Bab 1: Kehampaan di Puncak Sukses
Cahaya lampu tidur yang berwarna kuning temaram memberikan kesan hangat pada dinding kamar yang dilapisi wallpaper sutra mahal. Di atas tempat tidur berukuran king size, Arman memandangi istrinya, Sinta, yang sedang melepaskan ikatan rambutnya. Sinta selalu cantik, kecantikan yang tenang dan tidak lekang oleh waktu, meski gurat kelelahan sering kali singgah di sudut matanya.
“Mas sudah selesai memeriksa laporan kantor?” tanya Sinta lembut. Ia mendekati Arman, duduk di tepi ranjang dengan piyama satin yang terasa licin di kulit.
Arman mengangguk pelan, lalu meletakkan tabletnya di atas nakas. “Sudah. Proyek di Surabaya berjalan lancar. Semua unit di menara pertama sudah terjual habis sebelum pembangunan selesai,” jawabnya dengan nada datar. Prestasi yang seharusnya membuatnya melompat kegirangan itu kini terasa seperti rutinitas biasa yang hambar.
Sinta mengusap bahu suaminya. “Kamu hebat, Mas. Selalu hebat.”
Arman menoleh, menatap mata istrinya yang jernih. Ada kerinduan yang membuncah di dalam dadanya, namun bukan hanya rindu pada raga Sinta, melainkan rindu pada sosok kecil yang belum juga hadir di antara mereka. Ia mendekatkan wajahnya, menghirup aroma lavender dari leher Sinta yang putih bersih. Tangan Arman perlahan bergerak, menyentuh tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang.
Ia mulai mencium bibir Sinta dengan lembut, sebuah ciuman yang kemudian berubah menjadi tuntutan yang lebih dalam. Arman meraba bagian depan piyama Sinta, membuka kancingnya satu per satu hingga ia bisa melihat bukit kembar istrinya yang berdiri indah. Arman mengelus bukit kembar itu dengan telapak tangannya, merasakan kekenyalan dan kehangatan kulit Sinta yang selalu mampu membangkitkan gairahnya. Sinta mendesah lirih, tangannya mencengkeram bahu kokoh Arman saat suaminya itu memberikan perhatian lebih pada area sensitif tersebut.
Tanpa banyak kata, Arman melepaskan pakaiannya sendiri. Ia membiarkan b***************n miliknya yang sudah menegang sempurna bersentuhan dengan paha mulus Sinta. Ia ingin malam ini menjadi malam yang berbeda. Ia ingin setiap gerakan yang ia lakukan membuahkan hasil yang selama ini mereka impikan. Dengan perlahan namun pasti, Arman memposisikan dirinya di atas Sinta, lalu mengarahkan barang kejantanan miliknya untuk memasuki lembah kenikmatan istrinya.
Sinta memejamkan mata, merasakan kepenuhan yang dibawa oleh Arman. Di dalam lembah kenikmatan itu, Arman bergerak dengan ritme yang terjaga, berusaha memberikan kepuasan sekaligus menaruh harapan besar pada setiap inci gesekan yang terjadi. Suara napas yang memburu dan desahan halus memenuhi ruangan. Sinta memeluk erat punggung Arman, kuku-kukunya sedikit menekan kulit suaminya saat mereka berdua mencapai puncak kenikmatan bersama.
Setelah semuanya berakhir, Arman tidak langsung bangkit. Ia memeluk Sinta erat, menyandarkan kepalanya di d**a istrinya. Sinta mengelus rambut Arman dengan penuh kasih sayang.
“Semoga kali ini Tuhan mendengar doa kita, Mas,” bisik Sinta dengan suara parau yang hampir pecah.
Arman tidak menjawab. Ia hanya mengecup dahi Sinta sebelum akhirnya melepaskan pelukannya. Ia merasa tubuhnya lelah, namun pikirannya tetap terjaga. Setelah Sinta mulai terlelap karena kelelahan, Arman bangkit dari ranjang, mengenakan celana pendek dan kaos tipis, lalu melangkah menuju taman belakang rumah mereka.
Udara malam yang dingin langsung menyergap kulitnya saat ia menggeser pintu kaca besar. Arman duduk di salah satu kursi kayu yang ada di tepi kolam renang. Ia mengambil sebungkus rokok dan pemantik dari saku celananya. Sebuah api kecil menyala sebentar, membakar ujung rokok, lalu asap putih mulai mengepul keluar dari sela bibirnya.
Arman menatap pantulan bulan di air kolam yang tenang. Di luar sana, ia dikenal sebagai raja properti. Ia membangun gedung pencakar langit, perumahan mewah, dan pusat perbelanjaan yang megah. Hartanya melimpah, mobilnya berderet di garasi, dan namanya disegani di kalangan pengusaha nasional. Namun, di dalam rumah mewah ini, ia merasa seperti seorang pecundang.
Sudah delapan tahun mereka menikah, dan sudah tak terhitung berapa banyak dokter spesialis kesuburan yang mereka datangi. Dari pengobatan medis yang paling mutakhir hingga pengobatan alternatif yang paling aneh pun sudah mereka jalani. Sinta selalu sabar, selalu menuruti apa pun keinginan Arman, namun rahimnya tetap kosong. Setiap kali Sinta mendapatkan menstruasinya, Arman merasa separuh dari jiwanya ikut luruh ke bumi.
Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan nikotin itu sedikit menenangkan sarafnya yang tegang. Ia membayangkan jika ada seorang anak laki-laki kecil yang berlari di taman ini, memanggil namanya dengan suara cadel, atau seorang anak perempuan yang memintanya untuk mengayunkan ayunan di sudut taman. Kehampaan itu terasa begitu nyata, lebih nyata daripada saldo di rekening banknya yang terus bertambah setiap hari.
“Untuk siapa semua harta ini nantinya?” gumam Arman pada kegelapan malam.
Pikirannya melayang pada pertemuan bisnisnya siang tadi. Ia melihat salah satu kliennya sedang menggendong anaknya yang masih balita di lobi kantor. Pria itu tampak begitu bahagia meski harus kerepotan membawa tas perlengkapan bayi. Arman iri. Ia sangat iri pada hal sederhana seperti itu. Kesuksesan bisnisnya seolah menjadi tidak berarti jika ia tidak memiliki pewaris yang akan meneruskan kejayaannya.
Arman juga mulai merasakan tekanan dari keluarga besarnya. Ibunya sering kali bertanya kapan mereka akan memberikan cucu, meski pertanyaannya disampaikan dengan bahasa yang halus. Sinta pun mulai terlihat sering melamun. Meski istrinya itu selalu tersenyum di hadapannya, Arman tahu bahwa Sinta merasa bersalah. Sinta merasa gagal menjadi seorang wanita seutuhnya karena tidak bisa memberikan keturunan.
Rokok di tangannya hampir habis, menyisakan bara kecil yang mendekati jemarinya. Arman mematikannya di asbak kristal yang ada di atas meja. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit malam yang tanpa bintang. Di tengah kemewahan yang ia miliki, ia merasa terisolasi dalam kesedihan yang sulit ia bagi dengan siapa pun, bahkan dengan Sinta. Ia tidak ingin menambah beban di pundak istrinya yang sudah terlihat sangat berat.
“Aku hanya ingin satu hal, Tuhan. Hanya satu,” desisnya pelan.
Arman menutup matanya, membayangkan wajah seorang anak yang memiliki matanya dan senyum Sinta. Namun bayangan itu terasa sangat jauh, seolah berada di balik kabut tebal yang tidak bisa ia tembus. Ia merasa usahanya selama ini sia-sia. Hubungan intim yang baru saja ia lakukan dengan Sinta pun terasa lebih seperti sebuah kewajiban daripada ungkapan cinta, sebuah misi yang tujuannya adalah pembuahan, bukan lagi sekadar penyatuan dua hati.
Ia teringat betapa Sinta selalu bersiap dengan kalender masa suburnya, bagaimana istrinya itu menjaga pola makan dengan sangat ketat, dan bagaimana Sinta harus menahan rasa sakit setiap kali menjalani prosedur medis yang menyiksa demi mendapatkan sel telur yang berkualitas. Arman melihat semua pengorbanan itu, dan ia merasa hatinya tersayat. Ia mencintai Sinta, sangat mencintainya, namun kebutuhan akan seorang anak mulai merongrong fondasi cinta mereka.
Arman kembali menyulut rokok keduanya. Ia merasa terjebak dalam lingkaran setan yang tak berujung. Semakin ia sukses dalam karir, semakin ia merasa gagal dalam hidup pribadinya. Ia memiliki segalanya untuk membangun sebuah kota, tapi ia tidak memiliki apa pun untuk membangun sebuah keluarga yang utuh dalam arti yang ia inginkan.
Keheningan malam itu terus menemani kegalauan hati sang pengusaha sukses tersebut. Di balik pagar rumahnya yang tinggi dan penjagaan keamanan yang ketat, ada seorang pria yang sedang meratapi nasibnya di atas kursi taman, dikelilingi oleh asap rokok dan kehampaan yang tak bertepi. Ia tidak tahu bahwa takdir sebentar lagi akan membawanya pada sebuah pertemuan yang akan mengubah seluruh hidupnya, menghancurkan batas-batas moral yang selama ini ia pegang teguh, dan menyeretnya ke dalam pusaran hasrat yang tak terduga.
Malam itu, Arman tetap berada di taman hingga fajar hampir menyingsing. Ia membiarkan kedinginan merasuk ke tulangnya, berharap rasa sakit fisik itu bisa mengalihkan rasa perih di hatinya yang merindukan suara tawa seorang anak di rumahnya yang terlalu sunyi ini.