bc

CEO Playboy Itu Suami Kontrak Ku

book_age18+
89
FOLLOW
1.5K
READ
dark
contract marriage
family
HE
friends to lovers
badboy
heir/heiress
drama
sweet
serious
kicking
lies
assistant
like
intro-logo
Blurb

"Aku menikahimu untuk menghancurkanmu, tapi mengapa hatiku yang justru hancur saat kehilanganmu?"Kinaya Van den Bosch hanya memiliki satu tujuan hidup, membangun kembali kejayaan keluarganya yang runtuh dan menyeret Reikhan Maldyni ke lubang kehancuran yang sama.Baginya, pernikahan ini hanyalah bidak catur, sebuah jebakan manis untuk membalas dendam pada pria yang paling ia benci.Di sisi lain, Reikhan Maldyni, ia membutuhkan seorang istri. Kinaya adalah kandidat sempurna untuk kesepakatan bisnis berbalut janji suci di atas kertas kontrak.Mereka memulai permainan ini dengan rahasia masing-masing, saling menjebak dalam gairah yang awalnya palsu. Namun, saat batas antara misi dan perasaan mulai kabur, cinta justru tumbuh di tempat yang paling tidak terduga.Tepat saat Kinaya memilih untuk melupakan dendam demi cinta, sebuah pengkhianatan keji menghantamnya. Reikhan kembali ke pelukan masa lalunya, mematahkan satu-satunya bagian dari diri Kinaya yang masih utuh 'hatinya'.Di tengah perebutan harta dan takhta, apakah cinta benar-benar bisa menang? Ataukah pernikahan ini memang hanya sekadar bisnis sejak awal?

chap-preview
Free preview
1. Gaun Putih dan Lingerie Merah
"Hari itu, aku menggunakan gaun pengantin. Namun, yang menunggu ku bukan pelaminan, melainkan sebuah pengkhianatan." *** Hari itu seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi Kinaya Van den Bosch. Wanita itu berdiri di depan cermin besar sambil menatap bayangannya sendiri. Gaun pengantin berwarna putih gading yang melekat di tubuhnya terlihat begitu pas, seolah memang dibuat khusus untuk dirinya. Detail brokat yang dijahit dengan tangan menghiasi bagian lengan dan d**a, sementara rok satin yang menjuntai menyapu lantai menambah kesan anggun pada penampilannya. Senyum tipis terukir di wajah Kinaya. Sudah sejak lama ia membayangkan momen seperti ini. Setelah lima tahun menjalin hubungan, akhirnya hari yang mereka tunggu semakin dekat. "Nona Kinaya, gaunnya benar-benar cantik," puji salah seorang pegawai butik. Kinaya terkekeh pelan. "Gaunnya yang cantik atau orangnya?" "Kalau menurut saya, dua-duanya." Ucapan itu membuat beberapa pegawai lain ikut tersenyum. "Kalau begitu jangan sampai calon suami saya mendengar. Nanti dia semakin besar kepala." "Justru Tuan Rendra sudah datang, Nona." Mata Kinaya langsung berbinar. "Benarkah?" "Iya. Beliau sedang menunggu di luar." "Kalau begitu, buka tirainya." Dua orang pegawai segera menyingkirkan tirai beludru yang memisahkan ruang fitting dengan ruang tunggu. Di sana, Rendra sedang duduk di sofa sambil memperhatikan layar ponselnya. Mendengar langkah kaki Kinaya, pria itu mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, Rendra hanya diam. Tatapannya menyusuri penampilan Kinaya dari ujung kepala hingga ujung kaki tanpa berkedip sedikit pun. Kinaya yang semula percaya diri justru mulai salah tingkah. "Kenapa?" tanyanya sambil tersenyum kecil. "Jelek ya?" Rendra menggeleng pelan. "Bukan." "Lalu?" "Aku sedang berpikir." "Tentang apa?" Rendra bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekat hingga berdiri tepat di hadapan Kinaya. "Aku sedang berpikir... ternyata perempuan yang lima tahun lalu mengejarku sambil membawa payung, sekarang benar-benar akan menjadi istriku." Kinaya langsung memukul pelan lengan Rendra. "Aku tidak mengejarmu." "Oh ya?" "Kamu yang lupa membawa payung." "Terus?" "Aku cuma mengembalikannya." Rendra tertawa pelan. "Kalau cuma mengembalikan, kenapa ikut berdiri di bawah payungku sampai halte?" Kinaya membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban. Melihat wajah calon istrinya yang salah tingkah, Rendra kembali tertawa. "Nah, kan. Ketahuan." "Kamu memang menyebalkan." "Tapi kamu tetap mau menikah denganku." Kinaya menggeleng sambil tersenyum. "Kadang aku juga heran kenapa bisa jatuh cinta sama laki-laki seperti kamu." "Karena aku tampan." "Ge-er." "Karena aku baik." "Mungkin." "Karena aku mencintaimu." Senyum Kinaya perlahan mengembang. Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuat hatinya tenang. Lima tahun bersama bukan waktu yang singkat. Rendra mengenalnya saat Kinaya masih belajar memahami dunia bisnis milik keluarganya. Ketika semua orang memanggilnya dengan embel-embel pewaris Van den Bosch Group, hanya Rendra yang memperlakukannya seperti perempuan biasa. Di saat Kinaya lelah menghadapi tekanan perusahaan, Rendra selalu menjadi tempatnya bercerita. Pria itu juga yang berkali-kali meyakinkannya bahwa suatu hari nanti ia pasti mampu menggantikan posisi sang ayah. "Aku cantik?" tanya Kinaya sambil berputar pelan. Rendra mengangguk tanpa ragu. "Cantik." "Hanya cantik?" "Sangat cantik." "Masih kurang." Rendra berpura-pura berpikir beberapa detik. "Kalau begitu... aku mulai khawatir." "Khawatir apa?" "Nanti setelah menikah, aku harus mengusir laki-laki yang melirik istriku." Pipi Kinaya langsung memerah. "Kamu cemburuan?" "Sedikit." "Sejak kapan?" "Sejak sadar calon istriku secantik ini." Beberapa pegawai butik saling berpandangan sambil menahan tawa melihat pasangan itu saling menggoda. Kinaya kembali menatap bayangannya di cermin. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa hidupnya berjalan sesuai harapan. Ia memiliki keluarga yang selalu mendukungnya, calon suami yang dicintainya, dan masa depan yang terlihat begitu indah. Sayangnya... Kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ponsel di saku celana Rendra tiba-tiba bergetar. Pria itu melirik layar ponselnya sekilas, lalu menatap Kinaya. "Sayang, aku angkat telepon dulu, ya." Kinaya mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Jangan lama-lama." Rendra mengecup pelan kening Kinaya sebelum berjalan keluar dari butik. Kinaya kembali menatap dirinya di depan cermin. Senyumnya tidak pernah hilang sedikit pun. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa telepon yang baru saja diterima Rendra akan mengubah seluruh hidupnya. Setelah Rendra keluar dari butik, Kinaya kembali berdiri di depan cermin. Jemarinya mengusap pelan cincin pertunangan yang melingkar di jari manisnya. Senyum di wajahnya belum juga hilang. Ia bahkan membayangkan bagaimana reaksi sang papa ketika melihat dirinya mengenakan gaun pengantin ini saat hari pernikahan nanti. Ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan dari mamanya masuk. "Bagaimana hasil fitting hari ini? Mama sudah tidak sabar melihat gaunnya." Kinaya tersenyum lalu mengambil beberapa foto di depan cermin. Setelah memilih foto yang menurutnya paling bagus, ia langsung mengirimkannya. Tak lama kemudian balasan kembali masuk. "Cantik sekali. Papa tadi bilang Rendra pasti sampai tidak bisa mengalihkan pandangannya darimu." Kinaya terkekeh kecil. "Tadi dia memang diam cukup lama, Ma." "Itu tandanya dia semakin yakin memilihmu." Hati Kinaya terasa hangat membaca pesan itu. Selama ini kedua orang tuanya memang tidak mudah memberikan restu kepada Rendra. Beruntung, semua usaha pria itu akhirnya berhasil meluluhkan hati Danish Van den Bosch. Kinaya mematikan layar ponselnya, lalu kembali melihat ke arah pintu butik. Sudah cukup lama. Kenapa Rendra belum juga kembali? Biasanya pria itu tidak pernah meninggalkannya selama ini. "Maaf, Mbak. Pak Rendra masih di luar?" tanyanya kepada salah seorang pegawai. "Iya, Nona. Tadi beliau menerima telepon lalu berjalan ke arah samping gedung." "Oh... baik." Kinaya mengangkat sedikit bagian depan gaunnya agar tidak menginjak ekornya sendiri. Ia berjalan keluar butik sambil sesekali melihat ke kanan dan kiri. Koridor samping gedung terlihat jauh lebih sepi dibanding bagian depan. Baru beberapa langkah, telinganya menangkap suara yang sangat dikenalnya. Suara Rendra. Refleks Kinaya menghentikan langkahnya. Dari balik pilar besar, ia melihat punggung pria itu sedang membelakanginya. Ponsel masih menempel di telinga, sementara wajahnya terlihat begitu santai. Awalnya Kinaya ingin menghampiri. Namun, langkahnya kembali terhenti saat mendengar nada bicara Rendra berubah sangat lembut. "Iya, Sayang." Kening Kinaya langsung berkerut. Sayang? Dengan siapa Rendra berbicara? Ia masih berusaha berpikir positif. Mungkin hanya rekan kerja yang sudah dianggap seperti saudara. Namun, beberapa detik kemudian suara Rendra kembali terdengar. "Tenang saja. Sebentar lagi aku ke apartemen kamu." Jantung Kinaya mulai berdegup lebih cepat. Entah kenapa, firasat buruk perlahan muncul di dalam hatinya. Rendra terkekeh pelan. "Aku juga kangen." Kinaya menggenggam ujung gaunnya semakin erat. Ia berharap semua yang didengarnya hanyalah salah paham. Lima tahun bersama membuatnya percaya, Rendra tidak mungkin mengkhianatinya. Namun, harapan itu mulai runtuh saat pria itu kembali berbicara. "Jangan manja begitu. Aku juga sudah tidak sabar bertemu kamu." Kinaya memejamkan mata sesaat. Napasnya mulai terasa berat. Ia ingin keluar dari tempat persembunyiannya dan meminta penjelasan saat itu juga. Tetapi sesuatu membuatnya tetap diam. Ia ingin mendengar semuanya. Ia ingin memastikan sendiri apakah pria yang selama ini dicintainya benar-benar sedang menghancurkan kepercayaan yang telah mereka bangun selama lima tahun. Kinaya tetap berdiri di balik pilar. Jemarinya mencengkeram ujung gaun pengantin hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya sesak, tetapi ia memaksa dirinya tetap diam. "Tenang saja. Danish Van den Bosch sedang sibuk memikirkan perusahaannya yang hampir bangkrut. Dia tidak akan sempat mengurusku." Napas Kinaya tercekat. Untuk pertama kalinya, Rendra menyebut nama papanya tanpa sedikit pun rasa hormat. Rendra kembali tertawa. "Pewaris manja itu juga tidak akan curiga. Sekarang pikirannya cuma soal pernikahan." Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Kinaya. Lima tahun. Lima tahun dia mencintai pria itu. Lima tahun pula dia percaya bahwa Rendra adalah tempat paling aman untuk pulang. Semua kepercayaan itu hancur hanya dalam hitungan detik. "Jangan lupa pakai lingerie merah yang kita beli semalam. Aku ingin melihatmu memakainya lagi." Deg. Kinaya memejamkan mata. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Tunangannya benar-benar berselingkuh. Amarah memenuhi dadanya. Dia ingin menghampiri Rendra sekarang juga, menampar wajah pria itu, lalu membatalkan pernikahan mereka. Namun, langkahnya terhenti. Perusahaan. Kondisi Van den Bosch Group memang sedang tidak baik. Kalau Rendra mengetahui keadaan perusahaan sedetail itu, berarti pria tersebut mengetahui sesuatu yang tidak dia ketahui. Kinaya menarik napas panjang, lalu memaksa dirinya tenang. Belum. Sekarang bukan waktu yang tepat. Dia berbalik masuk ke dalam butik. Di dalam toilet, air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh. Dia menangis beberapa menit, lalu membasuh wajahnya hingga kembali terlihat rapi. Saat keluar, Rendra sudah kembali. "Maaf ya, Sayang. Tadi ada telepon dari Mama." Kinaya tersenyum tipis. "Tidak apa-apa." Kebohongan itu terdengar begitu sempurna. Setelah mengantar Kinaya pulang, Rendra langsung meninggalkan rumahnya. Kinaya menunggu beberapa menit sebelum kembali keluar dan menghentikan sebuah taksi. "Pak, tolong ikuti mobil hitam di depan itu." Mobil melaju mengikuti Rendra hingga berhenti di sebuah apartemen. Kinaya mengenali gedung itu. Apartemen tersebut merupakan salah satu properti milik Van den Bosch Group yang disewakan kepada beberapa karyawan. "Jadi... kau bahkan membawa selingkuhanmu ke aset keluargaku." Kinaya turun dari taksi dan mengikuti Rendra dari kejauhan. Tak lama kemudian, pintu sebuah unit terbuka. Seorang wanita mengenakan jubah tidur satin merah langsung memeluk Rendra. "Aku kira kamu tidak jadi datang." "Mana mungkin aku membatalkan janji denganmu." Tanpa ragu, Rendra mencium bibir wanita itu tepat di depan pintu apartemen. Ciuman mereka berlangsung cukup lama sebelum akhirnya masuk ke dalam. Kinaya hanya mampu menatap tanpa berkedip. Tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Pria yang selama ini dia perjuangkan ternyata sedang menikmati kebahagiaan bersama wanita lain. Dengan langkah pelan, Kinaya kembali masuk ke dalam taksi. "Hotel Sky, Pak." Sepanjang perjalanan, dia hanya menatap kosong ke luar jendela. Air matanya sudah berhenti mengalir. Yang tersisa kini hanyalah amarah. "Selamat malam, Nona." Don langsung berdiri saat melihat Kinaya datang. "Nona baik-baik saja?" "Beritahu aku seburuk apa keadaan perusahaan." Don tampak ragu. "Nona..." "Jangan ada yang disembunyikan lagi." Don akhirnya membuka map yang dibawanya. "Van den Bosch Group kehilangan beberapa proyek besar. Investor mulai menarik dana. Sebagian anak perusahaan juga sudah diakuisisi." "Siapa yang mengambil semuanya?" "Maldyni Group." Kinaya mengepalkan jemarinya. "Siapa yang memimpin?" Don menggeser sebuah berkas ke hadapan Kinaya. Di halaman paling depan hanya ada satu nama. Reikhan Maldyni. Kinaya menatap nama itu beberapa saat sebelum menutup map tersebut. "Carikan semua informasi tentang pria ini." "Baik, Nona." Kinaya berdiri dari kursinya. Kalau Rendra menghancurkan hatinya, Maka Reikhan Maldyni adalah orang yang menghancurkan kehidupan keluarganya. Dan mulai malam ini, dia bersumpah akan mengambil kembali semua yang telah direnggut dari keluarganya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
783.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
371.4K
bc

Not just, the Beta

read
355.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook