertinya aku harus rajin mengecek gula darah. Senyum Kak Farran berbahaya.
Akun Rashaun Arham Jafar yang terakhir di baris rekomendasi.
Didorong oleh rasa penasaran seperti apa status yang dibuat Kak Dara, aku pun mencari akunnya di kolom pencariah.
Adara Kyra
Tak banyak yang muncul. Akun dengan foto yang aku kenal muncul paling atas. Tak berpikir lama aku langsung mengklik profilnya. Langsung saja aku lihat statusnya. Foto dua cangkir kopi dan ucapan serta tag ke akun Kak Farran.
Lagi-lagi sama lo, bosen gue @FarranH
Mereka jalan berdua?
“Chi kenapa?” tanya Kak Bima khawatir.
Aku menunduk menyembunyikan mataku yang berair. Walaupun sebenarnya percuma, karena dia pasti sudah melihatnya lebih dulu.
“Siapa yang buat kamu nangis?”
“Mau pulang.” Rengekku.
***